
Rama mendorong tubuh Ara yang mendarat di atas tubuhnya dengan cepat, kemudian ia segera bangkit berdiri untuk menjaga jarak dari Ara yang masih terduduk di tanah.
"Apa yang barusan itu," gunan Ara, sambil menyentuh bibirnya yang masih berdenyut.
Tatapan Ara yang tidak fokus membuat Rama menjadi khawatir, ia takut jika wanita itu salah paham, dan malah mengartikan ciuman mereka yang tidak sengaja menjadi sesuatu yang berarti.
"Bangunlah dan kembalilah ke dalam. Cuacanya sangat dingin sekarang, kamu bisa masuk angin," ujar Rama, lalu berbalik pergi meninggalkan Ara yang terlihat seperti orang linglung..
Ara tersentak begitu mendengar suara Rama, ia yang menyadari kepergian Rama pun segera bangkit dari duduknya dan berlari mengejar Rama yang telah mencapai teras.
"Tunggu, Tuan, tunggu!" teriak Ara, sambil menarik lengan Rama.
"Ada apa lagi?" tanya Rama.
Kedua pipi Ara merona merah saat Rama bicara padanya. "Ah, aku hanya ingin bilang terima kasih atas perhatiannya. Anda perhatian sekali padaku. Aku sangat terharu,"
Rama menghela napas. "Bukan begitu. Aku hanya ...." Rama menggantung ucapannya, percuma saja ia bicara jika yang diajak bicara telah kabur dari hadapannya. Ya, Ara kini tidak lagi ada di hadapan Rama. Gadis itu berlari memasuki rumah sambil cekikikan tidak jelas, membuat Rama merasa tidak nyaman. "Astaga, dia pasti salah paham," keluh Rama, sambil mengacak rambutnya dengan frustrasi.
Rama melanjutkan langkah menuju kamarnya yang berada di lantai dua, dan di dekat tangga ia berpapasan dengan Adam yang langsung menariknya menuju perpustakaan yang ada di sisi kanan koridor.
"Aku mendengar semuanya," ujar Adam, begitu ia dan Rama telah berada di dalam perpustakaan yang berpencahayaan remang.
Rama mengernyitkan dahi. "Semuanya? Apa maksudmu dengan semuanya?"
Adam mengangguk. "Semuanya. Aku mendengar semua yang Xavier katakan padamu tadi, dan kalau aku tidak salah tebak, dia memukulmu juga, benar?" tanya Adam, sambil melirik sudut bibir Rama yang berdarah.
Rama mengusap sudut bibirnya, mengira masih ada darah di sana, tapi sepertinya sudah tidak ada di darah di sudut bibirnya, karena Rama tidak menyentuh darah sama sekali.
"Apa terlihat jelas?" tanya Rama.
Adam mengangguk. "Ya, lebamnya terlihat jelas. Pasti besok akan semakin membiru jika tidak segera kamu kompres."
Rama mendengkus. "Tiffani pasti curiga."
"Dia pasti akan menanyaimu macam-macam," komentar Adam sambil mengangguk, lalu melanjutkan, "Aku rasa kita tidak bisa melanjutkan semua ini, Rama. Kamu dan Xavier pasti akan terus-terusan berkelahi jika kamu ngotot ingin melanjutkan penyelidikan tentang Damar."
Rama mengusap wajahnya dengan kasar, ia tahu apa yang dikatakan Adam ada benarnya, tetapi membiarkan Damar terus-terusan melakukan pengkhianatan bukanlah hal yang benar untuk dibiarkan begitu saja.
"Entahlah," gumam Rama. "Kamu tahu benar bahwa tindakan Pak Damar salah. Tidak mungkin aku membiarkan semua itu kan?"
"Ya, aku tahu. Tapi, tindakan paling bijaksana yang harus kamu lakukan saat ini adalah diam. Tenanglah sejenak, dan setelah itu langsung tembak!" ujar Adam, memberi nasehat.
"Akan aku pikirkan saranmu, terima kasih." Rama menepuk bahu Adam.
__ADS_1
Adam tersenyum.dan keduanya melangkah keluar dari dalam perpustakaan. Sebelum berpisah di ujung koridor, Adam menghentikan Rama, ia menatap Rama dengan seksama, kalau kemudian berkata, "Jaga jarakmu dari si Ara itu. Aku rasa di tertarik padamu. Apalagi setelah kamu menciumnya." Adam nyengir, lalu segera berlari menjauh dari Rama menuju halaman belakang, di mana terdapat tempat tinggalnya dan juga Mona.
