My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
MEMBEBASKAN RAMA


__ADS_3

Ara, adalah seorang wanita pengantar makanan yang bekerja di sebuah restoran ayam goreng. Restoran yang letaknya tidak terlalu jauh dari gudang tempat Rama dikurung itu memang merupakan restoran langganan para anak buah Dion. Tidak jarang mereka memesan beberapa paket makanan dari restoran dan meminta untuk diantara ke gudang jika mereka sedang ada tugas di gudang tersebut. Seperti saat ini.


Ara yang beberapa saat lalu memandang Rama dengan iba kemudian mengedarkan pandangan. Ia membungkuk, mendongak, dan menoleh ke sana-kemari, memastikan bahwa tidak ada orang yang lain menyadari kehadirannya, ia juga memastikan tidak ada kamera cctv yang terpasang di dalam gudang itu.


Setelah yakin bahwa tidak ada sesuatu yang dapat membahayakannya, Ara pun mendekat ke Rama. "Apa yang bisa kulakukan padamu? Haruskan aku melepas ikatanmu?" tanyanya, dengan kedua mata yang melotot, seolah yakin sekali jika ia bisa menolong Rama.


Rama menggeleng, ia tidak yakin jika wanita bertubuh ramping yang ada di hadapannya saat ini bisa melepas ikatan yang membelenggu tangan dan kakinya. Tali yang digunakan untuk mengikat kaki dan tangannya sangat besar dan tebal, lalu simpulnya pun sangat kuat. Pasti akan sulit sekali untuk menguraikan simpul itu, sedangkan ia tidak punya banyak waktu.


"Kamu membawa ponsel?" tanya Rama.


Ara mengangguk. "Tentu," jawabnya, lalu mengeluarkan ponsel butut dari dalam kantong jaket kebesaran yang ia kenakan. "Ini bisa digunakan, walaupun terkadang sering mati sendiri," ujar Ara lagi, sambil mengayunkan ponsel bututnya di hadapan Rama.


Rama menghela napas panjang, ia berharap ponsel itu tidak tiba-tiba mati di saat yang genting.


"Hubungi nomor yang akan aku berikan, dan selanjutnya kamu bisa berbagi lokasi dengan pemilik nomor itu. Namanya Adam, dia temanku. Katakan padanya kalau Rama menunggu pertolongan sesegera mungkin," ujar Rama, lalu ia menyebutkan nomor ponsel Adam pada wanita yang masih setia menunggu penjelasannya.


Setelah Ara selesai mencatat nomor ponsel yang Rama berikan, Rama kembali berpura-pura tidak sadarkan diri, sedangkan Ara melangkah mundur secepat mungkin, kembali ke dekat pintu, seolah ia baru saja tiba.


"Pesanan datang!" teriak Ara.


Begitu suara Ara menggema di seluruh ruangan, kebisingan yang diciptakan oleh para anak buah Dion pun menghilang. Satu per satu dari mereka berdatangan kembali ke tempat di mana Rama ditahan.


"Kenapa baru datang? Kami sudah kelaparan!" seru Fabian, yang sekarang sibuk mengeluarkan uang dari dalam dompetnya dan melemparkan uang itu begitu saja ke arah Ara.


Ara yang sudah terbiasa mendapatkan perlakuan tidak sopan seperti itu sama sekali tidak keberatan. Ia membungkuk, memunguti lembar demi lembar kertas kusut yang memiliki banyak angkat nol, memasukan semua uang kertas itu ke dalam saku jaketnya, kemudian ia bangkit berdiri dan menyerahkan beberapa box ayam goreng yang masih panas.


"Selamat menikmati," ujar Ara, lalu segera beranjak dari hadapan Fabian dan rekan-rekannya.


"Hei, tunggu!" teriak Fabian, saat Ara telah tiba di depan pintu.


Ara menghentikan langkah dan berbalik. "Ada apa?" tanyanya.


Fabian mengelus dagunya yang bercambang, lalu kemudian ia menunjuk Rama yang masih terikat di tiang.

__ADS_1


"Kamu tidak akan membocorkan pada siapa pun tentang ini, 'kan? Maksudku, kamu tidak akan mengatakan pada siapa pun bahwa di sini ada seseorang yang terikat dan tidak sadarkan diri?" tanya Fabian, ia penasaran karena Ara terlihat cuek sekali, padahal kebanyakan orang normal pasti akan terkejut dan penasaran begitu melihat seseorang yang terikat dengan wajah berlumuran darah.


Ara mengalihkan pandangannya ke Rama, lalu ia menggeleng. "Masalah hidupku saja sudah menumpuk, untuk apa aku menambah masalah dengan mencampuri urusan kalian," ucap Ara, lalu melanjutkan langkahnya tanpa berkata apa pun lagi. Namun, begitu tiba di luar gudang, Ara langsung mengirim pesan dan berbagi lokasi pada seseorang bernama Adam, sesuai perintah Rama.


