My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
BALIKAN


__ADS_3

Dua hari telah berlalu sejak pertemuan antara Richard dan kedua gadis yang telah bertekad untuk terus bermusuhan hingga kiamat. Walaupun tahu bahwa membuat Tiffani dan Gracella kembali memiliki hubungan harmonis adalah hal yang hampir mustahil, tetapi Richard tidak menyerah. Tiffani dan Gracella harus segera berbaikan apa pun yang terjadi, karena ia tidak ingin pergi dari dunia ini sebelum menyelesaikan konflik-konflik yang terjadi di sekitar Tiffani.


"Anda sudah boleh pulang, Pak Richard, jika memang Anda ingin pulang. Cidera di kaki Anda akibat terjatuh dari tangga sudah tidak ada masalah, itu artinya Anda sudah sembuh total, tetapi aku sarankan agar Anda tetap di sini untuk menjalani kemo," ujar Dokter Steve, yang baru saja memeriksa kesehatan Richard seperti biasanya.


Richard tersenyum kepada Dokter Steve. "Aku memutuskan untuk tidak melakukan kemo lagi. Toh, apa pun yang aku lakukan tidak akan membuat perubahan pada kanker yang kuderita. Tetap saja aku akan mati pada akhirnya."


Dokter Steve menghela napas, ia turut bersedih akan keadaan Richard. "Semua manusia akan mati pada akhirnya, baik itu karena suatu penyakit atau karena hal lain, tapi tidak ada salahnya jika Anda berjuang hingga akhir, Pak Richard. Tidak menutup kemungkinan sebuah keajaiban akan datang," ucap Dokter Steve, yang masih berharap agar Richard bersedia melakukan terapi seperti biasanya.


Richard menggeleng. "Aku sudah berjuang selama beberapa bulan ini untuk membunuh sel kanker yang ada di dalam tubuhku, tetapi hal itu tidak berhasil sama sekali. Jadi, aku memutuskan untuk bersenang-senang dengan putriku. Selama ini aku terlalu sibuk hingga aku kehilangan banyak waktu dengannya. Di penghujung hidupku, aku ingin selalu ada di sisi putriku, melihatnya bahagia dan akhirnya menikah dengan pria yang dapat membahagiakan dan melindunginya. Hanya itu, tidak ada hal lain yang harus aku lakukan selain menghabiskan banyak waktu dengan putriku."


Damar yang sejak tadi mendengarkan percakapan antara Dokter Steve dan juga Richard langsung menangis begitu Richard selesai berbicara.


"Tuan," lirih Damar, sembari mengusap bulir bening yang mulai menetes dari sudut matanya. Mengetahui bahwa kematian seseorang sudah semakin dekat membuat Damar merasa sangat frustrasi.


Richard tertawa melihat tingkah asisten pribadinya yang begitu cengeng. "Jangan menangis seperti itu, Damar, kamu kan bukan istriku." Richard berusaha untuk bercanda, walaupun sebenarnya ia sangat sedih saat ini. Ia merasa sangat sedih dan tidak siap untuk meninggalkan Tiffani. Sama sekali tidak siap!


***


Rama, Adam, dan juga salah seorang pelayan yang ditunjuk Richard untuk menjadi pengawas Tiffani dan Gracella sekarang ini sedang berdiri bagai patung dengan suasana hati yang super kacau. Bagaimana tidak jika di hadapan mereka saat ini sedang terjadi pertarungan antara Tiffani dan Gracella yang saling jambak dan saling cakar.


Bukannya Rama dan Adam tidak berusaha untuk menghentikan keduanya, tetapi dalam dua hari terakhir ini Tiffani dan Gracella memang seperti kucing dan tikus. Setiap berpapasan pasti mereka saling menghina dan selanjutnya akan mulai saling menyakiti fisik satu sama lain. Jika sudah begitu, jangankan Adam, Rama saja tidak luput dari cakaran Tiffani dan Gracella.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Adam pada Rama.


"Entahlah. Aku rasa kita perlu mengurung mereka berdua di dalam sebuah kapsul, kemudian meluncurkan kapsul itu ke luar angkasa." Rama menjawab asal-asalan. Ia sendiri sudah menyerah untuk menghentikan pertengkaran keduanya.


"Ide bagus. Aku yakin mereka berdua hanya bisa akur jika hidup hanya berdua saja di sebuah planet," ucap Adam.


