
Sebuah perjuangan dan pengorbanan yang tidak sia-sia. Pada akhirnya Brian mendapatkan balasan atas perasaannya. Meskipun laki-laki itu paham jika akan ada banyak cobaan dan halangan yang akan terus mengobrak Abrik hubungan mereka namun ia sudah cukup bahagia. Karena Valerie adalah satu-satunya hal yang membuatnya kuat dan bertahan.
"Katakan padaku bahwa aku tidak sedang bermimpi," ucap Brian berbisik.
"Tidak, ada aku di hadapanmu dan mengatakan dengan jujur bahwa aku mencintaimu," jawab Valerie.
Mendengar kalimat itu, Brian semakin mempererat pelukannya. Tidak ada kebahagiaan yang lebih baik daripada balasan dari cinta pertamanya.
"Berjanjilah padaku, Valerie. Apapun yang terjadi, kau akan tetap bersamaku, kau akan tetap di sampingku. Berjanjilah," pinta Brian. Berbagai hal buruk akan mengancam hubungan mereka termasuk keluarga Brian sendiri. Dan Brian berharap, Valerie akan sekuat dirinya.
"Aku berjanji," jawab Valerie.
Meski Brian bukanlah cinta pertama dalam hidup Valerie, namun Brian adalah satu-satunya laki-laki yang bisa membuatnya jatuh cinta sejatuh-jatuhnya.
Setelah cukup lama berpelukan, Brian mengajak Valerie kembali berkeliling. Sepasang kekasih yang di mabuk cinta itu tidak pernah melepaskan genggaman tangan mereka.
Brian tidak pernah sedetikpun mengalihkan pandangannya dari wajah cantik wanita di sampingnya. Bahkan indahnya taman bunga dan segala pemandangan yang ada di hadapannya, tidak bisa mengalahkan kecantikan Valerie di hatinya.
__ADS_1
Hari semakin siang, nampaknya cuaca cerah berubah mendung. Udara dingin dan angin kencang membuat Brian segera mengajak Valerie meninggalkan taman itu.
"Kau ingin makan sesuatu?" tanya Brian.
"Apa saja aku suka," jawab Valerie.
"Sepertinya akan hujan. Apa kau tidak keberatan jika kita mampir ke villa dan makan di sana?"
"Hmm, tentu."
Angin berhembus kencang, bagian bawah dress yang Valerie kenakan berulang kali tersingkap oleh angin. Menyadari sang kekasih merasa tidak nyaman, Brian melepas jas yang ia kenakan dan melilitkan bagian tangannya di pinggang Valerie.
Seperti biasa, laki-laki tanpa pengalaman percintaan itu selalu memberikan kejutan dengan sikapnya yang manis pada Valerie.
Hanya berjalan kaki sejauh sepuluh menit, keduanya telah sampai di halaman villa.
Brian meminta penjaga villa untuk membeli bahan-bahan masakan, karena ia berencana akan memasak sendiri menu makan siangnya bersama Valerie.
__ADS_1
"Tempat yang bagus," puji Valerie. Ia dan Brian kini sudah masuk. Villa yang sangat natural dengan segala perabotan hingga lantai berbahan dasar kayu ini sangat unik dan menarik.
"Kau menyukainya?" tanya Brian.
"Hmm. Asri dan sejuk, tidak ada polusi, nyaman, jauh dari keramaian."
"Aku setuju jika kita menghabiskan waktu berbulan madu di tempat ini setelah kita menikah nanti," ucap Brian.
Valerie membulatkan matanya lebar. Menikah? Baru saja beberapa jam yang lalu mereka resmi menjadi sepasang kekasih lalu Brian sudah membahas pernikahan. Valerie menelan ludah kasar.
Brian yang semula merapikan patung kayu di samping pintu, kini mendekati Valerie dan meraih kedua tangan wanita itu.
"Aku mencintaimu karena aku menginginkanmu. Dan aku menginginkanmu bukan untuk sesuatu yang tidak pasti kemana arah tujuannya. Jika kau sudah yakin dengan perasaanmu, maukah kau menikah denganku?" tanya Brian.
Valerie diam mematung, ini sangat mendadak dan tiba-tiba. Valerie tahu Brian mencintainya, namun ia tidak percaya jika laki-laki itu secara langsung akan mengajaknya menikah.
🖤🖤🖤
__ADS_1