My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
WANITA PENYELAMAT


__ADS_3

Gracella yang terlambat mengetahui bahwa Rama diculik sekarang tengah berlari menuju kamar Tiffani. Ia merasa sedikit kesal karena menjadi orang yang terakhir mengetahui bahwa Rama dan Tiffani sedang mengalami kesulitan sekarang. Jika saja seorang pelayan yang menyiapkan makan malam tidak memberitahunya, ia pasti tidak akan tahu tentang permasalahan ini.


"Tiffani!" Gracella berseru memanggil Tiffani sambil melangkah masuk ke dalam kamar Tiffani yang berpencahayaan remang.


Gracella terus melangkah menyeberangi kamar Tiffani yang luas, menuju ranjang yang letaknya ada di seberang ruangan.


Lampu-lampu di kamar Tiffani tidak ada yang menyala, hanya satu buah lampu tidur yang mengeluarkan cahaya kekuningan yang memberi penerangan pada kamar tersebut.


"Tiffani," seru Gracella lagi, begitu ia tiba di dekat ranjang Tiffani.


Sela dan Mona yang ada di dekat ranjang segera meletakan jemari telunjuk di bibir mereka masing-masing, meminta Gracella untuk diam. Setelahnya, mereka berdua menunjuk ke arah ranjang, di mana Tiffani sedang berbaring dalam posisi tengkurap. Punggungnya terlihat sedikit bergetar, tanda bahwa Tiffani sedang menangis sekarang.


Gracella mengangguk, lalu kembali melangkah agar semakin dekat ke Sela dan Mona.


"Sudah sejak kapan dia seperti itu?" tanya Gracella, pada Mona dan Sela.


"Sudah dua jam," bisik Mona.


"Dan tidak ada satu pun dari kalian yang mengabariku, bahkan Xavier pun tidak mengatakan apa pun padaku. Kelewatan sekali kalian. Apa aku ini bukan bagian dari keluarga, sampai-sampai kalian tidak menganggap jika aku berhak tahu semua kekacauan yang sedang terjadi!" protes Gracella.


Mona dan Sela menggeleng bersamaan.


"Bukan seperti itu, Grace. Aku tidak mengabarimu karena aku tahu kamu sedang sibuk. Aku tidak mau membuatmu khawatir dan akhirnya malah mengacaukan penyelidikan yang kamu lakukan," ucap Sela.


Mendengar apa yang Sela katakan, kemarahan Gracella sedikit mereda. Ia paham pada keputusan yang Sela ambil, karena biar bagaimana pun juga hanya dirinya dan Sela yang memiliki pemikiran yang sama, yaitu pemikiran tentang pengkhianatan Damar. Sedangkan yang lain tidak ada yang mencurigai Damar walaupun banyak keanehan yang terjadi di sekitar Damar.


Mona menarik ujung t-shirt yang Sela kenakan, lalu ia bertanya, "Memangnya apa yang Grace selidiki?" tanyanya.


Sela dan Gracella lantas menatap Mona lekat-lekat.


"Ini rahasia. Aku tidak akan katakan sebelum aku memiliki bukti yang lengkap, karena aku tidak ingin berdebat," ucap Gracella, menjawab rasa penasaran Mona.


Mona cemberut. Namun, ia memiliki firasat, ia seolah dapat menebak apa yang!Gracella lakukan.


"Aku harap kamu tidak melakukan sesuatu yang dapat membuat Om Damar merasa sedih," ujar Mona.


Sela dan Gracella tidak menjawab, mereka hanya saling pandang sejenak sebelum akhirnya Gracella memilih untuk duduk di tepi ranjang Tiffani.

__ADS_1


"Tiffani. Apa kamu sudah makan malam? Jika belum, bangunlah dan Ayo kita makan malam bersama. Pelayan sudah menyiapkan makan malam untuk kita semua," ajak Gracella.


Tiffani yang sejak tadi hanya menangis seketika membalikkan tubuhnya, kemudian ia bangkit untuk duduk dan mengusap pipinya yang basah karena air mata.


"Lihatlah keadaanmu, Tiffani, matamu sampai bengkak seperti ini," ujar Gracella, yang segera mengusap air mata Tiffani.


"Apa kamu sudah mendengar kabar dari suamimu? Dia yang memimpin pencarian Rama," tanya Tiffani.


Gracella menggeleng. "Aku tidak dengar kabar apa pun dari Xavier, bahkan kabar Rama menghilang pun aku tidak dengar jika bukan pelayan di bawah yang memberitahuku."


Tiffani kembali terisak. "Sekarang sudah malam, dan Xavier belum menemukannya. Bagaimana kalau dia mati, Grace? Apa yang harus kulakukan kalau sampai Rama mati? Apa coba?!"


Gracella menarik Tiffani ke dalam pelukannya, kemudian ia mengusap punggung Tiffani, berusaha membuat Tiffani menjadi sedikit lebih tenang.


"Jangan bicara seperti itu. Rama tidak akan pergi ke alam naka secepat ini, Tiffani. Dia tidak akan meninggalkanmu, kalau pun dia meninggalkanmu, aku pasti akan membantumu untuk menyusulnya."


