
Hari ini, mereka sepakat untuk menginap di villa tersebut karena hujan tak kunjung reda. Brian berulang kali meminta maaf pada Valerie karena membuatnya tidak bisa pulang hari ini juga. Namun dibalik semua ini, Brian merasa sangat bahagia karena akan menghabiskan banyak waktu bersama wanita itu.
Brian memberikan satu kamar untuk Valeri, yaitu kamar yang paling luas di antara ketiga kamar yang berada di villa ini.
Sebuah kamar berdinding kayu serta lantai kayu, dengan perabotan estetik dan berbagai hiasan dinding yang unik, membuat Valerie sangat betah. Jika diizinkan, ia juga tidak akan keberatan tinggal berlama-lama di tempat ini.
Saat Valerie tengah menenggelamkan tubuhnya di dalam bath up air hangat, terdengar suara ketukan pintu yang nyaring. Wanita itu bergegas menyelesaikan ritual mandinya dan keluar dari kamar mandi.
"Ada apa? Aku baru saja mandi," ujar Valerie sedikit berteriak dari balik pintu. Ia tahu Brian ada di depan kamarnya, dan karena ia tidak memakai pakaian lengkap, maka ia tidak membuka pintu.
"Aku lupa jika semua pakaian ganti ku ada di kamar ini."
"Baiklah, tunggu sebentar."
Valerie bergegas memakai pakaian yang telah disediakan oleh pesuruh Brian. Karena tidak ada pakaian lain yang bisa ia gunakan, maka Valerie dengan terpaksa memakai pakaian seadanya.
__ADS_1
Setelah berpakaian, Valerie membuka pintu. Ia melihat Brian berdiri di depan pintu kamarnya hanya dengan memakai handuk putih yang dililitkan di pinggang.
"Tidak bisakah kau memakai pakaianmu yang lain?" tanya Valerie. Ia merasa malu melihat Brian dalam keadaan seperti itu.
"Kenapa? Kau tidak suka?" Brian balik bertanya.
Valerie menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Bentuk tubuh kekar berotot dengan perut bagaikan roti sobek itu sangat mempesona. Valerie hampir meneteskan air liur melihatnya.
Valerie hanya diam menyaksikan Brian masuk ke dalam kamarnya. Wanita itu menunggu dengan sabar di samping pintu saat Brian sibuk memilih pakaian yang tergantung rapi di lemari.
Valerie mendekat, meraba bekas luka yang terlihat sudah sangat lama. Valerie merinding saat membayangkan bagaimana rasanya saat luka itu saat masih basah.
Brian berbalik, memeluk tubuh Valerie dengan erat.
"Apa kau penasaran mengapa aku sangat peduli pada Max dan menganggapnya seperti saudaraku sendiri? Dia bahkan sama berharganya dengan nyawaku hingga membuatku sangat melindunginya."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Karena kedua orang tuanya meninggal demi menyelamatkanku dari kebakaran gudang rumahku dua puluh tahun lalu. Karena aku, dia menjadi yatim piatu. Karena aku, dia kehilangan orang tuanya," jelas Brian.
Valerie terdiam. Setelah sekian lama, akhirnya misteri hubungan Brian dan Max telah terungkap. Brian punya alasan kuat mengapa ia begitu over protective pada Max.
"Jika saja kedua orang tua Max tidak menyelamatkanku saat itu mungkin kau tidak akan pernah mengenalku."
"Sudah sepantasnya kau memperlakukan Max dengan sangat baik," ucap Valerie.
"Hmm, aku memberikan segala yang dia inginkan tanpa memanjakannya. Aku tidak pernah bermaksud membuatnya lelah membantuku mengurus perusahaan, tapi aku ingin membuatnya belajar lebih banyak, agar suatu saat dia bisa kuat dan mandiri," terang Brian.
Valerie tersenyum, ia menatap wajah tampan itu dengan penuh rasa kagum. Senyumnya begitu menawan, sorot matanya tajam dan menghanyutkan.
Sepertinya Brian benar-benar membuat Valerie dimabuk kepayang.
__ADS_1
🖤🖤🖤