
Darren puas sekali ketika ia menemukan cara untuk membalas perbuatan Tiffani yang telah mempermalukan dirinya di mal beberapa hari lalu. Ia tahu jika mengajukan keinginan untuk tes DNA sedikit-banyak pastilah akan melukai perasaan Tiffani, itulah sebabnya ia menghubungi Tiffani dan meminta gadis itu untuk melakukan tes DNA.
Darren menyandarkan punggungnya di sandaran sofa sambil menatap layar ponsel yang ia pegang, menunggu balasan pesan dari Tiffani, dan tidak lama kemudian ponselnya berdering, sebuah notifikasi pesan masuk ke dalam aplikasi hijau yang ada di ponselnya.
"Dasar sampah!"
Darren tertawa terbahak-bahak begitu membaca pesan yang masuk ke ponselnya itu.
"Kasar sekali si cantik ini," komentar Darren, lalu mulai mengetik belasan untuk pesan Tiffani yang baru saja masuk.
"Ayo kita bertemu di rumah sakit. Aku yang akan menentukan di mana rumah sakitnya, karena aku tidak ingin jika kamu dan ayahmu yang sok berkuasa itu memanipulasi hasilnya. Jika kamu tidak muncul di tempat dan jam yang telah aku tentukan, maka aku anggap kalau anak itu bukan anak hasil kesenangan yang telah kita lakukan di kampus, melainkan anak orang lain, toh kamu pasti sering melakukannya, bukan!"
Darren menekan tombol send sambil tertawa, dan kemudian ia memutuskan untuk mencari rumah sakit mana yang akan ia pilihan untuk melakukan tes DNA.
"Ah, ini menyenangkan sekali. Pembalasan sempurna untuk gadis angkuh seperti Tiffani adalah dengan cara menghinanya habis-habisan. Dasar ja-lang!"
***
Gracella meringis saat Rama mengusap luka yang ada di dahinya dan kemudian menutup luka itu dengan kasa. Walaupun Rama telah melakukannya dengan sangat hati-hati dan lembut tetap saja Gracella merasa kesakitan, karena memang luka di dahi Gracella cukup dalam.
Tadinya Rama meminta agar Gracella pergi ke rumah sakit saja, karena Rama yakin sekali jika luka di dahi Gracella itu harus dijahit, tetapi Gracella menolak dan lebih memilih agar Rama saja yang mengobati lukanya.
"Sakit?" tanya Rama.
Gracella mengangguk.
"Sudah aku katakan kalau aku tidak pandai mengobati luka. Aku bodyguard, bukan dokter," ujar Rama, sambil mengusap plaster yang baru saja ia tempel di luka Gracella.
"Tidak masalah. Aku merasa jauh lebih baik saat kamu yang mengobati lukaku." Gracella tersenyum ke Rama.
"Berhentilah berkelahi dengan Tiffani, Grace. Demi kebaikan dirimu sendiri. "
Gracella menghela napas dengan kasar. "Aku tidak pernah mengajaknya berkelahi, tetapi dia duluan yang selalu menyerangku di mana pun aku berada, apa kamu tidak menyadari hal itu?" Gracella menjadi kesal karena Rama cenderung menyalahkan dirinya dan membela Tiffani, padahal pada kenyataannya Tiffani lah yang terus-terusan membuat masalah dengannya.
"Ya, aku melihatnya, tapi maksudku bisakah kamu menghindar saja dan tidak membalas apa yang dia lakukan padamu?"
Gracella menyunggingkan senyum sinis di bibirnya saat mendengar apa yang Rama katakan.
"Wah, luar biasa. Jadi setelah melihat bagaimana brutalnya Tiffani menyerangku, kamu masih tetap berharap aku diam saja dan menghindar, begitu? Aku bisa cidera parah kalau aku tidak berusaha untuk melindungi diriku sendiri atau melawan Tiffani."
Rama mengangguk. "Ya semacam itulah. Kamu bisa menghindar, berlari atau bagaimana pun caranya agar kamu selamat, karena aku yakin Tiffani memiliki alasan untuk melakukan semua hal tidak menyenangkan ini padamu. Tidak mungkin dia menyerangmu begitu saja tanpa alasan."
Gracella tertawa. "Lucu sekali. Apa bagimu aku tidak memiliki alasan untuk membalas?" Gracella terlihat sangat kecewa atas penilaian Rama yang sangat tidak adil.