***


Xavier dan tim bodyguard utama memutuskan untuk kembali ke rumah setelah menghabisakan waktu beberapa jam di gedung percetakan. Mereka tidak bisa mengambil langkah apa pun sebelum mereka mendapat petunjuk tentang keberadaan Rama atau tentang siapa orang-orang yang berada di balik hilangnya Rama.


Xavier merebahkan dirinya di sofa yang ada di markas, lalu mengacak rambutnya dengan gemas. Ia frustrasi sekali, karena kasus kali ini benar-benar buntu. Selain tidak adanya bukti yang terekam di kamera cctv, orang-orang di gedung itu pun menyatakan tidak pernah melihat segerombolan orang asing atau orang berbahaya memasuki gedung tempat mereka bekerja.


Sekarang Xavier dan tim hanya mengandalkan Andi, menunggu Andi untuk memeriksa alamat-lamat pemilik mobil yang saat kejadian mobil-mobil tersebut terparkir di halaman gedung percetakan. Xavier sungguh berharap semua mobil atau salah satu mobil yang ada di sana saat itu akan memberinya sebuah petunjuk.


Baru saja Xavier memejamkan mata, ia dikejutkan dengan kehadiran Adam yang tiba-tiba muncul. Adam membuka pintu dengan keras hingga menimbulkan suara yang begitu berisik.


"Astaga, Adam, bisakah kamu sedikit lebih tenang. Jangan membuat aku jantungan," keluh Xavier.


Adam tidak peduli pada keluhan Xavier. Ia terus melangkah memasuki markas hingga tiba di tempat Xavier yang sedang berbaring.


"Aku tahu di mana Rama berada," ujar Adam.


Adam mengambil tempat di sebelah Xavier, dan langsung menyerahkan ponselnya pada Xavier. "Lihat ini."


***


Para pria bertubuh besar yang berada di bawah perintah Dion mulai bosan karena Rama tidak kunjung sadar. Menahan seseorang yang hanya pingsan selama berjam-jam memang membuat pekerjaan mereka menjadi membosankan. Hingga muncul lah ide dari kepala Fabian yang tidak terlalu cerdas untuk mengerjai Rama.


Fabian meminta salah satu rekannya untuk mengambil seember air dari bak penampungan yang ada di luar gudang, dan ketika rekannya itu kembali dengan seember air, Fabian langsung merebut air itu dan langsung menyiramkannya ke wajah Rama.


Rama terbatuk, dengan terpaksa ia harus mengakhiri kepura-puraannya. Ia tidak bisa mengabaikan air yang masuk ke lubang hidung dan telinganya.


"Bangunlah, Jagoan, apa kamu mau tidur sampai kiamat tiba, hah? Sekarang sudah malam," ucap Fabian, sambil mendaratkan tinju di wajah Rama.


Rama meringis, ia cukup terkejut karena mendapat serangan tiba-tiba dari Fabian. Belum lagi rasa terkejutnya hilang, Fabian kembali mendaratkan tinju, kali ini di dahinya, hingga dahinya yang sebelumnya sudah terluka kini semakin banyak mengeluarkan darah.

__ADS_1


Melihat Rama yang kesakitan, Fabian kegirangan. Pria itu lantas menoleh ke belakang, di mana rekan-rekannya menonton tindakannya dalam diam.


"Apa kalian tidak ada yang mau bermain-main dengannya?" tanya Fabian, "Ambil tongkat-tongkat di sana. Kalian bisa memukulnya sesuka hati malam ini."


Mendapat tawaran yang begitu mengasyikan untuk menghajar seseorang tentu saja semua rekan-rekan Fabian menjadi seperti orang yang kesetanan. Mereka berlarian mengambil tongkat pemukul yang ada di sudut gudang dan langsung menghampiri Rama, menghajar Rama tanpa ampun.


Akan tetapi, semua tindakan gila mereka itu tidak berlangsung lama, karena sebuah tembakan mengenai salah satu rekan Fabian.


"Argh!" Suara jerit kesakitan terdengar seperti lolongan serigala di tengah hutan.


Fabian menjadi waspada saat ia melihat salah satu rekannya tertembak.


Brak!


Pintu gudang terbuka, dan di sanalah Xavier, menatap semua penjahat yang ada di depannya dengan tatapan mematikan.


(Xavier 😍👇)



"Dasar bedebah!" seru Xavier,


Rama menghela napas panjang. "Kenapa lama sekali?"


Xavier meregangkan tangannya, lalu mulai menembaki satu per satu rekan Fabian tanpa ampun. "Bersyukurlah sajalah karena aku datang tepat waktu, jangan banyak protes."


"Sisakan untukku!" seru Rama. "Tanganku gatal sekali ingin menghajar mereka."


(Rama kasihan banget 😢👇)



"Tenang saja, aku yakin sebentar lagi anggota mereka akan banyak yang berdatangan. Simpanan saja tenagamu untuk sementara sebelum kita melakukan pertarungan yang sesungguhnya."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2