
Rama kembali ke kota walau tanpa persetujuan dari Ara. Ia tidak peduli pada keinginan wanita gila itu yang sama sekali tidak masuk akal. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menerobos jalanan berbatu dan berlubang yang membuat mual.
Setelah setengah jam perjalanan, barulah Rama mendapati jalanan yang mulus, yang membuat mobilnya tidak lagi berguncang hebat. Ia memutuskan untuk berhenti sejenak di tepi jalanan yang sepi dan gelap, lalu meraih ponselnya dan mengirim pesan ke Sela dan Mona yang ia tinggalkan begitu saja di Distrik EL 33.
[Aku kembali ke kota. Maaf tidak memberitahu kalian lebih dulu. Jika Ara bertanya tentang aku, katakan saja kalian tidak tahu. Kalian bisa kembali ke kota besok setelah matahari terbit, mengemudi di malam hari sangat berbahaya. Jalanan di sini rusak sekali dan juga sangat sepi. Kembalilah segera besok pagi-pagi setelah kalian bangun..]
Rama kemudian menekan tombol send , mengirim pesan tersebut ke Sela dan Mona. Begitu pesan terkirim ia pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan setelah sebelumnya ia melirik penunjuk waktu yang ada di layar ponselnya.
"Sudah hampir jam satu malam," gumam Rama, sambil menginjak pelan pedal gas perlahan, dan perjalanan pun berlanjut.
***
Rama baru tiba di rumah dua jam kemudian, sekitar pukul 03.00. Ia langsung menuju ke kamarnya begitu ia memasuki rumah megah peninggalan Richard. Suasana di dalam rumah begitu senyap, wajar saja karena memang tidak ada yang pernah terjaga di jam segini kecuali penjaga yang bertugas di gerbang depan dan di depan pintu masuk utama,
Sejak tiga tahun yang lalu, Rama mengurangi jumlah penjaga yang bertugas di sekitar halaman. Ia lebih memilih untuk memasang kamera dan alarm. Baginya hal itu lebih efektif, karena percuma saja menempatkan penjaga yang harus begadang semalaman. penjaga-penjaga itu akan melawan penyusup sambil terkantuk-kantuk saat ada penyusup yang berhasil memanjat pagar depan. Akan lebih baik menggunakan alarm sementara penjaga tertidur lelap, saat alarm berbunyi mereka semua akan bangun dan melawan penyusup dalam kondisi prima.
Rama terus melangkah hingga ia tiba di depan kamarnya. Ia mengatur napas sejenak sebelum mencoba untuk memutar kenop pintu yang ternyata tidak terkunci.
"Ceroboh sekali dia tidak mengunci pintu," gumam Rama, lalu mulai melangkah masuk ke dalam kamar yang beraroma wangi.
Kedua mata Rama langsung mendapati tubuh Tiffani yang berbaring di atas ranjang dengan hanya mengenakan gaun malam berbahan tipis berwarna ungu, kontras sekali di kulitnya yang putih bersih. Cahaya yang remang membuat siluet Tiffani begitu menggoda di mata Rama. Ingin rasanya ia langsung berlari dan memeluk tubuh Tiffani dengan erat. Ditambah lagi ia sangat merindukan Tiffani selama beberapa jam terakhir.
Tanpa membuang waktu, Rama segera melepas jas, sepatu, dan kaus kakinya, kemudian ia merangkak ke tempat tidur dan berbaring sambil memeluk Tiffani dari belakang.
Tiffani menggeliat sedikit saat Rama mulai menenggelamkan wajahnya di tengkuk Tiffani, dan mendaratkan kecupan hingga gigitan kecil di sana. Gerakan Tiffani itu malah membuat Rama semakin ingin menyentuh setiap bagian tubuh Tiffani yang lain. Apalagi saat bokong Tiffani tidak sengaja menyentuh sesuatu di balik celana Rama yang mulai menegang.
Rama menyentuh bahu Tiffani, menurunkan gaun malam Tiffani dengan perlahan hingga ia dapat melihat kulit Tiffani yang mulus dan seputih susu. Rama mendaratkan kecupan berulang kali di bahu Tiffani hingga suara ******* terdengar keluar dari bibir Tiffani yang mengilap. Rama yakin sebelum tidur Tiffani pasti mengoleskan lip glos rasa buah di bibirnya yang saksi itu. Hal itu sudah menjadi kebiasaan Tiffani sejak dulu, dan Rama suka sekali menjilati lip glos itu langsung dari bibir Tiffani untuk mengetahui rasanya.
