My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
Tanda Cinta


__ADS_3

Brian merasa beruntung karena Valerie masih memberinya kesempatan. Ini adalah pertama kalinya dalam hidup Brian dalam hal berkencan, maka Valerie berusaha untuk memaklumi laki-laki itu.


Di taman restoran, Brian dan Valerie mengobrolkan banyak hal. Brian yang biasa diam, tenang dan tidak banyak bicara, nampak sangat bersemangat saat Valerie di sampingnya.


Laki-laki itu menceritakan tentang keluarganya, ayah dan ibunya, juga tentang dirinya yang selama ini menghabiskan masa mudanya hanya untuk bekerja dan bekerja.


"Terkadang, aku merasa kesepian dan iri saat melihat orang-orang di sekitarku menikah, hidup bahagia bersama pasangan mereka, lalu memiliki seorang anak. Dalam hati kecilku, aku menginginkan hal yang sama. Tapi rasanya, aku sulit memulainya," terang Brian.


"Kenapa? Kau sukses, tentu saja banyak wanita yang ingin dekat denganmu," ujar Valerie.


"Pasti ada, hanya saja tidak pernah ada yang menarik hatiku. Terlebih, selama ini aku terlalu sibuk dengan perusahaan, karena Papa telah mempercayakan segalanya padaku. Hal itu membuatku terbebani."


Valerie tersenyum tipis. Sosok dingin dan pendiam yang biasa ia kenal, kini berubah perlahan menjadi sosok yang ramah dan murah senyum. Laki-laki itu, semakin membuat jantungnya berdegup kencang.


Setelah mendengar banyak hal tentang laki-laki di sampingnya, Valerie bisa memahami mengapa Brian selalu bersikap dingin seolah tidak peduli pada apapun selain pekerjaan. Rupanya dibalik sikapnya, ia adalah laki-laki kesepian.

__ADS_1


"Aku tidak tahu banyak hal tentangmu, tapi entah bagaimana bisa aku jatuh cinta padamu sampai sedalam ini," gumam Brian.


"Cinta itu buta, saat kau mencintai seseorang tanpa sebuah alasan, saat itulah hatimu menunjukkan sebuah ketulusan."


"Bisakah kau menceritakan padaku beberapa hal tentangmu agar aku bisa lebih memahamimu?" tanya Brian.


"Seperti apa? Bukankah kau tahu bahwa sebelumnya aku hanya seorang instruktur senam, aku tinggal di sebuah rumah kos sederhana. Kehidupanku jauh dari apa yang kau bayangkan," terang Valerie.


"Kau sebatang kara?" tanya Brian penasaran. Karena selama ini tidak sekalipun ia mendengar informasi tentang orang tua atau keluarga Valerie.


"Maaf, maafkan aku. Aku tidak bermaksud ...."


"Tidak apa. Saat kau memutuskan untuk mencintaiku, kau memang harus tahu bahwa mungkin aku bukan wanita seperti impianmu."


"Siapapun dirimu, asal usulmu, dan keluargamu, tidak akan merubah perasaanku!" tegas Brian.

__ADS_1


Valerie menatap Brian, ia tidak bisa menceritakan banyak hal lagi mengenai dirinya. Karena Valerie sendiri belum bisa mempercayai siapapun untuk mengetahui kebenaran hidupnya.


Pertama kali bagi Valerie, ia bisa mengenal sosok laki-laki yang bisa begitu tulus seperti Brian. Meskipun ia dari keluarga konglomerat kaya raya, ia tidak sedikitpun membandingkan dirinya dengan orang lain. Brian bahkan tidak mempermasalahkan kehidupan Valerie yang tidak jelas asal usulnya.


Brian kembali menyerahkan bingkisan kecil berisi kalung yang ia beli. Laki-laki itu meraih tangan Valerie dan meletakkan bingkisan itu di tangan Valerie.


"Tidak sedikitpun di hatiku berpikir untuk merendahkanmu dengan memberimu semua barang-barang ini. Aku melakukannya karena berharap kau suka."


"Aku mohon, terimalah," pinta Brian.


"Tapi ini terlalu mahal," tolak Valerie. Ia sudah melihat, bahwa harga kalung ini setara dengan harga sepeda motor yang biasa ia tumpangi. Bahkan Valerie butuh waktu lebih dari setahun untuk mengumpulkan uang sebanyak itu secara mandiri.


"Valerie, kau belum memberiku jawaban atas perasaanku. Terima ini, simpan saja. Saat kau sudah meyakini cintaku, saat itulah kau bisa memakainya."


🖤🖤🖤

__ADS_1


__ADS_2