Rama diam saja, ia sadar jika ia telah melewati batas, seharusnya ia tidak mengatakan hal demikian pada Gracella.
"Aku tidak tahu apa yang telah kamu dengar dari Tiffani atau mungkin dari Mona, tetapi biar kuberitahu satu hal padamu. Ayahku seharusnya masih hidup saat ini, tidak peduli seberapa besar aku membenci ayahku karena perselingkuhan yang telah dia lakukan tetap saja dia adalah ayahku, dan aku membutuhkannya. Tapi, karena Om Richard, ayahku meninggal dunia, dan menurutmu semua itu pantas aku terima? Jika Tiffani boleh sakit hati dan akhirnya memperlakukan semana-mena, lalu kenapa aku tidak? Apa yang membuat kami menjadi berbeda dalam hal ini, hah? Aku hidup sendirian di dunia yang luas ini karena ayah Tiffani, aku tidak memiliki siapa pun karena Om Richard, tapi aku tidak boleh merasa sakit hati karena hal itu!"
Rama mengangkat wajah dan menatap Gracella yang sekarang sedang menangis. Kedua mata Gracella sangat merah dan tatapannya terlihat begitu sedih, membuat Rama merasa sangat bersalah karena sudah mengeluarkan kata-kata yang menyakiti gadis itu.
"Gracella, maafkan aku, aku tidak bermaksud--"
"Diamlah. Aku tidak ingin mendengar apa pun darimu!" Gracella bangkit dari sofa yang sejak tadi ia duduki bersama dengan Rama, lalu kemudian ia melangkah menuju ranjang dan berbaring, menutup tubuhnya dengan selimut dan kembali menangis.
"Dasar jahat. Semua yang ada di rumah ini sangat jahat. Jahat sekali. Sial! "
Rama diam saja, ia membiarkan Gracella mengomel dan tenggelam dalam kesedihan. Bukannya ia tidak peduli pada Gracella, hanya saja ia ingin memberi waktu pada Gracella untuk meredakan amarah sebelum nanti ia kembali meminta maaf pada Gracella. Karena Rama sudah sangat berpengalaman mengatasi kemarahan seorang wanita. Wanita mana pun akan sulit diajak bicara jika sedang tersulut emosi. Akan lebih baik untuk mengalah sementara waktu hingga suasana menjadi lebih kondusif.
***
__ADS_1
Gracella menggeliat dan langsung memandang dinding di seberang ruangan untuk melihat jam yang menempel di sana.
"Ah, aku pasti ketiduran," ujar Gracella, yang kemudian bangkit untuk duduk dan perlahan menggeser tubuhnya untuk turun dari ranjang.
Gracella terbangun karena rasa lapar yang menyerang perutnya sudah tidak dapat ditolong lagi. Wajar saja jika ia merasa sangat kelaparan, karena ia tidak sarapan dengan benar pagi tadi, ditambah ia ketiduran setelah berdebat dengan Rama sehingga ia melewatkan waktu untuk coffetime.
Sekarang sudah waktunya makan siang. Gracella memutuskan untuk menyantap semua hidangan yang tersaji di atas meja makan nanti. Namun, rasa laparnya tiba-tiba hilang saat ia melihat Melihat Rama yang tertidur di sofa yang ada di kamarnya.
Gracella menyentuh dadanya yang tiba-tiba saja berdebar tak keruan saat ini. Perlahan ia mendekat ke Rama, dan kemudian berlutut di hadapan Rama yang masih tertidur pulas.
"Imut sekali. Dia seperti bayi," gumam Gracella yang tanpa ragu menyentuh alis, hidung, dan kemudian bibir Rama yang begitu lembut.
Godaan lain yang pasti akan dirasakan oleh wanita mana pun saat melihat Rama kemudian menghampiri pikiran Gracella. Gracella sangat ingin mencium Rama, ia begitu ingin melu-mat bibir pria itu dan menjelajahi setiap sentinya dengan indera perasa miliknya.
Awalnya Gracella berusaha untuk menahan dorongan gila tersebut, tetapi semakin lama ia tidak mampu lagi untuk menahan keinginan yang begitu mendesak.
"Aku akan menciummu," gumam Gracella, yang sudah pasti tidak akan di dengar oleh Rama.