"Rasa apa yang kamu kenakan malam ini, Sayang?" bisik Rama di telinga Tiffani dengan jarak yang begitu dekat, hingga Tiffani merasakan geli hingga membuat bulu kuduknya meremang.
Tiffani membuka sedikit matanya, dan ia tersenyum saat melihat wajah Rama yang tampan berada sangat dekat dengan wajahnya. Ia pun mengulurkan tangan agar dapat menyentuh wajah tampan Rama, kemudian ia berbisik, "Rasakan sendiri," ujarnya, dorongan untuk menggoda Ra tidak tertahankan walaupun ia masih sangat mengantuk sekarang.
Rama tidak mungkin menyia-nyiakan undangan dari Tiffani. Ia menyentuh bibir Tiffani dengan jemarinya, dan segera mendaratkan bibitnya di bibir Tiffani yang sedikit terbuka. Ia menekan, menjilat, dan melu-mat bibir Tiffani dengan bibirnya hingga Tiffani kualahan.
"Jeruk," ujar Rama kemudian, masih sambil menciumi Tiffani dengan rakus, seolah Tiffani adalah makanan yang menggugah selera.
Kepala Tiffani mengangguk. "Benar. Aku juga mengolesnya di leherku."
Dan detik berikutnya, Rama benar-benar membuat tubuh Tiffani tampil telan-jang di hadapannya. Dengan gerakan cepat Rama melucuti gaun malam Tiffani, hingga hanya tersisa celana dal-am yang tinggal menunggu waktu cela-na dalam itu pun akan tanggal dari tempatnya.
Tiffani meremas rambut Rama saat Rama mulai mendaratkan kecupan di lehernya, lalu turun ke dada dan berhenti di sana untuk waktu yang cukup lama. Suara erangan Tiffani semakin membuat Rama menggila. Ia mulai melucuti pakaiannya sendiri dan kemudian ia memposisikan tubuhnya agar berada di atas tubuh Tiffani, lalu ia pun segera memasuki diri Tiffani, dan mulai bergerak terus menerus hingga ia dan Tiffani mencapai puncak kenikmatan.
Rama terkulai, dan kembali berbaring di samping Tiffani sambil memeluk wanita itu dengan begitu erat.
Hening untuk sesaat, hanya suara deru napas keduanya yang terdengar saling bersahutan di udara.
"Aku menyayangimu, Tiffani," ujar Rama, setelah detak jantungnya kembali normal.
"Ya, aku tahu." Tiffani menjawab sambil tersenyum.
"Jangan pernah ragukan cintaku, dan jangan pernah pertanyakan kesungguhanku. Apa pun yang terjadi. Apa pun." Rama kembali berujar, suaranya begitu serius.
Tiffani mengernyitkan dahi. Ia bingung kenapa Rama tiba-tiba menjadi sangat melankolis. Namun, ia tidak menanyakan apa pun pada suaminya itu, karena sekarang ia telah mendengar suara dengkuran halus Rama, yang menandakan bahwa pria itu sudah terlelap.
__ADS_1
***
Pagi-pagi sekali drama telah dimainkan oleh Ara. Wanita bertubuh kecil yang terlihat licik itu berkacak pinggang di hadapan Mona dan Sela. Wajahnya terlihat masam, dan ekspresi kesal tidak kunjung hilang dari wajahnya sejak beberapa saat lalu.
"Tidak mungkin kalian tidak tahu Rama ada di mana?" tanya Ara lagi. Pertanyaan itu sebenarnya telah dilontarkan oleh Ara sebanyak lima belas kali dalam sepuluh menit terakhir, tetapi Ara tidak pernah puas pada jawaban yang keluar dari bibir Mona dan Sela.
Sela mengembuskan napas dengan kasar, ia yang baru saja sadar dari mimpi tidak indahnya segera bangkit berdiri sambil meringis. Tidur semalaman di atas matras tipis membuat semua bagian tubuhnya terasa nyeri dan tidak nyaman. Wajar saja karena ia memang tidak terbiasa.
"Aku tidur lebih awal tadi malam, begitu juga dengan Mona. Kami lelah dan mengantuk, kami bahkan tidak makan malam, jadi kami berdua tidak tahu Rama ada di mana. Bukannya kamu terus mengawasinya, bagaimana dia bisa lolos dari pengawasanmu?" ujar Sela, sambil mendelik tidak suka ke Ara.
Ara diam sejenak, kedua matanya yang bulat terus menatap Sela, seolah memberi penilaian apakah ucapan Sela dapat dipercaya atau tidak.