"Aku tidak menciumnya. Semua itu tidak sengaja," gumam Rama, dengan suara yang begitu pelan karena Adam sudah tidak ada di hadapannya saat ini.
***
Matahari mulai muncul di langit. Cahayanya yang hangat menyapa pagi yang berembun dan terasa dingin. Aktivitas pun dimulai.
Keadaan Tiffani mulai membaik, meski begitu ia masih enggan keluar dari kamar untuk bertemu dengan Ara atau pun Damar. Namun, pekerjaan kantor yang menumpuk membuatnya harus segera bangkit dari keterpurukan, karena jika bukan dia lantas siapa lagi. Toh, Gracella tidak begitu tertarik mengurusi bisnis yang Richard tinggalkan. Maka, hanya Tiffani dan Rama lah yang saat ini mengurusi semua urusan kantor dan yang lainnya termasuk urusan-urusan bisnis gelap yang mengerikan.
"Selamat pagi," gumam Tiffani, saat ia memasuki ruang makan dan duduk tepat di samping Rama.
Penampilan Tiffani pagi ini sama seperti pagi-pagi biasanya. Ia terlihat cantik dalam balutan setelan kantor serba hitam, jika biasanya Tiffani memakai rok model sepan yang sepanjang lutut, pagi ini ia memilih menggunakan celana kain berwarna hitam yang menutupi kaki jenjangnya.
Rama tersenyum melihat keceriaan di wajah Tiffani, setidaknya kabut kesedihan yang melanda istrinya sejak kemarin, sekarang tidak lagi terlihat.
"Aku sengaja tidak membangunkanmu, aku pikir kamu tidak akan ke kantor hari ini, Sayang," ujar Rama, sambil menatap Tiffani yang duduk di sebelahnya.
"Ada beberapa pekerjaan penting yang tidak bisa ditunda, Sayang, dan kita punya janji temu dengan Pak Andrew, kuharap kamu tidak lupa," ujar Tiffani, yang mulai mengoles mentega di atas roti tawar gandum kesukaannya.
"Astaga, benar. Maafkan aku, aku sama sekali tidak ingat," gumam Rama, yang melupakan janji temu penting dengan salah seorang pemasok obat-obatan terlarang dari Meksiko. Tidak heran jika pagi ini Tiffani tampil mengenakan celana panjang. Style tersebut memang Tiffani pilih setiap kali mereka akan bertemu dengan penjahat-penjahat kelas kakap.
Andrew sendiri adalah seorang pemimpin dari sindikat narkoba terbesar yang ada di Meksiko. Kartel yang dipimpin oleh Andrew terkenal bengis, hingga rasanya akan mustahil sekali jika Tiffani memutus kerjasama yang telah terjalin selama bertahun-tahun lamanya.
Damar yang duduk tepat di seberang Tiffani menghentikan kegiatannya yang sejak tadi mengunyah nasi goreng favoritnya. Ia memandang Tiffani lamat-lamat.
"Profesional lah, Tiffani, pada awalnya memang sulit, tapi lama-kelamaan kamu akan mulai terbiasa," ujar Damar.
Tiffani mengalihkan pandangannya ke Damar, dan binar di kedua mata indahnya menghilang saat ia melihat pria tua itu duduk dengan santainya di ruang makan setelah menipu dirinya habis-habisan.
"Aku tidak akan terbiasa dengan ini semua, Om. Sekarang saja sudah tiga tahun berlalu, tapi aku masih tidak bisa membiasakan diriku saat harus bertemu dengan orang-orang seperti mereka," ujar Tiffani.
Damar mengusap mulutnya dengan serbet, lalu meminum sedikit air putih hangat dari gelasnya. "Kamu takut pada mereka?" tanya Damar.
Mendengar ucapan Damar, Tiffani tertawa terbahak-bahak. Tawa Tiffani yang terkesan berlebihan itu menarik perhatian Gracella dan juga Xavier yang sejak tadi hanya diam seolah mereka tidak ada di sana.
"Takut! Astaga, yang benar saja, Om, aku tidak mungkin takut dengan mereka karena aku memiliki Rama di sisiku. Aku tidak takut sama sekali, aku hanya muak saat aku menyadari bahwa aku adalah salah satu bagian dari penyebab utama generasi di bumi ini hancur."
