My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
CINTA PERTAMA, CINTA MATI


__ADS_3

Rama menarik lengan Tiffani hingga ia dan Tiffani tiba di koridor yang sepi. Tidak ada siapa pun di koridor itu, bahkan pelayan pun tidak ada yang berlalu lalang seperti biasanya, seolah semua makhluk yang ada di dalam rumah itu tahu jika Tiffani dan Rama akan memulai peperangan.


Tiffani menyentak tangannya dari genggaman Rama begitu Rama menghentikan langkah di samping deretan vas berisi dedaunan talas yang berwarna-warni.


"Lepas!" seru Tiffani.


Rama menghela napas, sembari menjauhkan diri dari Tiffani, ia tidak ingin Tiffani semakin berontak dan akhirnya tidak ingin mendengarkan apa yang ingin ia katakan.


"Jangan begini, Tiffani, apa yang terjadi padamu hingga kamu menjadi seperti ini. Kamu bukan lagi Tiffani yang aku kenal. Kamu begitu kasar dan tidak memedulikan perasaan orang lain saat bicara. Tidak masalah jika kamu kasar padaku, tapi pada Pak Damar dan juga Gracella--"


"Apa urusanmu jika aku berbuat kasar pada Grace? Bukan urusanmu sama sekali. bahkan jika aku membu-nuhnya di depan matamu pun, sama sekali bukan urusanmu, Rama. Jadi berhentilah ikut campur dan berhentilah bersikap sok bijaksana, karena kamu pun tidak jauh lenbih baik daripada aku!" celoteh Tiffani.


"Tentu saja semua itu menjadi urusanku. Apa yang kamu lakukan akan menjadi urusanku jika--"


"Jangan sok peduli padaku, Aku sama sekali tidak butuh--"


"Bukan padamu, Tiffani, aku sama sekali tidak berusaha untuk sok peduli atau peduli sungguhan padamu, tapi aku peduli pada apa yang terjadi pada Gracella, karena aku bodyguard Gracella sekarang. Keselamatan Gracella adalah tanggung jawabku," ujar Rama, memotong ucapan Tiffani.


Tiffani membeku. Ia sama sekali tidak menyangka dan tidak pernah berharap akan mendengar hal seperti itu keluar dari bibir Rama. Ia tidak tahu apa yang tengah terjadi hingga tiba-tiba saja Rama menjadi bodyguard Gracella.


Tiffani mengepalkan tangannya, berusaha menyembunyikan amarah yang terasa membakar di dalam dadanya. Ia sama sekali tidak masalah jika Rama mengundurkan diri, tetapi kenapa setelah tidak lagi bersama dengannya, Rama malah memutuskan untuk menjadikan bodyguard Gracella.


Pernyataan Rama yang begitu mengejutkan pun membuat kedua lutut Tiffani seketika menjadi lemas, dan juga perutnya menjadi Kram. Refleks Tiffani menyentuh perutnya sambil meringis saat ia merasakan sakit di perutnya tersebut.


"Tiffani, kamu tidak apa-apa?" tanya Rama, sembari mendekat ke Tiffani dengan tangan terulur, ia takut kalau-kalau Tiffani jatuh pingsan. Wajahnya yang khawatir membuat Tiffani hampir saja luluh dan menerima uluran tangan Rama.


"Rama, ayo, kita harus pergi ke suatu tempat." Gracella muncul dan langsung meminta Rama untuk pergi dengannya.


Kemunculan Gracella yang begitu mendadak di koridor dan merusak kebersamaan antara Tiffani dan Rama membuat Tiffani meradang. Tiffani segera meraih sebuah vas yang ada di dekatnya dan melempar was tersebut ke Gracella.


Prang!


Vas tersebut mengenai tubuh Gracella sebelum akhirnya terjatuh ke lantai dan pecah menjadi beberapa bagian.


"Astaga, apa yang kamu lakukan, Tiffani!" Rama berseru, lalu segera menghampiri Gracella yang terlihat syok.


"Rama, sakit sekali," lirih Gracella, sambil memegangi dadanya yang terkena lemparan vas saat Rama telah tiba di hadapannya.


Rama mengangguk. "Ya, Grace, aku akan segera mengobatinya," ujar Rama,yang sekarang tengah berlutut di hadapan Gracella, karena salah satu kepingan vas yang telah pecah mengenai kaki Gracella, hingga kaki gadis itu berdarah.


Tiffani mendengkus kesal melihat tingkah Gracella yang begitu manja pada Rama. Ia pun segera melangkah meninggalkan koridor, saat ia melewati Gracella dan Rama, tidak lupa ia dengan sengaja menabrak tubuh Gracella dengan keras, hingga Gracella hampir saja terjatuh. Namun, Rama dengan sigap menahan tubuh Gracella dengan kedua tangannya.


