
Gracella berdiri dengan penuh percaya diri di depan pintu ruang kerja Richard Raendra. Ia senang, karena akhirnya hari yang telah ia tunggu-tunggu pun tiba. Hari di mana Richard akan mengakui kesalahan dan menceritakan detail tentang kematian ayahnya.
Tok, tok, tok!
Gracella mengetuk, dan menanti suara Richard yang memintanya untuk masuk. Ia masih memiliki sedikit adab yang membuatnya tidak langsung menerobos masuk begitu saja ke dalam ruang kerja Richard.
Ceklek!
Pintu ruang kerja di hadapannya terbuka, dan ia langsung berhadapan dengan Damar.
"Masuklah, Tuan telah menunggumu sejak tadi," ucap Damar, sembari menyingkir, memberikan jalan agar Gracella dapat dengan laluasa masuk ke dalam ruangan tersebut.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Gracella langsung melewati Damar dan terus melangkah dengan angkuh hingga ia tiba di hadapan Richard yang duduk di sebuah kursi berlengan di balik meja kerja.
"Aku sudah tiba," ujar Gracella, seperti biasa nada bicara gadis itu ketus dan tidak bersahabat.
Richard tersenyum kepada Gracella dan segera melambai, meminta Gracella untuk duduk di hadapannya.
"Langsung saja, aku tidak ingin berlama-lama." Gracella kembali berujar dengan ketus.
"Aku penasaran, apa kamu tidak pernah diajar kan sopan santun, Grace? Beginikah caramu berbicara dengan orang yang lebih tua?" tanya Richard.
Gracella menaikkan sebelah alisnya. "Jangan meragukan didikan ibuku. Ibuku mendidikku dengan baik. Namun, aku hanya menggunakan sopan santunku pada orang yang tepat dan pantas."
Richard tertawa. "Ya, aku tahu itu, dan sebentar lagi kamu akan menggunakan sopan santunmu itu padaku, suka atau tidak."
Gracella menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi sambil melipat tangan di depan dada. Tatapannya yang tajam terlihat meremehkan Richard. "Kita lihat saja, apakah aku akan menggunakan sopan santunku padamu atau tidak."
Richard berdeham. "Baiklah, sekarang dengarkan aku baik-baik."
***
Tiffani dan Rama berlari menyeberangi halaman belakang menuju bangunan utama yang terlihat menjulang di kejauhan. Rama berulang kali meneriaki Tiffani agar Tiffani tidak perlu berlari, tetapi Tiffani tidak mengindahkan permintaan Rama, karena baginya setiap detik sangat berharga. Ia tidak ingin ketinggalan bahkan sepotong percakapan antara Gracella dan ayahnya.
"Tiffani, pelan-pelan saja. Aku takut terjadi sesuatu padamu dan bayimu." Rama berseru, sambil menarik pergelangan tangan Tiffani.
Tiffani menghentikan langkah. Masih terengah-engah ia menyentuh perutnya. "Aku lupa," ujar Tiffani.
Rama menatap Tiffani dengan tatapan tidak percaya. "Hah, bisa-bisanya kamu lupa."
Tiffani melanjutkan langkah sambil berujar, "Beberapa hari ini aku tidak merasakan mual, pusing, dan bahkan morning sickness pun tidak, mungkin karena hal itulah aku jadi lupa kalau aku sedang hamil."
Rama menjadi khawatir mendengar penuturan Tiffani. "Besok aku akan mengantarmu menemui Dokter Stella. Kamu harus memeriksakan kehamilanmu. Mungkin saja ada sesuatu yang tidak beres jika mendadak semua tanda kehamilan itu menghilang tiba-tiba."
Tiffani menggeleng. "Tidak perlu, aku baik-baik saja."
"Aku memaksa," ujar Rama, ia meremas pergelangan tangan Tiffani, dan kemudian memindahkan genggaman tangannya ke telapak tangan Tiffani.
Tiffani merona. Ia senang akhirnya dapat merasakan perhatian Rama lagi. Ia juga senang karena dapat merasakan kehangatan tangan Rama di tangannya.
"Baiklah. Aku tidak bisa melakukan apa pun kalau kamu memaksa."
Rama tersenyum sembari mengusap puncak kepala Tiffani dengan sebelah tangannya, kemudian keduanya mempercepat langkah hingga tiba di teras.
"Kamu terlambat sepuluh menit, Tiffani!" teriak Sela begitu melihat Tiffani dan Rama muncul dari bagian samping rumah. "Dan kenapa ada Rama juga?"
"Rama akan ikut," ujar Tiffani, menjawab pertanyaan Sela, kemudian ia menatap Mona yang berdiri dengan wajah cemberut di samping Sela. "Kenapa ada Mona?"
