My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
PERTEMANAN RAMA DAN GRACE


__ADS_3

Gracella menggeliat sambil meraba-raba ruang kosong yang ada di sebelahnya, mencari ponselnya agar ia dapat melihat sudah pukul berapa sekarang.


Sudah menjadi kebiasaan Gracella melihat jam yang ada di layar ponselnya. Menurutnya hal itu lebih mudah daripada harus melirik ke jam yang menggantung di dinding. Ia juga telah mengatur agar waktu di ponselnya sama dengan waktu di mana ia berada. Dan ia begitu terkejut saat ia melihat angka 21.20, di layar ponselnya.


"Hah! Sudah semalam ini!" serunya, yang langsung bangkit berdiri dan berlari menuju pintu.


Bukan tanpa alasan Gracella menjadi begitu terkejut. Gracella memiliki kebiasaan melakukan makan malam di bawah jam delapan malam. Kebiasaan yang ia terapkan itu adalah salah satu keharusan dari program diet yang ia jalankan. Memang Gracella tidak memiliki tubuh yang berisi, body-nya bahkan bisa dikatakan sangat sempurna; tinggi, ramping, dan melengkung di tempat yang seharusnya, tetapi ia memiliki ketakutan tersendiri jika membicarakan masalah berat badan, karena dulu sekali ayahnya melakukan perselingkuhan dengan wanita lain hanya karena ibunya memiliki tubuh yang begitu gemuk. Alasan yang sangat sepele untuk membenarkan sebuah perselingkuhan, tetapi alasan sepele itulah yang membuat kedua orang tuanya harus berpisah.


"Astaga, kenapa aku bisa ketiduran selama ini," gumam Gracella, sembari membuka pintu kamar dan langsung bergegas keluar dari dalam kamar.


Buk!


Gracella terjatuh setelah ia menabrak seseorang. Karena terlalu terburu-buru, ia tidak melihat jika ada seseorang yang berdiri tepat di depan pintu kamarnya. Seorang pria bertubuh tinggi dan mengenakan setelah serba hitam.


"Aaah, sakitnya," gumam Gracella, sembari mengelus pinggangnya yang terasa sangat nyeri.


"Astaga, Nona, maafkan aku," ujar Rama, yang langsung berlutut di hadapan Gracella, untuk memastikan apakah Gracella baik-baik saja atau tidak. "Anda tidak apa-apa?"


Rama memang sejak beberapa jam lalu telah berdiri di depan pintu kamar Gracella untuk menjaga kamar gadis itu sesuai perintah Damar.


Gracella mengangkat wajah, dan langsung menatap Rama. Ia tersentak begitu melihat wajah tampan Rama di hadapannya.


"Aku baik-baik saja, tapi siapa kamu?" tanya Gracella.


"Ah, iya, aku belum memperkenalkan diri. Aku Rama, bodyguard yang ditugaskan Tuan Richard untuk menjaga Anda." Rama menjawab, lalu ia mengulurkan tangan ke Gracella. "Boleh aku bantu untuk berdiri?"


Gracella tidak menjawab. Ia hanya menatap Rama. Sulit sekali bagi Gracella untuk mengalihkan pandangan dari wajah Rama yang begitu memesona. Rama bukan hanya tampan, tapi juga rupawan dan luar biasa menarik.


"Nona, boleh aku bantu berdiri?" Rama kembali bertanya.


Gracella terkejut ketika ia kembali mendengar suara Rama. Ia segera membuang muka, malu pada Rama karena ia sejak tadi terus menatap Rama tanpa berkedip.


"Ah, iya tentu," ujar Gracella setelah beberapa saat, dan langsung menyambut uluran tangan Rama.


"Kenapa Anda terburu-buru sekali?" tanya Rama, saat ia dan Gracella telah kembali dalam posisi berdiri.


Gracella tidak langsung menjawab. Ia menggigit bibir bawahnya sambil menggeleng. "Tidak apa-apa. Aku hanya--" Gracella tidak menyelesaikan ucapannya, karena suara perutnya yang begitu keras memotong percakapannya dengan Rama.


Wajah Gracella memerah karena malu, tetapi Rama malah tersenyum.


"Anda lapar?" tanya Rama lagi.


Gracella lagi-lagi tidak menjawab. Ia hanya mengangguk sambil memegangi perutnya yang memang menuntut untuk diisi. Terakhir kali dirinya makan saat masih berada di Schiphol Airport, Amsterdam, itu berarti sudah hampir puluhan jam yang lalu. Jadi, tidak heran jika sekarang ia sangat kelaparan.


