
Rama bergeming, ia tidak melakukan apa pun, bahkan ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun begitu Mona mengucapkan kata "Cinta mati."
Mona, Sela, dan Adam yang berdiri di hadapan Rama sekarang tengah menatap Rama dengan tajam. Ketiganya tidak berusaha untuk menghubungi atau menyemangati Rama, karena mereka tahu gejolak kekecewaan di dalam dada Rama yang sekarang ini tengah Rama rasakan tidak akan mereda hanya dengan kalimat-kalimat penyemangat. Pria mana pun pasti akan merasa kecewa jika mengetahui bahwa dirinya bukanlah satu-satu orang yang pernah ada di dalam hati sang kekasih, apalagi sudah ada pria lain yang namanya tersemat di dada sang kekasih sebagai cinta mati.
Rama menghela napas dengan berat, lalu perlahan ia menggerakkan kakinya menuju elevator yang akan membawanya ke lantai bawah. langkahnya gontai, dengan kepala yang terduduk lesu.
"Kita harus mengikutinya, 'kan? Aku takut bukannyaa tiba di lantai bawah dengan selamat, dia malah terjun bebas dari balkon," ucap Sela, pada Mona dan Adam.
Mona mengangguk. "Ya, aku setuju. Kita harus mengikuti dia, daripada dia bu-nuh diri. Pasti menyakitkan sekali mengetahui fakta bahwa dia itu bukan satu-satunya cinta yang pernah ada di hati Tiffani."
Adam berdecak, lalu memukul kepala Mona dan Sela bersamaan. "Kalian jangan berlebihan begitu. Hati seorang pria tidak selemah itu sampai-sampai terjun dari ketinggian hanya karena sakit hati. Hati kami ini tidak selemah hati para spesies wanita yang suka melebih-lebihkan! hal apa pun," oceh Adam, lalu segera menyusul Rama.
Sela dan Mona mengusap puncak kepala mereka sambil memandang Adam yang sekarang tengah berlari menghampiri Rama.
"Padahal hati pria memang tidak lebih kuat dari hati wanita, hanya saja kadar Gengsi mereka lebih besar," komentar Mona, lalu ia menarik lengan Sela untuk menyusul Adam dan Rama yang tidak lagi terlihat. "Ayo, kita harus menghibur Rama walaupun cuma sedikit."
***
Di dalam kamar rawat inap, Richard tengah duduk di sofa, ia memutuskan untuk berbicara dengan Tiffani dan Gracella di ruang tamu daripada di dalam kamar yang selama beberapa hari ini telah ia diami siang dan malam.
Gracella dan Tiffani duduk berdampingan di satu sofa panjang yang berhadapan dengan sofa yang diduduki oleh Richard. Keduanya terlihat pasrah dan susah payah menahan amarah.
"Nah, karena kalian sudah lebih tenang, aku akan mengatakan sesuatu pada kalian. Yang akan aku katakan ini adalah hal penting, kalian suka atau tidak tetap saja kalian wajib mematuhi apa yang akan aku katakan," ujar Richard.
Baik Tiffani dan Gracella tidak ada yang menjawab atau pun mengangguk, mereka berdua malah saling memelototkan mata.
"Astaga, berhentilah saling melotot," ujar Damar, yang berdiri tepat di belakang sofa yang diduduki Richard, hingga ia dapat melihat dengan jelas bagaimana ekspresi kedua gadis keras kepala yang ada di depannya.
Richard menunggu beberapa saat sampai Tiffani dan Gracella menuruti apa yang Damar katakan, setelah keduanya tidak lagi saling memelototkan mata barulah Richard melanjutkan apa yang ingin ia sampaikan.
"Aku ingin kalian akur dan saling memaafkan. Aku akan memberi kalian waktu satu minggu agar kalian bisa saling memaafkan dan bersikap normal layaknya saudara, setelah aku dapat melihat ketulusan kalian barulah aku akan mengatakan apa yang ingin aku katakan," ujar Richard, sambil menatap Tiffani dan Gracella bergantian.
Tiffani masih diam, ia tidak memberi tanggapan apa pun atas ucapan Richard, tetapi berbeda dengan Gracella, gadis itu langsung tertawa terbahak-bahak. Ekspresi di wajahnya begitu sinis dan terlihat tidak peduli.