"Tiffani, jangan bicara begitu," ujar Damar, yang terlihat tidak nyaman dengan ucapan yang Tiffani lontarkan.
Tiffani kembali tertawa. "Lalu aku harus bilang apa? Bukankah apa yang kukatakan benar adanya!" Tiffani menyesap sedikit cokelat panas dari cangkir yang ada di hadapannya dan segera bangkit berdiri. "Kita berangkat sekarang," ujar Tiffani pada Rama.
__ADS_1
Rama yang juga telah mengenakan setelan bodyguard serba hitam segera bangkit berdiri dan mengekor langkah cepat Tiffani.
"Moodmu kacau?" tanya Rama.
Tiffani mengangguk, masih terus melangkah menuju teras. "Ya, seketika rusak saat aku melihat seorang pengkhianat."
"Selamat pagi, Tuan, Nyonya!" Ara yang sedang berlari-lari kecil di lapangan menyapa Tiffani dan Rama yang telah tiba di teras.
Tiffani tersenyum dan melambaikan tangan untuk menerima sapaan dari Ara.
"Apa kalian akan berangkat bekerja?" tanya Ara, yang sekarang telah berdiri di hadapan Rama dan Tiffani.
"Ya, kami akan ke kantor, " jawab Tiffani.
Ara tersenyum, ia kagum melihat Tiffani dalam balutan busana kantor yang terlihat sangat cantik dan elegan.
"Ini baru yang disebut pekerjaan. Anda terlihat keren sekali, " ujar Ara, terdengar sangat jujur. Ara lalu mengalihkan pandangannya ke Rama, dan ia refleks menyentuh bibirnya sambil berusaha menahan senyum saat kedua matanya menatap Rama.
Rama mengeluh di dalam hati. Ia tidak tahu jika ternyata Ara memiliki tingkat kepercayaan diri yang begitu tinggi hingga di titik yang tidak masuk akal.
"Anda juga keren sekali, Tuan," ujar Ara, masih sambil memegangi bibirnya.
Rama mengangguk singkat. Melihat tingkah Ara yang seperti itu membuat rasa simpatik Rama sedikit berkurang. Entah kenapa ia merasa jika Ara akan menimbulkan masalah serius dalam hubungannya dengan Tiffani.
"Ayo kita berangkat," ujar Rama, membuka pintu mobil dan mempersilakan Tiffani untuk masuk.
Setelah Tiffani berada di dalam mobil, Rama menutup pintu mobil dan memutar untuk masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi.
"Ada apa dengannya? Kenapa tingkahnya aneh sekali," gumam Tiffani, yang nasih memperhatikan Ara dari jendela mobil yang tertutup.
Rama menyentuh kepala Tiffani dan menyandarkan kepala istrinya itu di bahunya sementara ia menyetir. "Tidak usah pedulikan dia. Mungkin dia memang aneh begitu."
Tiffani tersenyum, dan segera memeluk pinggang Rama, posisi seperti itu merupakan posisi kesukaan Tiffani. Ia merasa nyaman bersandar pada Rama dan memeluk pinggang Rama saat sedang dalam perjalanan. Seolah semua beban di dalam kepalanya menghilang seketika saat ia menopangkan seluruh beban tubuhnya pada Rama.
"Hari ini kita akan bertemu dengan penjahat lagi, jika biasanya penyelundup senjata api, kali ini bandar narkoba. Membosankan sekali," gumam Tiffani.
Rama mengulurkan tangan untuk menyentuh tangan Tiffani dan meremasnya. "Dan itu berarti hari ini aku akan berakting menjadi bodyguardmu lagi, bukan suamimu."
Tiffani semakin merapatkan pelukannya di pinggang Rama. "Ya, mau tidak mau. Aku tidak ingin jika sebagian dari mereka yang paling jahat mengetahui kebenaran kalau kamu adalah suamiku. Aku tidak ingin mereka menyakitimu jika suatu saat terjadi sesuatu," ucap Tiffani.
Rama diam saja, ia tidak lagi melontarkan kalimat dari bibirnya, sebagai gantinya Rama mendaratkan kecupan di puncak kepala Tiffani, dan menghidu aroma wanita itu dalam-dalam.
__ADS_1
"Bodyguard ku, suamiku," gumam Tiffani, dan selagi dalam perjalanan menuju kantor Tiffani kembali tertidur sambil mendekap Rama
Bersambung.