
"Rama," gumam Tiffani sambil berlari menuju mobil yang terparkir di halaman. Pikirannya kalut tidak keruan, ia mulai membayangkan hal yang tidak-tidak, termasuk membayangkan bagaimana jika Rama tewas dalam misi yang Rama jalankan semalam. Toh, kematian bukanlah hal yang mustahil terjadi, ia bahkan telah dipisahkan dari ibunya oleh sebuah kematian, dan bisa saja kali ini Rama yang pergi meninggalkannya.
Setibanya di halaman, Tiffani langsung mendorong Mario dan Rei yang berdiri di depan mobil. "Minggir, minggir, minggir," ujar Tiffani.
"Nona, ada apa?" tanya Rei, tetapi pertanyaan Rei tidak dihiraukan oleh Tiffani. Tiffani terus saja menyeruak hingga tiba di hadapan Mona.
"Tiffani ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Kali ini Mona yang bertanya dengan wajah khawatir, karena ia melihat Tiffani yang terengah-engah dan berkeringat.
Tiffani tidak menjawab, ia hanya mendorong tubuh Mona dengan pelan agar ia dapat melihat ke dalam mobil dan ....
"Adam!" seru Tiffani. Ia kemudian menatap Mona dengan kesal karena Mona asal menjerit dan membuatnya khawatir. Ia pikir Mona menjerit karena Rama terluka, tetapi bukannya melihat Rama, Tiffani justru melihat Adam yang sedang memegang setangkai mawar merah untuk Mona, jadi karena bunga mawar itulah Mona menjerit, bukan karena Rama. Bunga sialan!
"What? Apa aku melakukan sesuatu yang membuatmu berhak memelototiku seperti itu?" tanya Mona, saat menyadari tatapan marah Tiffani yang terpaku padanya.
Tiffani tidak menjawab, ia melangkah ke mobil satunya lagi untuk mencari keberadaan Rama, dan ia menemukan Rama di sana. Pria itu bersandar pada sandaran kursi mobil dengan mata terpejam, dan yang membuat Tiffani sangat syok adalah noda merah yang terdapat pada kemeja putih yang Rama kenakan di balik jas, jelas sekali jika noda merah itu adalah noda darah.
"Astaga! Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia bisa terluka begini?" tanya Tiffani, pada semua rekan Richard yang ada di luar mobil.
"Hem, Nona, sebenarnya--"
"Kalian tidak menjaganya dengan baik? Bagaimana bisa dia hanya terluka seorang diri, sedangkan kalian semua terlihat baik-baik saja!" Tiffani kembali mengoceh, memotong ucapan Andi yang ingin menjelaskan.
Kini semua rekan Rama sesama bodyguard hanya bisa saling pandang, bukannya mereka tidak ingin menjelaskan, tetapi melihat kekalutan Tiffani, mereka semua tahu jika mereka tidak memiliki kesempatan untuk menjelaskan apa pun pada nona mereka.
"Seharusnya kalian membawa Rama ke rumah sakit lebih dulu, bukannya malah membawanya pulang ke rumah. Dia harus mendapat pertolongan pertama!" Tiffani kembali berseru, sebelum akhirnya ia masuk ke dalam mobil dan mulai mengguncang tubuh Rama yang tidak sadarkan diri.
"Rama, bangunlah, Rama! Apa yang terjadi padamu? Maafkan aku, semua ini terjadi karena aku. Aku sungguh minta maaf. Aku mohon jangan mati. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika sesuatu yang buruk terjadi padamu. Aku sungguh tidak akan memaafkan diriku. Bangunlah, Rama, bangun!" Tiffani menangis, dan ia memeluk pinggang Rama dengan erat, ia berharap agar Rama membuka mata dan menghilangkan semua rasa khawatir yang sedang ia rasakan. Namun, ia tahu jika semua itu tidak mungkin. Ia tahu jika Rama tidak akan membuka mata sekarang.
Akan tetapi, beberapa saat kemudian Tiffani merasa jika sesuatu yang begitu hangat mulai menyentuh telapak tangannya yang berada di pinggang Rama, dan kemudian dengkuran halus mulai terdengar di telinganya, dan Tiffani pun dapat merasakan hangatnya udara yang mengenai telinganya. Semua itu terjadi di saat yang bersamaan.
Tiffani perlahan mendongak dan sontak kedua tangannya melepaskan pinggang Rama saat ia melihat kedua mata Rama yang menatapnya dengan begitu hangat. "Rama," gumam Tiffani. "Kamu tidak apa-apa," lanjutnya.