Mendengar perkataan Gracella yang terkesan keterlaluan, Mona mencubit lengan Gracella dengan keras.


"Apa maksud perkataanmu itu? Apa kamu pikir bepergian ke alam baka akan semudah itu. Seseorang harus mati permanen dan menghilang untuk selamanya jika ingin pergi ke sana, dan aku tidak ingin Tiffani mati." Mona menggerutu.


Gracella tertawa mendengar omelan Mona.


Akan tetapi, Tiffani menolak. Jangankan untuk makan, minum saja rasanya ia tidak bisa.


"Aku tidak lapar, Grace, kamu makanlah bersama dengan Sela dan Mona," ucap Tiffani.


Gracella mendengkus. Ia menjauh dari Tiffani lalu memandang Tiffani dengan kedua tangan ia letakkan di pinggang.


"Di mana, sih, putri kesayangan ayah yang kuat dan tabah. Bukankah ayah selalu bangga atas ketabahan putrinya selama ini, tapi lihatlah sekarang, putri kesayangan ayah itu hanya menangis seperti bocah. Ayah pasti sedih sekali sekarang jika melihat putrinya menjadi cengeng dan lembek seperti ini."


Tiffani malah semakin menangis begitu mendengar ocehan Gracella. Ia sadar jika ia sangat membutuhkan Richard saat ini. Ia ingin memeluk Richard dan menumpahkan segala kesedihannya di dada bidang sang ayah.


Setelah beberapa saat menangis seperti seorang anak kecil, Tiffani pun akhirnya menghentikan tangisannya dan segera bangkit berdiri. "Baiklah, ayo kita makan bersama," ujarnya.


Gracella tersenyum, begitu juga dengan Sela dan Mona. Ketiganya pun keluar dari kamar bersamaan sambil bergandengan tangan.


***

__ADS_1


Tebakan Xavier tidak salah sama sekali. Hanya selang beberapa menit setelah Xavier berhasil melumpuhkan para penjahat yang menahan Rama, segerombolan penjahat lainnya kembali berdatangan. Sedikitnya ada lima puluh orang yang menerobos masuk ke dalam gudang. mereka semua bertubuh besar, dan masing-masing dari mereka dipersenjatai oleh pemukul yang terbuat dari kayu yang terlihat kokoh dan mematikan.


"Ah, sial, aku tidak pernah membayangkan ini. Bagaimana kita melawan mereka semua? Jelas sekali kalau kita kalah jumlah," keluh Andi.


Bodyguard utama sekarang telah berkumpul di tengah-tengah gudang. Mereka membentuk lingkaran, saling memunggungi satu sama lain dengan senjata api terarah ke depan. Mereka terdiri dari Rama, Xavier, Adam, Mario, Andi, Rei, Anton, Willi, Johan, dan tiga bodyguard baru yaitu, Rio, Sebastian, dan Tristan.


Walaupun keberadaan mereka telah terkepung saat ini, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang terlihat panik, terkecuali Andi yang memang tidak terlalu pandai berkelahi.


Menanggapi keluhan Andi, Rama justru tertawa. "Ini sama sekali belum apa-apa. Semakin banyak, semakin bagus, jujur saja setelah diikat seharian aku sangat ingin melemaskan otot-ototku," ujar Rama.


Xavier mengangguk setuju. "Kita mulai saja kalau begitu, hiyaa--"


"Tunggu dulu, tunggu!" Adam mengulur waktu.


"Ck, ada apa lagi, hah?" tanya Rama.


"Aku harus melepas kancing celanaku dulu. Celana ini terlalu sempit, membuat perutku tertekan dan aku jadi tidak bisa bebas bergerak."


Mendengar perkataan Adam, semua bodyguard tertawa terbahak-bahak, dan tawa mereka membuat para penjahat kebingungan. Bagaimana bisa seseorang tertawa saat sedang terpojok seperti sekarang.


Setelah urusan Adam dengan celananya selesai, Xavier segera mengambil Alih.


"Kita bersebelas sekarang, usahakan masing-masing dari kita melumpuhkan setidaknya lima orang," ujar Xavier.


Rama menyahut. "Aku ambil sepuluh. Dostep, sisanya terserah kalian."


"Pelan-pelan, Pak Boss, kamu terluka sekarang, Jangan terlalu serakah." Xavier menimpali.


"Terserah padamu saja," ucap Rama, dan segera bergerak secepat kilat menghajar dua orang penjahat sekaligus di depannya.


"Seraaaang!" teriak salah seorang penjahat begitu melihat dua temannya terkapar tak berdaya.


Pertarungan pun dimulai. Namun, tiba-tiba terdengar suara sirene kendaraan polisi yang datang dari luar gudang, dan suara sirene itu sontak membuat para penjahat lari tunggang-langgang melalui pintu belakang gudang.


Tidak lama kemudian pintu bagian depan gudang terbuka, dan seorang wanita berperawakan kecil muncul dengan membawa speaker mini di tangannya.


"Kalian tidak apa-apa?"

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2