My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
MENJAGA HARGA DIRI


__ADS_3

Aaah!


Menciummu! Adalah kalimat yang sangat menggoda bagi Tiffani. Rasanya ia ingin mengangguk dan menarik Rama ke dalam pelukannya agar Rama benar-benar menciumnya setelah ia mendengar kalimat tersebut keluar dari bibir Rama yang seksi.


Akan tetapi, Tiffani masih memiliki akal sehat. Tidak mungkin ia melakukan hal itu. Bukankah baru kemarin malam ia memutuskan hubungan dengan Rama, mana mungkin sekarang ia begitu kegatalan ingin dicium oleh Rama. Ia akan benar-benar kehilangan harga diri jika sampai nekat mendekat ke Rama dan membiarkan Rama menciumnya.


"Bagaimana, ingin diam dan menurut, atau masih ingin mengoceh panjang lebar?!" tanya Rama.


Suara Rama mengejutkan Tiffani. Tiffani segera menggeleng, menyingkirkan bayangan nakal tentang bibir Rama yang seksi yang tiba-tiba saja memenuhi isi kepalanya dan membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari yang seharusnya.


"Masih ingin mengoceh?" Rama kembali bertanya, saat dilihatnya Tiffani hanya diam.


Tiffani sontak menutup mulut dengan kedua tangannya, seolah ia enggan dicium oleh Rama.


Melihat reaksi Tiffani, Rama menghela napas dan langsung menyalakan mesin mobil. "Mengecewakan sekali," ujar Rama, lalu mulai melanjutkan perjalanan kembali menuju ke rumah sakit.


***


Sementara itu, setelah dua hari dalam perawatan intensif, kondisi Johan akhirnya mulai membaik. Sela yang selalu menemani Johan terlihat sangat senang ketika Johan membuka mata untuk waktu yang cukup lama dan tidak kembali pingsan. Karena beberapa kali Johan hanya membuka mata sebentar sebelum akhirnya kembali tidak sadarkan diri. Hal seperti itu terjadi berulang kali hingga membuat Sela merasa sangat khawatir. Namun, kali ini Johan tersadar untuk waktu yang cukup lama.


"Sela," lirih Johan. Suaranya terdengar begitu lemah.


Sela meraih telapak tangan Johan dan meremasnya dengan lembut. "Ya, aku di sini."


Sudut bibir Johan yang terluka mulai tertarik ke atas, membentuk senyum manis yang membuat Sela sedih.


"Tidak usah tersenyum seperti itu, Jo, pasti rasanya sakit sekali," ujar Sela. Ia tahu jikalau Johan sedang merasakan sakit di sekujur tubuh saat ini akibat dari luka yang Johan dapat dari siksaan Burhan.


"Kamu memang pengertian sekali," ujar Johan.


Sela menghela napas. "Inilah aku yang sebenarnya. Betapa beruntungnya pria yang memenangkan hatiku." Sela menyombong.


Johan kembali tersenyum mendengar ocehan Sela yang begitu tinggi hati. Tetapi, memang benar bahwa pria yang mendapatkan Sela adalah pria yang beruntung. Sela cantik dan menarik, walau sifatnya sangat keras dan begitu tertutup, tetapi sebenarnya Sela adalah gadis yang baik. Gadis baik yang hidup dan besar di dalam sarang monster, maka tidak terlalu mengherankan jika ada sedikit watak monster yang mendiami hati Sela.


"Oh, ya, di mana mereka?" tanya Johan, pada Sela.

__ADS_1


Sela yang ditanya terlihat bingung. "Mereka? Mereka siapa?" Bukannya menjawab, Sela malah balik bertanya.


"Teman-temanmu yang telah menyelamatkan aku dari kematian,"jawab Johan.


"Oh, maksudmu adalah Rama dan yang lainnya?"


"Ya, benar. Aku ingin bertemu dengan mereka semua dan mengucapkan banyak terima kasih. Jika bukan karena mereka, aku tidak mungkin ada di sini sekarang, Sel."


Sela mengangguk. "Ya, aku tahu. Aku akan mengatur pertemuan dengan Rama dan yang lainnya. Kamu tenang saja." Sela yang sejak tadi duduk di samping Johan, kini bangkit berdiri. "Tunggu di sini, aku akan memanggil dokter."


Johan mengangguk.


Sela tersenyum singkat, lalu segera melangkah menuju pintu. Namun, langkah Sela terhenti saat ia mendengar Johan menyebut namanya.


"Ya, Jo?" tanya Sela.


"Ayahmu baik-baik saja. Rama dan teman-temannya tidak menyakiti ayahmu sedikit pun." Johan berpikir bahwa Sela harus tahu bagaimana keadaan Burhan, Karena bisa saja di balik sikap acuh Sela, sebenarnya Sela mengkhawatirkan Burhan juga. Toh, Burhan adalah ayah Sela, dan tidak ada seorang anak pun di dunia ini yang tidak mengkhawatirkan keadaan ayahnya.


Sela hanya tersenyum sambil mengangguk, lalu segera keluar dari dalam kamar.


Di koridor, tanpa sengaja Sela berpapasan dengan Mona. Bukan hanya berpapasan, tetapi keduanya bertabrakan karena Mona yang begitu tidak hati-hati dalam melangkah.


