
Setelah mengungkapkan seluruh rasa sakit hati serta kekecewaannya pada sang Bibi, Valerie keluar dari ruangan itu dan kembali menemui Theo.
Melihat sang cucu keluar dari ruangan dengan mata sembab dan tubuh bergetar hebat, Theo memeluk Valerie. Hal yang paling sulit dalam hidup adalah menghukum orang-orang yang sebenarnya mereka sayangi. Theo tahu Valerie pasti merasa iba pada paman dan bibinya, namun bagaimanapun perbuatan mereka sudah tidak bisa di maafkan, dan Theo senang Valerie memilih keputusan yang tepat.
Selama Valerie menemui Delia, Theo juga menemui anak tirinya, Damian. Laki-laki paruh baya yang sejak kecil ia rawat dan ia besarkan seperti anak sendiri itu berkali-kali memohon maaf dan memohon ampun di hadapan Theo.
Namun sedikitpun, Theo tidak memberinya harapan.
Selama ini Theo sudah bersabar dan membiarkan Damian hidup bebas dengan segala fasilitas mewah, jabatan tinggi, serta kekayaan yang melimpah. Dengan mencabut seluruh kenikmatan itu dalam waktu seketika, Damian menjadi lebih terpuruk dan hancur tak terisisa.
Kini tidak ada lagi rasa kasihan yang tersisa di hati Theo. Selama ini ia sudah cukup memberikan anaknya kehidupan yang nikmat, namun tidak sedikitpun Damian bersyukur dan berterima kasih padanya atas apa yang telah ia berikan. Padahal, Damian hanya anak tiri, yang tidak seharusnya mendapatkan semua itu.
Kini, Theo hanya bisa memeluk Valerie, menenangkan sang cucu agar tidak terlalu larut dalam kesedihan yang tak pernah berakhir.
__ADS_1
"Kau mengambil keputusan yang tepat. Mereka pantas mendapatkannya," bisik Theo.
Valerie masih menangis. Bagaimanapun mereka adalah keluarga, namun mengapa tega-teganya paman dan bibinya berbuat sekejam itu hanya karena harta. Bukankah Theo tidak pernah membeda-bedakan antara anak tiri dan anak kandung? Namun mengapa mereka masih tega melakukannya.
"Ayo pergi dari sini, tenangkan dirimu," ajak Theo.
Selepas dari kantor polisi, Theo membawa Valerie menuju makam kedua orang tuanya. Mereka meletakkan bunga dan menyiram tanah makam dengan sebotol air. Valerie mengungkapkan segala keluh kesah serta kebahagiaan yang ia rasakan selama beberapa waktu terakhir. Bagi Valerie, tempat kedua orang tuanya berbaring selamanya adalah tempat terbaik mencurahkan isi hatinya.
Di hari pertama Valerie menempati posisinya sebagai pemilik sekaligus pemimpin perusahaan yang telah berkembang pesat dan sangat disegani para pebisnis, wanita itu memperkenalkan diri sekali lagi di depan para staf dan para karyawan perusahaan.
Kehadiran Valerie di sambut baik oleh semua orang, bahkan ia mendapatkan kejutan selamat datang dari para petinggi perusahaan yang sudah lebih dulu mengetahui kedatangannya.
Kini Valerie telah memiliki tanggung jawab baru serta pekerjaan yang baru, maka ia harus mulai menata hati dan pikiran agar tidak lagi terpengaruh oleh masalah-masalah yang telah sudah.
__ADS_1
Setelah menghadiri kejutan selamat datang dari para bawahannya, kini Valerie mendapatkan kejutan ulang dari seseorang yang tidak ia duga kedatangannya.
"Kejutan!" seru Brian saat Valerie baru saja memasuki ruangannya. Laki-laki itu tersenyum menawan dengan buket bunga berukuran sangat besar di pelukannya. Bahkan buket itu menutupi separuh tubuhnya.
Valerie tidak bisa berkata-kata, ia bergegas menghampiri Brian dan memeluk laki-laki itu. Sejak pagi ia mengalami banyak hal yang cukup melelahkan, dan kedatangan Brian adalah salah satu obat terbaik untuk menyembuhkan luka hatinya.
"Aku menyiapkan hadiah untukmu," ujar Brian. Ia memperlihatkan banyak sekali kue dan donat yang sudah tertata rapi di atas meja yang di peruntukkan untuk tamu.
"Kue?" Valerie menyipit.
"Aku paham suasana hatimu sedang kurang baik, kau mengalami hal yang berat pagi ini. Itu sebabnya aku menyiapkan makanan enak dan manis untuk memperbaiki moodmu," terang laki-laki itu.
🖤🖤🖤
__ADS_1