
Richard sangat tidak senang dengan apa yang baru saja ia dengar.
'Anak Haram,' kalimat itu sangat mengganggu Richard, hingga rasanya ia ingin mengamuk pada siapa saja yang berkata seperti itu pada Tiffani.
Mona, Sela, dan Tiffani yang sejak tadi mengeroyok Gracella langsung menghentikan apa yang mereka lakukan begitu mereka mendengar suara Richard yang dalam dan tegas tepat di belakang mereka.
"Ayah," gumam Tiffani, sambil menyingkirkan rambut yang menutupi sebagian wajahnya.
Richard maju selangkah demi selangkah mendekati para gadis yang ada di hadapannya. Tatapannya beralih dari Tiffani, ke Gracella, kemudian ia juga menatap Sela dan Mona yang semuanya terlihat sangat berantakan.
"Katakan padaku, ada apa? Kenapa kalian terus saja begini, padahal aku sudah memohon agar kalian berbaikan. Dan kalimat itu ... siapa yang mengucapkan kalimat tidak bermoral seperti itu?" tanya Richard.
Hening sejenak, tidak ada yang berani menjawab pertanyaan Richard, karena Richard terlihat benar-benar marah saat ini.
"Kamu Mona! Jelaskan padaku apa yang terjadi," ucap Damar lagi, saat keempat gadis di hadapannya tidak ada yang menjawab.
Mona tersentak, dan mau tidak mau ia pun menjelaskan pada Richard apa yang sebenarnya terjadi.
"Hem, sebenarnya kami tidak ingin berkelahi seperti ini, Om, tapi sejak tadi Gracella terus mengatai Tiffani. Gracella terus mengatakann pada Tiffani kalau anak yang Tiffani kandung adalah anak haram. Walaupun pada awalnya kami berpura-pura tidak dengar, tetap saja akhirnya kami terpancing untuk menghajarnya karena dia memang pantas untuk dihajar," ucap Mona, memberi penjelasan pada Richard.
Richard mengusap dagunya, dan kemudian ia berkata, "Kamu benar, Mona. Kali ini alasan kalian untuk melakukan tindak kekerasan ke Gracella sudah benar, dan aku tidak menyalahkan. Ucapan Gracella memang keterlaluan dan tidak pantas untuk diucapkan pada seseorang yang sedang mengandung. Teruskan saja jika kalian ingin meneruskan. Aku akan menganggap jika aku tidak melihat semua ini." Setelah berkata demikian, Richard segera melenggang pergi menjauh dari Tiffani dan teman-temannya.
"Wah, apa benar tindakan kita barusan dilegalkan oleh ayahmu, Fan?" tanya Sela, yang terlihat cukup terkejut.
Tiffani mengangguk. "Ya, sepertinya seperti itu," gumam Tiffani.
__ADS_1
Tiffani dan kedua temannya memang terlihat sangat terkejut pada sikap Richard yang di luar dugaan. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyangka akan mendapat lampu hijau dari Richard untuk menyakiti Gracella.
Gracella yang tidak terima pada sikap Richard pun tidak tinggal diam, ia mendorong Tiffani yang berdiri di depannya, lalu menyusul langkah Richard dan kemudian meneriaki Richard saat pria itu hampir tiba di pintu menuju teras.
"Kamu memberi izin Tiffani untuk menyakitiku. Apa kamu ingin membunuhku, seperti kamu membunuh ayahku!" teriak Gracella.
Richard menghentikan langkah, lalu ia berbalik agar dapat menatap Gracella. "Apa kamu masih berpikir jika kematian ayahmu karena diriku?"
Gracella tersenyum sinis. "Rupanya kamu masih berpikir kalau kamu bukanlah penyebab kematian ayahku!"
"Bicara yang sopan pada ayahku, Gracella," desis Tiffani, ia tidak suka pada gaya Gracella yang sok saat berbicara pada ayahnya.
Richard mengangkat tangan, meminta Tiffani untuk tenang sebelum terjadi perkelahian lagi di antara Tiffani ran Gracella.
Gracella menghampiri Richard, kemudian saat telah berdiri di hadapan Richard, Gracella kembali berkata. "Aku yakin kamu sudah sering mendengar alasan yang keluar dari bibirku ini, dan aku yakin sekali jika semuanya sangat masuk akal, aku tidak akan repot-repot untuk mengulangi kalimat yang telah kuucapkan ratusan kali di depanmu. Justru sebaliknya, aku ingin dengar kenapa kamu tidak merasa jika ayahku meninggal dunia karena ulahmu, Om Richard."
