
Bukankah bioskop memang tempat menonton beramai-ramai, tempat berkumpul bersama teman dan sahabat mnikmati film?
Valerie merasa aneh dengan pemikiran Brian. Namun Valerie tidak heran, karena dengan banyaknya uang yang ia miliki, laki-laki itu bisa melakukan segalanya dan mendapatkan segalanya dengan mudah.
Di dalam ruangan besar dengan layar lebar yang telah menyala itu, Valerie dan Brian hanya duduk berdua. Mereka duduk sambil menikmati film romantis yang sedang di putar.
Pakaian Valerie yang minim, membuat wanita itu merasa kakinya kedinginan. Di ruangan yang gelap, ia mencari selimut yang biasa di sediakan oleh bioskop kelas VIP, namun selimut yang ia cari tak kunjung di temukan.
Menahan dingin, Valerie berkali-kali mengusap kaki jenjangnya. Hal itu membuat Brian sadar, wanita di sampingnya merasa tidak nyaman.
Brian berdiri dari kursinya, dua kali bertepuk tangan lalu lampu bioskop menyala terang, sementara film di hentikan.
"Ada apa?" tanya Valerie bingung.
Dua orang datang menghampiri mereka dan mengangguk sopan.
"Bawakan selimut untuknya. Pastikan itu selimut baru dan bukan bekas orang lain," perintah Brian. Dua orang bergegas pergi setelah mengangguk.
"Hei, tidak apa-apa. Aku hanya sedikit kedinginan," ucap Valerie. Lampu telah menyala terang, dan ia bisa melihat selimut yang tidak sengaja terjatuh di lantai.
"Jangan pakai bekas orang," ucap Brian saat Valerie hendak memakai selimut yang baru saja ia ambil.
__ADS_1
"Ah, dia sangat merepotkan."
Beberapa menit berlalu, dua petugas bioskop sudah kembali dengan sebungkus selimut tebal yang benar-benar baru. Bahkan label dan merk-nya masih menggantung di ujung kain lembut itu.
"Terima kasih, maaf merepotkan," ucap Valerie sopan.
Brian menerima selimut dan meminta Valerie kembali duduk. Laki-laki itu memasang selimut untuk menutupi ujung kaki Valerie hingga ke pangkuannya.
"Bagaimana? Kau sudah merasa lebih baik?" tanya Brian.
"Terima kasih, tapi ini terlalu berlebihan," ucap Valerie.
"Ah, baiklah." Valerie bergumam pelan. Berdebat dengan Brian pun tidak ada gunanya.
Lampu bioskop kembali padam, film pun di lanjutkan.
Dalam waktu dua jam, film yang mereka tonton telah usai. Kini Brian menggandeng tangan Valerie dan mengajaknya memasuki sebuah mall terbesar di kota.
Seperti awal tujuan Brian, ia sekadar ingin mengajak Valerie berjalan-jalan. Maka, Valerie sendiri tidak banyak bertanya, ia hanya mengikuti ke mana arah langkah kaki laki-laki di sampingnya.
"Aku ingin memberimu hadiah. Apa yang kau sukai?" tanya Brian.
__ADS_1
"Tidak perlu, aku tidak ingin apa-apa," tolak Valerie.
"Baiklah, kalau begitu aku saja yang akan memilih hadiahnya."
"Hei, tidak usah. Bukankah kau bilang kita hanya akan berjalan-jalan?"
"Kau lupa? Aku juga bilang bahwa kita juga akan berbelanja. Bukankah wajar jika laki-laki memberi hadiah pada wanita yang dia sukai?"
"Tapi ...."
"Jangan menolak! Kau tahu aku kesal jika kau mengabaikanku," sela Brian.
Lagi-lagi Valerie terdiam. Laki-laki itu menggandengnya masuk ke dalam sebuah butik seorang designer terkenal.
Melihat kedatangan Brian, para pramuniaga segera datang menghampiri. Brian dan Valerie di persilahkan duduk dan mereka siap melayani.
"Keluarkan semua gaun terbaik yang kalian miliki. Pastikan gaun-gaun itu cocok dengan tubuh calon kekasihku," perintah Brian.
"Calon kekasih?" Valerie mengusap telinganya. Apa ia tidak salah dengar?
🖤🖤🖤
__ADS_1