
Brian melihat kedua orang tuanya meninggalkan pesta meski masih banyak acara yang belum tuntas. Namun mengingat situasi yang telah terjadi, Brian tidak berusaha mencegah kepergian kedua orang tuanya. Brian paham jika mereka pasti merasa malu bertatapan muka dengan Theo ataupun Valerie.
Saat ini, Brian hanya bisa memandang kekasihnya dari tempat ia duduk. Selama ini, ia tidak pernah ingin tahu rahasia Valerie ataupun asal usul wanita itu. Brian menyukai Valerie apa adanya, ia mencintai wanita itu dan menerima segala hal yang ada pada dirinya. Namun tidak disangka, bahwa wanita yang ia cintai adalah seorang wanita luar biasa.
Setelah Valerie bersama kakeknya memberi sambutan dan berpidato atas pengalihan kekuasaan perusahaan, Brian bangkit dari kursi dan menunggu sang kekasih di bawah anak tangga panggung.
Valerie tersenyum, Brian mengulurkan tangan dan disambut hangat oleh Valerie.
"Maafkan aku, aku tidak pernah bermaksud berbohong atau merahasiakan siapa sebenarnya diriku. Ini semua ...."
"Tidak apa-apa. Kita bisa membicarakannya nanti," sela Brian sebelum Valerie melanjutkan kalimatnya.
Theo datang menghampiri Brian dan Valerie. Dengan sopan, Brian mengulurkan tangan dan berjabat tangan dengan Theo.
"Maaf jika selama ini cucuku selalu merepotkanmu, Brian. Maaf juga jika selama ini kau merasa telah dibohongi," ungkap Theo.
__ADS_1
"Tidak, Tuan. Saya paham, semua yang telah terjadi adalah karena sebuah alasan yang sangat penting."
Theo tersenyum, ia menepuk pundak Brian dan lembut. "Panggil saja Kakek," ucapnya.
"Tapi, ...."
"Tidak apa-apa. Kakek merestui hubungan kalian. Kalian berhak bahagia."
Theo meraih sebelah tangan Brian dan sebelah tangan Valerie. Laki-laki tua itu menyatukan tangan mereka dan tersenyum hangat. Bagi Theo, kebahagiaan terbesarnya adalah kebahagiaan Valerie, serta bisa kembali berkumpul dengan cucu kesayangannya itu.
"Apa kau sungguh-sungguh mencintai cucuku?" tanya Theo.
"Kalau begitu, langsung saja pada intinya. Kalian akan bertunangan malam ini dan pesta pernikahan akan segera direncanakan!" terang Theo.
"Kakek!" Valerie melotot.
__ADS_1
"Kenapa? Apa Kakek salah bicara?" tanya Theo sambil tersenyum. Wajah keriput itu menunjukkan usianya yang tidak lagi muda, namun tujuan hidupnya selama ini hanya ingin melihat cucunya bahagia.
"Tentu saja saya tidak bisa menolak, Kakek. Saya sangat setuju! Ini adalah ide paling cemerlang yang pernah saya dengar sepanjang hidup saya!" seru Brian bersemangat.
Valerie menoleh cepat, ia mencubit pinggang Brian dengan gemas.
"Kenapa? Apa kau tidak ingin menikah denganku?" tanya Brian. Ia menampakkan wajah cemberut.
"Ini sangat mendadak, bukankah ini terlalu cepat?"
"Lebih cepat lebih baik. Benar begitu, Kek?" Brian melempar pertanyaan pada Theo. Laki-laki tua itu tertawa kecil.
Kini Theo bisa memahami mengapa Valerie begitu mencintai Brian. Laki-laki di samping cucunya, memiliki karakter dan sifat yang sangat berbeda dengan orang tuanya. Rasa ragu yang sempat timbul di hati Theo, kini perlahan sirna setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa cucunya nampak sangat bahagia bersama Brian.
Setelah mengobrol singkat, Theo meninggalkan Valerie dan Brian berdua. Sang sekretaris Theo langsung naik ke atas podium dan mengumumkan bahwa malam ini akan dilangsungkan acara pertunangan Valerie dan Brian.
__ADS_1
Tepuk tangan meriah serta rasa bahagia menular pada setiap orang. Karena untuk memperingati perayaan hari jadi perusahaan ke lima puluh tahun serta pertunangan Valerie, Theo memberikan hadiah besar pada setiap tamu undangan serta rekan bisnis yang telah hadir malam ini.
🖤🖤🖤