"Kapan kalian akan kembali ke kota?" tanya Ara lagi, mengalihkan topik pembahasan yang telah ia godok sejak sepuluh menit terakhir.
"Entahlah, mungkin sebentar lagi," jawab Sela.
"Aku ikut. Aku akan sia-siap dulu," timpal Ara, tanpa basa- basi.
Mona yang sejak tadi masih berbaring di atas matras dan berlagak tidak peduli pada keributan yang Ara buat segera bangkit berdiri begitu mendengar perkataan Ara.
"Tidak. Untuk apa kamu ikut dengan kami?" Mona menolak mentah-mentah keinginan Ara.
Ara mendelik tidak suka ke Mona. "Oh, kamu sudah bangun rupanya. Aku pikir kamu mati." Setelah melontarkan kalimat kejam itu Ara segera melenggang pergi dari hadapan Mona.
"Argh, dasar ******! Aku benci dia!" teriak Mona sambil menghentakkan kedua kakinya dengan sebal. "Lihat saja, aku pasti akan membuat dia menderita nanti."
Sela menutup mulut Mona dengan telapak tangannya. "Jaga bicaramu. Bisa gawat kalau sampai ada yang dengar. Apa kamu tidak sadar kalau Ara adalah kesayangan semua orang yang ada di sini. Bagi mereka Ara adalah penyelamat karena Ara telah membawa Rama ke tengah-tengah mereka di saat mereka semua sedang menderita. Sedikit saja Ara terluka, kita berdua bisa dikeroyok."
Mona mengangguk dengan enggan, dan setelah Sela menjauhkan tangan dari bibirnya, ia pun berkata, "Aku tidak suka pada wanita itu. Dia pasti bukan wanita baik-baik. Aku rasa Rama pun mulai kehilangan respek padanya. Kalau tidak, mana mungkin Rama meminta kita untuk tutup mulut."
Mona mendengus kesal. Ia tidak suka pada kenyataan bahwa posisinya dan Sela saat ini adalah orang asing yang lemah, yang mau tidak mau harus menurut pada Ara.
"Ya, kita bawa saja dia, dan kita buang di hutan dalam perjalanan nanti," gumam Mona dengan kesal.
Sela tertawa mendengar ucapan Mona. "Ya, boleh juga."
***
Perjalanan menuju kota berjalan lancar. Ara tertidur dengan nyaman di kursi belakang, sementara Sela mengemudi, dan Mona duduk tepat di samping Sela tanpa banyak bicara.
Dua jam kemudian mereka tiba di kediaman keluarga Raendra. Sela menghentikan mobil dan menurunkan kaca depan untuk menyapa Johan yang kebetulan sedang berdiri di gerbang depan.
"Hai, Sayang," ucap Sela sambil memonyongkan bibirnya agar mendapat kecupan dari Johan, kekasihnya.
Johan yang sejak tadi sibuk berbicara pada penjaga yang bertugas di gerbang depan tersenyum pada Sela, dan ia langsung menunduk untuk mengecup Sela.
"Aku meri dukanmu," ucap Johan.
"Aku pun. Aku akan masuk dulu, setelah itu ayo kita bertemu di taman belakang."
Johan mengangguk, kemudian menjauh dari mobil agar Sela dapat melanjutkan perjalanan menuju halaman utama.
"Apa semua pria di sini memang tampan-tampan? Sepertinya standar visual tingkat tinggi telah ditetapkan di sini, karena belum sekali pun aku melihat pria dengan tampang pas-pasan sejak aku datang ke rumah ini," komentar Ara, yang telah terbangun dan menyaksikan adegan ciuman di depan gerbang barusan.
__ADS_1
"Kenapa memangnya? Apa kamu berniat untuk mencari jodoh di rumah ini?" tanya Mona dengan sewot, ia tidak tahan untuk tidak bersikap sinis pada Ara.
Ara menguap sambil menggeliat sebelum menjawab pertanyaan Mona. "Ya, aku rasa begitu. Jodohku adalah salah satu dari pria-pria yang ada di dalam rumah ini."
Mona dan Sela saling pandang, keduanya tidak habis pikir jika Ara akan berkata demikian. Ara jadi terkesan murahan sekali di mata Sela dan Mona.
"Oh, ya. Aku jadi penasaran. Kamu pasti sudah mengincarnya sejak kamu datang ke sini kalau begitu. Siapa pria itu? Apakah Andi, Will, Mario, Rei, Anton, Tristan, atau siapa?" tanya Mona dengan penasaran.
