My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
TEROR


__ADS_3

Johan duduk di sebelah sopir yang mengendarai mobil Tiffani. Sesekali ia menoleh ke belakang, di tempat Tiffani duduk sambil bersandar dan memejamkan kedua mata. Terlihat jelas sekali jika wanita itu lelah. Bagaimana tidak jika Tiffani harus menjalankan semua bisnis yang Richard tinggalkan seorang diri. Hari ini saja Tiffani menghadiri lima pertemuan dengan orang berbeda di tempat yang berbeda. Tiffani bahkan sampai tidak makan siang, ia hanya memakan kudapan dalam jumlah sedikit dan meminum jus sedikit. Belum lagi jadwal malam Tiffani yang juga begitu padat. Wanita itu masih harus bertemu dengan beberapa pebisnis dari bisnis rahasia Richard.


"Apa Anda butuh sesuatu sebelum kita tiba di rumah, Nyonya?" tanya Johan. Ia menebak barangkali Tiffani membutuhkan vitamin atau camilan yang ingin wanita itu beli di minimarket sebelum mereka tiba di rumah.


Tiffani membuka mata saat ia mendengar suara Johan. " Tidak. Aku tidak butuh apa pun," ujarnya sambil menggeleng lemah. "Bisa tolong periksa jadwalku. Setelah makan malam apa ada seseorang yang harus aku temui?" lanjutnya, bertanya pada Johan.


Johan mengangguk, lalu meraih tablet yang ada di dalam laci dashboard, dan ia segera memeriksa jadwal Tiffani untuk malam ini.


"Anda harus bertemu dengan Pak Andrew pukul delapan, seperti yang Anda tahu pembatalan kerjasama beberapa hari lalu masih membuatnya kesal, dan setelah itu di pukul satu dini hari Anda harus bertemu dengan Nyonya Airin," ujar Johan.


Tiffani menegakkan duduknya. Kedua matanya melotot dan raut wajahnya terlihat sangat tidak suka pada apa yang baru saja Johan katakan.


"Jam satu pagi? Yang benar saja aku masih harus bekerja di jam segitu. Aku bukan robot."


"Ya, memang bukan," batin Johan.


"Aku lelah," gerutu Tiffani, kembali menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.


Johan menoleh ke belakang, menatap Tiffani yang memasang wajah cemberut.


"Aku tahu Anda lelah, tapi Anda tidak bisa membatalkan pertemuan dengan Nyonya Airin ataupun Pak Andrew."


"Dan siapakah Nyonya Airin ini? Sepertinya aku belum pernah mendengar namanya, dan jika aku tidak salah aku pun belum pernah bertemu dengannya, benar?" tanya Tiffani, berusaha mengingat apakah ia pernah bertemu dengan wanita bernama Airin itu.


"Ya, malam ini adalah pertemuan pertama Anda dengan Nyonya Airin, dan dia adalah istri mendiang Tuan Richard."


Tiffani menegakkan duduknya untuk kedua kalinya dalam beberapa menit terakhir. "Kamu bercanda?"


"Tidak. Aku sama sekali tidak bercanda, tapi hanya sampai di situ saja informasi yang aku tahu, sisanya Anda bisa tanyakan sendiri saat Anda bertemu dengannya nanti."


Tiffani menghela napas panjang, dan ia menahan diri agar tidak tertawa. Entah kejutan apa lagi yang akan ia dapatkan. Setelah seorang wanita meminta suaminya, sekarang muncul wanita lain yang ternyata adalah istri ayahnya.


"Entah kapan ayahku menikah lagi. Aku pun tidak tahu," gumam Tiffani.


Perjalanan pun berakhir setelah lebih kurang dua puluh menit berlalu. Mobil Tiffani tiba di depan gerbang utama kediaman mewahnya, dan mobil itu tidak dapat langsung melewati gerbang utama untuk masuk ke halaman berumput, karena terdapat kerumunan kecil di depan gerbang.

__ADS_1


"Apa yang terjadi," gumam Johan ketika mobil berhenti.


Suara Johan lagi-lagi membuat Tiffani membuka mata, dan ia melihat apa yang sedang Johan lihat sekarang.


"Ada apa?" tanya Tiffani.


Kerumunan di depan gerbang membuat Tiffani penasaran. Sedikitnya ada lebih dari sepuluh bodyguard yang berdiri di depan gerbang, dan ada pelayan juga tukang kebun.


"Tetaplah di sini. Biar akun periksa," pinta Johan pada Tiffani.


Tiffani mengangguk, dan menuruti apa yang Johan katakan. Tiffani tetap berada di dalam mobil, tetapi ia terlihat siaga sekarang. Dengan gerakan perlahan Tiffani mengeluarkan pistol dari dalam tas tangannya, ia juga memeriksa pisau lipat yang ia selipkan di balik stokingnya kalau-kalau ia memerlukan benda itu untuk menusuk siapa saja yang pantas ditusuk.