"Jangan katakan kalau begitu. Aku tidak ingin mendengar apa pun yang ingin Anda katakan. Semua itu sangat tidak penting bagiku," ujar Gracella.
Richard tersenyum. "Sungguh kamu berpikir demikian, Gracella? Apa kamu sangat membenciku hingga kamu tidak ingin melakukan apa yang aku minta?"
Gracella mengangguk. "Apa kurang jelas bagi Anda kalau aku memang sangat membenci Anda?"
Richard mengangguk. "Sangat jelas, aku dapat melihat kilat kebencian itu dari matamu yang indah. Hem, begini saja, bagaimana kalau aku menambah kompensasi agar kamu mau bersikap baik pada Tiffani dan juga padaku. "
"Ayah! Jangan lakukan itu. Pokoknya jangan keluarkan sepeser pun untuk dia." Tiffani menyela pembicaraan Richard dan Gracella. Ia sama sekali tidak sudijika ayahnya mengeluarkan banyak uang hanya untuk Gracella si ular berbisa.
Richard menggeleng. "Aku akan keluarkan berapa pun agar kalian mau menuruti permintaanku. Karena bisa dikatakan bahwa permintaan ini adalah permintaan terakhirku. aku tidak akan meminta apa pun lagi pada kalian setelah ini."
***
Rama duduk di taman yang berada di samping gedung utama rumah sakit bersama dengan Adam, Mona, dan Sela. Keinginan ketiganya untuk menghibur Rama memang tulus, tetapi setibanya di taman Rama justru bertanya lebih banyak pada Mona tentang hubungan Gracella dan Tiffani yang begitu kacau.
Mona yang awalnya tidak ingin membahas hal itu pun mau tidak mau menceritakan semuanya pada Rama sesuai keinginan pria itu. Ia mencoba mengingat apa saja yang telah Gracella lakukan pada Tiffani, hingga Tiffani menjadi sangat benci pada Gracella.
"Sebenarnya ada banyak hal mengerikan yang menjadi penyebab hubungan mereka rusak, salah satunya adalah sikap Gracella yang selalu meniru Tiffani," ujar Mona, yang memasang tampang kesal maksimal di wajahnya.
"Meniru seperti apa tepatnya?" tanya Sela, yang terlihat lebih penasaran dibandingkan Rama.
Mona mengelus dagunya, kemudian ia berkata, "Dimulai dari makanan kesukaan, warna kesukaan, hobi, sampai akhirnya pasangan. Bayangkan saja bagaimana menyebalkannya Grace ketika dia yang awalnya menyukai warna biru, tiba-tiba saja suka warna merah muda saat tahu Tiffani menyukai warna merah muda. Begitu juga dengan makanan dan hobi. Bahkan tiba-tiba saja Grace mendekati pacar Tiffani saat SMA, padahal awalnya Grace itu tidak menyukai Dylan sama sekali."
__ADS_1
"Wah, serius dia melakukan semua itu? Luar biasa. Dia menyebalkan sekali kalau begitu." Seru Sela.
Mona mengangguk. "Ya, sangat menyebalkan. Dia meminta semua barang yang Om Richard beli untuk Tiffani dengan alasan dia menginginkan barang itu."
"Lalu, apa Tiffani memberikannya?" tanya Sela, yang sekarang terlihat semakin kesal. Sela memang terpancing sekali sejak pertama kali mendengar bahwa Gracella merebut kekasih Tiffani.
Mona kembali mengangguk. "Tentu. Dia memberikan semua yang Grace minta. Bahkan saat Grace dan Dylan ketahuan berciuman di dalam kamarnya, Tiffani pun bertanya seperti ini, 'Apa kamu menginginkannya juga?' lalu apa kalian tahu apa jawaban Gracella saat itu?" Mona menatap Adam, Rama, dan Sela dengan tatapan tajam yang begitu dramatis.
"Apa?" tanya Adam, Rama, dan Sela serempak.
Mona berdeham, ia mencondongkan tubuhnya ke depan, kemudian berkata, "Ya, aku ingin dia jadi milikku, karena aku suka dia." Mona mengakhiri ucapannya sambil meremas rambutnya. Ia tiba-tiba menjadi sangat kesal saat mengingat kejadian itu. "Itulah yang Gracella ucapkan dengan begitu enteng. Seolah meminta kekasih saudaranya sendiri adalah hal yang wajar dan normal."