"Dia akan ikut," jawab Sela.
Tiffani mencubit hidung Mona dengan gemas. "Bagus, aku tahu kalau kamu pasti akan ikut."
Mona menjauhkan tangan Tiffani dari wajahnya. "Aku terpaksa. Sungguh sangat amat terpaksa," desis Mona, sambil mendelik kesal ke Tiffani dan Sela.
Tiffani tertawa. "Terpaksa atau tidak, yang penting kamu ikut. Ayo!"
Tiffani menggandeng tangan Sela dan Mona kembali ke bagian samping rumah, hanya saja kalian ini mereka memutar ke sisi kiri yang merupakan jalan bantu.
Rama yang mengekor di belakang ketiga gadis itu terlihat bingung, karena ia masih belum tahu misi apa yang akan ketiga gadis itu jalankan.
"Tidak adakah salah satu dari kalian yang ingin menjelaskan padaku tentang misi rahasia ini?" tanya Rama.
__ADS_1
"Kamu belum memberitahunya?" tanya Sela, pada Tiffani begitu ia mendengar pertanyaan dari Rama.
Tiffani menggeleng. "Belum, karena semuanya serba mendadak. Aku saja sebenarnya tidak ingat pada misi ini. Untung kamu menelepon."
Sela mengangguk, ia mengerti pada alasan Tiffani yang belum sempat menjelaskan ke Rama tentang misi mereka, karena sebenarnya ia pun hampir lupa. Menghabiskan waktu bersama dengan Johan membuat Sela melupakan segalanya.
"Kamu ikuti saja kami, Rama, nanti juga kamu akan tahu apa yang akan kami lakukan." Sela berujar ke Rama.
Rama hanya diam dan kembali mengikuti langkah ketiga gadis di hadapannya.
Setelah beberapa saat, Tiffani dan yang lainnya tiba di depan sebuah pintu yang terlihat tidak pernah dibuka untuk waktu yang cukup lama. Daun pintu tersebut dipenuhi tanaman merambat dari bawah hingga ke bagian atasnya.
"Di balik pintu ini terdapat lorong yang akan langsung menuju ke ruang kerja ayahku!" ucap Tiffani, pada Rama dan kedua temannya.
"Ruang kerja. Apa yang sebenarnya ingin kalian lakukan?" tanya Rama yang terlihat semakin penasaran.
"Kami akan menguping pembicaraan ayah Tiffani dan Gracella." Sela yang menjawab.
"Menguping? Tapi untuk apa? Kalian tidak boleh menguping pembicaraan orang lain."
Mona mengangguk cepat. "Aku juga sudah mengatakan hal itu ke Tiffani dan Sela, tapi mereka berdua tidak mendengarkanku sama sekali."
Tiffani mengibaskan tangan, meminta Mona dan Rama untuk berhenti memprotes. "Terserah apa pendapat kalian berdua, yang jelas aku harus tahu apa yang dibicarakan oleh ayahku dan Gracella," ujar Tiffani, lalu segera mengeluarkan sebuah kunci dari dalam saku celananya.
Tiffani memasukan kunci berkarat itu ke dalam lubang kunci dengan hati-hati, dan ....
Klik! Kunci terbuka.
Tiffani memutar knop pintu yang langsung terbuka dan mengeluarkan suara derit yang menyeramkan.
Ruangan lembab yang gelap dan berdebu menyambut Tiffani dan yang lainnya.
"Gila, aku merasa kita sedang berada di rumah hantu sekarang," ujar Sela.
Mona berdecak. "Fokuslah, jangan sampai kisah kita yang ingin menguping malah menjadi kisah horor di dalam sini."
Sela terkikik. "Tidak akan, tujuan utama kita tetap menguping. Tapi ngomong-ngomong, ruangan ini ruangan apa, Tiffani? Kenapa ada ruangan seperti ini di samping rumahmu?"
Mendengar penjelasan Tiffani, Sela memukul lengan Tiffani. "Yang benar? Aku tidak ingin masuk kalau begitu!"
Tiffani tertawa. "Tidak, sebenarnya ini hanyalah gudang yang kebetulan ujung lorongnya berada tepat di perapian yang ada di ruang kerja ayahku," jawab Tiffani, sambil menyingkirkan sarang laba-laba yang menggelantung di bingkai pintu. "Keluarkan ponsel kalian, kita butuh penerangan," ujar Tiffani lagi.
Sela dan Mona segera mengeluarkan ponsel sesuai perintah Tiffani, kemudian mereka mulai melangkah memasuki lorong.
"Untunglah. Aku pikir ucapanmu tadi serius, tapi bukankah percuma sekali rumahmu memiliki perapian, padahal negara kita tidak memiliki musim dingin yang ekstrem." Sela kembali berkomentar.
