My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
BALAS DENDAM YANG PANTAS


__ADS_3

Rama bergeming. Ia tidak dapat melakukan apa pun atau mengatakan apa pun saat kedua mata Ara menatapnya dengan begitu tajam. Rama dapat melihat sakit yang begitu dalam di kedua mata bulat Ara yang sekarang dipenuhi genangan air mata.


"Kalian harus bertanggung jawab," ujar Ara lagi, mengulangi perkataannya sebelumnya.


Waktu seolah berhenti, tidak ada pergerakan sama sekali, bahkan desas-desus yang awalnya terdengar tidak lagi terdengar saat Rama dan Ara saling menatap.


"Kenapa diam saja, hah?"


Tubuh Rama limbung, saat Ara tiba-tiba mendorong tubuh Rama dengan keras. Beruntung sekali Rama tidak terjatuh. Kekuatan kakinya memang tidak diragukan lagi.


"Katakan sesuatu. Bukankah semua ini ulah si pria tua yang ada di rumahmu itu?" Ara kembali berujar dengan suara yang begitu pelan.


Dahi Rama mengernyit begitu mendengar ucapan Ara.


"Apa maksudmu?' tanya Rama.


Ara tersenyum miring. Ia kemudian berjinjit dan berbisik di telinga Rama. " Aku bisa saja bicara lantang jika aku mau, tapi saat aku mulai bicara maka habislah kamu, Rama. Kamu bisa mati karena dikeroyok warga. Bagaimana nasib anak dan istrimu kalau sampai kamu mati di sini dan saat ini juga. Mereka pasti akan menangis sepertiku sekarang.," ujar Ara, menanggalkan formalitas di antara dirinya dan Rama.


"Aku masih belum mengerti." Rama menanggapi ucapan Ara, berpura-pura bodoh seperti sebelumnya, meskipun ia paham apa yang dimaksud oleh Ara, tetapi ia berharap jika ia salah.


"Damar. Pria tua itulah yang melakukan ini pada kami semua. Pria yang sudah seperti orang tua bagi istrimu. Pria yang kalian lindungi keberadaannya dariku." Ara menurunkan kakinya yang sejak tadi berjinjit, kemudian ia melangkah mundur, memperhatikan wajah Rama yang sekarang terlihat sepucat mayat. "Aku bisa melindungimu sekarang, tapi aku tidak akan bisa melindungi istrimu kalau saja dia muncul di sini sekarang. Aku pasti akan mengatakan yang sebenarnya nada warga agar dia mati dikeroyok. Bukankah nyawa dibayar nyawa."


Rama kembali tersentak, tangannya mengepal, amarah memenuhi dadanya saat ia mendengar ancaman yang keluar dari bibir Ara. Namun, ia tidak dapat melakukan apa-apa, toh Ara sedang berkabung sekarang, wanita itu sedang terluka karena ulah Damar.


Waktu berjalan begitu lambat. Rama kembali tidak dapat berujar, padahal ada banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada Ara, salah satunya adalah bagaimana Ara biasanya tahu tentang Damar?


Seorang wanita tua yang memiliki mata bulat seperti Ara menghampiri Ara. Wanita itu menatap Rama sekilas, sebelum ia mengguncang tubuh putrinya dan mengajukan pertanyaan, "Ada apa, Ara, siapa dia?" tanyanya.


Ara menoleh ke samping, ia tersenyum dan menjawab, "Dia bos di tempat Ara bekerja, Bu."


Si wanita tua mengangguk. "Bos ... pemilik restoran ayam goreng?" tanyanya lagi dengan polos.


Ara menggeleng. "Bukan, Bu, Ara sudah pindah tempat kerja. Dia ini bos yang sangat baik, dan dia bilang dia akan membiayai seluruh biaya pemakaman ayah, dan dia juga akan mempolisikan orang-orang yang telah melakukan ini pada ayah."


Rama meringis saat mendengar kalimat terakhir yang Ara ucapkan. Ia mungkin tidak keberatan jika harus menanggung biaya pemakaman, atau biaya apa pun itu. Bahkan jika Ara meminta satu unit rumah baru pun pasti akan ia beri, tapi mempolisikan seseorang yang ada di balik semua ini sangat tidak mungkin. Jika ia melakukan hal itu, sama saja ia membuka tabir, membuka semua kemungkinan terburuk pada nasib Tiffani dan juga perusahaan.