Rama tersenyum. "Aku baik-baik saja, apalagi aku mimpi indah barusan."
Dahi Tiffani mengernyit. "Mimpi?" Tiffani terlihat bingung, lalu ia segera menyentuh bagian dada Rama yang kemejanya terdapat noda darah. Ia ingin memastikan apakah darah yang ada di kemeja Rama itu berasal dari tubuh Rama atau bukan.
"Ada apa?" tanya Rama.
"Kamu tidak terluka?"
"Kamu berharap aku terluka?" Rama balas bertanya.
Tiffani menggeleng, lalu kembali mengajukan pertanyaan. "Darah siapa ini?"
Rama menunduk untuk melihat kemejanya yang sedang disentuh oleh Tiffani. "Oh, ini darah Darren. Aku meninjunya tadi hingga dia berdarah."
Tiffani menghela napas panjang, ia lega sekali karena Rama selamat dan tidak mengalami luka sedikit pun. Saking leganya ia hampir saja menangis di hadapan Rama. Namun, rasa haru yang ia rasakan itu menyingkir degan cepat dan digantikan dengan rasa malu karena ia telah bertindak berlebihan. Bukan hanya mengatakan hal-hal menggelikan saat memeluk Rama, ia juga telah memarahi semua bodyguard tanpa alasan. Semua hal itu tentu saja membuatnya merasa sangat bodoh.
Wajah Tiffani merona sekarang, telihat sangat merah seperti udang rebus yang baru keluar dari air mendidih. "Aku pergi dulu kalau begitu," gumam Tiffani sambil perlahan turun dari dalam mobil. Dan begitu tiba di luar mobil, Tiffani kembali berujar, "Maafkan aku karena memarahi kalian. Sebagai ganti rug i karena aku telah memarahi kalian, aku memberi kalian libur selama tiga hari, dan juga uang kompensasi agar kalian bisa bersenang-senang selama waktu libur itu. Hem, itu saja yang ingin kusampaikan, bye."
Semua bodyguard dan juga Rama yang telah berada di luar mobil menatap kepergian Tiffani dengan tatapan membelalak dan mulut yang terbuka lebar. Mereka semua tidak percaya jika Tiffani memberi mereka hari libur dan uang kompensasi.
"Wah, Rama, nona kita itu terkenal sangat angkuh. Kami semua tahu itu, tapi sejak kenal denganmu, nona kita berubah drastis," ujar Willi, yang masih menatap Tiffani dengan tatapan takjub.
Adam mengangguk. "Itu benar. Apa kalian ingat saat pertama kali nona minta maaf pada kita semua? Saat itu adalah minggu-minggu pertama Rama bekerja di sini. jujur saja aku sangat terkejut saat itu, karena nona sebelumnya tidak pernah mengatakan maaf sekali pun."
"Ya itu benar. Sejak saat itu nona jarang melempar sepatunya ke kita." Mario menimpali, sambil tanpa sadar memegang puncak kepalanya yang dulu sering dijadikan tempat sepatu Tiffani mendarat.
__ADS_1
Anton menepuk pundak Rama dan berseru. "Kamu adalah penyelamat kita semua, Rama. Jika bukan karena dirimu, nona tidak mungkin menjadi seperti sekarang. Hidup Rama! Hidup, hidup!" sorak Anton, sambil memeluk Rama dan berusaha mengangkat tubuh Rama.
Rama meronta. "Astaga, apa yang kamu lakukan. Jangan berlebihan. Aku geli sekali, hiiiiy, lepaskan. Turunkan aku sekarang juga." Rama berteriak, meminta agar Anton menurunkannya.
Akan tetapi, Anton tidak mengindahkan permintaan Rama. Anton malah meminta rekan-rekannya untuk membantunya mengangkat Rama hingga ke teras. Seolah Rama adalah seorang raja
Sela dan Mona yang melihat keseruan di antara para bodyguard hanya bisa tertawa terbahak-bahak, apalagi saat Rama mulai merengek minta untuk diturunkan.
"Mereka kekanak-kanakan sekali," komentar Mona.
"Bukankah kita semua begitu. Kita menjadi kuat hanya saat kita berada di tengah-tengah orang asing, tapi saat kita berada di sekitar orang-orang yang membuat kita nyaman, maka sisi kekanakan kitalah yang paling menonjol. Singkatnya, kita akan menjadi diri sendiri saat kita berada di dekat orang yang membuat kita nyaman, benar kan?" Sela berujar.