"Memang tidak, tapi karena rumah ini adalah rumah bergaya Eropa, perapian pasti ada, walaupun sebenarnya tidak pernah digunakan sama sekali. Toh di sini tidak ada musim salju yang akan membuat kita mati membeku. Jadi perapian itu lebih berfungsi sebagai dekorasi ruangan saja," ujar Tiffani.
Suasana kemudian hening , Tiffani terus memimpin langkah hingga mereka tiba di ujung lorong yang di sisi kanannya terdapat lengkungan dengan ukurannya yang lumayan besar.
"Itu kotak perapiannya, kita tepat berada di samping ruang kerja ayahku sekarang. Jika kita menguping dari luar ruangan ayahku maka tidak akan terdengar apa pun karena ruang kerja ayahku kedap suara, tapi di sini terdapat celah yang membuat kita bisa mendengarkan apa pun yang ayahku katakan. Jangankan menguping, mengintip pun bisa," bisik Tiffani pada ketiga temannya.
"Kamu terdengar sering melakukannya," ujar Rama.
Tiffani tersenyum malu. "Ya, saat masih kecil aku sering mengintip aktivitas ayahku di sini."
"Semoga kamu tidak mendapati ayahmu yang sedang selingkuh dengan salah satu pelayan," ujar Sela.
Tiffani mencubit pinggang Sela. "Ayahku itu sangat setia."
"Aah, aku hanya bercanda. Biasanya adegan seperti itu selalu ada di drama-drama percintaan."
"Shuut, aku dengar sesuatu," desis Mona, meminta Tiffani dan Sela berhenti berdebat.
Di dalam ruang kerja Richard ....
Richard bangkit berdiri dan melangkah menuju sebuah rak penyimpanan yang terletak tepat di dekat perapian. Ia menarik salah satu kotak berwarna hitam yang mulai usang dan membawa kotak tersebut kembali ke meja kerjanya.
"Bukalah," titah Richard, pada Gracella.
Gracella tidak langsung menuruti apa yang Richard perintahkan. Ia diam saja, dan hanya menatap Richard tanpa ekspresi.
__ADS_1
Melihat Gracella yang tidak melakukan apa-apa, Richard hanya tersenyum.
"Kamu keras kepala sekali, Nak. Tapi, ya, sudah. Kamu pasti akan membukanya setelah mendengar apa yang aku katakan," ucap Richard. Kemudian ia kembali bangkit berdiri dan menatap ke luar jendela yang berembun.
"Aku dan ayahmu adalah saudara kembar, apa kamu tahu itu?"
"Jangan mengada-ngada, kalian tidak mirip sama sekali." Gracella berucap dengan ketus.
Richard tersenyum, lalu kembali duduk di kursi yang berhadapan dengan Gracella. "Kamu dan Tiffani pun tidak mirip sama sekali."
Gracella memutar bola matanya dengan malas. "Tentu saja kami tidak mirip, karena kami ...." Gracella menggantungkan ucapannya ketika ia menyadari qdanya kejanggalan dalam ucapan Richard. "Apa maksud ucapanmu barusan?" tanya Gracella.
"Aku dan ayahmu bukan kembar identik, begitu juga dengan kamu dan Tiffani, kalian berdua bukan kembar identik, Grace."
Gracella tertawa terbahak-bahak. "Jangan bercanda. Siapa yang kembar? Aku dan Tiffani!"
Richard mengangkat kedua pundaknya. "Buka saja kotaknya kalau begitu, agar kamu dapat memastikan ucapanku."
Kali ini tanpa menunggu, Gracella langsung membuka kotak usang yang ada di atas meja, ia tidak suka dengan penjelasan Richard yang bertele-tele. Ia harus memastikannya sendiri.
Ketika kotak terbuka, Gracella langsung menemukan berkas serta foto-foto lama yang memperlihatkan seorang wanita cantik sedang menggendong dua bayi yang baru dilahirkan, dan di samping wanita itu Richard dengan versi yang jauh lebih muda tersenyum hangat ke kamera.
"Adikku yang mengambil foto saat itu. Hari itu adalah hari yang sangat membahagiakan bagi kami semua, karena kamu dan Tiffani lahir dengan selamat walaupun pada awalnya terdapat komplikasi yang cukup serius," ujar Richard, menjelaskan secara singkat ke Gracella.
Gracella sendiri sekarang mulai membaca satu per satu berkas kelahiran yang ada di dalam sebuah amplop besar berwarna cokelat.
"Alika Tiffani Raendra, Kiara Gracella Raendra," gumam Gracella.
