
Rama dan beberapa bodyguard lainnya sekarang tengah berdiri di bawah bayang-bayang pepohonan rindang yang bagai raksasa dalam kegelapan, setelah beberapa saat yang lalu mereka semua mengendap-endap dengan susah payah agar dapat tiba di tempat tujuan dengan selamat.
Mario bersiul, sembari mengeluarkan senter dan tali yang dilengkapi pengait pada ujungnya. "Siap memanjat?" tanyanya, menatap satu per satu rekannya yang terlihat enggan.
"Sebenarnya aku memilih untuk melewati pintu depan. Apa gunanya Glock 17 yang kita bawa." Willi mengeluh, ia paling benci jika terdapat adegan panjat memanjat di dalam misi yang sedang ia laksanakan.
Rama mengedikkan kepala. "Dan apa gunanya tinjuku jika tidak kugunakan untuk menghajar seseorang malam ini. Ayolah, mereka memang banyak, tapi kita pun tidak sedikit! Kita lewat depan saja ... aaah!" Rama mengusap puncak kepalanya yang baru saja mendapat serangan mendadak dari Adam.
"Sadarlah, Guys, kita memang tidak sedikit, tapi jika dibandingkan jumlah kita, jumlah mereka banyak sekali. Dan kalian juga harus ingat apa perintah yang Pak Damar katakan ... cepat, senyap, tepat! Maka dari itu, aku harap kalian semua jangan gegabah, terutama kamu Rama!"
Rama menghela napas. "****! Oke, oke, ayo kita memanjat kalau begitu." Rama melempar tali yang pengaitnya langsung tersangkut di pagar beton tinggi yang ada di hadapannya.
"Ingat terakhir kali kita melakukan ini, kita langsung menemukan mayat yang digantung terbalik. Aish, mengerikan sekali."
Rama berdecak. "Aku tidak ingat."
"Ya, aku hanya mengingatkan, agar saat kejadian serupa kembali terjadi, kamu tidak harus lari terbirit-birit." Adam bercanda, berusaha mencairkan ketegangan yang mulai menggantung di udara di sekitar mereka.
"Cepatlah, jangan banyak bicara. Kita bisa ketahuan nanti." Rei mendorong Adam agar segera memanjat menyusul Rama yang sekarang telah tiba di atas pagar beton.
Hanya membutuhkan waktu tidak sampai lima menit keenam bodyguard andalan Richard Raendra itu telah tiba di balik pagar, tepat di halaman belakang sebuah mansion bergaya Eropa.
Mario kembali bersiul. "Mereka bukan orang sembarangan? Lihatlah rumahnya, mereka jelas sekali termasuk ke dalam jejeran orang-orang terpandang."
Rama tersenyum miring. "Ya, orang terpandang dengan kelakuan hina."
Mario terkekeh. "Yang penting terpandang. Kelakuan adalah urutan kesekian, dan tergantung dari sudut pandang yang memandang. Apa kamu tahu, Rama, kalau baik buruknya manusia itu relatif, iblis akan memandang sesama iblis adalah makhluk yang baik, padahal bagi malaikat, iblis adalah makhluk jahat."
Rama memutar bola matanya dengan malas. "Serius kamu ingin berdongeng di saat-saat seperti ini? Cepat keluarkan senjatamu, kalau telingaku tidak salah dengar, ada yang mendekat sekarang ... argh, sial! Arah jam dua belas, sembilan, dan enam ... Adam apa yang kamu lakukan, cepat tembak!" Rama berteriak memberi perintah, begitu ia melihat bayang-bayang yang bergerak di dekat mereka.
Semua bodyguard bergerak dengan gesit, kecuali Adam yang hanya diam bagai patung, menonton aksi saling tembak yang dilakukan oleh teman-teman nya.
Tidak ada satu pun dari bodyguard Richard yang menyangka jika kedatangan mereka terendus oleh para pengawal yang menjaga kediaman Sapta Adiguna. Bahkan Rama dan Adam yang paling jeli pun tidak ada yang menyadari hal itu.
"Sudah aku bilang, aku lebih suka jika kita melewati pintu depan. Kalau tertangkap seperti ini, kita terlihat seperti pecundang." Willi mengomel, sambil mengarahkan pistolnya ke lawan yang sekarang sedang mendekat, dan ...
__ADS_1
Dor!
Satu pengawal tumbang.
"Ya, aku setuju denganmu, Will. Tertangkap seperti ini sangat memalukan," sahut Rama, yang juga mulai menembakan beberapa peluru ke arah lawan.
Rama adalah seorang penembak jitu, peluru yang ia tembakkan tidak pernah meleset dari target. Terbukti hanya baru beberapa detik berlalu, Rama telah berhasil melumpuhkan tiga orang pengawal.
"Sudah tidak ada lagi?" tanya Andi, dengan napas yang terengah-engah. Andi terlihat begitu sok, padahal tidak ada satu pun target yang terkena oleh pelurunya.
