My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
HUBUNGAN YANG MULAI BERUBAH


__ADS_3

Tiffani tiba kembali di rumah bersama dengan Mona, ia tidak langsung menuju ke rumah sakit u tuk menemani ayahnya.


Begitu mobil yang Tiffani kendarai berhenti, Tiffani langsung keluar dari dalam mobil dan melangkah dengan cepat menuju teras sembari menutupi kepalanya yang terkena terik sinar matahari.


"Dari mana saja, Tiffani?" Tiffani tersentak, begitu juga dengan Mona yang mendengar suara seorang pria di teras.


Pria itu adalah Rama, sebelumnya Tiffani tidak melihat kehadiran Rama, karena tubuh Rama terlindung oleh sebuah pohon palem hias yang ada di teras.


"Rama. Apa yang kamu lakukan di sini? Bukankah kamu harus menjaga ayahku." Tiffani balas bertanya.


"Aku adalah bodyguardmu, bukan tugasku untuk menjaga Tuan Richard. Tugasku adalah menjagamu," ujar Rama, kemudian ia melangkah menghampiri Tiffani. "Kamu harus mengatakan padaku ke mana pun kamu akan pergi. Kamu tidak boleh menghilang begitu saja dan membuat semua orang menjadi panik."


Dada Tiffani berdebar saat Rama menatapnya dengan begitu tajam.


Tiffani mundur selangkah, menjauh dari Rama yang berdiri begitu dekat dengannya. "Aku ingin pergi ke mana pun bukan urusanmu. Kita tidak punya hubungan apa pun lagi sekarang. Bukankah sudah aku katakan semalam kalau lebih baik kita saling menjauh dan--"


"Bahkan saat hubungan kita berakhir, kamu tetap harus mengatakan ke mana kamu akan pergi dan kamu harus pergi bersama denganku. Sejak awal peratutannya kan memang sudah seperti itu, NONA!" Rama menekan kalimat terakhir pada ucapannya, hingga membuat Tiffani merasa tidak nyaman.


Tiffani berdeham untuk menormalkan suaranya yang rasanya tidak dapat keluar dari tenggorokannya. "Aku tidak ingin kamu buntuti ke sana-kemari. Mulai sekarang aku memecatmu. Kamu bukan lagi bodyguardku!" seru Tiffani.


Rama menyisir rambutnya dengan jemari, kemudian ia berkata, "Siapa bilang kamu bisa memecatku? Kamu sama sekali tidak berhak untuk memecatku. Sekarang masuklah dan cepat ke ruang makan. Kamu perlu makan siang." Rama berujar dengan tegas, kemudian segera mendahuli Tiffani masuk ke dalam rumah.


Tiffani cemberut. Ia kesal sekali melihat tingkah Rama yang sok mengatur setiap aktivitasnya. Padahal Rama tidak memiliki hak untuk melakukan semua itu.


"Dia tidak berhak mengaturku! Dia hanya bodyguard yang tugasnya menjagaku, bukannya memerintahku. Dia pikir dia itu siapa!"omel Tiffani.


Mona yang sejak tadi berdiri di belakang Tiffani, segera menarik lengan kemeja yang Tiffani kenakan seraya berkata, "Tidak, Tiffani, Rama bukan hanya bodyguardmu sekarang, tapi dia adalah pengawasmu." Mona mengatakan hal itu tanpa menatap Tiffani, karena ia sedang serius menatap layar ponselnya saat ini.

__ADS_1


"Pengawas? Pengawas apa?"tanya Tiffani, yang terlihat bingung.


"Ini. Coba lihat ini!" Mona berseru, dan menyerahkan ponselnya ke Tiffani. "Ini pesan dari Pak Damar."


"Pengumuman! Aku sebagai wali Tiffani berhak melakukan tindakan apa pun demi melindungi Tiffani dari sebuah bahaya atau dari segala hal yang membawa pengaruh buruk untuknya. Untuk itu, mulai hari ini aku memutuskan menjadikan Rama sebagai pengawas bagi Tiffani. Rama mulai sekarang bukan lagi hanya bertugas untuk menjaga Tiffani, tetapi Rama juga berhak mengatur setiap tindakan Tiffani, mengingat emosi Tiffani yang sering dalam keadaan tidak stabil. Demikian pengumuman ini kubuat. Jika salah satu dari kalian ada yang mendapati Tiffani membangkang dari saran-saran yang Rama berikan, segera melaporlah padaku. Terima kasih. Salam Damar!"


Tiffani tidak bisa berkata-kata sekarang. Ia tidak habis pikir kenapa bisa Pak Damar menjadikan Rama sebagai pengawasnya.