"Itu nama aslimu. Nama yang cantik bukan? Aku tahu semua ini sangat berat untukmu, Grace, tapi bukankah kamu berhak mengetahui kebenarannya. Saat itu Adikku dan istrinya divonis tidak bisa memiliki anak, dan mereka datang pada kami setelah mengetahui bahwa istriku tengah mengandung anak kembar. Sejak saat itu mereka tidak berhenti memohon padaku agar aku memberikan satu anakku untuk mereka. Mereka memohon setiap hari hingga hari kelahiranmu dan Tiffani tiba."
Gracella mendongak, menatap Richard yang ada di hadapannya.
"Kamu pasti bertanya-tanya kenapa harus dirimu yang aku berikan pada adikku, bukannya Tiffani. Saat itu kalian masih bayi, tidak terpikir olehku untuk memilih, semuanya terjadi begitu saja."
Gracella masih diam. Ia tidak mengatakan apa pun, walaupun ekspresi angkuh di wajah cantiknya kini menghilang, dan digantikan dengan ekspresi terkejut yang teramat sangat.
"Kamu putriku, Grace, sama seperti Tiffani," ucap Richard, yang kini mulai menangis. "Aku merindukanmu setiap saat, tapi aku tidak bisa melakukan banyak agar dapat memilikimu kembali."
Richard lalu mengusap air matanya yang mulai membasahi wajah dan kembali berujar, "Sedangkan tentang kematian adikku, semua bukan karena diriku. Adikku murni dirampok, bukannya dibunuh oleh saingan bisnisku seperti yang selama ini kamu yakini. Aku mengikuti persidangnnya hingga selesai, dan perampok itu memang merupakan residivis di kasus yang sama."
Gracella masih bergeming. Ia bingung harus menanggapi seperti apa kebenaran yang baru saja ia dengar dari Richard. Ia sangat terkejut, ia tidak pernah menduga bahwa malam ini ia akan duduk berhadapan dengan orang yang sangat ia benci dan ternyata orang itu adalah ayah kandungnya sendiri.
Richard bangkit berdiri kemudian ia menghampiri Gracella, lalu mengusap puncak kepala gadis itu dengan begitu lembut. "Kembalilah ke kamarmu dan beristirahatlah, sudah cukup untuk malam ini. Kamu perlu waktu untuk menerima semuanya, bukan?"
Gracella bangkit berdiri dan menjauh dari Richard. "Jika semua ini benar, kenapa kamu hanya mengatakan kebenaran ini padaku saja? Kenapa kamu tidak mengatakannya pada Tiffani juga?"
"Aku berencana mengatakan semua ini pada kalian berdua setelah kalian berdua dapat hidup rukun, itulah sebabnya aku memberi kalian waktu satu minggu untuk mulai berdamai, karena memang akan ingin mengatakan hal penting ini pada kalian berdua di saat bersamaan. Namun, karena kamu bersikeras terus menyalahkanku atas kematian adikku sendiri, mau tidak mau aku membongkar kebenaran ini lebih cepat di hadapanmu. Lagi pula, keadaan Tiffani belum stabil. Dia sedang mengandung, aku ingin dia mendengar semua ini saat emosinya sedang stabil."
Gracella diam saja. sebenarnya ada banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada Richard, tetapi ia memilih untuk tidak menanyakannya. Sekarang saja ia sudah cukup bingung, dan ia memutuskan untuk tidak menambah kebingungannya lagi.
"Sebenarnya ada satu hal lagi yang ingin kukatakan pada kalian berdua, tapi tidak sekarang, lain kali akan kukatakan," ujar Richard.
Gracella yang sedang melamun tersentak saat mendengar suara Richard yang kembali berbicara padanya.
"Katakan saja sekarang, karena tidak akan ada lain kali. Aku akan kembali ke Amsterdam besok," ujar Gracella.
Richard terkejut dan kecewa akan keputusan kilat yang Gracella ambil. "Kamu akan tetap kembali ke sana bahkan setelah mengetahui kebenarannya."
Gracella mengangguk.
Richard menghela napas. "Tinggal lah di sini selama dua bulan, atau--"
"Tidak. Aku tetap akan kembali besok." Gracella menggeleng, dan dengan cepat melangkah menuju pintu.
"Hanya dua bulan, Grace, ini permintaan terakhirku, karena tidak ada lain kali!" seru Richard dengan suara yang gemetar.
Gracella menghentikan langkah, kemudian berbalik kembali memandang Richard dengan bingung.
"Aku menderita kanker darah stadium akhir, dan dokter memvonis usiaku tidak akan lama lagi. Apa kamu tidak mau menghabiskan waktu dengan ayahmu ini sebelum ayahmu ini pergi meninggalkan dunia untuk selama-lamanya?"
Bersambung.
__ADS_1