My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
Detik-Detik


__ADS_3

Valerie mencoba hight heels yang sudah ia buka. Wanita itu merasa aneh, bagaimana bisa Brian bahkan mengetahui ukuran kakinya?


Hight heels ini terasa sangat pas dan cocok di kaki Valerie. Tidak sedikitpun terasa longgar atau terasa sesak. Wanita itu tidak percaya dengan apa yang sudah Brian lakukan.


"Sangat pas di kakimu," gumam Max. "Apakah dia sempat mengukur kakimu saat kalian berkencan?" tanya Max meledek.


"Berhenti menggodaku, Max!" seru Valerie. Ia cemberut, namun begitu memuji kemampuan Brian dalam menyenangkan hatinya.


Setelah Max menyelesaikan tugasnya sebagai pengantar barang dan menghabiskan seluruh isi gelas yang telah disuguhkan oleh Valerie, Max pamit untuk segera pergi.


"Ah, ya. Valerie." Max berbalik saat hendak keluar dari pintu.


"Ya?"


"Kau adalah cinta pertama Bos. Aku tahu dia sangat mencintaimu, melihat betapa besar pengorbanan yang dia lakukan, aku harap kau tidak akan pernah mematahkan hatinya," ujar Max.


"Aku tidak akan melakukannya," jawab Valerie.


"Berjanjilah."

__ADS_1


"Hmm."


"Kedua orang tua Bos memang menolak kehadiranmu, tapi aku yakin Bos tidak akan berhenti memperjuangkanmu. Percayalah."


Valerie tersenyum, ia sangat memahami kekhawatiran Max sebagai orang terdekat Brian. Terlebih, hubungan mereka lebih dari sekadar Bos dan sekretaris, atau sebatas teman. Mereka lebih dari itu.


...****************...


Pukul enam petang, sesuai dengan apa yang telah Max sampaikan, dua orang wanita datang ke kamar Valerie membawa sekotak peralatan make up lengkap.


Valerie mempersilahkan mereka masuk dan mulai mempersiapkan diri sebelum Brian datang menjemput enam puluh menit lagi.


Valerie merasa sangat gugup. Selain ia tidak tahu menahu tentang rencana Brian dan tujuan laki-laki itu mengajaknya, malam ini adalah malam yang sangat ia nantikan sepanjang hidupnya.


Ada perasaan bahagia, juga perasaan marah dan sakit hati. Ia bahagia karena akhirnya ia tidak perlu lagi bersembunyi. Namun ia merasa marah dan sakit hati pada keluarga pamannya yang telah dengan sengaja melakukan pembunuhan pada kedua orang tuanya hanya demi sebuah warisan.


Malam ini, semuanya akan terbongkar. Valerie akan merebut kembali hak yang telah direbut paksa oleh orang-orang jahat itu. Valerie akan membalaskan rasa sakit hatinya dengan mempermalukan keluarga itu, menghancurkan mereka dan merampas kebahagiaan mereka dengan sama kejamnya.


Sambil duduk santai di depan cermin, Valerie bertukar pesan dengan Brian. Hanya dalam waktu tiga puluh menit, kedua perias telah menyelesaikan pekerjaannya.

__ADS_1


Tepat pukul tujuh malam, Valerie telah siap. Gaun bertaburkan berlian dengan aksesoris mewah pemberian Brian begitu menyempurnakan penampilannya. Hanya selang beberapa menit setelah ia siap, Brian datang menemuinya.


Valerie menyambut Brian dengan senyum merekah sempurna, sementara laki-laki itu tidak bisa berkata-kata. Ia diam mematung di depan pintu tatkala melihat Valerie untuk yang pertama kalinya.


"Ada apa? Katakan sesuatu," pinta Valerie malu-malu.


"Kau, sangat cantik. Cantik sekali," puji Brian.


"Kau yang membuatku bisa secantik ini."


Brian masuk ke dalam kamar Valerie, ia sedikit mendorong tubuh wanita itu dan menjatuhkannya di atas sofa. Brian menghimpit tubuh Valerie di antara kedua pahanya.


"Bolehkah aku ...."


"Tidak!" sela Valerie sebelum Brian melanjutkan kalimatnya.


"Sedikit saja," rengek laki-laki itu.Valerie tersenyum sambil menggeleng, ia mendaratkan kecupan singkat di pipi kekasihnya.


"Kau bisa membuat pekerjaan dua orang yang telah merias wajah dan rambutku dengan susah payah menjadi sia-sia. Ayo pergi, kau tidak mau kita terlambat, kan?"

__ADS_1


"Ah, aku kecewa," gumam Brian. Ia bangkit dan membantu Valerie bangun.


🖤🖤🖤


__ADS_2