Suara jeritan Tiffani dan Gracella kembali menggema di seluruh ruang keluarga, mengundang pelayan dan bodyguard yang lain untuk datang menonton pertarungan keduanya yang seimbang.


"Kamu dukung siapa, hah?" tanya Rei, pada Andi dan Anton, ketika ia telah melihat keributan yang terjadi di depannya.


"Sial, mereka malah taruhan," gumam Rama.


"Ck, biarkan saja mereka." Adam menjawab, lalu kembali fokus menatap Tiffani dan Gracella, begitu juga dengan Rama,


Andi diam sejenak, terlihat sedang berpikur keras harus memilih siapa di antara kedua gadis yang tengah bertarung. Setelah beberapa saat ia lalu menjawab. "Tentu saja aku dukung Nona Tiffani. Dia seperti jagoan yang tak terkalahkan. Lihat saja bagaimana parahnya keadaan Nona Gracella."


Rei berdecak. "Jagoan biasanya akan menang belakangan. Aku rasa yang akan menang adalah Nona Gracella."


"Ah, mana mungkin Nona Gracella yang menang. Nona Tiffani itu jago bela diri dan juga jago menembak, sudah pasti Nona Tiffani yang akan menang, karena mana mungkin seorang penari ballet bisa mengalahkan seseorang yang jago bela diri." Andi mengemukakan asumsinya.


"Bagaimana kalau kita taruhan saja. Yang kalah akan menjadi babu bagi yang menang selama satu bulan!" ucap Rei.


"Hei, kalian taruhan? Aku ikut," ucap Willi yang sejak tadi menguping pembicaraan Rei dan Andi.


"Oke. Kamu mendukung siapa?" tanya Rei.


"Tentu Nona Tiffani, lihatlah dia, Nona kita itu sangat kuat," ujar Willi.


Andi tersenyum. "Aku setuju."


Anton menggelengkan kepala melihat tingkah ketiga temannya. "Dasar kalian ini."


Setelah sepakat atas taruhan yang mendadak itu, Willi dan Andi segera bersorak memberi dukungan untuk Tiffani agar Tiffani menjadi lebih bersemangat.


"Ayo, Nona Tiffani, Anda pasti bisa. Jambak terus. Jangan kasih Kendor!" teriak Andi.


"Ayo, Nona Tiffani, Anda pasti bisa! Anda keren, Nona!" Willi ikut berteriak.

__ADS_1


Merasa sedang didukung, Tiffani semakin bersemangat. Ia mengeratkan tangannya di rambut panjang Gracella. "Menyerahlah sebelum aku membuatmu botak."


Gracella tersenyum sinis. "Aku tidak akan menyerah. Dasar anak pembu-nuh."


"Ayahku bukan pembu-nuh!" desis Tiffani.


"Dia membu-nuh ibumu dan juga ayahku, apalagi sebutan yang pantas untuknya selain pembu-nuh." Gracella tidak mau kalah.


Kemarahan Tiffani semakin menjadi karena Gracella terus mengatai ayahnya sebagai pembu-nuh. Tiffani mendorong tubuh Gracella dengan seluruh tenaga yang ada di tubuhnya hingga Gracella terjatuh dan tubuhnya menabrak sebuah meja kayu yang ada di ruangan itu.


Buk!


Prang!


Beberapa hiasan yang terbuat dari kaca terjatuh dan pecah. Serpihan kacanya berhamburan di lantai. Namun, bukan hal itu yang sekarang menjadi perhatian Rama dan juga semua yang ada di ruangan itu, melainkan kondisi Gracella yang terluka.


Sorakan dari Willi, Andi, dan Rei tiba-tiba terhenti, saat Gracella yang meringkuk di lantai tidak bergerak sama sekali.


Melihat hal itu, Rama segera menghampiri Gracella. Rama sangat khawatir dan ketakutan karena jika terjadi sesuatu pada Gracella, dirinyalah yang akan disalahkan.


"Gracella, kamu baik-baik saja?" tanya Rama, sambil membantu Gracella untuk duduk.


"Aku rasa kakiku terkilir," ujar Gracella.


Rama menyentuh pergelangan kaki Gracella. "Aku akan menggendongmu ke kamar."