Tiffani cemberut melihat apa yang telah Rama lakukan. "Sial!"gumamnya, lalu segera melanjutkan langkah meninggalkan koridor sambil memaki panjang lebar.


Tiffani tiba di ruang makan beberapa saat kemudian, dan ia begitu terkejut saat melihat rambut Mona dan Sela yang berantakan, serta terdapat luka memanjang di leher serta wajah keduanya.


"Apa yang--"


"Jangan banyak tanya, Tiffani. Semua yang mereka dapatkan itu karena ulah mereka sendiri. Bersiaplah, dan ayo ikut aku ke rumah sakit. Aku yakin Tuan sudah menunggumu di sana." Damar memotong kalimat yang keluar dari bibir Tiffani, lalu segera keluar dari ruang makan tanpa berbasa-basi lagi.


"Ish, dasar si tua bangka itu menyebalkan sekali." Tiffani mengomel sambil menatap punggung Damar yang bergerak menjauh.


Mona dan Sela menepuk pundak Tiffani, dan mengaitkan tangan di lengan Tiffani, menuntun Tiffani keluar dari ruang makan.


"Kami tidak apa-apa," ucap Sela, yang berjalan di samping kanan Tiffani.


"Lain kali kami tidak akan kalah," ujar Mona, yang berjalan di samping kiri Tiffani.


Tiffani menghela napas dengan kasar. "Aku tidak percaya jika kalian berdua kalah melawan satu orang."


"Mau bagaimana lagi. Dia curang." Mona membela diri.


"Dia main gigit. Semoga saja aku tidak terkena rabies." Sela menimpali.


"Sudah kuduga dia pasti curang, dia kan ular berbisa." Tiffani berujar sambil mengepalkan tangan. "Lihat saja, akan aku buat dia tersiksa selama dia ada di sini. Berani -beraninya dia datang dan menghancurkan hari-hariku."


"Kami akan membantu." Sela dan Mona menyahut bersamaan.

__ADS_1


***


Di dalam kamar Gracella, Rama sedang fokus mengobati luka yang ada di kaki Gracella. Sesekali terdengar suara rintihan dari bibir Gracella yang merasa kesakitan, karena memang luka di kaki Gracella cukup besar.


"Sesampainya di rumah sakit, kamu harus menemui dokter sebelum menemui Tuan Richard," ujar Rama, ketika ia telah selesai membungkus luka Gracella dengan perban.


"Tidak usah, ini saja sudah cukup. Aku tidak akan menemui dokter," ujar Gracella sambil tersenyum.


"Aku tidak pandai mengobati luka, jadi sangat perlu untuk menemui dokter dan mengobatinya degan benar agar tidak terjadi infeksi atau semacamnya." Rama kemudian bangkit berdiri, dan menatap Gracella lekat-lekat.


Merasa ditatap oleh Rama, Gracella tersipu. "Ada apa?" tanya Gracella.


"Aku mewakili Tiffani memohon maaf padamu atas semua kejadian tidak menyenangkan hari ini. Tiffani banyak melewati masa sulit selama beberapa minggu belakangan, jadi aku mohon semoga kamu mengerti dan mau memaafkannya," ujar Rama dengan sungguh-sungguh.


Senyum di bibir Gracella menghilang saat ia mendengar apa yang Rama ucapkan. Ia cukup kecewa.


"Kenapa kamu minta maaf atas namanya? Hal itu tidak perlu sama sekali. Tapi ngomong-ngomong Rama, apakah kamu dan Tiffani mempunyai hubungan spesial. Kamu berbicara nonformal padanya dan kamu bahkan tidak menyematkan kata Nona setiap berbicara tentangnya. Sepertinya kalian cukup dekat."


Rama diam saja. Ia tidak ingin mengatakan apa pun pada Gracella tentang hubungannya dengan Tiffani. Gracella sama sekali tidak berhak untuk tahu segala tentangnya, termasuk hubungannya dengan Tiffani.


"Ayo, kita harus segera ke rumah sakit. Aku rasa Pak Damar dan yang lainnya sudah berangkat lebih dulu," ajak Rama, mengalihkan pembicaraan, dan segera keluar lebih dulu dari dalam kamar Gracella.


Gracella menghela napas begitu Rama tidak ada lagi di kamarnya. "Aku akan cari tahu apa yang terjadi di antara kamu dan juga Tiffani," gumamnya.