"Serius!" seru Adam. "Padahal dia cantik. Dia bisa mendapatkan pria mana pun jika dia mau, kenapa juga harus kekasih sepupunya sendiri."
Mona mengangguk cepat. "Ya, dia memang cantik, dan mudah baginya untuk mendapatkan pria mana pun, tapi dia memang punya sifat yang aneh. Dia seperti iri pada Tiffani. Bahkan beberapa minggu kemudian kami semua mendengar kabar kalau Gracella hamil, setelah itu dia pergi ke luar negeri dan tidak ada kabar lagi tentangnya, sampai saat ayahnya meninggal dunia pun dia tidak juga datang."
"Wah. Tidak mengherankan kalau Tiffani benci sekali padanya. Dasar ular berbisa. Bibit pelakor sudah ada padanya sejak dia masih SMA, dan sekarang beraninya kamu memilih untuk jadi bodyguardnya!" Sela menunjuk wajah Rama tanpa sungkan.
Rama terkejut karena tiba-tiba saja jemari Sela sudah menempel di hidungnya.
Rama menjauhkan jemari Sela dari wajahnya. "Mana aku tahu. Lagi pula, aku diperintahkan oleh Tuan Richard, mana berani aku melawan."
Sela menghela napas dengan kasar. "Ah, aku tidak tahu apa yang ada di dalam kepala Om Richard, sampai-sampai dia tega melakukan ini pada Tiffani. Kalau Rama tergoda pada Gracella kan Tiffani juga yang akan sakit hati."
Rama berdecak. "Aku tidak semurahan itu hingga mudah jatuh cinta."
"Ya, sekarang mungkin tidak, tapi siapa yang bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh pria dan wanita saat sedang berduaan." Sela menyipitkan mata sambil terus mencondongkan tubuhnya ke Rama, hingga membuat Rama merasa tidak nyaman.
Rama bangkit berdiri dan segera menjauh dari Sela dan Mona yang masih menatapnya dengan tajam. Kedua gadis itu menatap Rama seolah membenarkan bahwa Rama dan Gracella suatu hari nanti pasti akan saling jatuh cinta.
"Astaga, kalian berdua ini. Aku tidak akan seperti itu!" teriak Rama.
"Tiffani. Sini!" Mona melambai ke Tiffani.
Tiffani yang melihat lambaian tangan Mona segera menghampiri Mona dan teman-temannya. Wajah Tiffani terlihat pucat, dan ekspresi wajahnya juga terlihat tidak nyaman.
"Tiffani, ada apa?" tanya Rama, saat Tiffani telah tiba di hadapannya.
"Shut, jangan bicara padaku, Rama, mendengar suaramu aku sungguh ingin muntah."
Mona dan Sela menahan tawa dengan susah payah begitu melihat wajah Rama yang berubah menjadi cemberut karena ucapan Tiffani.
"Tega sekali," gumam Rama.
Tiffani tidak peduli pada Rama, apa pun yang Rama rasakan saat ini ia sama sekali tidak peduli, karena gejolak di dalam perutnya lebih mengganggu saat ini daripada wajah cemberut Rama.
"Tiffani, aku ingin bicara padamu, aku--"
"Ueeeek!"
Iueeeeeh!
Cairan kekuningan yang berbau tidak keruan menyembur dari mulut Tiffani tanpa bisa dikendalikan, dan cairan itu langsung mendarat di tubuh Rama, membuat jas dan kemeja Rama dipenuhi dengan cairan berbau tidak sedap tersebut.
"Aaaaah, bauuuu!" Mona dan Sela segera berlari menjauh dari Rama dan Tiffani, disusul kemudian oleh Adam yang berlari sambil menutup hidung.
"Astaga, aromanya seperti aroma kentut kuda nil," ucap Adam.
__ADS_1
"Sudah kubilang jangan bicara," gumam Tiffani, yang merasa sangat malu pada Rama.
***
Rama membuka bagasi mobil dan segera mengganti jas dan kemeja yang baru saja dimuntahi oleh Tiffani. Ia melakukannya di area parkir, sehingga mengundang perhatian belasan pasang mata yang menatapnya dengan kagum.
Sebagian besar pengunjung rumah sakit yang berlalu lalang di halaman menghentikan langkah mereka untuk menonton pertunjukan gratis dari Rama. Wajah tampan, bentuk tubuh sempurna, dan otot yang menyembul membuat Rama sedap sekali untuk dipandang.
