My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
PELAKUNYA DIKETAHUI


__ADS_3

Tiffani membuka kedua matanya perlahan sambil meringis menahan sakit. Denyut di kepalanya begitu amat menyakitkan, belum lagi rasa nyeri di bagian belakang lehernya yang seolah hendak membuat lehernya terpisah dari tubuhnya.


Begitu kedua matanya telah terbuka seutuhnya, Tiffani pun mengedarkan pandangan, berusaha mencari tahu di mana ia sekarang berada. Namun, sekuat apa pun Tiffani berusaha mengenali kamar tempatnya berada sekarang tetap saja Tiffani tidak tahu ia ada di mana.


Kamar yang sekarang ditempati Tiffani sangat asing. Ia sadar jika sebelumnya ia tidak pernah datang dan mendiami kamar tersebut. Semua interior yang ada di kamar itu adalah yang terbaik, dan juga memiliki harga selangit. Tiffani menebak jika orang yang telah menculiknya pastilah bukan orang sembarangan.


"Di mana aku?" gumam Tiffani, sambil berusaha untuk bangkit dari posisi berbaringnya, tetapi sia-sia saja. Jangankan untuk duduk, menggerakkan tubuhnya saja ia tidak bisa. Tiffani panik untuk sesaat, karena ia mengira tubuhnya menjadi lumpuh akibat kecelakaan yang baru saja ia alami.


"Apa dia belum sadar juga? Kenapa dia pingsan lama sekali?!"


Suara seorang pria yang terdengar di kejauhan membuat rasa panik Tiffani menghilang untuk sesaat. Tiffani kembali menutup matanya, ia memutuskan untuk berpura-pura belum sadarkan diri agar ia dapat mengetahui informasi yang lebih banyak tentang keberadaannya dan tentu saja tentang siapakah orang-orang yang telah membawanya pergi dari Rama beberapa saat lalu.


"Buka pintunya!” suara bariton pria itu kembali terdengar, kali ini lebih dekat dari sebelumnya, membuat Tiffani menjadi gugup.


Tidak lama kemudian suara derit pintu yang dibuka memecah keheningan di dalam kamar Tiffani, dan suara tapak sepatu yang melangkah mendekatinya membuat tingkat kegugupan Tiffani semakin bertambah.


"Seharusnya dia sudah sadar, bukan?" tanya suara bariton itu lagi.


"Tidak dapat dikatakan demikian juga, Tuan, karena dia mengalami benturan yang cukup keras di kepala, seharusnya kita membawanya ke rumah sakit lebih dulu agar kita dapat memastikan apakah dia baik-baik saja atau tidak." Suara pria lainnya terdengar oleh Tiffani.


Hening!


"Aku tidak bisa membawanya ke rumah sakit. Aku tidak ingin jika ada orang yang mengenalinya dan langsung menghubungi Richard." Suara pria itu kembali terdengar setelah beberapa saat, dan Tiffani merasa jika suara pria itu sama sekali tidak asing di telinganya. Namun, Tiffani lupa pernah mendengar suara itu di mana dan kapan.

__ADS_1


"Jadi, apakah Tuan ingin agar kami memanggil dokter saja kemari?"


"Ya, panggil dokter terbaik dan bayar berapa pun mereka minta, asalkan mereka yang datang kemari. Aku ingin dia sadar sesegera mungkin."


"Baik, Tuan! Aku akan segera mengatur agar Tuan mendapatkan dokter terbaik yang ada di kota ini."


Suara pintu yang berderit kemudian menutup kembali terdengar oleh Tiffani.


Tiffani membuka matanya sedikit agar ia bisa melihat wajah pria yang saat ini masih ada di dalam kamar yang ia diami. Beberapa saat kemudian Tiffani pun akhirnya dapat melihat wajah itu, wajah seorang pria yang telah menjadi dalang penculikannya. Dan Tiffani sangat terkejut karena ia tahu siapa pria itu.