***


Setibanya di rumah sakit. Tiffani segera menuju kamar Richard, dan dengan memasang wajah cemberut, ia menemui Richard yang terlihat santai dan tidak merasa bersalah sama sekali atas kekacauan yang telah terjadi.


"Hai, Nak, apa pagimu menyenangkan?" tanya Richard, pada Tiffani.


Tiffani mendengkus kesal. "Memangnya terlihat seperti apa bagi Ayah? Apa menurut Ayah aku terlihat senang sekarang?"


Richard berdecak. "Kamu harus merasa senang setiap saat demi bayimu, Tiffani."


"Aku akan mengugurkannya. Aku akan konsultasi dengan Dokter Stella siang ini." Tiffani menjawab dengan tegas, walaupun sebenarnya ia sangat kesulitan untuk menahan air matanya agar tidak jatuh, dan juga untuk menahan rasa sakit di dadanya.


"Di mana Gracella?" tanya Richard pada Damar.


"Dia masih di rumah, Tuan, baik Tiffani ataupun Gracella tidak ada yang mau ikut kemari jika mereka berada dalam satu mobil yang sama. Itulah sebabnya aku meminta Gracella menyusul bersama dengan Rama." Damar menjawab sambil membungkukkan sedikit tubuhnya.


"Hem, sayang sekali, padahal aku akan senang jika kalian berdua akur,"ujar Richard sambil nelirik ke Tiffani.


"Jangan harap. Bahkan sampai kiamat pun aku tidak akan mau berbaikan dengannya," ujar Tiffani dengan tegas.


Sela dan Mona mengangguk di belakang Tiffani, seolah keduanya setuju pada keputusan Tiffani yang akan terus bermusuhan dengan Gracella untuk selama-lamanya.


"Kalian berdua seharusnya menasehati Tiffani." Damar memelototi Sela dan Mona.


"Kami hanya akan menasehati Tiffani saat Tiffani melakukan kesalahan, sementara bagi kami berdua membenci Gracella bukanlah suatu kesalahan," ucap Mona, sambil membalas tatapan mata Damar yang terlihat kesal.


Damar memijat kepalanya yang terasa sangat sakit sekarang. "Kalian semua memang merepotkan sekali. Sikap kalian yang tidak menghormati orang tua itu harus segera diperbaiki."


Tok, tok, tok!


Terdengar suara ketukan di pintu kamar Richard, dan beberapa saat kemudian pintu berayun membuka, lalu Rama muncul bersama dengan Gracella.


"Maaf, apa kami terlambat?" tanya Rama, sambil melangkah masuk ke dalam kamar.


"Tidak. Kalian tidak terlambat," ujar Damar.


Sementara itu, tatapan mata Richard tidak pernah lepas dari sesosok gadis yang berdiri di samping Rama. Kedua matanya bahkan mulai berembun, dan perasaan sedih mulai menggerogoti dadanya ketika ia melihat Gracella.


"Kamu sudah besar, Grace, dan semakin terlihat mirip seperti ibumu. Aku senang kamu tumbuh besar dengan baik," ucap Richard setelah beberapa saat hanya memandang Gracella dalam diam.


Gracella diam saja. ia tidak bicara, tidak tersenyum, tidak mengangguk, ia bahkan tidak membalas tatapan Richard.


"Aku senang kamu datang. Aku pikir kamu tidak akan pernah datang," ujar Richard lagi. Suaranya terdengar tetap lembut, walaupun Gracella terlihat begitu dingin padanya.

__ADS_1


"Aku datang karena kompensasi. Aku harap Anda tidak membohongiku." Gracella berujar dengan sengit.


Richard tersenyum. "Aku akan memberikan sesuai apa yang Damar katakan padamu. Aku tidak akan berbohong."


"Bagus," ujar Gracella.


Rama agak terkejut melihat bagaimana sikap Gracella pada Richard. Gracella terlihat sangat membenci Richard, sampai-sampai Gracella enggan untuk menatap Richard sama sekali.


Tiffani sendiri menjadi kesal melihat betapa tidak sopannya Gracella saat berinteraksi pada ayahnya.


"Aku tidak keberatan dengan sikap sombongmu, tapi jika sedang bicara pada ayahku setidaknya kamu harus bersikap sopan padanya." Tiffani mendorong Gracella sambil mendesis di depan gadis itu.


Gracella tersenyum sinis, lalu balas mendorong Tiffani. "Untuk apa aku harus bersikap hormat padanya. Gara-gara dia, ayahku meninggal, gara-gara dia aku menjadi yatim piatu, semua gara-gara dia!" Gracella berteriak sambil menunjuk Richard yang masih duduk di atas ranjang.


Plak!


Tiffani tidak tahan lagi, ia pun menampar wajah Gracella.