"Kalau begitu ayo, aku akan meminta pelayanan untuk menyajikan makan malam. Anda ingin makan apa?" tanya Rama, sambil mempersilakan Gracella untuk berjalan lebih dulu di depannya.


Akan tetapi, Gracella tidak bergerak sedikit pun. Ia bergeming.


Melihat Gracella yang hanya diam bagai patung, Rama pun kembali bertanya. "Ada apa, Nona?"


"Hem, begini ... aku tidak biasa makan di jam segini."


"Tidak masalah, jam makan malam memang sudah lewat, tapi pelayan bisa membuat makanan baru yang hangat jika Anda meminta dan--"


"Ini bukan masalah makanannya, tapi waktu makannya. Aku tidak makan di jam segini karena tubuhku bisa melar kalau aku melakukannya." Gracella menggerutu, ia begitu terus terang, hingga membuat Rama merasa nyaman untuk mengobrol dengannya tanpa rasa segan-segan yang berlebihan.


Rama yang mendengar ucapan Gracella berusaha agar tidak tertawa. Dan ekspresi Rama yang kepayahan untuk menahan tawa terbaca dengan jelas oleh Gracella.


"Kamu ingin menertawakanku?" tanya Gracella, sembari memukul pelan dada Rama.


Rama meringis, walaupun sebenarnya ia tidak merasa kesakitan sama sekali. "Tidak. Mana berani aku menertawakan Anda."


Gracella cemberut. "Bohong. Aku tahu kamu ingin tertawa. Tertawa saja, aku tidak melarang."


"Sungguh?" tanya Rama.


Gracella mengangguk, dan seketika itu juga Rama langsung tertawa terbahak-bahak.


Gracella tersenyum saat melihat dan mendengar suara tawa Rama yang begitu renyah. Jika saat diam saja Rama terlihat sangat rupawan, apalagi saat tertawa seperti sekarang. Jujur saja, Gracella enggan untuk memalingkan wajahnya dari Rama.


"Jadi, katakan padaku. Apa ada yang lucu?" tanya Gracella, setelah suara tawa Rama sedikit mereda.

__ADS_1


Rama menghentikan tawanya. "Ah, maafkan aku, Nona, aku hanya tidak habis pikir, bagaimana bisa Anda takut gemuk hanya karena makan di jam segini, padahal jelas-jelas Anda sedang kelaparan sekarang."


Gracella menghela napas. "Pokoknya aku tidak mau saja jika tubuhku menjadi melar, melebar ke mana-mana."


Rama bergumam pelan, kemudian kembali berkata. "Anda bisa sakit jika tidak makan, karena pelayan memberitahuku jika Anda langsung tidur begitu tiba di sini. Itu berarti sudah beberapa jam Anda tidak mengisi perut Anda dengan apa pun. Tuan bisa marah kalau sampai mengetahui hal ini. Anda harus makan walau hanya sedikit. Katakan saja padaku, apa yang Anda inginkan sekarang."


Gracella mengelus dagunya, terlihat sedang memikirkan sesuatu. "Apa yang aku inginkan," gumamnya. "Apa kamu akan memberikan apa pun yang aku inginkan?"


Rama mengangguk. "Tentu, aku bekerja untuk Anda sekarang. Aku akan mengusahakan apa pun yang Anda minta, Nona."


Gracella tersenyum, kemudian ia berkata, "Kalau begitu ayo traktir aku."


Kedua mata Rama membelalak. "Traktir?"


Gacella mengangguk. "Anggap saja sebagai hukuman karena kamu sudah menertawakanku."


"Tapi bukankah Anda sendiri yang mengizinkan aku untuk tertawa," ujar Rama.


"Tetap saja, seharusnya kamu jangan tertawa. Ayolah, aku ingin makan es krim." Gracella berlalu dari hadapan Rama dengan langkah cepat. Ia sudah tidak sabar untuk menghabiskan waktu dengan Rama yang begitu tampan.


Rama menghela napas, dan segera mengekor langkah Gracella. "Dia dan Tiffani sama saja. Sama-sama suka memaksakan kehendak," keluh Rama.


***


Gracella tiba di teras lebih dulu sebelum Rama, ia mengedarkan pandangan untuk mencari seorang sopir yang dapat mengantarkan dirinya dan Rama berkeliling kota. Karena masih baru tinggal di kediaman Richard, Gracella tidak tahu di mana ia harus mencari seorang sopir.


