
Keluar dari gerai es krim, Brian kembali mengajak Valerie berkeliling. Kali ini, laki-laki itu mengajak Valerie mengunjungi sebuah toko perhiasan bermerk terkenal.
Valerie sudah berusaha menolak untuk yang kesekian kalinya, namun lagi-lagi Brian tidak mengindahkan penolakan wanita itu.
Di dalam toko, Brian sibuk memilih perhiasan yang telah disuguhkan oleh pramuniaga. Valerie dan Brian hanya duduk dan menunggu para pramuniaga mendatangi mereka untuk memperlihatkan koleksi perhiasan baru yang ada di toko tersebut.
Brian sangat antusias. Ia ingin membeli sebuah kalung untuk Valerie sebagai hadiah. Meski berkali-kali Valerie mengatakan padanya jika wanita itu tidak mau, Brian tidak mendengarnya.
Sebuah kalung putih dengan liontin berlian putih langka berbentuk sepasang angsa, menarik perhatian Brian. Laki-laki itu segera meminta pramuniaga untuk membungkusnya setelah menyerahkan sebuah kartu hitam sebagai alat pembayaran.
Valerie merasa lelah, bingung, dan tidak tahu harus bersikap seperti apa.
Andai saja ia tahu jika pada akhirnya akan seperti ini jadinya, mungkin lebih baik ia menolak ajakan Brian. Semua ini tidak membuatnya senang, namun membuatnya semakin resah dan kebingungan.
Setelah Brian mendapatkan apa yang ia inginkan, mereka akhirnya memutuskan untuk keluar dari mall. Kini Brian mengemudikan mobilnya ke salah satu restoran bintang lima miliknya. Lagi-lagi, mereka mendapatkan pelayanan khusus bak raja dan ratu.
Bahkan tanpa permintaan, berbagai menu makan siang sudah tersaji lengkap di atas meja.
"Boleh aku bertanya sesuatu?" ucap Valerie.
__ADS_1
"Katakan."
"Apakah ini adalah pertama kalinya kau mengajak seorang wanita berkencan?"
Brian terdiam, ada sesuatu di dalam pikirannya.
"Maafkan aku. Apakah aku melakukan kesalahan? Apakah semua ini membuatmu tidak nyaman?" Brian balik bertanya. Kini Valerie bisa menyimpulkan, bahwa memang ini adalah pertama kalinya bagi Brian.
"Kau tidak melakukan kesalahan apapun. Terima kasih atas apa yang kau lakukan padaku hari ini," ujar Valerie sambil tersenyum. Ia tidak ingin salah bicara, ia takut Brian merasa kecewa.
"Aku tidak punya pengalaman dalam hal wanita, jadi aku berusaha keras mencari tahu apa yang tidak aku ketahui. Max memberitahuku, wanita selalu menyukai perlakuan istimewa, termasuk menginginkan hadiah. Aku harus belajar banyak darinya," terang Brian.
"Rupanya, Max adalah dalang utamanya!" gerutu Valerie kesal.
Usai makan siang, Brian mengajak Valerie berkeliling. Mereka duduk di bangku kosong yang terletak di area taman restoran.
Valerie mengeluarkan sebuah bingkisan kecil dari dalam tasnya. Ia memberikannya pada Brian.
"Kenapa? Kau tidak menyukainya?" tanya Brian. Itu adalah kalung yang sudah ia pilih beberapa saat lalu.
__ADS_1
"Aku tidak bisa menerima semua hadiah ini. Semuanya terlalu mewah, terlalu mahal. Aku merasa tidak pantas."
"Jika aku menerima cintamu karena semua barang-barang ini, maka bukan cinta sebagai alasanku. Aku tahu kau ingin memberikan yang terbaik untukku, tapi aku rasa semua ini berlebihan. Aku merasa seperti wanita murahan yang cintanya bisa dibeli dengan uang," ucap Valerie.
"Hei, jangan berkata seperti itu. Bukan begitu maksudku."
"Kau harus tahu, bahwa tidak semua wanita terlena dengan barang-barang mewah. Aku menyukai semua hadiah ini, gaun-gaun itu, kalung ini, semuanya indah. Hanya saja, aku merasa tidak pantas."
"Maafkan aku," gumam Brian. Ia merasa bersalah. Ia pikir, semua yang ia berikan akan membuat Valerie senang.
"Aku tidak tahu apapun tentang wanita. Tentang apa yang wanita inginkan atau apa yang mereka sukai saat pergi berkencan. Maafkan aku."
Valerie tersenyum kecil, ia mengulurkan tangan dan mengusap lembut lengan Brian.
"Tidak apa-apa. Kau tidak harus tahu segalanya."
"Kau menyesal pergi denganku?" tanya Brian. Valerie menggeleng.
"Apa kau akan menolak jika lain kali aku mengajakmu berkencan ulang?"
__ADS_1
"Tentu tidak, tapi lain kali kita akan berkencan dengan cara yang berbeda."
🖤🖤🖤