My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
Go Home


__ADS_3

Pesta pernikahan berlangsung hingga tengah malam. Saat jam menunjukkan pukul dua belas malam, satu persatu tamu yang hadir pun mulai meninggalkan gedung.


Demi menghormati serta menghargai para tamu dan rekan yang telah menyempatkan diri di sela kesibukan mereka untuk datang, Brian dan Valerie harus menahan lelah dan kantuk untuk tetap berada dalam pesta. Mereka menunggu sampai semua orang meninggalkan tempat.


Pukul satu dini hari, semua tamu sudah pergi. Kedua orang tua Brian pun berpamitan, begitu pula dengan Theo.


"Kau pasti lelah," ucap Brian. Mereka berjalan keluar gedung, sementara mobil beserta sopirnya telah menunggu di depan pintu utama.


"Tidak, aku bahagia hari ini," jawab Valerie. Rasa lelah yang menyergap tubuhnya tidak sebanding dengan kebahagiaan yang ia rasakan saat ini.


Mobil melaju cepat di tengah jalanan yang sepi. Mulai malam ini, Valerie akan diboyong oleh Brian untuk tinggal di rumah besarnya.


Perjalanan dari gedung pesta menuju rumah Brian tidak membutuhkan waktu yang lama, sesampainya di halaman rumah, mereka di sambut oleh para pelayan yang membawa berbagai hadiah untuk nyonya besar mereka.

__ADS_1


Dari ruang tamu, Brian menggendong tubuh Valerie dan membawanya masuk ke dalam kamar. Kamar pengantin telah dihias begitu indah. Kelopak bunga mawar merah bertabur di lantai hingga di atas tempat tidur. Terdapat puluhan balon berwarna warni menggantung di langit-langit kamar.


"Ayo turunkan aku!" pinta Valerie.


"Cium dulu!" seru Brian memberi syarat. Valerie tersenyum, melayangkan satu kecupan singkat di bibir laki-laki itu.


Brian menurunkan Valerie dan membaringkan istrinya di atas tempat tidur.


"Istirahatlah terlebih dahulu, aku akan mandi," pamit Brian sambil mencium kening wanita itu.


Selama Brian berada di kamar mandi, Valerie masuk ke dalam ruang ganti untuk mencari pakaian ganti. Namun saat membuka satu persatu pintu lemari, tidak satupun pakaian layak yang ia temukan.


"Apa dia membeli pabrik lingerie?" batin Valerie meringis. Mengapa ada banyak sekali warna dan model lingerie di lemari yang seharusnya menjadi tempat penyimpanan pakaiannya?

__ADS_1


Karena kesibukan bekerja dan persiapan pesta, Valerie belum sempat memindahkan pakaian miliknya yang masih berada di rumah Theo. Lagi pula pakaian yang ia miliki tidak terlalu banyak, namun bukan berarti kini ia menjadi kolektor lingerie seperti saat ini.


Valerie menghembuskan napas panjang, ia keluar dari ruang ganti dan mendapati sang suami baru saja selesai mandi. Dengan handuk berwarna putih yang melilit di pinggang hingga lututnya, Valerie bisa melihat dengan jelas bentuk perut berpola hingga dada bidang dengan bulu halus di tubuh suaminya.


"Tidak adakah pakaian layak yang bisa aku pakai?" protes Valerie.


"Kenapa? Kau tidak suka pakaian yang aku siapkan?" tanya Brian. "Semua pakaian itu cocok untukmu, Sayang," lanjutnya dengan senyum nakal. Valerie menggelengkan kepala pelan.


"Mandilah, aku menyiapkan air hangat untukmu. Aku akan mencari pakaian yang layak setelah kau selesai mandi," ucap Brian.


"Hmm, baiklah." Valerie mengangguk.


Sebelum wanita itu masuk ke dalam kamar mandi, Brian menyempatkan diri untuk memberikan pelukan serta ciuman di kedua pipi istrinya. Rasa-rasanya laki-laki itu sudah tidak bisa lagi menahan diri untuk memangsa sang istri. Namun ia berusaha keras karena memahami keadaan Valerie yang sedang lelah. Pesta yang berlangsung dari pagi hingga tengah malam pasti membuat wanita itu merasa tidak berselera.

__ADS_1


...🖤🖤🖤...


__ADS_2