
Tiffani tiba di depan pintu kamar Richard setelah berlari menyusuri koridor dengan perasaan cemas yang luar biasa. Ia ingin segera melihat bagaimana keadaan ayahnya, dan memastikam semuanya baik-baik saja. Ia tidak peduli bahkan jika ada Gracella di kamar ayahnya, toh ia sudah berjanji pada dirinya sendiri kalau ia akan menuruti semua kehendak sang ayah, termasuk berbaikan dengan Gracella.
Tiffani mengatur napas yang mulai terengah sebelum memutar knop pintu yang tertutup tanpa mengetuk terlebih dahulu, dan benar saja begitu pintu terbuka ia dapat melihat Gracella di sana, sedang duduk dengan tubuh yang kaku bagai patung tepat di samping ranjang sang ayah.
Tiffani kembali mengatur napas guna mengontrol emosinya agar pertemuannya dengan Gracella kali ini berjalan damai dan tidak berakhir dengan perkelahian seperti yang sudah-sudah.
"Ehem!" Tiffani berdeham begitu ia tiba di belakang Gracella, tetapi Gracella tidak menanggapi sama sekali. Punggung Gracella tetap tegak dan kaku seperti saat Tiffani baru tiba beberapa saat lalu.
"Sombong sekali. Apa dia berpura-pura tuli sekarang! Menyebalkan," gumam Tiffani, sambil memonyongkan bibirnya.
Tiffani maju selangkah demi selangkah agar lebih dekat dengan ranjang di mana ayahnya sedang berbaring.
"Terima kasih sudah menjaga ayahku. Kamu boleh pergi sekarang," ucap Tiffani lagi, saat ia telah berada di samping Gracella. Namun, Gracella lagi-lagi tidak menanggapi ucapannya. Hal itu tentu saja membuat Tiffani kesal. Ia lantas menunduk sedikit agar dapat melihat wajah Gracella yang baginya begitu sangat menyebalkan, dan betapa terkejutnya Tiffani saat melihat kedua mata gadis itu terpejam.
"Astaga, bisa-bisanya dia tertidur sambil duduk begini. Apa dia tidak lelah," gumam Tiffani, lalu kembali menegakkan tubuhnya, dan di saat melakukan itu tanpa sengaja tubuh Gracella mengenai lengan Tiffani, dan sontak saja tubuh Gracella rebah ke sisi kiri, di mana Tiffani sedang berdiri sekarang.
Tiffani yang melihat Gracella hampir terjatuh tentu saja refleks menahan tubuh Gracella agar tidak terjatuh. "Ah, sial, kenapa pakai acara kesenggol segala, sih," gumam Tiffani.
Lumayan lama Tiffani menahan tubuh Gracella, hingga ia merasa cukup lelah, dan beberapa saat kemudian ....
Prok, prok, prok.
"Luar biasa. Aku sungguh senang melihat bagaimana baiknya sikap Anda kali ini, Nona. Anda dan Gracella terlihat harmonis sekali," ujar Damar, yang baru saja masuk ke dalam kamar sambil bertepuk tangan.
Tiffani terkejut mendengar ucapan Damar yang tiba-tiba muncul, dan sontak saja ia melepas tangannya yang sejak tadi menahan tubuh Gracella agar tidak terjatuh.
Buk!
"Aah, sakitnya." Gracella meringis sesaat setelah kepalanya menyentuh lantai dengan keras.
__ADS_1
Melihat Gracella yang kesakitan Damar segera menghampiri Gracella dan membungkuk di hadapan gadis itu. "Anda tidak apa-apa, Nona?" tanya Damar.
"Apanya yang tidak apa-apa. Aku kesakitan. Sangat kesakitan," desis Gracella sembari mendelik ke Tiffani. "Kamu sengaja mendorongku?"tanya Gracella pada Tiffani.
Mendengar perkataan Gracella yang nenuduhnya tanpa bukti, Tiffani segera mengibaskan tangan dengan cepat. "Tidak, mana mungkin aku melakukan itu," ujar Tiffani.
Gracella mendengkus kesal. "Mana mungkin ada penjahat yang mengaku setelah melakukan tindak kejahatan."
"Tapi apa yang Nona Tiffani katakan memang benar adanya. Dia tidak mendorong Anda, Nona Gracella. Justru saat aku masuk tadi aku melihat Nona Tiffani sedang--"
"Sudahlah, tidak usah dibahasa." Tiffani memotong ucapan Damar, ia tidak ingin jika Damar menceritakan hal kecil yang telah ia lakukan ke Gracella.
Damar menggeleng sambil tersenyum lebar. "Aku tidak boleh membiarkan kesalahpaham terjadi," ujarnya, lalu kemudian ia menatap langsung ke Gracella, dan tidak memedulikan Tiffani yang tengah memelototinya. "Jadi, saat aku masuk ke dalam kamar ini beberapa saat lalu, aku melihat Nona Tiffani sedang menahan kepala Anda, sepertinya dia melakukan itu agar Anda tidak terjatuh. Namun, karena Nona Tiffani terkejut saat aku berteriak ke arahnya, dia pun akhirnya tidak sengaja melepaskan pegangan tangannya di kepala Anda. Itulah sebabnya Anda terjatuh, Nona." Damar mengakhiri penjelasannya sambil lagi-lagi tersenyum lebar.
