
Sebelum beranjak dari kamar hotel, Brian kembali memeluk Valerie. Tidak bertemu dengan wanita itu selama dua hari saja membuatnya begitu tersiksa, bagaimana bisa ia akan merelakan wanita itu dan bertunangan dengan wanita lain?
"Aku merindukanmu," bisik Brian.
"Hmm, benarkah?"
"Ya, kau kira dua hari itu sebentar. Rasanya lama sekali," keluhnya. "Apa kau tidak merasakan seperti apa yang aku rasakan?" Brian balik bertanya. Raut wajahnya nampak sedikit kecewa.
Valerie tersenyum, lalu mencubit kecil pinggang kekasihnya. "Aku merindukanmu, sangat, sangat, dan sangat merindukanmu," ujarnya.
"I love you!" Sebuah kecupan singkat mendarat di kening Valerie.
__ADS_1
Dua manusia yang baru beberapa hari resmi menjadi sepasang kekasih itu benar-benar sedang dimabuk cinta. Brian benar-benar dibuat gila oleh cintanya, ia rela melakukan segala cara demi bisa mendapatkan wanita yang dicintainya.
Setelah puas melepas rindu dan bermesraan, Brian menggandeng Valerie keluar dari kamar dan meninggalkan hotel. Kali ini Brian sengaja membawa seorang sopir untuk menemani perjalanan mereka karena laki-laki itu ingin duduk berdampingan di kursi belakang bersama kekasihnya.
Jarak hotel yang ditempati Valerie dengan gedung tempat perayaan pesta hari jadi perusahaan tidaklah jauh. Hanya dalam waktu kurang dari lima belas menit, keduanya telah sampai di pintu utama.
Saat mobil Brian berhenti di ujung karpet merah, sopir membuka pintu. Para awak media serta wartawan yang sudah menunggu mulai mendekat dan menyorotkan kamera ke arah Brian.
Dengan penuh percaya diri, Valerie melingkarkan tangannya di lengan Brian. Mereka berjalan berdampingan memasuki gedung dengan begitu serasi. Pemandangan langka ini sangat memukau. Seorang pewaris tunggal sekaligus presiden direktur sebuah perusahaan terkenal yang berkali-kali diisukan memiliki penyimpangan s*ksual tiba-tiba datang ke sebuah pesta menggandeng wanita cantik. Hal ini akan menjadi topik utama dalam berita dan panggung gosip keesokan harinya.
Kehadiran Brian dan Valerie menjadi sorotan para tamu yang sudah hadir lebih awal. Terlebih, Calvin dan Rossa sudah hadir di sana. Mereka berdua tengah asik bercengkrama dengan Damian dan Elena.
__ADS_1
Saat melihat sang putra tidak datang seorang diri, Calvin bagaikan gunung berapi yang hampir meletus. Laki-laki paruh baya itu tidak tahu harus berbuat apa. Di tengah pesta megah dan di depan calon besannya, Brian benar-benar telah mempermalukan dirinya.
Damian serta istrinya yang sudah bahagia dengan kedatangan Brian pun nampak sangat kecewa. Padahal mereka sudah mendapatkan kabar baik dari Calvin jika Brian akan menyetujui pertunangan itu. Sementara Elena, wajah wanita berusia dua puluh lima tahun itu menjadi merah padam, ia hampir memecahkan gelas yang tergenggam di tangannya.
"Kami akan membereskan masalah ini," ucap Calvin. Ia berpamitan pada Damian dan mendekati Brian.
"Pa, Ma. Kalian sudah sampai?" tanya Brian dengan tenang. Sementara Valerie yang berdiri mendampingi laki-laki itu berusaha keras tetap tersenyum cantik dan anggun meski mengetahui kemarahan yang ditahan oleh Calvin.
"Brian, kita harus bicara!" seru Calvin. Napasnya naik turun dengan cepat, Calvin benar-benar tidak percaya jika Brian akan membawa Valerie datang ke pesta ini.
"Tidak, Pa. Pesta ini sangat meriah, aku akan menyapa teman bisnis kita serta tuan rumah untuk memperkenalkan Valerie. Permisi," ucap Brian. Ia tersenyum dan menarik Valerie meninggalkan Calvin yang berdiri gemetar.
__ADS_1
🖤🖤