"Apakah itu benar? Sungguh, Pak?" Ibu Ara menyentuh lengan Rama, membuat Ara terkejut dan tanpa sadar mengangguk.


Ibu Ara menangis, ia terharu karena ada orang lain yang akan membantunya untuk mengatasi ketidakadilan yang menimpa keluarganya.


"Terima kasih, Pak, terima kasih." Ibu Ara memeluk Rama seerat mungkin.


Tidak ada pilihan bagi Rama selain membalas pelukan wanita tua itu dan mengusap punggungnya dengan begitu lembut. Ia sadar ia harus bertanggung jawab, dan ia akan melakukan itu, hanya saja ia akan memikirkan caranya nanti. Setelah ia memastikan bahwa Tiffani tidak akan pernah menginjakan kaki di EL 33.


Masih sambil memeluk Ibu Ara, Rama menyentuh headset di telinganya. "Pastikan dia tidak datang," desisnya.


***


Rombongan Tiffani semakin dekat dengan tujuan. Kini rombongan telah memasuki gerbang Distrik EL 33. Baru saja mobil yang Xavier kendarai melewati gerbang yang bertuliskan 'SELAMAT DATANG DI EL 33,' gerbang yang dicat berwarna biru dan merah itu tidak terlihat terlalu bagus. Tiang-tiangnya yang terbuat dari besi telah berkarat, dan catnya pun telah mengelupas. Terlihat sekali jika tidak pernah dirawat, bahkan pada salah satu tiangnya telah dipasangi poster besar salah satu calon anggota DPRD yang memasang senyum palsu di wajah.


Tiffani menepuk bahu Xavier, meminta Xavier untuk berhenti saat sebuah panggilan masuk ke ponselnya.


"Ada apa?" tanya Xavier.


"Sela menelepon. Menepilah sejenak," ujar Tiffani.


Tiffani memang merasa agak mual, dan ia butuh udara segar sekarang. Menerima telepon di ruang terbuka baginya akan lebih baik daripada ia bicara dengan tubuh yang berguncang di dalam sedan yang sempit--Jalanan di EL 33 memang didominasi oleh lubang.


Xavier menghentikan mobil sesuai dengan permintaan Tiffani. Sebuah pohon rindang yang membuat jalanan di bawahnya teduh menjadi pilihan bagi Xavier untuk menepi.

__ADS_1


Tiffani segera keluar, sementara Gracella yang sejak tadi duduk di samping Tiffani segera melangkah sedemikian rupa agar ia berpindah dari kursi belakang ke kursi depan.


Setelah berada tepat di samping Xavier, Gracella segera mencondongkan tubuhnya untuk memberi kecupan di bibir Xavier. Gracella tahu jika Xavier masih kesal sejak mereka tiba di ruang pertemuan Andrew, dan sejak saat itu Gracella belum meminta maaf.


"Aku akan menghajar Andrew lain kali. Enak saja dia ingin memangkumu," gumam Xavier, masih sambil berciuman dengan Gracella.


Gracella hanya tersenyum, dan kembali menikmati ciumannya dengan Xavier.


Sementara itu di luar mobil, Tiffani menggeser tombol hijau pada ponselnya untuk menerima panggilan dari Sela.


"Ya, Sela."


"Putar balik, Fan. Demi apa pun jangan datang ke sini."


Tiffani mengerutkan alis, ia bingung kenapa Sela tiba-tiba mengintruksikan demikian.


"Kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi di sana?"


"Ya, ada. Ara tahu siapa dalang di balik semua kesengsaraannya. Dia sudah tahu kalau Om Damar adalah orang yang membuat rumah para warga rata dengan tanah. Dan sungguh, Tiffani, tidak ada yang tersisa di sini selain bangunan sekolah dan juga satu toko yang setengah bagiannya pun sudah roboh. Aku bisa merasakan kemarahan warga di sini, apalagi salah satu dari mereka ada yang meninggal."


Kedua kaki Tiffani tiba-tiba menjadi lemas, ia bersandar pada badan mobil sambil memijat pelipisnya, wajahnya yang sejak tadi menunduk sekarang ia dongakkan, dan ia sedikit terkejut melihat para bodyguard telah mengelilinginya, memberikan perlindungan padanya.


