My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
TIDAK ADA YANG PASTI DI DUNIA INI


__ADS_3

Hari sudah sore ketika pemakaman selesai dilakukan. Tidak ada acara pengiriman doa seperti yang sering dilakukan oleh kebanyakan kalangan ketika salah satu anggota keluarga mereka meninggal dunia. Bukannya Ara tidak mampu untuk melakukan semua itu, toh Rama berada dalam genggamannya sekarang, dan mudah sekali baginya untuk mengendalikan Rama. Meminta Rama memanggil orang yang ahli memimpin doa, menyediakan konsumsi dan lain sebagainya.


Akan tetapi, Ara menyadari jika ada sesuatu yang lebih penting yang harus ia lakukan agar ibu dan juga kakaknya dapat bertahan hidup, lebih bagus lagi jika ia bisa membantu semua warga yang kehilangan rumah, bukan hanya ibu dan kakaknya.


"Mereka tidak mungkin tidur di sekolah malam ini. Jumlah mereka terlalu banyak dan bangunan sekolah pun tidak sebesar bangunan sekolah yang ada di kota," ujar Ara pada Rama yang baru saja turun dari ambulans pengantar jenazah.


Rama mengusap keringat yang memenuhi dahinya, saat melakukan itu, Ara ingin sekali menggantikan kedua tangan Rama dengan tangannya sendiri.


"Lalu, apa yang harus kulakukan? Haruskah aku pindahkan mereka semua ke rusun terdekat?" tanya Rama, ia bingung harus mengambil tindakan apa sekarang, karena semua terlalu mendadak baginya. Tidak masalah jika ia tiba-tiba harus menghajar seratus orang, tetapi menyusun rencana merelokasi warga yang kehilangan tempat tinggal bukanlah hal mudah baginya. Lebih baik berkelahi, daripada harus menyusun rencana pengungsian.


Ara tersenyum malas mendengar ucapan Rama. "Kamu baik sekali, tapi sayangnya otakmu sama sekali tidak jalan. Mana ada rusun yang bisa menampung mereka semua."


Rama menghela napas dengan berat. "Well, apa?"


"Aku butuh tenda yang besar. Sekitar sepuluh buah. Selain untuk tempat tidur warga, kita juga bisa membangun dapur umum dengan salah satu tenda itu," ujar Ara.


Rama mengangguk, ia lalu melambaikan tangan ke Mona dan Sela yang berdiri di sudut sekolah, dekat dengan kantin yang tertutup rapat.


Melihat Rama melambai ke arah mereka, Sela dan Mona segera berlari menghampiri Rama dan juga Ara.


"Dia butuh tenda," ujar Rama, sambil menunjuk Ara. "Di mana bisa kita dapatkan tenda berukuran besar yang biasa digunakan untuk pengungsian?"


Mona dan Sela mencerna informasi yang Rama berikan.


"Kami akan mencari secara online, aku rasa tidak sulit untuk menemukannya," ujar Mona.


Sela mengangguk. "Ya, sementara Mona mencari tenda, aku akan mengurusi masalah konsumsi. Tenang saja, Rama, kami akan melakukan yang terbaik di sini. Kamu bisa kembali ke kota, biar kami yang menangani masalah di sini," ujar Sela. Ia sadar jika Rama tidak seharusnya berasa di sini sekarang, Tiffani pasti menunggu Rama dengan cemas.

__ADS_1


Rama baru saja membuka mulut hendak bicara, tetapi Ara mendahului.


"Siapa bilang dia boleh pergi. Dia harus tetap di sini sampai aku mengizinkan dia untuk pergi," ujar Ara dengan sengit.


Sepasang mata Mona membelalak begitu mendengar ucapan Ara yang berlagak sok nge-bos.


"Mana bisa begitu. Dia sibuk. Banyak urusan di kantor yang harus dia selesaikan. Kamu tidak bisa menahannya terus di sini. Lagi pula, istrinya pasti khawatir," seru Mona.


Ara terlihat tidak peduli. Ia melambaikan tangan dengan malas di hadapan Mona, meminta Mona untuk menghentikan ocehan yang tidak penting.


"Istrinya? Istrinya yang cantik tapi jahat itu?" ujar Ara, dengan suara yang lebih sengit daripada sebelumnya.