"Sudah aku bilang sejak dulu kalau semua yang menimpa ayahmu bukanlah karena ayahku. Kamu pun sudah tahu bagaimana kejadian yang sebenarnya, tapi kenapa kamu masih menyalahkan ayahku, hah?!"


Gracella memegangi pipinya yang terasa perih akibat tamparan dari Tiffani.


"Wah, Tiffani, baru beberapa jam kita bertemu tapi kamu sudah menyakiti fisikku sebanyak dua kali. Setelah melemparku dengan vas, sekarang kamu pun menamparku. Kamu memiliki kepribadian yang kacau, Tiffani, aku penasaran bagaimana cara ayah dan ibumu mendidikmu," ujar Gracella.


Tiffani kembali mengangkat tangannya untuk menampar Gracella. Tiffani Tidak peduli pada teriakan Richard yang memintanya untuk berhenti.


Plak!


Satu tamparan kembali mendarat di pipi. Namun, bukan pipi Gracella kali ini, melainkan pipi Rama. Tepat sebelum Tiffani mendaratkan tangannya di pipi Gracella, Rama menghalangi dengan cara berdiri di antara Tiffani dan Gracella, hingga tamparan Tiffani menyasar ke pipi Rama alih-alih pipi Gracella.


Tiffani tercekat saat menyadari bahwa yang ia tampar adalah Rama, bukannya Gracella.


"Jika sudah selesai, tenanglah sebentar, Tiffani, plis," gumam Rama, kedua matanya yang jernih menatap langsung ke dalam mata Tiffani sehingga Tiffani merasa sangat menyesal.


"Kompres pipimu, Rama," titah Richard.


Rama membungkuk. "Baik, Tuan." Setelah mengatakan itu Rama langsung keluar dari dalam kamar.


"Kalian berdua bisa temani Rama," ujar Richard lagi, pada Mona dan juga Sela.


Mona dan Sela mengangguk, dan segera keluar dari kamar untuk menyusul Rama.


"Sepertinya mereka akan membicarakan hal penting dan rahasia." Sela berkomentar, begitu ia dan Mona telah tiba di luar kamar.


"Sepertinya begitu. Ah, aku jadi penasaran apa kira-kira yang Om Richard diskusikan pada Fani dan Grace," gumam Sela.


"Tidak usah penasaran seperti itu. Sekarang bagaimana kalau kita ke kantin dan mari ceritakan padaku apa yang pernah terjadi pada Tiffani dan Grace, sehingga sekarang mereka bermusuhan seperti itu," ucap Rama, yang mendadak muncul di belakang Mona dan Sela yang masih berdiri di depan ruangan Richard.


Sela dan Mona terkejut begitu mendengar suara Rama.


"Astaga, kamu mengejutkanku saja." Mona mendorong Rama menjauh, hingga hampir saja Rama terjatuh. Kalau saja tidak ada Adam yang menahan tubuh Rama, Rama pasti sudah meringkuk di lantai sejak tadi.


"Ah, kenapa perempuan sekarang tidak ada yang feminin," ujar Rama, sambil menegakkan tubuhnya.


"Ya, aku pun bertanya-tanya akan hal itu," ucap Adam, sambil menatap Mona. "Tapi kalau dipikirkan lagi, aku lebih suka perempuan yang barbar daripada yang feminin," lanjutnya, lalu mengedipkan sebelah matanya ke Mona.


Mona tersipu, sementara Rama mengetuk kepala Adam dengan lumayan keras, lalu kembali menatap Mona. "Cepat ceritakan padaku tentang kedua saudara sepupu yang terlihat saling membenci itu."


Mona menghela napas dengan berat. "Sungguh kamu ingin tahu? Tidak akan merasa kesal saat aku ceritakan yang sebenarnya?"


Rama mengangkat kedua bahunya, "Untuk apa aku kesal. Memangnya kenapa?"


"Oke, akan aku beritahu kalau begitu. Gracella menggoda kekasih Tiffani dan merebut kekasih Tiffani. Mereka berselingkuh dan ketahuan berciuman saat sedang mengerjakan tugas kelompok di dalam kamar Tiffani. Itulah yang membuat Tiffani marah sekali pada Gracella, apalagi kekasih Tiffani saat itu adalah cinta pertama Tiffani. Tiffani cinta mati pada kekasihnya itu, itulah sebabnya hingga sekarang Tiffani tidak memaafkan Gracella."


Suasana hati Rama seketika berubah semakin buruk begitu ia mengetahui fakta tersebut. "Cinta pertama, cinta mati," gumam Rama.


"Ya, cinta mati," ucap Mona,

__ADS_1


__ADS_2