My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
SETIAP YANG BERNYAWA PASTI AKAN PERGI


__ADS_3

Gracella menutup pintu kamarnya, kemudian ia bersandar di sana, membiarkan tubuhnya merosot perlahan sambil menangis. Rasanya perih sekali menjadi dirinya. setelah ia menderita karena perselingkuhan ayahnya dan harus melihat ibunya menangis setiap hari karena patah hati, ia pun masih harus melihat kematian ayahnya yang begitu tragis, dan sekarang ia masih juga mendapat kejutan yang sangat tidak terduga. Orang tuanya bukanlah orang tuanya, dan saat ia mengetahui siapa orang tuanya yang sebenarnya, orang tuanya tersebut malah sedang sekarat.


mengingat semua perjalanan hidupnya yang begitu pahit membuat Gracella tertawa di sela-sela tangisnya. "Sial sekali aku," gumam Gracella, sambil mengusap air matanya yang mengalir bagai hujan. Ia kemudian menekuk lutut, dan membenamkan wajahnya di antara kedua lutut hingga jatuh tertidur.


***


Damar menghampiri Richard yang sekarang sedang duduk di kursi goyangnya dengan wajah yang terlihat sangat sedih. Tatapan Richard tampak kosong, seolah pria itu sedang berusaha untuk membersihkan memorinya dari hal-hal menyedihkan yang pernah terjadi di dalam hidupnya


"Minum ini, Tuan, setelah itu Anda harus pergi tidur. Sekarang malam sudah larut. Anda harus cukup istirahat," ujar Damar, sambil menyodorkan satu cangkir teh hangat yang baru saja pelayan antar ke ruang kerja Richard.


Richard tersentak, ia terkejut karena tiba-tiba saja Damar sudah ada di hadapannya.


Richard menegakkan duduknya, lalu meraih cangkir teh dari tangan Damar. "Terima kasih, Damar," ucap Richard, kemudian menyesap teh hangat itu sedikit demi sedikit. "Apa menurutmu dia akan menerimaku?" tanya Richard.


Damar mengerti siapa yang Richard maksud. Ia pun mengangguk. "Pasti, Tuan. Anak itu hanya butuh waktu untuk mencerna semuanya. Dia masih terlalu muda untuk dapat memahami dan menerima semua kerumitan ini. Kita beri waktu dia semalam untuk berpikir, dan aku yakin sekali besok pagi dia pasti akan menerima Anda, Anda jangan terlalu khawatir." Damar berusaha untuk menenangkan Richard.


Richard mengangguk. Ia ingin sekali memiliki pemikiran seperti Damar, yang percaya bahwa Gracella akan menerimanya, dan percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Namun, ia tidak bisa. Ia terlalu gelisah dan akhirnya menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya, dan sayangnya tebakan-tebakan yang bermunculan di dalam kepalanya selalu mengarah ke sesuatu yang negatif. Tidak ada pikiran positif yang tersisa di dalam pikirannya saat ini. Semakin dekat waktu kematiannya, semua terasa semakin mendesak bagi Richard. Ia merasa bertanggung jawab untuk membereskan semua kerumitan yang terjadi agar setelah kepergiannya kedua putrinya dapat hidup dengan nyaman.


"Bagaimana kalau dia tetap akan kembali ke Amsterdam besok?" tanya Richard lagi. "Bisa saja dia tetap tidak menerimaku dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke Amsterdam dan menetap di sana lagi untuk selama-lamanya."


Damar menggeleng cepat. "Hal itu tidak akan terjadi, Tuan. Serahkan saja padaku, aku akan memastikan agar Gracella tidak kembali lagi ke Amsterdam. Aku akan melakukan apa pun demi Anda."


Richard tersenyum. "Tidak perlu. Kamu tidak perlu melakukan apa pun untuk menahan Gracella, karena aku tidak ingin jika dia menerimaku karena terpaksa oleh keadaan. Aku ingin dia menerimaku sebagai ayahnya karena memang dia ingin dan dia percaya padaku," ujar Richard, kemudian ia bangkit berdiri dari kursi goyangnya dan melangkah keluar dari ruang kerja.


Damar mengekor dengan setia di belakang Richard yang berjalan tertatih-tatih.


"Oh, ya, aku belum melihat Tiffani sejak siang tadi. Sebelum tidur aku ingin mengunjungi kamarnya dulu," ujar Richard, setelah ia dan Damar berada di luar ruang kerja.


Damar mengangguk. "Baik, Tuan, aku akan mengantar Anda ke kamar Tiffani."


***


Tiffani telah sadar sepenuhnya sekarang. Ia tidak lagi berpur-pura pingsan untuk mendengar apa yang ingin ia dengar. Bagi Tiffani apa yang ia dengar beberapa waktu lalu dari Richard dan juga dari Dokter Steve sudah cukup untuk menjadi bahan perimbangan Tiffani tentang langkah apa yang akan ia ambil selanjutnya.