Gracella mengernyitkan dahi begitu Damar selesai berbicara. Ia kemudian menatap Tiffani dan berkata, "Benarkah? Kok rasanya aneh sekali. Selama ini Tiffani tidak pernah berbuat baik padaku ... ah mungkin dia mengalami geger otak, itulah sebabnya dia menjadi baik padaku. Otaknya pasti sedang mengalami gangguan tingkat tinggi." Gracella kemudian bangkit berdiri dan kembali duduk di tempatnya semula.
Tiffani yang mendengar kesimpulan asal-asalan dari Gracella hanya bisa mendengkus kesal. Ia membiarkan gadis itu berpikir apa saja tentang dirinya, karena ia di sedang tidak ingin berdebat saat ini. Kepalanya masih sakit karena kecelakaan beberapa jam lalu, sehingga berdebat dengan Gracella hanya akan membuang-buang waktu dan tenaga.
Damar menggeleng. "Tidak perlu memanggil dokter, karena ayahmu tidak apa-apa. Dia hanya sedang tidur. Biarkan saja dia tidur sedikit lebih lama, dia pasti lelah dan pusing sekali memikirkan kalian berdua yang susah sekali diminta untuk berbaikan."
"Tapi, Om, Ayah tidak biasanya tidur selama ini." Tiffani kembali berujar, kali ini ia menyentuh telapak tangan ayahnya dan meremas tangan yang kulitnya mulai keriput itu dengan lembut.
"Dia mengkonsumsi obat sebelum dia tidur. Obat itulah yang menyebabkan tidurnya menjadi nyenyak."
Tiffani menghela napas lega. "Syukurlah, aku pikir terjadi sesuatu pada ayah."
Mendengar ucapan Tiffani, Gracella berdecak. "Bersyukur? Yang benar saja. Keadaan ayahmu bahkan lebih parah dari yang kamu kira. Bagaimana bisa seorang anak tidak tahu keadaan ayahnya sama sekali!" Gracella terdengar begitu sewot pada Tiffani.
"Apa maksud ucapanmu? Memangnya kamu tahu apa tentang ayahku, hah?" tanya Tiffani, yang sekarang berpura-pura tidak tahu-menahu tentang keadaan sang ayah.
__ADS_1
Gracella baru saja hendak membuka mulut, tetapi Damar segera menghalau perdebatan antara Gracella dan Tiffani agar Gracella tidak kelepasan bicara tentang keadaan Richard yang sebenarnya.
"Sudahlah kalian berdua. Kenapa kalian berdua ini sepeti anak-anak. Kalau kalian mau ribut, ributlah di luar sana. jangan ribut di kamar Tuan."
"Dia yang duluan!" seru Tiffani.
"Tapi kamulah yang lebih dulu membuatku seperti ini. Sejak kedatanganku kamu terus saja menggangguku. Kalau kamu masih marah padaku tentang Dylan--"
"Jangan sebutan namanya. Aku tidak ingin dengar." Tiffani memotong ucapan Gracella. Ia memang tidak ingin mendengar apa pun tentang masa lalunya saat ini.
Gracella tersenyum sinis. "Ternyata benar, kamu belum move on, Tiffani."
Tiffani memutar bola matanya dengan malas. "Siapa yang bilang kalau aku belum move on. Aku hanya kesal ketika aku teringat saat itu. Saat di mana kalian membodohiku. Aku hanya merasa saat itu kalian menertawakanku karena kebodohanku. Hanya itu, selebihnya aku tidak ada masalah. Apalagi, sekarang aku telah memiliki Rama. Jika dibandingkan dengan Rama, Dylan sungguh tidak ada apa-apanya. Dari dulu dia memang pengecut dan lemah, bahkan sampai sekarang. Bagaimana bisa seorang pria tidak memiliki kemampuan bela diri sama sekali. Satu-satunya kemampuan yang dia miliki adalah bersilat lidah. Dia jago sekali menipu orang lain."
Sekarang Gracella terlihat tegang. Ia menangkap sesuatu yang janggal pada ucapan Tiffani. "Sekarang? Apa maksudmu?"
"Ah, benar, aku belum memberitahumu kalau aku bertemu dengannya tadi. Dia dokter yang dipanggil si penculik untuk merawatku."
Wajah Gracella memerah, dan ia segera bangkit berdiri. "Katakan di mana dia sekarang?"
"Entahlah, bisa di mana saja. Kami tidak berada dalam satu mobil saat keluar dari kediaman di penculik itu. Mungkin dia pulang ke rumahnya, atau--"
"Dia pasti mengikutimu ke rumah ini. Tidak mungkin tidak. Sialan, biar aku hajar dia! Dasar baji-ngan!" Setelah mengatakan itu, Gracella langsung beranjak dari hadapan Tiffani dan Damar.
"Wah sepertinya akan seru." Tiffani berkomentar.
"Hubungan mereka pasti tidak berjalan baik setelah Anda menyumbangkan Dylan untuknya. Kalau hubungan mereka berjalan lancar dan baik-baik saja, tidak mungkin dia terlihat semarah itu, kan?" Damar berkomentar.
Tiffani mengangguk. ia setuju pada apa yang Damar ucapkan. "Aku penasaran sekacau apa hubungan mereka."
__ADS_1
Bersambung.