"Apa Rama ada di sana juga? Dan bagaimana keadaan kalian, kalian baik-baik saja?" Tiffani kembali bertanya.


"Ya, Rama ada di sini. Dia yang sedang berbicara pada Ibu Ara dan juga warga, dan Ara adalah pemegang kendali utama sekarang." Sela menjawab pertanyaan Tiffani dengan suara mendesis agar tidak ada yang mendengar.


"Apa maksudmu?" tanya Tiffani.


"Saat mulai mendekati Ara, Rama mengaktifkan headset yang dia kenakan, aku melihat gerakan tangannya. Kemudian aku dan Mona pun mengaktifkan headset kami. Aku yakin Rama ingin kami mendengar setiap ucapan Ara dan menyampaikannya padamu."


"Lalu?" Tiffani terdengar tidak sabar.


"Dan dugaan kami benar, posisi kami berada dalam obrolan grup saat itu. Sepertinya Rama telah mengatur demikian sebelum dia turun dari mobil."


"Lanjutkan," gumam Tiffani.


"Ara mengatakan kalau dia tahu semuanya, dan jika dia mulai bicara pada warga tentang siapa Rama sebenarnya, maka saat ini juga Rama akan mati. Kemudian ...." Suara tercekat dari seberang panggilan membuat Sela kembali menghentikan ucapannya. Ia menunggu hingga suara itu menghilang.


"Kemudian apa?" tanya Tiffani yang memaksa dirinya sendiri untuk tenang.


"Ara berkata jika dia bisa melindungi Rama, tetapi dia tidak yakin dia bisa melindungimu jika kamu muncul. Nyawa dibayar nyawa. Itulah yang dia katakan, Fan." Sela mengakhiri penjelasannya, dan kembali berujar. "Aku mohon sekarang juga kamu harus putar balik, plis!"


Panggilan terputus, tetapi Tiffani masih bergeming. Ia berdiri diam bagai patung.


Adam yang telah menerima pesan dari Mona segera menyadarkan Tiffani dari lamunan.


"Nyonya, kita harus pergi sekarang," ujar Adam.


Tiffani tersentak. "Tidak. Kita harus ke sana," ucapnya, keras kepala.


Adam menggeleng. Ia mengeluarkan ponselnya dan meneruskan pesan dari Mona ke Xavier yang masih berada di dalam mobil. Ia sedikit kesal karena bukannya keluar dari dalam mobil dan melindungi Tiffani, Xavier malah tetap berada di dalam mobil.


Setelah pesannya terkirim, Adam kembali berujar, "Tidak, Nyonya. Tuan Rama jelas meminta agar Anda kembali. Terlalu berbahaya bagi Anda jika Anda datang ke sana."


"Lalu bagaimana dengan Rama? Bukankah situasi ini juga berbahaya baginya, lalu Sela dan Mona juga ada di sana. Apa kamu tidak ingin melindungi istrimu."


Adam menghela napas panjang. Ia pun sebenarnya mengkhawatirkan keadaan Mona, tetapi ia yakin jika istrinya yang hebat itu mampu melindungi diri sendiri, begitu juga dengan Sela.


"Anda adalah prioritas, Nyonya," jawab Adam singkat.

__ADS_1


Tiffani mengibaskan tangan di udara, sejak dulu ia tidak suka dengan kalimat itu. "Persetan dengan itu semua. Aku bukan prioritas, sama sekali bukan!"


Pintu depan mobil terbuka, dan Xavier keluar dari dalam mobil sambil merapikan jaket yang ia kenakan.


"Kita harus kembali,” ujar Xavier. " Rama meneleponku barusan." Xavier berbohong. Rama tidak menghubunginya sama sekali, ia hanya mengatakan itu agar Tiffani berhenti berontak dan setuju untuk kembali ke kota.


"Tidak!" Jawaban Tiffani tetap sama, dan hal itu membuat Xavier dan Adam saling bertukar pandang kesal.Tiffani memang keras kepala, dan sifat keras kepala Tiffani adalah hal yang paling sulit untuk ditangani.


"Ini perintah langsung," ujar Xavier.


Tiffani terlihat tidak peduli. "Aku akan tetap ke sana, biar aku pergi sendiri jika kalian tidak ada yang mau mengantarku," ujar Tiffani, lalu mendorong Xavier menjauh dari mobil, kemudian ia membuka pintu bagian depan mobil dan bersiap untuk masuk ke dalamnya, tetapi ....


