
Suasana di kediaman Richard Raendra menjadi sepi setelah waktu sarapan telah berlalu. Tidak ada kesibukan yang terlihat padat seperti sebelumnya karena sebagian besar penghuni rumah telah melanjutkan pekerjaan masing-masing. Hanya Junior yang sesekali berlarian ke sana-kemari, menyenggol pajangan-pajangan yang berada di ruang tamu, ruang keluarga, bahkan koridor. Suara vas-vas besar yang berjatuhan dan pecah seolah sudah lumrah terjadi di kediaman mewah tersebut.
Prang!
Sebuah vas kembali tersenggol oleh tubuh mungil Junior, membuat pengasuh pangeran kecil Tiffani itu segera berlari menghampiri Junior, menggendong Junior agar tidak terkena serpihan vas yang berhamburan di lantai.
Ara yang kebetulan ada di koridor dekat dengan ruang tamu segera menghampiri asal suara bising itu terdengar, dan ia begitu terkejut saat melihat sebuah vas mahal pecah di hadapannya.
"Astaga. Sayang sekali," pekik Ara, lalu melirik pengasuh yang sedang menggendong Junior. "Apa anak itu yang menjatuhkannya?" tanya Ara.
Si pengasuh mengangguk. "Tidak masalah, yang penting Junior tidak terluka," ucap si pengasuh, kemudian berlalu dari hadapan Ara.
Ara berlutut dan membereskan pecahan vas yang masih berserakan. "Seharusnya mereka tidak usah meletakkan pajangan di sini, daripada hancur begini kan jadi mubazir," komentar Ara.
Tidak lama kemudian seorang pelayan datang menghampiri Ara lengkap dengan peralatan kerjanya, tidak lupa pelayan itu juga membawa kantong plastik untuk meletakan pecahan-pecahan vas.
"Biar saya yang bereskan, Nona," ujar si pelayan dengan sopan.
Ara menggangguk, dan meletakan serpihan vas yang ada di tangannya ke dalam kantong plastik yang dibawa oleh si pelayan.
__ADS_1
Ara berdiri sambil memperhatikan si pelayan yang bekerja.
"Apa anak kecil tadi sudah sering merusak barang-barang seperti ini?" tanya Ara.
Si pelayan mengangguk. "Iya, Tuan muda memang sedang lincah-lincahnya. Hampir semua yang ada di dalam rumah ini rusak karena tingkahnya yang begitu aktif."
"Sungguh? Apa ibu dan ayahnya tidak pernah marah. Semua ini kan mahal."
Si pelayan menggeleng cepat. "Tentu tidak. Tuan dan nyonya memiliki banyak uang. Kehilangan satu atau sepuluh vas pun tidak akan berarti apa-apa, yang penting putra mereka tidak terluka. Junior adalah yang paling berharga di rumah ini."
Ara menggangguk. "Luar biasa. Orang kaya memang bebas melakukan apa pun," ujar Ara. "Jadi anak kecil tadi adalah anak Tuan Rama?" tanya Ara lagi.
"Benar. Junior adalah putra satu-satunya tuan dan nyonya."
Kini Ara sibuk memperhatikan setiap potret-potret yang menggantung dalam bingkai-bingkai besar. Ia berdecak kagum saat melihat semua potret-potret itu. Semua yang ada di dalam bingkai terlihat memesona dan menawan.
Ara menggeser tubuhnya untuk melihat Potret pernikahan Tiffani dan Rama. Potret pernikahan Xavier dan Gracella. Potret Richard bersama dengan Tiffani. Potret Gracella bersama Tiffani. Potret Junior bersama Rama dan Tiffani. Potret Richard dan Damar.
Ara menghentikan langkahnya. Ia tidak lagi menggeser tubuhnya untuk beralih ke bingkai selanjutnya, karena sekarang tatapannya hanya fokus ke sosok yang ada pada bingkai di hadapannya. Sosok itu adalah Damar.
__ADS_1
Ara mengenal Damar, setidaknya ia pernah melihat wajah pria itu. Memang ia tidak tahu nama perusahaan yang berusaha untuk membangun hotel di distrik tempat orang tuanya tinggal, tetapi ia pernah melihat rekaman video yang menunjukan orang-orang dari perusahaan sedang berdebat dengan pemimpin distrik.
Rekaman yang Ara lihat saat itu direkam oleh teman masa kecil Ara. Pada rekaman itu Ara jelas-jelas melihat seorang pengusaha tua sedang membentak orang-orang yang sedang memprotes pembangunan hotel.
Ara berbalik dan menanyai pelayan yang masih membersihkan pecahan vas.
"Maaf, apa Anda tahu siapa dia ini?" tanya Ara, sambil menunjuk bingkai di hadapannya.
Si pelayan mengikuti arah telunjuk Ara, dan ia pun berkata, "Oh, dia itu Pak Damar, asisten mendiang Tuan Richard, tapi sekarang sudah seperti orang tua bagi Nyonya Tiffani dan Gracella. Beliau juga merupakan paman dari Tuan Xavier."
Ara mencerna informasi baru itu dengan baik, dan ia mengerti sekarang kenapa Xavier tiba-tiba membencinya dan tidak segan-segan untuk bersikap kasar padanya. Ara menebak jika semua orang yang kemarin ia ajak biacara sudah tahu bahwa pengusaha yang ia cari adalah Damar.
"Apa dia tinggal di sini juga?" tanya Ara.
Si pelayan mengangguk. "Iya. Beliau tinggal di sini. Apa Anda tidak bertemu dengan beliau pagi tadi saat sarapan?"
Ara menggeleng. "Tidak. Sarapan kan diantar langsung ke kamarku tadi pagi."
"Ah, sayang sekali. Kapan-kapan keluarlah saat sarapan. Anda harus berkenalan dengan Pak Damar, beliau sangat baik," ujar si pelayan, kemudian segera berlalu dari ruang tamu.
__ADS_1
Ara mengepalkan tangan. "Baik apanya. Dia itu orang yang menghancurkan kehidupan banyak orang. Dan tega sekali mereka semua menutupinya dariku. Padahal aku jauh-jauh datang kemari untuk mencari informasi tentang dia!" oceh Ara, sambil menunjuk wajah Damar yang berada di dalam bingkai.
Bersambung.