"Apa maksudmu? Jangan berkata buruk tentang Tiffani." Mona memelototi Ara, rasa kasihan yang ia sempat ia rasakan untuk Ara seketika menghilang saat Ara menjelek-jelekan Tiffani secara terang-terangan.


"Dia memang buruk dan jahat. Dia tahu yang sebenarnya terjadi,tapi dia diam. Padahal aku sudah memohon padanya dan pada kalian semua, tapi apa yang kalian lakukan, hah? Ayahku meninggal ... ayahku meninggal karena Tiffani! Andai dia mengatakan padaku yang sebenarnya, semua ini pasti tidak akan terjadi. Seharusnya dia menghentikan si Damar itu. Tapi coba lihat, apa ... apa yang dia lakukan selain diam dan bersembunyi di balik wajah cantiknya."


Baik Rama, Sela, bahkan Mona sadar betul jika ucapan Ara tidak salah. Seharusnya mereka menghentikan Damar, bukannya malah diam dan berdiskusi tanpa mengambil tindakan apa pun.


Ara mengusap air matanya yang kembali mengalir, kemudian ia kembali berkata. "Siapkan tendanya. Dan jangan ada yang pergi dari sini tanpa izin dariku." Setelah mengatakan itu Ara segera berlalu dari hadapan Rama, Mona, dan Sela.


Rama mengusap wajahnya dengan kasar saat Ara tidak lagi ada di hadapannya. Ia merasa bersalah, ia lelah dan bingung, tetapi yang paling parah yang sekarang sedang ia rasakan adalah ia merindukan Tiffani. Ia mengkhawatirkan keadaan wanitanya itu, dan rasanya ingin sekali ia memeluk Tiffani saat ini.


"Bagaimana dengan Tiffani, apa dia sudah tiba di rumah?" tanya Rama, sambil menatap Mona dan Sela bergantian.


Mona mengangguk. "Adam mengabariku tadi, mereka sudah di rumah sejak dua puluh menit lalu."


"Baguslah," gumam Rama.

__ADS_1


"Tapi, Xavier terpaksa harus membuat Tiffani pingsan, karena Tiffani memaksa ingin ke sini seorang diri." Mona kembali berujar.


"Tidak masalah. Lebih baik begitu daripada dia celaka di sini,” gumam Rama lagi. "Aku merindukannya."


Sela memandang Ara di kejauhan. "Bukankah berlebihan sekali kalau dia sampai menahanmu di sini, Rama? Dia mencurigakan."


Rama mengikuti arah tatapan Sela, dan ia berkata, "Dia tidak akan menahanku selama yang kita kira. Dia hanya sedang kesal sekarang. Untuk sementara kita biarkan saja dia, dan kamu Mona ... bersabarlah sedikit, kita sedang menghadapi seseorang yang sedang terluka." Rama menasehati Mona yang masih terlihat kesal.


Mona menghela napas dengan kesal. "Ya, dia memang terluka sekarang. Bukankah seharusnya dia meratapi ayahnya kalau begitu, bukannya malah sibuk menahanmu di sini. Aku rasa dia memiliki niat tersembunyi."


Rama mengetuk pelan puncak kepala Mona sembari melewati wanita itu. "Berhentilah berpikiran buruk. Cepat dapatkan tenda. Setelah semuanya beres di sini, aku yakin kita bisa kembali ke kota."


"Tunggu, Rama!" Sela berseru, menahan langkahmu Rama.


"Ya, apalagi sekarang?"


"Apa kamu sudah menghubungi Om Damar?" tanya Sela.


Rama menggeleng. "Aku belum sempat."


"Apa menurutmu dia mengetahui kalau telah jatuh korban di sini?" tanya Sela lagi dengan penasaran.


"Aku rasa tidak. Dia pasti akan segera datang kalau dia tahu ada yang meninggal di sini. Tidak mungkin dia diam saja. Dia tidak sejahat itu kurasa.” Rama menjawab dengan ragu. Sebenarnya ia sendiri tidak yakin dengan jawabannya.


Seseorang bisa berubah menjadi monster seketika, sama halnya seperti Damar. Tidak ada yang pasti di dunia ini. Bahkan Ara yang polos pun terlihat licik saat hatinya terluka.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2