"Astaga, dia!" Tiffani membatin.


***


Suasana di kamar Richard begitu tegang saat ini, karena Richard dan Damar sedang memeriksa rekaman dari dua memori kamera dashboard yang berhasil Xavier dan Mona bawa dari lokasi kecelakaan. Sementara Xavier sedang berada di markas dan menjalani pengobatan darurat pada bahunya yang tertembak.


Tidak lama kemudian dua buah mobil mewah keluaran Eropa terlihat muncul dari arah berlawanan, dan sedikitnya ada sepuluh pria berpakaian serba hitam keluar dari kedua mobil tersebut lalu segera menghampiri mobil Tiffani, Kejadian selanjutnya sudah dapat ditebak, dua orang pria terlihat memapah Tiffani menuju salah satu mobil dan kemudian mobil melesat dengan cepat dari lokasi kecelakaan.


Richard menggebrak meja yang ada di hadapannya setelah ia melihat bagaimana kecelakaan yang menimpa Tiffani dan juga bagaimana Tiffani dibawa pergi begitu saja oleh orang-orang yang entah siapa dan darimana asalnya.


"Argh! Cari tahu siapa mereka. Aku ingin mereka semua ditemukan secepat mungkin. Aku tidak ingin sesuatu yang lebih buruk daripada ini terjadi pada putriku. Pokoknya caritahu siapa mereka!" titah Richard.


Baru saja Richard selesai berujar, pintu ruang kerjanya mendadak terbuka, dan Xavier muncul. Ia terlihat bersemangat, walaupun bahunya terluka karena terkena tembakan saat sedang menjalankan tugas beberapa waktu lalu.

__ADS_1


"Ada apa, Vier? Kenapa kamu masuk begitu saja tanpa mengetuk?" tanya Damar. "Apa lukamu sudah selesai diobati?


"Ah, maafkan aku. Aku sangat buru-buru tadi, sampai aku lupa mengetuk pintu. Maafkan aku. Lukaku juga sudah diobati."


Richard mengangguk. "Baguslah, semoga lekas membaik. Ada apa?" tanyanya.


"Aku tahu siapa mereka, Tuan," jawab Xavier.


Richard bangkit berdiri dari kursinya dan langsung menghampiri Xavier yang masih berdiri di dekat pintu. "Siapa mereka?" tanya Richard.


"Mereka adalah anak buah Emanuel. Apa Anda ingat dengan pria muda yang mewarisi bisnis ayahnya itu? Dia adalah salah satu rekan bisnis Anda."


Richard diam sejenak, ia berusaha untuk mengingat siapa itu Emanuel, dan beberapa saat kemudian ia pun teringat akan sosok pria muda yang sangat me cintai obat-obatan terlarang dan juga alkohol.


"Emanuel Adreson, dia biasa dipanggil El, apa aku benar?" tanya Richard pada Xavier.


Xavier menjentikkan jemari. "Tepat sekali. Dialah yang menculik Tiffani dan merencanakan kecelakaan ini."


" Tapi kenapa? Dia rekan bisnisku, bukan musuhku," ujar Richard yang terlihat bingung, karena baru kali ini ia dikhianati oleh rekan bisnisnya.


Xavier mengangkat kedua bahunya. "Kita tidak akan bisa tahu alasannya sebelum kita menangkapnya dan mendesaknya untuk mengatakan alasan di balik rencananya yang gila ini."


Richard mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya seperti hendak menancap ke dalam telapak tangannya sendiri. "Tangkap dia kalau begitu. Aku ingin kamu membawanya ke hadapanku hidup-hidup, Xavier."

__ADS_1


Xavier membungkuk di hadapan Richard. "Aku akan membawanya ke hadapan Anda secepatnya, Tuan, serahkan saja padaku, aku tahu di mana dia sekarang berada."


bersambung.


__ADS_2