"Nah, selamat, karena kalian telah membuat kebisingan," sindir Adam, lalu melanjutkan, "Mungkin sekarang kita sudah kehilangan Darren. Dia pasti lari begitu mendengar suara tembakan. Seharusnya kalian jangan menembak."
Rama tidak menghiraukan omelan Adam. Ia menyeret seorang pengawal yang telah tidak sadarkan diri ke bawah sebuah pohon besar, dibantu oleh Willi dan Andi yang menyeret tubuh tiga pengawal lainnya.
"Pilihannya hanya menembak atau ditembak, Dam, jelas aku tidak ingin ditembak," ujar Rama, "Kamu jangan khawatir, aku pasti akan menangkap Darren sialan itu. Ayo, bergerak!"
Setelah meyakinkan Adam, Rama langsung berlari menyeberangi halaman belakang yang begitu luas. Sinar lampu yang redup sangat membantu mereka agar tidak terlihat oleh siapa pun yang berada di dalam rumah.
"Nah, kita sampai," desis Rama, saat akhirnya mereka telah tiba di teras belakang.
"Mungkin agar suara desahannya tidak terdengar saat dia melakukan mast-urbasi," ucap Andi, yang langsung mendapat tatapan kesal dari semua rekannya.
"Apa hanya kemungkinan itu yang ada di otakmu!" ucap Anton dengan kesal.
"Tidak ada yang salah dengan ucapanku. Semua pria melakukannya." Andi membela diri.
"Tidak semua. Hanya kaum jomblo yang melakukannya." Anton menyahut sembari mengetuk puncak kepala Andi
Melihat keduanya yang kemudian malah asyik berdebat, Rama dan yang lainnya segera melanjutkan langkah menuju pintu bagian belakang yang telah tertutup rapat dan tanpa penjagaan.
"Giliran siapa sekarang?" tanya Adam.
Rei tersenyum, lalu mendekat ke pintu dan berlutut agar ia dapat fokus pada lubang kunci yang ada di depannya. Rei memang sangat mahir mencongkel, bahkan kunci yang paling rumit sekali pun dapat ia bobol dengan mudah.
Klik!
__ADS_1
Suara yang baru saja terdengar membuat Rama dan Adam tersenyum puas.
"Selamat datang di rumahku," ujar Rei, sambil terkekeh dan melambaikan tangan, mempersilakan Rama dan Adam masuk terlebih dahulu, sebelum ia dan yang lainnya menyusul tepat di belakang Rama dan Adam.
"Kita langsung ke lantai tiga," gumam Rama.
***
Darren bermimpi, mimpi yang sangat tidak mengenakkan. Bukan hanya mengerikan, tetapi mimpi yang kali ini ia alami sangatlah memalukan. Bagaimana mungkin ia bermimpi jika tubuhnya saat ini sedang terikat di sebuah kursi yang diletakkan di tengah-tengah lobi kantor ayahnya dalam keadaan setengah telan-jang, dan yang lebih parah lagi saat ini adalah jam kerja, yang sudah pasti lobi penuh dengan para karyawan yang bekerja di kantor tersebut.
Beberapa karyawan yang melintasi lobi pun tertawa sembari menunjuk-nunjuk Darren yang memang terlihat memalukan; rambut Darren berantakan, wajah penuh noda lipstik berbentuk bibir, dan hanya mengenakan ****** ***** berwarna merah muda dengan motif Hello Kitty. Penampilan Darren bisa dikatakan sangat ajaib dan pasti akan mengundang gelak tawa siapa pun yang melihatnya.
Darren menghela napas panjang, lalu mulai menggerakkan tubuhnya dengan susah payah, berusaha membebaskan tubuhnya dari tali yang membuat ia tidak dapat bangkit berdiri.
Akan tetapi, gerakannya itu terhenti saat ia mendengar suara yang begitu jelas di telinganya .
"Bergerak sekali lagi, maka aku tidak akan ragu untuk menembak kepalamu sekarang juga."
Deg!
Darren terkejut saat ia menyadari bahwa terdapat headset bluetooth di kedua telinganya.
"Bagaimana rasanya dipermalukan, hah?" Suara itu kembali terdengar.
Darren menggelengkan kepala. "Aku pasti mimpi. Ayolah, bangun cepat," gumam Darren.
"Dasar bodoh, jadi kamu menganggap kalau kamu sedang bermimpi saat ini? Buka matamu lebar-lebar, Pecundang, kamu ada di dunia nyata, bukannya di dunia mimpi!"
Suara itu kembali menggema di telinga Darren, dan di saat itulah Darren menyadari kalau ia bukannya sedang bermimpi.
Darren kemudian mengerjap berulang kali hingga kantuknya benar-benar hilang dan ....
"Aaaaah, tidaaak!"
Bersambung.
__ADS_1