"Johan yang di depan gerbang tadi adalah pengecualian, ya, dia milikku." Sela menimpali.
"Ck, jangan takut. Aku tidak akan menjadikan si Johan tadi sebagai targetku, karena aku sudah memiliki target yang kusuka sejak awal," ujar Ara, dengan kedua pipi yang merona merah.
Sela dan Mona menoleh ke belakang sembari melontarkan pertanyaan bersamaan, "Siapa?"
"Rama. Rama adalah targetku. Dia calon suamiku." Ara menjawab dengan santai, bahkan terlihat bersemangat sekali saat menyebutkan nama seorang pria pada Sela dan Mona, seolah apa yang ia lakukan itu adalah tindakan yang benar.
Ciiiit!
Sela mendadak menginjak pedal rem hingga mobil berhenti mendadak. Wajah Mona menghantam dashboard di depannya dengan cukup keras, sementara wajah Ara menghantam kursi yang diduduki Mona. Sela sangat terkejut, sehingga ia tidak dapat mengendalikan diri.
"Kamu gila!" seru Sela dan Mona berbarengan.
"Rama itu sudah punya istri," tambah Mona.
"Tiffani adalah istrinya," timpal Sela.
Ara mengangkat kedua bahunya, terlihat santai dan tidak takut pada tatapan mematikan yang Sela dan Mona beri padanya.
"Memangnya kenapa? Dia kan bisa punya dua istri, atau ceraikan saja istrinya itu," ucap Ara.
Mona tidak tahan lagi. Ara sudah keterlaluan kali ini, dan ia tidak akan membiarkan Ara bersikap semakin kurang ajar. Ia keluar dari dalam mobil dan segera membuka pintu belakang.
"Keluar!" perintahnya pada Ara.
Akan tetapi, Ara tidak kunjung keluar dari dalam mobil, dan hal itu membuat Mona semakin kesal. Mona meregangkan jemarinya dan langsung menarik rambut panjang Ara hingga Ara menjerit kesakitan.
Menit berikutnya Ara telah berada di luar mobil, begitu juga dengan Sela yang terlihat tidak kalah kesal dari Mona. Ketiganya saat ini berada di tengah halaman, masih lumayan jauh dari bangunan utama, karena memang halaman rumah Tiffani sangat luas.
"Apa katamu tadi? Coba kamu ulangi? Dasar pel-acur. Bisa-bisanya kamu berkata demikian. Kamu pikir kamu itu siapa?" Mona mendorong tubuh Ara berulang-ulang sambil berteriak.
Beberapa penjaga seketika berkerumun di sekitar Mona saat teriakan Mona terdengar dan menarik perhatian mereka.
"Ayo cepat katakan?!" Mona kembali mendesak Ara, tetapi Ara hanya diam. Bukannya ia tidak bisa menjawab atau melawan Mona, tetapi kepalanya masih terasa sakit sekali karena Mona menarik rambutnya begitu keras tadi, hingga ia enggan untuk menciptakan keributan dengan Mona.
Mona menghela napas panjang, kesabarannya telah habis, dan ia tidak mampu bertahan barang sedetik pun lagi. Tanpa peringatan ia langsung menerjang Ara hingga ia dan Ara berbaring di atas rerumputan dengan posisi saling menjambak.
Ara yang bertubuh kecil memang bergerak lebih lincah daripada Mona. Ara bahkan telah berhasil menendang perut Mona dengan cukup keras. Melihat hal itu Sela tidak tinggal diam. Ia berlutut di samping Mona dan memegangi kaki Ara agar tidak terus menendang, dan sekali waktu ia berhasil mencakar wajah Ara yang sok kecantikan.
Sela tersenyum puas saat melihat luka beset di pipi Ara yang mulai mengeluarkan darah. Ia sudah lama tidak berkelahi dengan seseorang, dan sekarang ia senang sekali karena mendapatkan objek yang pas untuk disiksa. Toh, tidak salah menyiksa Ara yang ternyata memiliki jiwa pelakor yang berbahaya. Kalau Ara dibiarkan, bisa-bisa Tiffani yang terluka.
Pergumulan semakin seru sekarang. Para penjaga yang menonton bukannya melerai malah bersorak memberi semangat pada Sela dan Mona.
Akan tetapi, pergumulan itu terpaksa harus berhenti saat tiba-tiba Tiffani muncul dan mengacaukan segalanya.
__ADS_1
"Astaga, apa yang kalian lakukan?" pekik Tiffani
Bersambung.