Mendengar apa yang akan Rama lakukan pada Gracella, Tiffani menjadi kesal. Tiffani langsung berpikir keras bagaimana caranya agar ia dapat menggagalkan rencana Rama untuk menggendong Gracella, karena ia yakin sekali jika Gracella hanya berpura-pura saat ini.


Tiffani pun akhirnya memutuskan untuk kembali menantang Gracella, agar Gracella terpancing emosi dan akhirnya menunjukan bahwa Gracella hanya berpura-pura terkilir.


"Hanya segitu kemampuanmu, hah!" teriak Tiffani.


Rama memandang ke tempat Tiffani berdiri. ia tadinya ingin memarahi Tiffani, karena Tiffani terus melakukan hal gila selama dua hari belakangan. Namun, begitu melihat luka gores di pipi Tiffani yqng memanjang hingga ke dagu, Rama mengurungkan niatnya itu.


"Apa?!" seru Tiffani, begitu Rama telah tiba di hadapannya. "Ingin membelanya lagi?"


"Ikut aku." Rama menyentuh telapak tangan Tiffani dengan lembut dan meremasnya, lalu ia menuntun Tiffani untuk menjauh dari kerumunan yang sejak tadi menonton perkelahian antara Tiffani dan Gracella di ruang keluarga.


Tiffani tidak menolak. Genggaman tangan Rama yang hangat begitu nyaman bagi Tiffani, hingga sulit sekali bagi Tiffani untuk menolak rasa nyaman tersebut.


Gracella yang kesal karena ditinggalkan begitu saja oleh Rama segera mengambil tindakan. Ia tidak suka jika Rama begitu perhatian pada Tiffani. Itulah sebabnya ia langsung menyusul langkah Tiffani dan Rama. Namun, Mona dan Sela yang selalu memperhatikan setiap tindakan Gracella segera menghampiri Gracella dan menghentikan langkah gadis itu.


"Kamu terluka, Grace. Sebagai Mantan teman yang baik hati dan perhatian, aku akan mengobati lukamu. Ayo, kita ke kamarmu," ucap Mona, yang langsung menarik lengan Gracella keluar dari ruangan.


"Biar aku bantu. Aku pandai memasang perban hingga ke sekujur tubuh." Sela mengekor langkah Mona.


"Lepaskan. Aku tidak butuh kalian, aku sama sekali tidak butuh!" Gracella berontak, tetapi percuma saja, karena Mona memiliki sikap yang keras kepala sama seperti Tiffani, begitu juga dengan Sela, hingga tidak mudah untuk nengalahkan tekad Mona dan Sela untuk menjauhkan Gracella dari Rama.


***


Rama mendudukan Tiffani di tepi ranjang yang ada di kamar Tiffani. Ia tidak peduli pada sikap Tiffani yang dingin padanya, yang ia inginkan sekarang hanyalah mengobati luka di wajah Tiffani, dan jika Tiffani tidak keberatan pun ia akan menjadi pendengar yang baik jikalau Tiffani ingin melampiaskan kekesalan.


"Tunggu di sini," ujar Rama.


Tiffani diam saja, walaupun sebenarnya ia merasa sangat senang karena Rama terlihat khawatir dan begitu perhatian padanya. Rama bahkan meninggalkan Gracella begitu saja dan lebih memilih untuk menghampirinya.


"Apa yang akan dia lakukan, ya?" Tiffani bergumam saat Rama sudah tidak ada di hadapannya.


Beberapa saat kemudian Rama muncul sembari membawa sebuah kotak obat-obatan di tangannya.

__ADS_1


"Wajahmu terluka. Aku akan obati agar tidak infeksi," ucap Rama, yang langsung duduk di sebelah Tiffani dan segera mengeluarkan kapas, cairan antiseptik, dan salep. "Tahan sedikit, pasti akan tersa perih."


Tiffani hanya mengangguk, dan membiarkan Rama mengobati luka di wajahnya.


Beberapa detik berlalu dalam keheningan, baik Rama dan Tiffani tidak ada yang saling bicara. Keduanya diam bagai orang asing yang tidak saling mengenal, padahal mereka pernah memiliki hubungan yang sangat dekat dan indah. Namun, hubungan indah itu berakhir hanya dalam waktu satu malam karena keinginan Tiffani.


"Tiffani," ucap Rama, memecah keheningan setelah beberapa saat.


"Hem."


"Bagaimana kalau kamu sudahi saja semua ini."


