
Valerie terdiam beberapa saat. Ia khawatir menyakiti hati Brian, namun juga tidak ingin berkata bohong pada laki-laki itu.
"Dia pernah menyatakan perasaannya, hanya itu," jawab Valerie.
Brian tersenyum, ia mengusap rambut Valerie dan mengecup pelan bibirnya.
"Aku selalu cemburu setiap kali melihatmu bersamanya, aku melakukan segala cara agar kalian berjauhan. Maafkan aku," ucap Brian.
"Tidak apa, aku dan Noah sudah kenal sejak lama. Kami berteman baik. Aku harap, meskipun dia pernah mengungkapkan perasaannya padaku, kau dan dia tetap berteman seperti biasa," ujar Valerie.
"Tentu saja. Hubungan pertemanan kami jelas lebih berarti, namun tetap saja aku tidak akan rela jika saja kau lebih memilihnya," ungkap Brian jujur. Ia sedikit tertawa dengan perkataannya.
...****************...
Sejak Valerie sibuk dengan pekerjaannya dan jarang sekali bisa menemui Brian, dengan senang hati laki-laki itu selalu datang ke kantor Valerie saat jam makan siang untuk mengajak wanita itu makan bersama.
__ADS_1
Namun hari ini, Brian tidak bisa datang karena suatu alasan. Diam-diam, Brian menemui Theo untuk membahas tanggal pernikahan yang akan segera dilaksanakan dalam waktu dekat.
Sementara itu, di kantor Valerie baru saja keluar dari ruang meeting. Wanita itu keluar dari ruang meeting bersama dengan beberapa petinggi perusahaan. Namun saat sampai di ruangannya, Valerie mendapati seseorang sudah menunggunya.
"Valerie," sapa seorang wanita sebaya Valerie. Wanita itu berpenampilan sederhana, padahal ia biasa terlihat glamor dengan pakaian mewah.
"Ada apa?" tanya Valerie datar. Ia meletakkan berkas-berkas yang ia bawa lalu duduk di sofa yang terletak berhadapan dengan Elena.
"Jika kau datang untuk memohon padaku agar membebaskan kedua orang tuamu, itu tidak akan terjadi. Aku tidak akan pernah membiarkan mereka bebas!" seru Valerie. Ia sudah menebak tujuan kedatangan Elena.
"Kenapa kau terlihat menyedihkan sekali? Apa kau lupa bahwa beberapa waktu lalu kau menghinaku sebagai perebut calon tunanganmu?" tanya Valerie dengan mata menatap tajam pada Elena.
"Valerie, maafkan aku. Saat itu aku ...."
"Saat itu apa? Kau masih seorang anak pewaris, yang pada intinya akan menjadi penerus orang tuamu? Jadi kau bersikap sombong dan semena-mena merendahkan orang lain? Sekarang kau tahu rasanya!"
__ADS_1
Elena menunduk, menyadari kesalahannya dan sikap buruknya selama ini. Tidak hanya pada Valerie, ia selalu bersikap sama pada setiap orang yang ia temui. Semua itu untuk menunjukkan kedudukan serta kekuasan orang tuanya. Kini, tidak ada lagi yang bisa ia banggakan dan ia sombongkan. Wanita itu menangis, mengusap air matanya dengan punggung tangan.
"Elena, orang tuamu bersalah, mereka harus bertanggung jawab bagaimanapun caranya. Aku menjadi yatim piatu karena ulah mereka, aku kehilangan orang tuaku seumur hidup dan merasakan trauma menyakitkan setiap kali mengingat hari kematian mereka."
"Jika kau menyayangi mereka, tunjukkan dengan caramu, tapi jangan memintaku membebaskan mereka. Setiap perbuatan harus dipertanggungjawabkan!" tegas Valerie.
"Apa mereka akan menjalani hukuman yang lama?" tanya Elena.
"Besok adalah sidang keputusan. Aku tahu ini akan menjadi hal terberat dalam hidupmu, tapi mereka akan mendapatkan ganjaran yang setimpal, sesuai dengan apa yang telah mereka lakukan," jelas Valerie.
Elena menghela napas panjang. Ia tidak pernah tahu bahwa nasibnya akan berakhir seperti ini, namun sekeras apapun ia berusaha memohon pada Theo dan Valerie, mereka tetap pada pendirian mereka.
"Elena, kau tetap keluargaku, kau tetap bagian dari kami. Kau bisa datang kapan saja saat kau membutuhkan sesuatu. Jadi jangan berkecil hati, relakan mereka menjalani masa hukumannya," ucap Valerie lembut.
🖤🖤🖤
__ADS_1