Detik berikutnya Gracella mendekatkan wajahnya ke wajah Rama, kemudian bibir keduanya saling menempel. Gracella memejamkan mata, dan mulai membuka bibir Rama dengan indera perasannya.
"Nikmat sekali," gumam Gracella di tengah-tengah ciuman yang ia lakukan pada Rama.
Gracella terus mencium Rama hingga beberapa waktu, tangannya bahkan mulai menyentuh wajah Rama saat ini dan perlahan turun ke leher Rama. Di saat itulah Rama tersentak, ia terkejut saat merasakan sentuhan di bagian lehernya.
"Grace!" Rama menjauh dari Gracella, keterkejutan yang sempat ia rasakan semakin bertambah saat ia membuka mata dan mendapati posisi wajahnya dan juga wajah Gracella sangatlah dekat. "Ada apa? apa ada yang kamu butuhkan?" tanya Rama, yang sekarang telah bangkit dari posisi berbaringnya.
Gracella bersemu, ia terlihat santai dan tidak merasa bersalah sama sekali, atau malu karena kedapatan telah melakukan hal yang tidak benar pada Rama.
"Aku ingin membangunkanmu tadi, sekarang sudah waktunya makan siang. Ayo, kita turun ke bawah," ujar Gracella.
Rama mengangguk. ia segera bangkit berdiri lalu melangkah menuju pintu dan membukakan pintu kamar yang tertutup untuk Gracella. "Silakan." Rama mempersilakan Gracella untuk keluar terlebih dahulu.
Akan tetapi, bukannya keluar lebih dulu dan berjalan di depan Rama, Gracella malah meraih tangan Rama dan menggenggam tangan pria itu dengan erat.
Gracella menggandeng Rama sepanjang koridor menuju lantai bawah.
"Janga lepaskan," ujar Gracella, ketika Rama berusaha untuk melepaskan genggaman tangan Gracella dari tangannya.
"Tapi ini tidak benar, bagaimana kalau ada yang salah paham?" ucap Rama yang masih berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Gracella.
"Tidak masalah kalau ada yang salah paham. Kamu bodyguardku, kamu milikku, terserah aku mau melakukan apa padamu." Gracella berujar dengan penuh percaya diri.
Rama menghela napas, memiliki majikan yang sangat keras kepala memang membuatnya merasa sangat frustrasi. Mau tidak mau ia harus mengikuti apa keinginan Gracella.
Beberapa saat kemudian, Gracella dan Rama tiba di ruang makan.
"Tuan! Kapan Anda tiba?" Rama membungkuk hormat pada Richard yang telah duduk di ruang makan bersama dengan Damar, Tiffani, Mona dan Sella.
Tatapan mata semua yang ada di ruang makan langsung tertuju pada Rama, begitu Rama menyapa Richard, dan tentu saja mereka semua pun dapat melihat jika tangan Rama dan Tiffani saling bertaut.
Tiffani tersenyum sinis, lalu kembali menyantap cake cokelat yang tersaji di hadapannya. "Menyebalkan sekali. Dasar playboy," gumam Tiffani.
Mendengar ucapan Tiffani, Rama langsung menarik tangannya dengan paksa dari genggaman Gracella. Ia tidak peduli jika pada akhirnya Gracella marah padanya. Namun, Gracella tidak terlihat marah sama sekali. Gracella hanya tersenyum sambil menatap Rama.
"Aku makan dulu, Rama," ujar Gracella.
Rama mengangguk. "Silakan makan."
Gracella melangkah ke tengah ruang makan, dan langsung menuju tempat duduknya yang telah diatur sedemikian rupa agar berdampingan dengan tempat duduk Tiffani.
__ADS_1
"Kami berciuman," bisik Gracella di telinga Tiffani sebelum ia duduk di kursi. Gracella mengatakan hal itu sambil tersenyum puas, senyum yang pastinya terlihat sangat menyebalkan bagi Tiffani.
Tiffani diam saja, ia berusaha agar tidak terpancing emosi. Ia tidak ingin memulai keributan di depan sang ayah, apalagi sejak kedatangan Richard perasaan Tiffani sangat tidak enak. Wajar jika Tiffani merasa demikian, karena wajah Richard terlihat pucat sekali, tidak seperti biasanya, dan jelas sekali terlihat jika Richard kehilangan banyak berat badan.
