My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
BERTEMU KEMBALI


__ADS_3

Dahi Tiffani mengernyit begitu mendengar apa yang Gracella katakan. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Gracella, karena memang sebenarnya ia tidak banyak ikut campur dalam urusan pembangunan hotel. Semua urusan bisnis normal yang ia miliki ditangani sepenuhnya oleh Damar, seperti pembangunan resort, hotel, hingga ruko-ruko. Sedangkan ia lebih fokus ke urusan-urusan bisnis tidak normal yang diwariskan sang ayah, atau bisnis gelap yang selama ini lebih banyak menghasilkan pundi-pundi rupiah.


Namun, belum sempat Tiffani menanyakan apa pun pada Gracella, empat buah mobil terlihat memasuki halaman depan, dan kemudian berhenti tepat di halaman parkir yang letaknya berada persis di seberang teras.


Tiffani yang sejak tadi duduk di sebuah kurai teras segera bangkit berdiri, dan kemudian tanpa membuang waktu ia pun berlari menjauh dari teras, melintasi halaman berumput hijau menuju area parkir. Gracella, Mona, dan Sela segera mengekor langkah Tiffani, toh pujaan hati mereka juga berada di dalam salah satu dari keempat mobil itu, dan masing-masing dari mereka merasa sangat khawatir pada keadaan kekasih mereka.


Napas Tiffani terengah-engah ketika ia akhirnya tiba di depan sebuah mobil yang paling mewah di antara ketiga mobil yang ada, mobil itu adalah mobil milik Xavier.


Pintu mobil terbuka, dan Xavier terlihat keluar dari dalam mobil. Ekspresi datar di wajah Xavier membuat dada Tiffani berdegup kencang. Ia penasaran sekali bagaimana misi penyelamatan yang dipimpin oleh Xavier. Apakah berhasil atau tidak? Apakah Rama selamat atau tidak? Semua pertanyaan itu menumpuk di dalam kepala Tiffani, dan siap untuk meledak kapan saja.


"Bagaimana?" tanya Tiffani, pada Xavier.


Xavier tidak menjawab. Ia hanya menghela napas panjang sambil menggeleng.


Melihat ekspresi Xavier, Tiffani lantas maju selangkah agar lebih dekat dengan Xavier. Ia kemudian mendongak dan mendorong dada bidang Xavier hingg tubuh pria itu limbung.


"Keterlaluan. Apa yang bisa kamu lakukan, hah? Kenapa menyelamatkan Rama saja kamu tidak bisa?!" lirih Tiffani, dengan kedua mata yang mulai memerah dan berair.


"Tiffani, kami ...." Xavier berusaha menjelaskan, tetapi Tiffani kembali mendorong Xavier.


"Keterlaluan, keterlaluan, keterlaluan," desis Tiffani setiap tangannya mendarat di dada Xavier dan terus membuat pria itu terpojok.


"Sayang, tolonglah," pinta Xavier, sambil menatap Gracella yang hanya berdiri menonton apa yang Tiffani lakukan.


Gracella mengangkat kedua bahunya sambil menggeleng. Ia pun kesal karena Xavier tidak berhasil menyelamatkan Rama. Pada Xavier tidak berangkat seorang diri. Dengan tubuh sebesar itu, Xavier masih harus ditemani oleh tim bodyguard utama, tetapi bukannya berhasil, suaminya itu malah gagal. Memalukan sekali.


Anggota bodyguard lainnya hanya bisa meringis melihat Tiffani yang terus menyudutkan Xavier, sementara Adam mulai gemas. Ia kesal sekali karena Rama tidak kunjung keluar dari dalam mobil, padahal Tiffani sudah terlihat sangat sedih.


Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Adam menghampiri mobil Xavier dan membuka pintu bagian belakang mobil sambil berseru.


"Keluarlah, Jagoan! Mau sampai kapan kamu melihat istrimu menyiksa Xavier yang tak bersalah."

__ADS_1


Suara lantang Adam menghentikan kegiatan Tiffani. Ia pun membalikan tubuhnya, dan menatap langsung ke tempat Adam berdiri.


Merasa diperhatikan oleh Tiffani, Adam pun menghela napas panjang dan berkata, "Dia di dalam. Mungkin sedang bermain gamebot."


Tiffani tidak bergerak, ia menunggu Rama keluar dengan sendirinya jika memang benar Rama ada di dalam mobil itu, dan benar saja detik berikutnya Rama keluar dari dalam mobil. Wajahnya yang bersimbah darah terlihat bahagia, tidak menunjukan jika ia sedang kesakitan saat ini. Senyum di bibirnya mengembang saat ia melihat Tiffani yang menatapnya dengan tatapan melotot.


"Keterlaluan," desisi Tiffani, sambil melangkah dengan cepat menghampiri Rama, dan segera mendaratkan tinju tanpa henti di punggung Rama.


Rama meringis, dan berteriak memohon ampunan dari Tiffani, tetapi Tiffani tidak menghiraukan teriakan Rama. Lagi pula, siapa yang suruh untuk mengerjai seseorang yang sedang khawatir.


"Hem, sepertinya lebih baik jika kita kabur, Guys, sebelum nyonya kita itu mulai menyalahkan kita karena menyembunyikan suaminya di dalam mobil," ujar Rei, memberi saran pada rekan-rekannya.


Johan menyahut, "Setuju. Lagi pula, Sela sudah menungguku," ujarnya, lalu melambaikan tangan ke arah Selatan yang berdiri di sisi lain halaman.


"Aku pun setuju. Aku tidak ingin dimarahi hanya karena Rama yang sok kegantengan itu." Andi menimpali, seperti biasanya bodyguard yang satu itu memang selalu berkomentar sesuka hati.