Mona mengangguk, lalu mengaitkan tangannya di lengan Sela, dan kemudian keduanya berjalan menuju teras.
"Semua yang kamu katakan itu apakah berdasarkan pengalaman?" tanya Mona.
Sela mengangguk. Ingatannya kemudian berjalan mundur, ia mengingat semua hal pahit yang pernah terjadi di dalam hidupnya bagai kaset yang diputar ulang.
"Aku ingat, saat aku harus menjadi dewasa sebelum waktunya, dan aku ingat saat aku harus menjadi gadis tangguh padahal saat itu aku sangat ingin menjadi gadis manja. Aku tidak bisa menjadi diriku sendiri saat aku berada di rumahku, bahkan saat aku berada di kampus sekali pun. Semuanya begitu rumit," ujar Sela.
Mona mengusap pundak Sela dengan lembut, ia tahu betapa sulit hari-hari yang telah Sela lewati. "Sekarang masa-masa sulit itu telah berakhir untukmu. Kamu bisa menjadi dirimu sendiri di sini, apalagi sekarang ada Johan juga, bukankah sangat bagus karena kamu bisa terus menempel padanya dan meminta untuk diperlakukan seperti anak kecil."
Sela mendorong Mona menjauh dan kemudian berseru. "Anak kecil katamu?! Wah, hal seperti itu tidak benar, Mon, justru saat berada di dekatnya aku ingin menjadi wanita dewasa yang seksi dan menggairahkan," ujar Sela, sambil mulai meraba tubuhnya sendiri dengan gerakan erotis, Sela bahkan mendesah hingga membuat Mona geli melihatnya.
"Astaga, aku lupa kalau kamu bukan gadis manja yang polos," ujar Mona sambil menepuk dahinya, lalu segera meninggalkan Sela yang masih menari seperti orang gila.
"Hai, mau ke mana, Mon, tunggu aku!"
***
Rama menghampiri Tiffani yang sedang mengendap-endap menyeberangi halaman belakang. Kebetulan saja Rama melihat Tiffani saat ia hendak kembali ke kamarnya.
"Tiffani," panggil Rama?
Tiffani terkejut, hingga ia menjatuhkan earphone yang sejak tadi ia peluk dengan erat.
"Rama! Sedang apa kamu di sini? Kamu membuntutiku?" tanya Tiffani dengan sengit.
Rama menggeleng. "Tidak. Aku tidak sengaja melihatmu saat aku hendak kembali ke kamar. Kamu akan pergi ke mana? Ingin melarikan diri?"
"Melarikan diri dari apa tepatnya?" Tiffani balik bertanya. "Pergilah ke kamarmu kalau begitu, anggap saja kamu tidak melihatku, dan selamat beristirahat," ujar Tiffani, lalu segera memunggungi Rama dan melanjutkan langkah.
Akan tetapi, Rama tidak begitu saja membiarkan Tiffani berkeliaran seorang diri di halaman belakang saat malam hari begini.
"Aku ikut!" seru Rama, yang langsung menyusul langkah Tiffani.
Tiffani mendengkus kesal, ia ingin melarang Rama untuk ikut dengannya, tetapi ia tahu jika semua itu akan percuma. Ia tahu bagaimana sifat keras kepala Rama.
"Terserah padamu, asal jangan mengganggu, dan jangan sekali pun bicara padaku."
Rama mengangguk. "Aku akan diam dan bergerak senyap bagai bayangan, kamu bisa menganggap aku tidak ada jika kamu mau."
"Ya, akan aku lakukan seperti itu," ujar Tiffani menanggapi perkataan Rama.
Suasana kemudian menjadi hening, baik Tiffani maupun Rama tidak ada yang bersuara. Keduanya melangkah dalam diam menuju rumah pohon yang sejak awal menjadi tujuan Tiffani.
Setelah tiba di rumah pohon Tiffani langsung menarik sebuah tali yang menggantung di salah satu dahan terendah untuk menurunkan sebuah tangga yang merupakan satu-satunya tangga untuk dapat tiba di rumah pohon. Setelah tangga itu terulur ke bawah, Tiffani langsung merangkak naik dengan hati-hati, dan beberapa saat kemudian Rama menyusul Tiffani.
__ADS_1
"Ah, akhirnya. Sudah lama sekali aku tidak ke sini," gumam Tiffani, begitu mereka berdua telah memasuki rumah pohon. "Kamu tidak ingin bertanya kenapa aku ke sini?" Tiffani bertanya pada Rama.
