My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
PERTOLONGAN TIBA


__ADS_3

Rama masih belum sadarkan diri. Kaki dan tangannya terikat pada sebuah tiang beton yang berlumut di dalam gudang terbengkalai di pinggiran kota, sedangkan kepalanya yang berdarah terkulai lemas. Ia benar-benar terlihat sangat tidak berdaya, berbanding terbalik dengan Rama yang selama ini dikenal banyak orang, Rama yang luar biasa hebat dan tak terkalahkan.


Terhitung sudah tiga jam sejak anak buah Dion berhasil melumpuhkan Rama dan membawa Rama pergi jauh dari pusat kota. Dalam perjalanan beberapa waktu lalu, para penculik yang menculik Rama memang menyuntikkan obat bius agar Rama tegap tenang dan tidak membuat keonaran, itulah sebabnya bahkan setelah tiga jam berlalu Rama masih belum sadarkan diri.


Dion sejak tadi mengamati-ngamati Rama. Ia memindai tubuh Rama dari ujung kepala hingga ujung kaki, dan sesekali ia menyentuh dagu Rama agar dapat memandang wajah Rama dengan lebih jelas, lalu menyentaknya dengan kasar.


"Dasar pembawa sial," gumam Dion, lalu beralih memandang semua anak buahnya. "Kita harus menjaganya agar tetap seperti ini hingga transaksi selesai. Aku tidak mau transaksi kembali gagal hanya gara-gara pria ini," ujar Dion, pada semua anak buahnya yang ada di gudang.


"Baik, Tuan, aku akan melakukan segala upaya semaksimal mungkin agar dia tidak lagi membuat keributan," jawab salah seorang anak buah Dion yang bernama Fabian.


Dion mengangguk. "Aku percayakan padamu, dan jika sampai dia kembali membuat keonaran, aku tidak akan segan untuk membu-nuhmu, Bian! ancam Dion, lalu melanjutkan. " Sudah mendengar kabar dari kota?" tanya Dion.


Fabian mengangguk. "Sudah, Tuan, rekan-rekan pria ini sedang memeriksa rekaman kamera cctv di gedung percetakan, dan rekan bisnis Anda memanfaatkan kesempatan ini untuk memindahkan satu kontainer senjata ke mobil pengangkut yang akan membawa senjata-senjata itu ke gudang milik Anda."


Dion tertawa mendengar jawaban dari Fabian. Kedua sudut matanya bahkan sampai berair. "Dasar bodoh. Untuk apa mereka memeriksa rekaman cctv, hanya membuat mereka sibuk tanpa hasil," gumamnya.


Anak buah Dion ikut tertawa, dan kemudian semuanya kembali diam bagai patung saat Dion mendadak menghentikan tawanya.


"Aku akan kembali ke kota, ada beberapa hal yang harus aku urus. Kalian berjagalah dengan benar, dan kirim sebagian dari kalian ke gudang penyimpanan, aku rasa di sana kekurangan orang," perintah Dion.


"Siap, Tuan, akan aku laksanakan apa yang Anda katakan," jawab Bian, ia memang merupakan pimpinan dari semua anak buah yang Dion miliki, tidak heran jika ialah yang bertanggung jawab untuk melapor ke Dion tentang segala yang tengah terjadi.


Setelah memberikan perintah, Dion segera berbalik dan keluar dari dalam gudang menuju mobilnya yang terparkir di halaman. Sebelum masuk ke dalam mobil, ia menyempatkan diri unyuk mengirim pesan kepada seseorang.


[Hai, Pak Tua, aku menawannya untuk sementara, cepat lakukan tugasmu, dan jika sudah selesai segera hubungi aku. Jika semuanya berjalan lancar, aku akan segera membebaskannya, tapi jika tidak terpaksa aku akan membu-nuhnya]


***


Xavier berkeliling di rooftop yang ada di gedung percetakan. Ia memperhatikan setiap jengkal bangunan tertinggi itu, berharap dapat menemukan petunjuk apa pun yang bisa membawanya pada Rama.

__ADS_1


akan tetapi, setelah hampir dua jam berada di sana, ia belum menemukan petunjuk apa pun selain rekaman kamera CCTV yang tidak merekam hal mencurigakan sama sekali.


Adam dan Rei yang juga berada rooftop bersama dengan Xavier sejak tadi terus memutar ulang rekaman CCTV yang mereka dapat, tetapi memang tidak ada apa pun di sana yang bisa mereka jadikan petunjuk.


"Padahal tidak ada titik buta sama sekali. Hampir semua lantai, bahkan tangga darurat dipasangi cctv, tapi kenapa tidak ada yang merekam datang dan perginya Rama," ujar Adam.


Rei mengusap dagunya, lalu melangkah menuju tepi rooftop. "Mungkin mereka tidak masuk melalui pintu utama. Lihatlah, ada tangga di sini," ujar Rei, saat ia melihat tangga berkarat pada bagian samping bangunan, kentara sekali jika tangga itu jarang dilewati.