Tiffani mondar-mandir di dalam kamarnya, sesekali ia bergumam seorang diri, lalu kemudian diam bagai patung, dan setelah beberapa saat terdiam, gadis itu akan kembali bergumam. Tiffani terlalu asyik dengan pikirannya sendiri, ia bahkan tidak menghiraukan kehadiran Rama, Mona, dan Sela yang masih ada di dalam kamarnya.


"Tiffani, tidakkah sebaiknya kamu istirahat sekarang. Malam sudah larut, Apa pun yang ingin kamu lakukan atau kamu pikirkan, lakukan saja besok, ya." Rama membujuk Tiffani.


Tiffani menghentikan gerakan kakinya yang sejak tadi mondar-mandir di tengah- tengah kamar, ia pun kemudian mendongak menatap Rama yang berdiri di hadapannya.


"Ayahku akan mati dalam dua bulan, Rama, mana bisa aku tidur sekarang," ujarnya dengan kedua mata yang kembali berkaca-kaca.


Melihat kesedihan Tiffani yang tidak kunjung mereda, Rama segera meraih tubuh Tiffani ke dalam pelukannya. "Maafkan aku. Aku bukannya tidak mengerti bagaimana perasaanmu, tapi aku hanya tidak ingin jika kamu jatuh sakit karena kurang istirahat."


Tiffani tidak menjawab, ia hanya menangis, menumpahkan segala kesedihan yang tengah ia rasakan di dalam pelukan Rama.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa yang harus aku lakukan agar ayahku tidak pergi ke mana pun, agar ayahku sembuh dan bisa terus bersamaku, Rama. Katakan padaku!" Tiffani menjerit.

__ADS_1


Rama mengeratkan pelukannya di tubuh Tiffani. "Tenangkan dirimu, aku mohon tenangkan dirimu. Ayahmu akan sedih jika melihatmu seperti ini, Tiffani. Shuut, diamlah, Sayang. Semua akan baik- baik saja."


Sela menyeka air matanya, ia begitu sedih melihat keadaan Tiffani. Benar jika dulu ia bermusuhan dengan Tiffani, benar juga jika dulu ia pernah mencoba untuk membunuh Tiffani, tetapi itu dulu. Sekarang kebahagiaan Tiffani dan kebahagiaan Richard adalah kebahagiaannya juga, dan kesedihan Tiffani adalah kesedihannya juga.


"Bagaimana ini, Mon?" tanya Sela pada Mona, sambil terisak.


Mona menarik napas dalam-dalam, agar cairan yang sejak tadi keluar dari lubang hidungnya tidak lagi meluncur dengan bebas. "Entahlah, aku hanya berharap agar Tuhan memberikan keajaiban. Tidak satu pun dari kita yang akan mengetahui kebenarannya sampai saatnya tiba. Dua bulan lagi itu hanya kata dokter, Sel, kita berdoa saja semoga Tuhan mengangkat penyakit Om Richard.”


Sela mengangguk. " Semoga. Semoga saja muncul keajaiban."


Tok, tok, tok.


Suara ketukan di pintu membuat Rama melepaskan pelukannya dari tubuh Tiffani. Ia segera menuntun Tiffani menuju ranjang dan mendudukan Tiffani di ranjang tersebut. Rama melakukannya dengan hati-hati dan begitu lembut, seperti memperlakukan seorang bayi yang sedang tertidur.


"Tunggu di sini,aku akan lihat siapa yang datang," ujar Rama, sambil menyentuh kedua pipi Tiffani yang basah.


"Yang datang Om Richard," desis Mona, ia sekarang tengah berdiri di hadapan sebuah layar yang memperlihatkan siapa saja yang berdiri di depan pintu kamar Tiffani.


"Ayahku?" tanya Tiffani.


Mona mengangguk.


" Katakan saja pada ayah kalau aku sudah tidur, dan Rama, bersembunyilah di ruang ganti ... maaf."


Rama tersenyum. "Tidak masalah, aku mengerti. Aku ke ruang ganti dulu kalau begitu, istirahatlah." Rama mengecup dahi Tiffani dan segera melangkah menuju ruang ganti untuk bersembunyi.


"Aku pun akan pura-pura tidur, pasti Om Richard akan curiga kalau melihat kita semua menangis seperti ini," ujar Sela yang kemudian berlari menuju sofa yang terdapat di dekat jendela, ia berbaring dan berpura-pura tidur.


Mona merapikan rambutnya, meraih ponselnya di atas meja rias Tiffani dan membuka aplikasi streaming sebelum membuka pintu.


Ceklek.


"Kenapa lama sekali?" tanya Damar, begitu pintu terbuka.


Mona membungkuk hormat ke Richard. "Maaf, Om," ucap Mona.


Richard menatap Mona lamat-lamat begitu mendengar suara mona yang serak. "Kamu menangis? Apa yang terjadi?"