Rama menggeleng. "Bukankah kamu memintaku untuk diam dan tidak mengganggu. Kamu bahkan memintaku untuk tidak bicara padamu."
Tiffani berdecak, ia terlihat kesal karena Rama tidak berusaha untuk menggodanya, padahal jika Rama mengajaknya mengobrol, tidak mungkin juga ia akan diam saja dan tidak menghiraukan Rama.
"Terserahmu sajalah," ujar Tiffani, sinis.
Rama menghela napas begitu melihat raut wajah Tiffani yang berubah muram.
"Wanita memang aneh sekali, apa kalian pikir kalau semua pria di dunia ini adalah dukun yang bisa menebak isi hati kalian para wanita setiap waktu? Seharusnya katakan saja jika ingin sesuatu, jangan gengsi,"ucap Rama.
Tiffani mendelik ke Rama. "Diamlah."
Rama mendekat ke Tiffani yang sekarang tengah duduk di atas sebuah karpet bermotif kupu-kupu yang terlihat terlalu mewah untuk diletakan di dalam sebuah rumah pohon,
"Katakan padaku, Tiffani, kamu ingin aku melakukan apa sekarang ini?" tanya Rama.
"Tidak ada."
Rama tersenyum. Ia paling suka saat melihat Tiffani merajuk seperti sekarang ini. Wajah Tiffani terlihat semakin menggemaskan.
"Apa kamu tahu, kalau kamu begitu cantik saat sedang marah." Rama mulai menggoda Tiffani.
"Aku cantik di setiap kesempatan."
Rama tertawa, lalu menggeser duduknya agar semakin dekat ke Tiffani.
"Ya, kamu memang selalu cantik di setiap kesempatan," bisik Rama di telinga Tiffani, membuat Tiffani bergidik.
Rama meraih sebuah selimut yang ada di dekatnya dan kemudian ia menutupi tubuhnya dan tubuh Tiffani dengan selimut tersebut.
"Untuk apa kamu lakukan ini?" tanya Tiffani, yang terlihat gugup, karena ia tahu apa yang akan Rama lakukan padanya sekarang.
"Aku ingin menikmati kecantikanmu seorang diri," ucap Rama, perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Tiffani hingga tidak ada jarak lagi di antara mereka. Tangan Rama mulai memeluk pinggang Tiffani dan menarik tubuh Tiffani mendekat ke tubuhnya. "Kita sudahi saja pertengkaran ini, Tiffani, aku akan melamarmu besok. Aku akan mengatakan pada ayahmu kalau aku akan menikahimu secepatnya."
Kedua pipi Tiffani merona dan dadanya berdebar saat ia mendengar ucapan Rama. Belum lagi ia menjawab keinginan Rama yang akan melamarnya, pria itu tiba-tiba saja mengecup bibirnya dengan penuh gairah.
Tiffani tidak dapat berkutik saat Rama mulai menekan tubuhnya dan memegangi kedua tangannya dengan tangan Rama yang kekar dan berotot. Hanya lenguh kenikmatan yang terdengar, membuat Rama semakin terbakar oleh gairah. Rama dan Tiffani pasti akan melanjutkan ciuman mereka ke hal yang lebih intens seandainya saja ponsel Tiffani tidak berdering dan membuat keduanya terkejut.
"Ah, siapa yang mengganggu," gumam Rama.
Tiffani mengulum senyum saat ia melihat ekspresi kecewa di wajah Rama.
"Ini Sela ... ah, iya, aku sampai lupa kalau kami ada misi penting malam ini," ucap Tiffani sambil menepuk dahinya dengan keras. Ia benar-benar tidak ingat kalau malam ini ia dan Sela akan menguping pembicaraan Gracella dan ayahnya.
"Misi penting. Misi apa?" tanya Rama, penasaran.
Tiffani menyingkirkan selimut dari wajahnya, dan segera bangkit berdiri. "Pokoknya penting dan sedikit berbahaya. Apa kamu mau ikut? tanya Tiffani. Tiffani sengaja menyematkan kata 'berbahaya' agar Rama bersedia ikut dengannya.
Rama segera bangkit berdiri dan langsung mengangguk. "Tentu, aku tidak akan membiarkanmu melakukan hal berbahaya seorang diri."
Tiffani berusaha menahan senyum yang ingin mengembang di bibirnya. "Ayo, kalau begitu!"
Bersambung.
__ADS_1