"Anda butuh sesuatu, Nona." Mario yang kebetulan berjaga di halaman depan langsung berlari menghampiri Gracella dan bertanya pada gadis cantik itu.


"Hem, jika aku ingin keluar untuk jalan-jalan, apakah aku harus pergi dengan seorang sopir juga, atau aku hanya membutuhkan bodyguard ... hem, maksudku begini, apakah bodyguardku boleh menyetir atau tidak?" tanya Gracella, yang terlihat bingung pada pertanyaannya sendiri.


"Bodyguard Anda boleh menyetir jika Anda mau. Tapi ngomong-ngomong siapa bodyguard Anda, Nona? Karena tidak semua bodyguard di sini yang memiliki surat izin untuk mengemudi," tanya Mario.


"Bodyguardku yang paling tampan. Hem, maksudku dia yang paling tampan sejauh ini." Kedua pipi Gracella merona saat ia mengatakan itu.


Melihat cara Gracella tersipu, dan cara Gracella menggambarkan seperti apa bodyguard yang ia dapat membuat Mario seketika dapat menebak siapa bodyguard yang ditugaskan untuk menjaga Gracella.


"Apa bodyguard Anda bernama Rama?" tanya Mario, antara yakin dan ragu. Ia yakin, karena hanya Rama yang memiliki wajah paling tampan di antara para bodyguard, sedangkan keraguannya muncul karena Rama adalah bodyguard Tiffani. Bagaimana bisa bodyguard Tiffani menjadi bodyguard Gracella juga.


"Dasar si bedebah beruntung," gumam Mario, saat ia melihat Rama.


"Hai, Rio," sapa Rama.


Mario hanya menggeleng, lalu segera berbalik pergi meninggalkan Rama dan Gracella. Sebenarnya ia ingin menanyakan banyak hal pada Rama, tetapi ia memutuskan untuk bertanya besok saja, toh ia dan Rama sedang sama-sama bertugas sekarang.


"Aku sudah memutuskan ingin pergi ke mana sekarang," ucap Gracella pada Rama, saat Mario sudah tidak ada di hadapan mereka.


"Ke mana?" tanya Rama.


"Taman."


"Malam-malam begini?' tanya Rama lagi.


Gracella mengangguk. " Ayo."


***


Tidak terlalu aneh bagi Rama begitu ia mendengar apa keinginan Gracella. Toh, Tiffani juga memiliki keanehan yang sama. Hanya saja, jika Tiffani cenderung menyukai pantai dan senang berjalan di atas pasir putih saat malam hari, Gracella adalah kebalikannya. Gracella menyukai taman, dan berjalan di antara pohon-pohon rindang saat malam hari adalah sesuatu yang indah menurutnya. Dan hal itulah yang sedang Gracella dan Rama lakukan sekarang--berjalan beriringan di antara pepohonan.


"Bukankan sebelumnya Anda meminta untuk aku traktir. Kenapa sekarang kita justru ada di sini? Bukannya memberi makan perut Anda, kita malah memberi makan nyamuk," ujar Rama.


Gracella tersenyum. "Besok saja traktirnya. Malam ini aku hanya ingin jalan-jalan. Aku tetap tidak akan makan malam walaupun kamu paksa."


"Anda benar-benar takut gemuk?"


Gracella mengangguk. "Mungkin terdengar sepele bagi orang lain, tapi bagiku ini adalah masalah yang cukup serius."


Rama menaikkan sebelah alisnya. "Seserius apa?" tanya Rama.


Gracella menghentikan langkah, sontak Rama pun melakukan hal yang sama.


"Ayah dan ibuku bercerai karena perselingkuhan yang ayahku lakukan. Dan apakah kamu tahu apa alasan ayahku mencari wanita lain di luar sana?"

__ADS_1


Rama menggeleng.


"Ayah bilang, ibuku sangat tidak menarik dan membuatnya tidak bernafsu sama sekali. Bahkan saat ibu menanggalkan semua pakaiannya, tidak ada keinginan ayahku untuk menyentuhnya. Ayahku mengatakan semua kalimat kejam itu langsung di depan ibuku, dan kebetulan sekali aku mendengarnya."


Rama terkejut. Ia tidak menyangka jika pria kurang ajar seperti itu ternyata memang benar-benar ada dan terpelihara dengan baik di muka bumi.


"Anda serius?"


Gracella mengangguk. "Serius sekali. Sejak saat itu aku bertekad agar jangan sampai saat aku dewasa nanti


tubuhku menjadi gemuk. Membayangkan suamiku tidak ingin menyentuhku hanya karena timbunan lemak membuatku merasa sangat frustrasi." Gracella mengakhiri ucapannya sambil bergidik.