"Sial! Peraturan apa ini!" seru Tiffani, sambil mengembalikan ponsel Mona dengan kasar. "Aku akan mengajukan protes pada Pak Damar. Aku bukan anak kecil yang bisa diatur seenaknya. Lagi pula, apa buktinya kalau dia itu memang waliku yang sah? Tidak ada, 'kan? Aku tidak pernah melihat hal seperti itu. Apa kamu pernah melihat surat wasiat ayahku, Mon?" tanya Tiffani, pada Mona.


Mona menggeleng. "Aku tidak pernah melihat surat wasiat atau semacamnya."


Tiffani menjentikkan jemari dengan keras. "Nah, benar kan. Aku yakin Pak Damar hanya mengada-ngada saja. Dasar! Aku pasti akan memberi pelajaran pada pria tua bangka itu. Lihat saja, aku tidak akan mengampuninya," gumam Tiffani.


Mona membelalakkan kedua matanya begitu mendengar ucapan Tiffani, karena baru kali inilah Tiffani menyebut Pak Damar dengan sebutan Tua Bangka. Kalimat itu sangat tidak sopan.


Suasana rumah masih sama seperti biasa, tidak banyak yang berubah, selain status Rama yang sekarang dianggap sama pentingnya seperti Richard dan Damar. Sehingga tidak mengherankan jika Rama sekarang ikut duduk di meja makan dan ikut makan bersama dengan Tiffani dan Mona saat jam makan siang.


Tiffani memperhatikan Rama yang sekarang sedang sibuk mengunyah makan siangnya. Rama terlihat serius sekali, sehingga tidak memerhatikan kehadiran Tiffani dan Mona. Merasa diacuhkan oleh Rama, Tiffani dengan sengaja menjatuhkan gelasnya hingga pecah.


Rama mengangkat wajah dari piring yang ada di hadapannya, lalu menatap Tiffani. Tiffani balas menatap Rama dengan tajam.


"Jangan buat keributan saat sedang makan. Hargai makanan yang ada di hadapanmu," ujar Rama.


"Keributan? Apa kamu tidak lihat kalau aku tidak sengaja!" ucap Tiffani, ketus.


"Ya, aku memang tidak lihat dan tidak mau lihat,"jawab Rama, lalu kembali melanjutkan makannya.

__ADS_1


Tiffani cemberut. Ia semakin kesal karena Rama bersikap begitu dingin padanya, tidak seperti Rama yang ia kenal


selama ini, Rama yang hangat dan Rama yang perhatian padanya.


"Apa kamu tidak ingin mencicipi makananku? Bagaimana kalau ada racunnya?" tanya Tiffani, pada Rama.


"Mencicipi makananmu bukan tugasku."


"Lalu tugas siapa?" tanya Tiffani lagi.


"Tidak ada. Semua makanan yang sampai di atas meja makan telah terjamin keamanannya, jadi makan sajalah, Tiffani. Jangan terlalu banyak mengoceh. Jujur saja, ocehanmu itu sangat tidak penting." Rama menjawab dengan entengnya.


Mendengar komentar Rama tentang ocehannya, membuat kekesalan Tiffani menjadi berkali-kali lipat.


"Aku tidak asal mengoceh!" Tiffani menggebrak meja makan yang ada di hadapannya, membuat sendok dan garpunya berjatuhan ke lantai.


Rama kembali menghentikan kegiatan makannya, dan kembali menatap Tiffani dengan tajam. Ia menghela napas, kemudian meraih serbet yang ada di samping piring guna mengusap sudut bibirnya.


"Katakan apa maumu? Kenapa sejak tadi kamu terus saja mencoba menarik perhatianku?"


Tiffani menatap Rama dengan tatapan tidak percaya. "Menarik perhatianmu? Yang benar saja! Aku tidak mungkin melakukan hal itu. Seperti aku ini kekurangan kerjaan saja." Tiffani membantah.


Rama tersenyum miring, senyum yang membuat wajahnya semakin menarik. "Iya juga tidak apa-apa. Jangan gengsi, Tiffani. Tapi, mohon maaf saja, aku adalah pengawas yang profesional, aku tidak akan mudah tergoda pada majikan yang berusaha untuk menggodaku. Aku tidak semurahan itu." Rama bangkit berdiri dan langsung meninggalkan ruang makan.


Mona tersedak makanannya. Ia merasa ucapan Rama sangatlah lucu, dan pasti Tiffani merasa seperti ditampar sekarang. Perempuan mana yang tidak malu jika dikatai sedang mencari perhatian pada seorang pria. Ya, Tiffani malu sekali sekarang, dan tentu saja ia marah besar.


"Dasar Rama. Dia pasti sengaja," batin Mona.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2