Mona yang juga melakukan hal sama seperti yang Sela lakukan hanya nyengir. "Maafkan aku. Aku sedang buru-buru sekali," ujar Mona.


"Kenapa memangnya? Apa kamu sedang dikejar hantu?" tanya Sela lagi.


"Lebih baik aku dikejar hantu, daripada harus mengalami semua ini," ucap Mona, sembari bangkit berdiri, kemudian ia mengulurkan tangan untuk membantu Sela berdiri juga.


"Seburuk apa hal yang kamu alami, sampai-sampai dikejar hantu lebih baik bagimu," tanya Sela, ketika ia telah bangkit berdiri.


Mona menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Sela. "Tiffani menghilang. Tidak ada hal yang lebih buruk dari semua ini. Aku bahkan sudah berkeliling rumah sakit, memeriksa semua koridor dan bangsal yang ada di sini. Aku bahkan memberanikan diri memasuki ruang mayat, tetapi Tiffani tidak ada di mana pun. Aku sungguh bingung, Sela, bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi pada Tiffani, dan akhirnya dia ...."


"Lepaskan aku! Aku bilang lepaskan. Hai, Sialan, lepaskan. Aku bukan penjahat. Ih, Rama!"


Mona menghentikan ocehan tentang rasa khawatirnya pada Sela, saat ia mendengar suara Tiffani yang sedang merengek di ujung koridor. Dan benar saja, tidak lama kemudian, Rama dan Tiffani muncul di ujung koridor. Rama yang terlihat tegas bagai sebuah robot menggandeng pergelangan tangan Tiffani dan melangkah dengan cepat. Ia terlihat tidak peduli sama sekali dengan ocehan Tiffani yang terdengar begitu cerewet.

__ADS_1


"Itu kan Tiffani," ujar Sela, sambil menunjuk Tiffani dan Rama.


Mona mengangguk. "Ya, itu memang Tiffani."


"Aku bisa jalan sendiri. Sekarang juga lepaskan aku.Aku tidka mau ditarik-tarik seperti ini. Aku bukan anak kecil, Rama!"


Buk!


Tiffani kehabisan kesabaran. Ia menendang kaki Rama dengan begitu keras, hingga Rama meringis kesakitan. Sela dan Mona yang melihat hal itu sampai ikut meringis juga.


"Pasti sakit sekali," gumam Mona, sambil menggigiti kukunya.


"Ada apa dengan Tiffani? Kenapa dia jadi kasar seperti itu pada Rama?" tanya Sela. Ia terlihat bingung, karena Tiffani selama ini sangat bucin pada Rama. Kenapa seseorang yang sedang bucin tiba-tiba saja bertindak kasar pada orang yang dicintai.


"Ck, jangan tanya, Sel, sejak kemarin malam Tiffani memang agak berbeda. Aku saja hampir tidak mengenalinya. Pak Damar saja dikatainya pria tua bangka. Jadi jangan heran kalau sekarang dia mengatai Rama sialan."


"Sungguh? Wah, mungkin dia kerasukan!"


Sela dan Mona kemudian berhenti berdiskusi, dan kembali menatap Rama dan Tiffani yang masih saling memelototkan mata di kejauhan.


"Kenapa kamu menendangku? Ini tindak kekerasan namanya, dan aku bisa mengadukan tindakanmu ini ke polisi," desis Rama.


"Suka-suka aku mau melakukan apa! Aku bosmu di sini." Tiffani mendorong Rama. "Kalau kamu melapor ke polisi, silakan lapor. Aku sama sekali tidak takut. Dasar pecundang!" Tiffani kembali mendorong Rama dengan keras.


Rama menyentuh dadanya yang baru saja mendapat sentuhan dari Tiffani. "Aku tidak tahan lagi, Tiffani. Aku aka mengajukan pengunduran diri. Mana bisa aku bekerja dengan nenek sihir sepertimu."


Tiffani berkacak pinggang, kemudian maju beberapa langkah, mendekat ke Rama. "Hahaha! Baguslah. Bagus sekali! Aku pun sudah muak terus kamu buntuti ke sana-kemari. Segera ajukan pengunduran dirimu, aku tunggu kabar baiknya!" Tiffani menantang, kemudian segera berlalu dari hadapan Rama.


Tiffani menghentikan langkah tepat di hadapan Sela dan Mona yang masih menatap Tiffani dengan mulut terbuka.


"Apa yang baru saja kamu lakukan, Tiffani? Kamu pasti akan menyesal," gumam Mona, pada Tiffani yang sekarang tengah berdiri di hadapannya dan juga Sela.


Tiffani mengibaskan rambut panjangnya dengan sombong, agar Sela dan Mona tidak melihat luka menganga di hatinya karena ia harus membohongi diri sendiri dan terpaksa membuang Rama dari dalam kehidupannya.


"Aku tidak akan menyesal. Justru aku merasa bebas sekarang. Sangat bebas! Yuhuuu!" Tiffani berteriak, sambil merentangkan kedua tangan dan berputar seperti ballerina.

__ADS_1


di kejauhan, Damar memperhatikan apa yang tengah terjadi antara Tiffani dan Rama. "Baiklah, rencana kedua akan segera dimulai." Ia lalu menatap Adam yang berdiri di sebelahnya. "Hubungi pelayan Grace, dan tanya padanya kapan Grace akan terbang kemari."


Bersambung.


__ADS_2