Mona menegakkan tubuhnya kemudian berkata, "Drama Korea, Om," ujarnya, sambil memperlihatkan layar ponselnya ke Richard dan Damar.


Damar berdecak. "Kami menangis hanya gara-gara Drama?" tanya Damar, sambil menggelengkan kepala.


Mona mengangguk,dan kali ini air matanya kembali melesak keluar, membuat Richard tertawa. "Ada-ada saja, bagaimana bisa kamu menangis sesegukan seperti itu hanya karena Drama."


Mona tidak langsung menjawab, ia masih kesulitan mengendalikan isak tangisnya yang semakin menjadi begitu melihat Richard yang tertawa tanpa beban, padahal pria tua itu tidak akan hidup lama.


"Ceritanya memang sedih sekali," ucap Mona.

__ADS_1


"Ya, sudah, lanjutkan saja menontonmu, aku akan menemui Tiffani," ujar Richard lagi


"Tiffani sudah tidur," ujar Mona lagi, saat Richard mulai melangkah menuju ranjang Tiffani.


"Benarkah. Aku terlambat. Padahal aku ingin mengobrol dengannya," ujar Richard, sambil memandang bagian belakang tubuh Tiffani yang tertutup selimut.


Begitu melihat Tiffani yang tertidur lelap, kesedihan kembali menjalar di hati Richard. Pikiran tentang bagaimana jadinya Tiffani tanpa dirinya sukses membuat dada Richard terasa sesak. Tiffani adalah alasannya untuk hidup, dan rasanya ia tidak siap untuk pergi meninggalkan Tiffani di dunia yang begitu luas.


"Tiffani kelelahan hari ini, makanya dia tertidur tanpa menemui Anda lebih dulu," ujar Mona lagi, membuat Richard yang sedang asyik dalam pikirannya sendiri menjadi terkejut.


Richard mengangguk. "Ya, aku mengerti. Dia sedang hamil, pasti sering mengalami kelelahan seperti itu. Kalau begitu besok pagi saja aku bertemu dengannya saat sedang sarapan."


"Ya, Om, besok kami akan turun pagi-pagi sekali untuk sarapan, atau aku akan meminta Tiffani menemui Anda begitu ia bangun besok pagi. Tiffani biasanya sudah bangun pagi-pagi sekali."


Richard mengibaskan tangan. "Tidak usah ... hem, tapi jika Tiffani tidak lelah boleh juga seperti itu. Atur saja bagaimana keinginan Tiffani," ujar Richard. "Oh, ya, apa kalian akan tidur di sini malam ini?" tanya Richard lagi, bergantian menatap Mona dan Sela yang sudah tertidur di sofa.


Mona mengangguk. "Tidak apa-apa, kan?"


Richard tersenyum. " Tentu tidak apa-apa. Aku justru senang melihat kalian yang akrab begini. Rasanya beban di dalam dadaku ini sedikit berkurang. Aku harap Gracella bisa berteman denganmu dan Sela juga."


"Tentu, mulai besok kami semua akan berteman. Anda tenang saja, pokoknya apa pun yang Anda inginkan akan terjadi."Mona menjawab dengan cepat. Ia memang ingin menuruti semua keinginan Richard sebelum Richard benar-benar meninggalkan dunia ini.


Richard tertawa. "Baiklah, tepati janjimu, Mona. Aku keluar dulu kalau begitu," ujar Richard, lalu keluar dari dalam kamar Tiffani.


Begitu Richard telah pergi, Tiffani langsung bangkit dari posisi berbaringnya. "Ayah," gumamnya, dan seketika ia kembali menangis. "Ayah, ayah, ayah," lirihnya.


Mendengar suara tangisan Tiffani, Sekarang segera bangkit untuk duduk dan langsung menghampiri Tiffani, Mona pun melakukan hal yang sama. Setelah tiba di ranjang Tiffani, Mona dan Sela memeluk Tiffani dengan erat.


"Jangan menangis. Semua akan baik-baik saja, " ujar Mona.


"Apanya yang akan baik-baik saja, ayahku akan meninggal. Aku tidak ingin ayahku meninggal."


Sela mengusap pipi Tiffani yang basah. "Bukankah semua yang bernyawa pasti akan pergi pada akhirnya. Tegarlah, Tiffani." Sela berusaha membuat Tiffani lebih kuat.


"Ya, aku tahu, tapi--"


"Daripada kita terus bersedih seperti ini, bagaimana kalau kita membuat hari-hari terakhir ayahmu lebih berwarna." Sela memberi saran.


Tiffani diam saja, ia hanya menatap Sela dengan bingung. Ia tidak mengerti apa maksud Sela.


"Serahkan padaku, aku akan membuat list," ujar Sela lagi


"List untuk apa?" tanya Mona.


Sela tersenyum. "Biar aku pikirkan."


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2