Dahi Tiffani mengernyit. "Apa maksudmu?"


"Kebencianmu pada Gracella."


Tiffani menjauhkan tangan Rama yang masih mengusap salep di wajahnya. "Keluarlah, aku tidak suka orang asing ikut campur dalam hidupku."


"Aku bukan orang asing, aku kekasihmu."


"Mantan."


Rama menggeleng. "Aku tidak terima kamu putuskan, jadi sampai saat ini aku masih kekasihmu."


Tiffani tersenyum sinis. "Dasar kepedean," ucap Tiffani.


"Biar saja. Aku sudah memikiriannya selama beberapa hari ini, apakah aku harus menerima keputusan yang kamu ambil atau tidak, dan aku pun memutuskan untuk tidak menerima keputusanmu malam itu. Jadi, apa pun yang kamu katakan padaku, bagiku kita masih tetap sepasang kekasih, dan jika kamu bertanya-tanya kenapa aku menjadi bodyguard Gracella, itu karena Tuan Richard menugaskanku untuk menjadi bodyguardnya."


"Terserah kamu sajalah, Rama, aku sangat lelah dan aku butuh istirahat. Sekarang juga keluar dari kamarku sebelum aku menendangmu agar keluar dari sini," titah Tiffani, sambil berbaring memunggungi Rama.


Rama tersenyum. Tiffani memang tidak mengatakan 'iya' untuk hubungan mereka, tetapi Tiffani juga tidak mengatakan 'tidak.'


Tiffani hanya mengucapkan kalimat terserah, yang berarti suka-suka Rama ingin menganggap bagaimana kelanjutan hubungan mereka,


Rama menghampiri Tiffani yang kini telah berbaring, ia lalu menyentuh puncak kepala Tiffani dan mendaratkan kecupan singkat di sana, kecupan sederhana yang membuat dada Tiffani berdetak tak keruan.


"Selamat istirahat," ujar Rama, lalu segera keluar dari dalam kamar.


Tiffani menunggu hingga suara derit pintu yang tertutup terdengar oleh telinganya. Begitu ia mendengar suara pintu yang baru saja Rama tutup, Tiffani langsung bangkit berdiri di atas ranjang dan bersorak bahagia.


"Astaga. Mati aku. Kenapa dadaku berdebar begini," celoteh Tiffani sambil memegangi dadanya. "Apa yang harus aku lakukan sekarang? Oh, God, kami balikan, aku dan Rama kembali berpacaran!" seru Tiffani.


Tindakan konyol Tiffani itu baru berhenti saat ponselnya berdering. Tiffani perlahan turun dari ranjang dan meraih ponselnya yang terletak atas meja rias.


"Siapa ini," gumam Tiffani saat melihat nomor tidak dikenal terpampang pada layar ponselnya.


Belum lagi Tiffani sempat menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut, panggilan itu tiba-tiba berakhir dan sebuah pesan whatsapp masuk ke dalam ponselnya.


"Hai, Tiffani, bagaimana keadaanmu? langsung saja ke intinya, oke. Mari kita lakukan amniosentesis. Jika kamu setuju, maka hubungi aku melalui nomor ini, aku akan menunggumu, Sayang."


Tiffani terlihat bingung. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud dengan amniosentesis, dan tidak terpikir olehnya untuk mencari informasi tersebut di internet. Alih-alih mencari di Internet, Tiffani memutuskan untuk membalas pesan tersebut.


"Katakan siapa ini? Dan apa itu amniosentesis?"


Send!


Tiffani menunggu belasan dari pesan yang baru saja ia kirim. Tidak lama kemudian ponsel Tiffani kembali berdering dan sebuah pesan kembali masuk ke dalam aplikasi hijau yang ada di ponselnya.


"Hahaha, kamu polos atau bodoh, Sayangku. Ini aku Darren. Aku baru saja mengajakmu untuk melakukan tes DNA pada janin yang sedang kamu kandung. Jangan salah paham, bukannya aku ingin merebut anak itu darimu. Aku hanya ingin memastikan apakah anak itu benar anakku atau bukan. Bisa jadi anak orang lain, 'kan? Jadi, ayo mari lakukan tes DNA agar tidak muncul masalah lainnya di kemudian hari."

__ADS_1


"Darren beren-gsek!"


Bersambung.


__ADS_2