Rama menatap Gracella dengan perasaan kasihan. Ia bisa membayangkan bagaimana trauma yang dirasakan oleh Gracella hingga gadis itu harus mati-matian menjaga pola makan, bahkan saat Gracella sedang kelaparan sekali pun.


"Tidak semua pria seperti itu. Jika Anda menemukan pria yang tulus, bagaimana pun keadaan dan bentuk fisik Anda, pria itu pasti akan tetap mencintai Anda," ujar Rama, sambil tersenyum.


Gracella membalas senyuman Rama, senyuman yang tiba-tiba saja menjadi senyum favoritnya sejak beberapa waktu lalu.



"Aku tahu tidak semua pria memiliki watak berengsek seperti ayahku, tapi tidak semua wanita beruntung untuk mendapatkan pria tulus seperti yang kamu sebutkan tadi. Tidak menutup kemungkinan aku akan mendapatkan pria yang memiliki perangai buruk seperti ayahku, 'kan?"


Rama menghela napas. "Ya, memang tidak menutup kemungkinan."


Gracella menjentikkan jemari di hadapan wajah Rama. "Nah, itulah sebabnya aku sangat, sangat, sangat menjaga pola makanku."


"Akh sungguh berharap Anda akan mendapatkan pria yang baik," ujar Rama, dengan sungguh-sungguh.


"Terima kasih."


Gracella melanjutkan langkahnya. Ia bahkan merentangkan tangan agar dapat merasakan dinginnya angin malam yang begitu terasa segar.


Rama memperhatikan apa yang Gracella lakukan. Gracella adalah gadis yang baik menurutnya, sikap Gracella sangat bersahabat dan apa adanya.


,


"Ngomong-ngomong, kapan Om Richard akan keluar dari rumah sakit?" tanya Gracella pada Rama.


"Mungkin beberapa hari lagi. Karena Tuan masih harus melakukan beberapa tes untuk memastikan apakah Tuan sudah boleh pulang atau belum." Rama menjawab.


"Apa Tiffani selalu di sana? Aku belum bertemu dengannya sejak aku tiba di sini," tanya Gracella lagi.


Hening untuk sejenak, karena begitu mendengar nama Tiffani, perasaan Rama tiba-tiba saja menjadi sedih. Ia merindukan Tiffani, ia merindukan saat-saat yang ia habiskan bersama dengan Tiffani.


"Ya, Tiffani selalu di sana bersama dengan Mona," jawab Rama,


"Jadi Mona masih tinggal bersama dengan Tiffani," gumam Gracella, sambil tersenyum sinis.


Rama mengernyitkan dahi saat melihat senyum sinis itu terukir di bibir Gracella. Namun, ia tidak menanyakan perihal senyum itu. Senyum yang menunjukkan bahwa hubungan Gracella dan Tiffani tidaklah harmonis walaupun mereka adalah keluarga.


"Aku akan ke rumah sakit besok. Kamu mau mengantarku?" tanya Gracella pada Rama.


"Tentu. Aku pasti akan mengantar Anda, Nona."


Gracella kembali menghentikan langkah, dan menatap Rama yang berdiri di sampingnya.


"Oh, ya, Rama, bisakah aku meminta sesuatu padamu?"


Rama mengangguk. "Tentu, Nona, katakan saja."


"Panggil aku Grace. Kamu tidak harus memanggilku dengan sebutan nona. Jujur saja aku merasa sangat tidak nyaman."


"Maafkan aku, Nona, tapi aku hanyalah seorang bodyguard dan aku harus menghormati Anda, mana mungkin aku memanggil Anda dengan menyebut nama Anda. Hal itu sama sekali tidak sopan, " ujar Rama. Ia merasa tidak nyaman jika harus menyapa Gracella dengan sebutan nama.


"Kalau begitu ayo kita berteman saja." Gracella mengulurkan tangan ke Rama, meminta Rama untuk berjabat tangan dengannya.


Rama tersentak. Ia menatap wajah Gracella, lalu menatap tangan gadis itu yang masih terulur. "Nona, ini sangat tidak pantas. Aku ...." Rama menggantungkan ucapannya, karena Gracella tiba-tiba saja mendekat dan menjabat tangannya.


"Ibuku pernah berkata, tidak ada yang tidak pantas dalam sebuah ikatan pertemanan. " Selama aku ada di sini, aku ingin kamu berteman denganku, dan aku ingin kamu membuatku nyaman, Rama."


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2