Detik berikutnya rombongan bodyguard utama itu pun membubarkan diri. Walaupun sebenar mereka belum puas menonton bagaimana Rama disiksa oleh Tiffani, tetapi mereka tetap saja menjauh, melangkah bersamaan menuju markas mereka, menyelamatkan diri dari kemarahan Tiffani yang mengerikan.


"Maafkan aku," ujar Rama, sambil menyentuh lengan Tiffani, berusaha untuk memeluk Tiffani.


Tiffani yang masih kesal segera menyentak tangan Rama dengan kasar. "Aku menunggumu sejak belasan jam yang lalu, dan saat kamu datang kamu malah bersembunyi dan membiarkan rasa khawarku semakin menjadi. Tega sekali kamu mengerjaiku," lirih Tiffani.


Rama menunduk, dan berulang kali meminta maaf. "Aku sungguh minta maaf, aku sama sekali tidak bermaksud untuk mengerjaimu. Aku hanya ingin membuat kejutan. Maafkan aku. Maafkan aku yang keterlaluan padamu."


Tiffani kembali menyentak tangan Rama saat pria itu hendak memeluknya, dan tanpa sengaja tangan Tiffani yang berayun mengenai bagian kening Rama yang terluka.


"Argh!" Rama merintih, dan seketika darah segar kembali mengalir dari luka yang belum kering sempurna itu.


Melihat Rama kesakitan dan kembali terluka karena ulahnya, Tiffani segera mendekat. Ia melepas cardigannya dan menempelkan cardigan itu di kening Rama yang berdarah.


"Maafkan aku. Aku tidak sengaja," ucap Tiffani, sambil menggigit bibir bawahnya. Ia ngeri melihat luka di kening Rama yang cukup dalam dan lebar.

__ADS_1


"Tidak akan kumaafkan," ucap Rama, lalu melanjutkan, " Kecuali kamu menciumku." Setelah mengatakan itu, Rama langsung menarik Tiffani ke dalam pelukannya dan mendaratkan bibirnya di bibir Tiffani yang lembut dan hangat.


Rama mengeratkan pelukannya di pinggang Tiffani agar tubuh wanita itu semakin menempel pada tubuhnya, dan ia mel-umat bibir Tiffani dengan rakus, seperti seseorang yang sedang melepas dahaga setelah mengalami dehidrasi selama berhari-hari.


Tiffani kualahan menghadapi ciuman dari Rama yang begitu panas, tetapi ia suka. Ia suka saat Rama menci-umnya dengan penuh gairah. Andai saja sekarang ini mereka berdua sedang berada di sebuah pulau terpencil, ia pasti tidak akan ragu untuk mendorong tubuh Rama hingga Rama terbaring di atas rumput, lalu melucuti pakaian Rama, dan pakaiannya sendiri hingga mereka sama-sama telan-jang. Setelahnya ia akan menyentuh, dan mengecup setiap anggota tubuh Rama dan kemudian ia akan memaksa Rama untuk memberinya kepuasan.


Akan tetapi, sayang sekali semua itu hanyalah khayalan Tiffani semata, bagaimana bisa berci-nta dengan Rama di ruang terbuka, jika sekarang saja ada beberapa pasang mata yang sedang mengintip ciu-man panas antara Rama dan Tiffani.


"Astaga, lihatlah tuan dan nyonya kita. Kenapa juga mereka berciuman di sana, apa mereka tidak punya kamar?" desis Anton, yang sekarang sedang mengintip di balik pepohonan tabebuya yang tumbuh di sekitar halaman.


Mario mengetuk kepala Anton dengan keras. "Ayo ke markas, tidak baik mengintip orang yang sedang berciu-man."


"Sebenarnya aku sama sekali tidak berniat untuk mengintip mereka yang sedang berciuman. Aku hanya ingin melihat Rama yang dipukuli, itulah sebabnya aku mengintip. Siapa sangka mereka malah berciuman. Ah, ada-ada saja," keluh Anton, sambil mengusap kepalanya.


Willi yang juga ternyata mengintip tidak jauh dari Anton pun menimpali, "Aku akan mencari kekasih saat mendapat hari libur nanti, dan aku akan menciumnya di depan semua orang. Dasar Rama tukang pamer," ujarnya dengan gemas, lalu segera berbalik pergi menuju markas sambil memgomel.


Anton dan Mario tertawa melihat sikap Willi yang sewot setengah mati.


"Ya,begitulah kalau terlalu lama menyandang gelar sebagai pria jomlo." Mario berkomentar, lalu segera menyusul Willi.


***


Gudang penyimpanan tepi laut.


Satu kontainer senjata api jenis AK 47 yang tersimpan rapi di dalam kotak-kotak baja dan kotak-kotak kayu di pindahkan ke dalam sebuah kapal barang. Selanjutnya kapal itu akan bertolak menuju sebuah pulau terpencil, pulau paling aman yang tidak berpenghuni.


Dion sengaja memilih pulau tersebut sebagai tujuan berlabuh kapal pengangkut barang agar kali ini tidak ada yang menggagalkan transaksinya lagi. Di pulau itu jugalah ia akan bertemu dengan pemasok yang telah berbaik hati menjual senjata api selundupan itu padanya dengan harga murah.


Sekarang Dion sedang duduk di sebuah kursi lipat di tepi dermaga, menanti kedatangan si pemasok. Setelah beberapa lama menunggu, sebuah speed boat mendekat.


Dion tersenyum. "Ini dia yang kutunggu-tunggu."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2