Detik demi detik berlalu, Tiffani menanti. Mengetuk-ngetuk jemarinya di lutut dengan gelisah sambil terus menatap kerumunan di hadapannya. Kemudian seseorang muncul dari balik gerbang, dan kehadiran seseorang itu merusak ketenangan yang sejak tadi ia pertahankan dengan susah payah.


"Sial, dia lagi. Pasti dia yang sudah membuat keributan," gumam Tiffani, lalu segera membuka pintu mobil dan bergegas keluar untuk menghampiri si pembuat onar.


Dor!


Peluru yang Tiffani tembakan meleset dan hanya menyerempet lengan objek yang ia incar.


Semua yang ada di depan gerbang terkejut bukan main, terutama Johan yang saat ini sedang memegangi lengan Sela yang berdarah. Namun, rasa terkejut yang Johan rasakan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rasa terkejut yang Sela rasakan.


Bagaimana bisa!


"Tiffani, bahaya sekali menembak seperti itu," ujar Sela.


Tiffani terlihat tidak peduli. Ia masih mengarahkan moncong pistolnya ke Sela dan bersiaplah untuk kembali menarik pelatuk.


Johan melangkah ke depan Sela, berusaha melindungi Sela dari sikap Tiffani yang mendadak aneh.


"Nyonya, sadarlah. Apa yang Anda lakukan?" ucap Johan.


Tiffani berdecak. "Minggirlah, aku harus menyingkirkannya dari hadapanku dan dari rumahku. Pasti dia yang telah membuat keributan seperti ini, benar?"


Johan melongo, begitu juga dengan yang lainnya.

__ADS_1


"Siapa yang dia maksud? Apa aku? Tega sekali Tiffani bicara seperti itu, seolah aku adalah musuhnya." Sela mendesis di belakang Johan.


"Diamlah. Dia memang sudah bertingkah aneh sejak tadi. Jadi, jangan terlalu dipikirkan," ujar Johan.


"Minggir cepat, sebelum aku menembakmu juga!" seru Tiffani, saat Johan tidak kunjung beranjak dari hadapan Sela.


"Nyonya, bukan Sela yang membuat keributan. Anda salah paham," ujar seorang pelayan yang ada di dalam kerumunan.


Dahi Tiffani mengernyit. "Bukan dia. Lalu siapa?"


Si pelayan mengibaskan tangan, meminta semua bodyguard menyingkirkan agar Tiffani dapat melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Tiffani maju selangkah demi selangkah mendekati objek yang terlihat seperti anak kecil yang berbaring di jalanan, dan detik berikutnya Tiffani menjerit saat ia melihat apa yang ada di hadapannya.


Mona muncul tepat waktu sebelum Tiffani mulai meraung.


"Tiffani, itu hanya boneka. Itu sungguh hanya boneka," ujar Mona, sambil mengguncang tubuh Tiffani yang mulai gemetar.


Ya, apa yang sejak tadi dikerumuni oleh para bodyguard dan pelayan hanyalah sebuah boneka. Boneka berbentuk manusia, berukuran seperti seorang anak kecil yang bagian dadanya ditusuk menggunakan anak panah. Boneka itu juga dipenuhi dengan cairan berwarna merah serupa dengan darah, dan pada wajah boneka itu tertulis satu nama yang membuat dada Tiffani menjadi sesak saat melihat nama itu.


JUNIOR!


"Ini teror, " gumam Tiffani, masih dengan suara tercekat. ”Siapa yang melakukannya?" tanya Tiffani lagi.


Mona menggeleng. "Kami tidak tahu, tapi kamera CCTV merekam semua kejadiannya. Tim keamanan sedang memeriksa di ruang kontrol."


Tiffani mengangguk. "Di mana Junior?" tanyanya dengan panik, tiba-tiba saja ia memikirkan putranya. Putra satu-satunya yang ia miliki.


"Dia ada di dalam bersama dengan babysitter. Dia baik-baik saja." Mona menjawab sambil mengusap punggung tangan Tiffani yang berkeringat dingin.


Setelah merasa agak tenang. Tiffani kembali mengarahkan pandangannya ke Sela, kemudian sebuah pertanyaan membingungkan terlontar dari bibirnya. "Apa yang dia lakukan di sini?"


Mona mengikuti arah pandang Tiffani, dan ia pun balik bertanya pada Tiffani. "Apa maksudku, Fan? Sela kan ...."


Buk!

__ADS_1


Tiffani jatuh pingsan, dan kali ini untuk kesekian kalinya dalam beberapa hari terakhir Tiffani tiba-tiba tidak sadarkan diri.


Bersambung.


__ADS_2