Buk!


Xavier memukul bagian belakang tubuh Tiffani hingga wanita itu tidak sadarkan diri, dan dengan sigap Xavier menahan tubuh Tiffani agar tidak terjatuh ke tanah.


Melihat hal itu, Adam menutup mulut dengan tangannya. Ia terlihat terkejut akan tindakan yang Xavier ambil. Mana ada bodyguard yang membuat majikannya pingsan, tetapi hal itu tidak berlaku bagi Xavier, toh Xavier adalah ipar Tiffani.


"Aku tidak punya pilihan lain. Cepat buka pintunya!" Xavier memerintah.


Willi yang berdiri paling dekat dengan pintu bagian belakang mobil segera membuka pintu mobil dan membantu Xavier untuk membaringkan Tiffani di kursi belakang.


"Ya, Tuhan, apa yang terjadi," pekik Gracella, saat ia melihat tubuh Tiffani yang tidak bergerak.


"Jangan heboh. Dia hanya pingsan, dan akan aku jelaskan kenapa dia bisa pingsan," ujar Xavier pada Gracella yang terlihat khawatir.


Gracella mengangguk.


Xavier menutup pintu mobil dan memberikan instruksi pada semua bodyguard.


"Kita kembali ke kota. Lindungi mobil Nyonya seperti biasa."


"Baik!" Jawaban serentak dari para bodyguard membuat burung-burung yang hinggap di dahan pohon di sekitar mereka berterbangan ke segala arah.


Dan menit berikutnya rombongan Tiffani melanjutkan perjalanan meninggalkan Distrik EL 33.


***


Kepalan tangan Damar tidak henti-hentinya memukul meja kerja yang berlapis kaca di hadapannya. Ia mengumpat pada udara kosong yang menjadi saksi bisu kekesalannya. Ia tidak habis pikir jika semua rencananya akan kacau habis-habisan hanya karena satu nyawa yang melayang.


Damar menghampiri sofa yang terletak dekat dengan jendela, ia butuh udara segar sekarang. Setelah menjatuhkan bokongnya di sofa yang langsung melesak, ia segera meraih gagang telepon dan menghubungi seseorang yang menurutnya bisa menutupi kejadian nahas di Distrik EL 33.


"Ya, halo, ini Damar. Periksa kantor hukum terdekat yang ada di Distrik EL 33. Jika ada laporan terkait tewasnya seseorang di lokasi pembangunan hotel cepat tangani agar berita tidak tersebar ke mana-mana. Aku tidak ingin proyek itu gagal hanya karena satu orang yang tolol sok menjadi pahlawan kesiangan di sana."


Damar menutup telepon, dan langsung menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Untuk beberapa saat ia mengatur napas agar emosinya kembali stabil. Namun, baru juga ia mendapat sedikit ketenangan, ponselnya mengeluarkan dering yang membuatnya muak. Ia segera bangkit berdiri dan meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja.


"Ya, halo," ujar Damar, pada seorang asing yang ada di seberang panggilan.


"Kalian melanggar perjanjian kontrak. Tiffani putri Richard itu pergi begitu saja saat kami sedang membahas kesepakatan. Aku ingin kalian ganti rugi sesuai dengan perjanjian yang tertera di kontrak."


Tut!


Panggilan yang berasal dari Andrew pun terputus sebelum Damar mengajukan pertanyaaan apa pun.


"Sialan. Apa yang Tiffani lakukan!"


***


Pemakaman di lakukan hari ini juga. Tidak ada penundaan dan segala macam yang akan membuat jenazah semakin lama berada di lingkungan berdebu yang menyedihkan.

__ADS_1


Ara menolak otopsi saat seorang polisi datang untuk memeriksa apa yang terjadi di lokasi pembangunan hotel, karena Ara tidak ingin menyusahkan Rama, toh ia memiliki rencana yang bagus untuk Rama. Ia akan meminta Rama dari Tiffani. Ya, Ara tahu, hanya itu cara balas dendam yang paling menyakitkan yang bisa ia lakukan. Lagi pula, ia memang telah menyukai Rama sejak awal. Ia tidak keberatan jika Rama dijadikan pertukaran dari rasa kehilangan yang sekarang sedang ia rasakan.


Bersambung.


__ADS_2