Xavier menghampiri Rei, lalu menepuk pundak Rei. "Di bagian itu juga terdapat cctv, lihat." Xavier menunjuk ke sebuah tiang lampu yang ada di dekat tangga. "Ada kamera di sana, dan kamera itu merekam langsung ke tangga itu."


Rei mendongak dan mengikuti arah pandang Xavier. "Ah, benar juga, aku tidak memperhatikan."


Xavier menjauh dari Rei, dan kembali mondar-mandir seperti beberapa saat yang lalu. "Satu-satunya cara agar kita bisa mengetahui keberadaan Rama sekarang adalah dengan cara melacak pemilik mobil-mobil yang terparkir di halaman depan gedung saat kejadian berlangsung. Aku yakin pemilik mobil-mobil itu memasang dashcam pada mobil mereka."


Mendengar penuturan Xavier, Adam segera bangkit berdiri. "Aku akan meminta Andi melacaknya kalau begitu. Dia memang tidak jago berkelahi, tapi untuk masalah seperti ini, dia adalah ahlinya."


***


Rama menggeliat, kesadaran mulai menghampirinya. Ia mengerang saat berusaha menggerakkan tangan dan kakinya. Ia tidak tahu kenapa semua bagian tubuhnya terasa begitu sakit, terlebih lagi kepalanya yang seperti akan meledak.


Rama mengatur napas sejenak agar ia dapat mengatasi rasa sakit yang sekarang tengah ia rasakan. Ia tidak akan memaksakan tubuhnya untuk bergerak jika tubuhnya memang masih belum siap untuk itu,


Suara bising perlahan menyusup ke dalam gendang telinga Rama, ia dapat mendengar suara tawa dan denting botol-botol minuman yang saling bersahutan. Aroma alkohol bahkan begitu menyengat hingga membuatnya ingin muntah.


"Richard ini adalah orang hebat. Aku pernah bertemu dengannya beberapa kali saat aku masih bekerja di tuanku yang dulu. Dan asistennya sangat setia saat itu. Ke mana Richard pergi, si asisten selalu mengikuti. Tidak kusangka jika sekarang keadaan berbalik. Si tua itu berubah 360 derajat setelah tuannya mati. Dasar tidak tahu diri."


Suara tawa kemudian kembali terdengar. Rama mempertajam pendengarannya. Ia ingin me dengar lebih banyak informasi yang sangat membuatnya terkejut.


"Kasihan sekali Richard. Dia pasti menangis di dalam tanah, ingin keluar dan menghajar asistennya, tapi tidak bisa."

__ADS_1


"Ya, bagaimana bisa keluar kalau tangan dan kakinya terbungkus."


Komentar terakhir yang Rama dengar kembali mengundang gelak tawa. Namun, tidak dengan Rama. Ia merasa darahnya mendidih saat mendengar semua olok-olok yang terlontar untuk Richard.


"Dasar bang-sat," gumam Rama.


Beberapa saat kemudian keadaan Rama sudah mulai membaik, ia dapat mendongakkan kepala dan menoleh ke sana-kemari untuk mengetahui di mana ia dikurung saat ini.


Rama dapat melihat ruangan yang begitu luas dengan langit-langit tinggi tanpa plafon. Terdapat banyak drum-drum kosong, besi berkarat, kayu-kayu yang terlihat masih kokoh, dan beberapa batako yang tidak terpakai yang ditumbuhi tanaman rambat.


Selain itu, Rama juga melihat sebuah rak tinggi di sisi kanan ruangan. Rak itu berisi kardus-kardus dan kotak-kotak kayu berukuran besar. Di balik rak itulah para penculik yang menawannya sedang asyik bergosip sembari menikmati minuman keras, sehingga tidak ada satu pun dari mereka yang tahu jika Rama telah sadarkan diri.


Pintu ganda yang terbuat dari besi jauh di depan Rama perlahan membuka, dan Rama segera menutup mata. Ia berpura-pura pingsan, karena ia sadar jika ia belum siap untuk mulai bertarung saat ini.


Seorang wanita yang merupakan pengantar makanan masuk ke dalam gudang tempat Rama ditawan, dan ia terperanjat saat melihat Rama yang terikat pada tiang.


"Astaga," gumam wanita itu sambil menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan.


Ia terpaku sejenak dengan kedua mata yang terus menatap Rama. Setelah beberapa saat, ia pun memberanikan diri untuk mendekati Rama. Apalagi tidak ada satu pun orang yang menyadari kehadirannya saat ini.


Setelah berada di dekat Rama, wanita itu meletakkan box makanan berisi ayam goreng dan kopi instan di atas meja reyot yang ada di dekat Rama, lalu dengan berani ia menepuk-nepuk kedua pipi Rama.


"Hei, hei, bangunlah. Kamu mati atau pingsan. Apa kamu butuh bantuanku?!" bisik wanita itu.


Mendengar ucapan wanita itu, Rama segera membuka mata. "Ya, plis!"


Bersambung.


.

__ADS_1


__ADS_2