Meskipun diam saja dan tidak menanggapi perkataan Gracella, tetapi sontak Tiffani menatap Rama. Ia memelototi Rama hingga bulu kuduk Rama meremang.
"Mati aku," gumam Rama.
"Aku senang sekali kita bisa makan siang bersama seperti ini. Aku merasa seperti memiliki keluarga lengkap yang sangat bahagia," ujar Richard, sambil tersenyum ke Tiffani dan juga Gracella. "Oh, ya, bagaimana kemajuan hubungan kalian? Apa kalian sudah jarang bertengkar?" tanya Richard.
Tiffani membalas senyuman Richard dan menjawab pertanyaan Richard. "Kami sudah sangat akur, Ayah, sampai -sampai kami bisa saja menikah, seandainya kami berbeda alat reproduksi."
Seisi ruangan berusaha menahan tawa begitu mendengar jawaban Tiffani. Namun, tidak dengan Gracella. Ekspresi Gracella begitu datar, seolah ia enggan berinteraksi dengan siapa pun saat ini kecuali dengan Rama, karena hanya saat menatap Rama barulah Gracella akan tersenyum.
"Aku senang jika kalian sudah mulai berbaikan, itu berarti semakin dekat waktunya untuk aku memberitahu sesuatu yang penting pada kalian berdua." Richard kembali berujar.
"Oh, ya, apa aku boleh membawa Rama bersamaku saat aku kembali ke Amsterdam nanti?" Gracella tiba-tiba saja menanyakan hal demikian.
Rama terkejut saat mendengar pertanyaan yang Gracella yang ajukan.
Damar berdeham, ia memutuskan untuk menjawab pertanyaan Gracella. "Tidak boleh."
"Aku akan membayar kalau begitu. Katakan padaku berapa banyak uang yang harus aku keluarkan agar aku dapat membawa Rama."
Damar menghela napas, lalu berkata, "Dia bukan barang."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa kamu ingin membayarnya dan membawanya pergi?"
"Karena aku suka dia."
Tiffani terbatuk, makanan yang baru saja ia telan bahkan hampir saja keluar lagi begitu ia mendengar ucapan Gracella yang begitu tidak tahu malu.
"Heh, Rama itu sudah punya pacar, kamu jangan kegatalan!" Sela berujar sambil memelototi Gracella.
"Percuma kamu beritahu dia, Sel, karena semakin dia tahu kalau Rama sudah punya pacar, pasti akan semakin dia kejar. Gracella itu hobinya memang merebut milik orang lain."Mona menimpali.
Sela berpura-pura terkejut. "Hah, serius? Apa dia tidak memiliki rasa malu? Parah sekali!"
Mona berdecak. "Ya, Gracella memang parah sekali."
Gracella meletakkan sendok dan garpunya dengan keras di atas meja makan. Ia lalu menatap Sela, Tiffani, dan Mona bergantian. "Kalian memang sukanya main keroyokan, ya?"
"Ini bukan keroyokan, tapi setia kawan. Orang sepertimu tidak akan mengerti karena kamu tidak punya teman. Lagi pula, siapa yang mau berteman denganmu yang begitu beracun dan selalu tertarik pada barang milik orang lain sampai pasangan orang lain," ujar Mona.
Tiffani dan Sela tersenyum puas melihat raut wajah Sela yang berubah kesal.
Gracella segera bangkit berdiri. "Kalian semua menyebalkan sekali!" serunya. "Ayo, Rama, antar aku ke suatu tempat."
Rama mengekor langkah Gracella yang meninggalkan ruang makan secepat kilat.
Melihat Gracella dan Rama pergi bersama, Tiffani langsung bangkit berdiri dan mengejar keduanya.
"Tunggu!" Tiffani meneriaki Rama dan Gracella yang masih berada di lorong yang menuju ke ruang tamu utama.
"Apa maumu?" bentak Gracella, begitu ia melihat Tiffani.
Tiffani mempercepat langkahnya, kemudian ia menarik Rama menjauh dari Gracella saat ia telah tiba di hadapan keduanya.
__ADS_1
"Aku mau dia. Dia kekasihku, dan aku tidak akan membiarkanmu merebut kekasihku untuk kedua kalinya," ucap Tiffani, yang kemudian mengecup bibir Rama tepat di hadapan Gracella.
Bersambung.