"Ish, seharusnya dia mengganti pakaiannya di kamar mandi," omel Tiffani, yang juga sejak tadi memperhatikan Rama. Ia tidak suka Rama menjadi tontonan seperti saat ini, apalagi kebanyakan yang memperhatikan Rama adalah perawat-perawat cantik yang bekerja di rumah sakit tersebut.
"Diamlah, jangan cerewet. Sudah bagus dia tidak marah padamu, jadi terserah dia mau berganti pakaian di mana," ujar Mona. "Lagi pula, kenapa kamu harus muntah di bajunya!"
Tiffani cemberut. "Mana aku tahu kalau muntahku akan mengenai tubuhnya."
Sela mencubit lengan Tiffani. "Dia seksi sekali, apa kamu sudah pernah mencicipi bagaimana rasa tubuhnya?" tanya Sela, yang memang selalu blak-blakan dalam berucap.
"Tentu sudah, karena tubuh itu adalah milikku. Aku sama sekali tidak ingin jika ada yang merebutnya dariku," jawab Tiffani.
Sela terkikik. "Aku bisa bayangkan bagaimana bahagianya dirimu saat merasakan tubuh seksi itu di atas tubuhmu. Dan aku juga bisa bayangkan bagaimana bahagianya Gracella nanti saat ia berhasil menjadikan tubuh itu sebagai miliknya."
Tiffani mengerutkan dahi. "Apa maksud ucapanmu?"
"Apa kurang jelas? Aku mengatakan kalau suatu hari nanti Gracella pasti akan merebut Rama darimu, mengingat dirinya sangat mudah untuk mengakses Rama, dan mengingat bahwa dirinya itu menyukai semua yang kamu suka. Tidak menutup kemungkinan kalau dia juga akan menyukai Rama, 'kan?"
Mona mengangguk setuju. "Masuk akal!" serunya.
Tiffani menggeleng. "Ah, maaf, tapi aku tidak peduli. Untuk sesaat aku lupa kalau aku sudah putus dengannya. Jadi, terserah dia mau berbuat apa pun dengan siapa pun. Aku sama sekali tidak peduli," ucap Tiffani.
Sela dan Mona saling menatap.
"Serius?" tanya Mona. "Ingat, Tiffani, Gracella itu dapat dengan mudah menggoda Rama, apa kamu rela kalau Rama berciuman dengan Gracella dan segala macamnya."
Tiffani terdiam untuk sesaat. Ia tidak rela! Tentu saja tidak sama sekali. Namun, tidak mungkin kan ia mengatakan semua itu pada Mona dan Sela. Jika ia mengatakan demikian, teman-temanya pasti akan menganggap dirinya plin-plan dan kemudian mengejeknya.
"Bagaiman, hah? Apa kamu rela?" tanya Mona lagi.
Tiffani tersentak begitu mendengar suara Mona yang berteriak di telinganya.
"Tidak! Aku tidak rela!" Tiffani kelepasan. Ia segera menutup mulut dengan tangan agar mulutnya tidak lagi bicara melantur.
Akan tetapi, bukannya menertawakan Tiffani seperti yang Tiffani kira, Sela dan Mona malah menatap Tiffani dengan ekspresi yang tidak bisa Tiffani tebak.
"Ada apa? Kalian mau mengejekku? Kalian ingin menertawakanku, iya?"
Sela dan Mona menggeleng. "Tidak, Tiffani. Kami justru akan membantumu. Kami akan membuat Rama kembali padamu bagaimana pun caranya, dan kami akan mengawasi Gracella agar Gracella tidak menggoda Rama," ujar Sela dengan tegas.
Tiffani mengibaskan tangan dengan cepat. "Ah, tidak perlu seperti itu, sungguh. Aku tidak--"
"Ssst, lihat, itu si ular." Mona menunjuk ke arah pintu masuk gedung utama rumah sakit, di mana Gracella baru saja muncul dan segera menghampiri Rama sambil tersenyum.
"Ayo, kita hentikan dia!" Mona menarik lengan Sela, dan meninggalkan Tiffani yang masih menatap lurus ke Rama.
"Semangat, Teman-teman," gumam Tiffani.
__ADS_1
Bersambung.