
Mendengar permintaan Brian, para pramuniaga segera pergi dan mencari apa yang diinginkan oleh laki-laki itu.
Dengan perasaan bingung, Valerie menatap Brian.
"Aku tidak perlu gaun baru, aku bisa membelinya sendiri," ucap Valerie dengan suara sedikit berbisik.
"Ssttt!!!" Brian menggeleng sambil meletakkan jari telunjuknya di bibir wanita itu, hingga membuat Valerie terdiam seketika.
Dalam waktu singkat, tujuh orang pramuniaga datang secara bersamaan. Masing-masing dari mereka membawa satu gaun yang di perlihatkan di depan Brian dan Valerie.
Gaun yang dirancang oleh seorang designer terkenal pasti memiliki tampilan yang sangat mengesankan. Begitupun juga harganya, pasti sangat mengejutkan. Namun bagi Brian, hal itu tentu tidak akan menjadi masalah.
"Berdirilah, V," pinta Brian.
"Aku mohon, ini berlebihan."
"Sudahlah, turuti saja keinginanku. Aku mohon," bujuk Brian. Dengan sedikit pakasaan, Valerie akhirnya bangkit dari sofa.
"Tolong cocokkan satu persatu gaun itu di tubuh calon kekasihku," pinta Brian. "Apa kau bersedia mencobanya?" tanyanya pada Valerie.
"Tidak perlu," tolak Valerie. Akan sangat merepotkan jika mencoba tujuh gaun di hadapannya. Butuh waktu lama untuk mencoba semuanya.
__ADS_1
Valerie berdiri bagai patung, satu persatu pramuniaga mencocokkan gaun yang mereka bawa di tubuh Valerie. Brian duduk dan memperhatikan dengan seksama, ia ingin yang terbaik untuk wanita yang telah merebut hatinya.
"Semuanya bagus, semuanya cocok. Bukan begitu?" tanya Brian.
"Ya, Tuan. Tubuh tinggi dan ramping yang dimiliki oleh calon kekasih Tuan memang sempurna. Apapun akan sangat cocok ia kenakan," jawab salah satu pramuniaga.
"Bagaimana, V? Yang mana yang kau sukai?"
"Yang mana saja, terserah," jawab Valerie. Semua gaun itu cantik dan indah.
"Baiklah, aku akan membeli semuanya!" seru Brian. Ia mengeluarkan sebuah kartu dari dompet dan menyerahkannya kepada seorang pramuniaga.
Valerie melongo, mulutnya terbuka dengan mata berkedip tidak percaya. Ia segera menghampiri laki-laki itu.
"Karena semuanya bagus dan cocok untukmu."
"Tapi, kan ...."
"Ssttt!!!" Brian menggeleng dan meletakkan jari telunjuknya di bibir Valerie.
Bukannya merasa senang, Valerie merasa akan menjadi gila jika Brian seperti ini.
__ADS_1
Selang beberapa menit, semua gaun telah terbungkus rapi. Brian segera menelepon seseorang dan dengan tiba-tiba, datanglah orang yang membantu mereka membawa semua gaun itu ke dalam mobil.
Setelah keluar dari butik tersebut, Brian kembali mengajak Valerie berkeliling. Dan semakin laki-laki itu menoleh kesana kemari, Valerie merasa semakin was-was.
"Apa lagi yang akan ia beli sekarang?" batin Valerie.
"Aku haus, ayo beli minuman," ajak Brian.
"Hmm." Valerie mengangguk. Mereka berjalan naik ke lantai atas mencari gerai minuman. Keduanya memilih untuk duduk di sebuah gerai yang menyediakan berbagai varian es krim.
Valerie senang, pada akhirnya ia bisa duduk dengan nyaman dan menikmati es krim untuk mendinginkan pikirannya.
"Rasa apa yang kau suka?" tanya Brian.
"Apa saja," jawab Valerie. "Ah, bukan. Coklat, aku suka coklat!" lanjutnya. Jika salah menjawab, bisa saja Brian akan memberinya sebaskom penuh es krim berbagai rasa. Kejadian beberapa menit lalu membuat Valerie menjadi trauma.
Keduanya duduk dengan tenang, menikmati es krim di hadapan mereka masing-masing.
Ini adalah pertama kalinya dalam hidup Brian, meninggalkan pekerjaan demi berusaha menyenangkan hati seorang wanita.
Namun tanpa pengalaman dan pengetahuan, Brian membuat Valerie kebingungan. Apa yang laki-laki itu lakukan cukup meresahkan.
__ADS_1
🖤🖤🖤