Kedua mata Richard berkaca-kaca saat ia menatap Gracella dari jarak yang lumayan dekat.
"Datanglah ke ruang kerjaku nanti malam. Aku akan jelaskan semuanya padamu, dan aku akan menjelaskan secara keseluruhan, tidak setengah-setengah agar kamu tidak terus salah paham dan akhirnya terus menyalahkanku. Aku tunggu sampai jam sepuluh malam, Grace, jangan lewatkan kesempatan ini, karena mungkin di lain waktu aku tidak dapat menjelaskannya padamu. Anggap saja aku memecahkan teka-teki secara sukarela," ujar Richard, lalu segera berbalik memunggungi Gracella dan meninggalkan gadis itu begitu saja.
"Ayahmu hanya mengajak Gracella untuk datang ke ruangannya, apakah menurutmu kita harus menguping, Tiffani?" tanya Sella.
Mona menggeleng. "Jangan. Om Richard akan sangat marah kalau tahu kita menguping pembicaraannya dengan Gracella. Jika Om Richard tidak meminta Tiffani untuk datang, itu berarti Tiffani tidak perlu mendengarkan apa pun yang akan Om Richard bicarakan pada Gracella." Mona berujar dengan bijak. Sebagai salah satu pengawas Tiffani, ia harus memberikan masukan yang terbaik untuk Tiffani. Ia tidak ingin terus-terusan melakukan kesalahan yang sama karena terlalu menuruti kehendak Tiffani.
Akan tetapi, Tiffani tidak sependapat dengan Mona. Ia merasa sedikit kecewa karena ayahnya tidak mengajaknya ikut serta, padahal ia juga penasaran pada cerita sebenarnya tentang kematian ayah Gracella yang begitu tragis.
__ADS_1
"Aku ingin menguping. Ayo kita lakukan bersama," ujar Tiffani setelah ia diam untuk beberapa saat.
Sela bertepuk tangan. "Aku setuju. Aku suka sekali menguping. Toh, tidak ada salahnya, asalkan kita tidak ketahuan saat melakukannya."
Mona menghela napas panjang. "Aku tidak ikut-ikutan," ujar Mona, sambil mengibaskan tangannya dengan cepat di hadapan Tiffani.
Tiffani merangkul Mona. "Kamu harus ikut, karena kamu adalah babysitterku," ucap Tiffani.
Mona mendengkus kesal. "Aku tidak mau. Pokoknya aku tidak mau." Mona masih menolak, sembari melangkah dengan cepat menuju teras.
Tiffani dan Sela terus mengikuti dan membujuk Mona hingga mereka bertiga tiba di teras, dan di saat yang sama tiga buah mobil terlihat berhenti tepat di bawah pepohonan rindang.
"Apa mereka sudah selesai? Ah, aku penasaran sekali apa yang telah mereka lakukan pada Darren. Dan apakah Johanku baik-baik saja? aku harus segera memastikannya," ujar Sela, yang langsung berlari menuju mobil yang baru saja berhenti.
"Aku juga harus melihat bagaimana keadaan Adam," ucap Mona yang langsung menghilang secepat kilat dari hadapan Tiffani.
Tiffani mendengkus kesal. "Dasar mereka berdua itu berlebihan sekali, seolah-oleh Johan dan Adam baru saja tiba dari medan perang," desis Tiffani yang memilih untuk tidak menghampiri Rama walaupun sebenarnya ia ingin sekali. Ia juga penasaran bagaimana keadaan Rama setelah menjalankan misi semalaman penuh hingga pagi, tetapi jika harus berlari untuk menghampiri Rama seperti yang kedua temannya lakukan, nanti dulu. Ia tidak ingin jika Rama menjadi besar kepala karena merasa ia perhatikan.
"Ah, Johan,syukurlah! Aku senang sekali karena kamu tidak apa-apa dan kembali dengan selamat. Eh, tapi apa yang terjadi pada Rama, kenapa dia tidak sadarkan diri?" jerit Sela.
Suara Sela yang begitu keras tentu saja terdengar hingga ke teras tempat Tiffani berdiri. Tiffani menjadi khawatir, tetapi ia masih menahan diri hingga kemudian jeritan Mona yang sedang menatap ke dalam mobil membuat pertahanan dirinya runtuh. Ia tahu jika ada sesuatu yang tidak beres di dalam mobil tersebut.
"Rama," gumam Tiffani sembari berlari menuju mobil yang terparkir di halaman.
Bersambung.
__ADS_1