My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
BODYGUARD VS BODYGUARD


__ADS_3

Dylan tidak mungkin salah lihat atau salah mengenali seseorang yang telah lama ia kenal. Ia tahu benar bahwa yang sedang berbaring di hadapannya saat ini adalah Tiffani Raendra. Namun, Dylan tidak mengatakan pada Tirta dan juga Emanuel bahwa ia mengenal Tiffani. Dylan merasa ada sesuatu yang janggal, karena jika memang Tiffani adalah calon istri dari Emanuel, kenapa pria itu tidak cepat membawa Tiffani ke rumah sakit, padahal Tiffani terlihat tidak baik-baik saja, belum lagi dibutuhkan waktu lebih lama untuk memanggil dokter agar datang ke kediaman Emanuel, dibandingkan jika Emanuel membawa Tiffani ke rumah sakit.


"Kenapa Anda diam saja? Apa Anda tidak bisa membuatnya sadar?" tanya Emanuel yang terlihat marah karena sejak tadi Dylan hanya menatap Tiffani tanpa melakukan apa pun. Padahal ia sudah sangat gugup saat ini, ia takut kalau-kalau Tiffani tidak akan pernah sadar lagi.


Dylan terkejut begitu mendengar suara Emanuel yang dalam dan berat, tetapi ia dengan mudah mengatasi keterkejutannya dan kembali terlihat seperti dokter yang sangat profesional.


Dylan berdeham, lalu menatap Tirta dan Emanuel bergantian. "Aku tidak bisa sembarangan menyentuhnya karena aku bukan ahli ortopedi. Apa calon istri Anda mengalami kecelakaan?" tanya Dylan.


Emanuel mengangguk. "Ya, dia mengalami kecelakaan beberapa saat lalu."


"Seharusnya Anda membawanya ke rumah sakit. Dia harus diperiksa secara menyeluruh. Seperti ronsen dan segala macamnya. Pasien dari kasus kecelakaan tidak bisa ditangani di sembarang tempat. Bagaimana kalau ada tulang yang patah dan mengganggu saraf penting yang ada di tubuhnya." Dylan kembali mengoceh, dan kali ini ocehan Dylan membuat Emanuel amat kesal.


Emanuel maju menghampiri Dylan, kemudian ia meremas kerah kemeja yang menempel di tubuh Dylan. Tatapannya begitu tajam, seolah ia dapat memb-unuh Dylan dengan tatapannya itu. "Aku hanya meminta Anda untuk membuatnya sadar, tindakan selanjutnya biar aku yang pikirkan. Anda tidak usah ikut campur," bentak Emanuel, ia lalu mengeluarkan pistol dari dalam saku jasnya dan menempelkan pistol itu di kepala Dylan. "Cepat lakukan apa yang aku perintahkan sebelum aku mengirim Anda ke neraka saat ini juga."


Diancam menggunakan pistol bukanlah pengalaman pertama bagi Dylan, dulu sekali ia pun pernah mendapat ancaman dengan pistol seperti sekarang ini. Hanya saja dulu yang melakukannya adalah Tiffan, sehingga efeknya tidak semenakutkan seperti sekarang ini. Jika Emanuel yang mengancamnya maka lain cerita, kali ini jika ia salah mengambil langkah maka nyawanya akan benar-benar melayang.


"Aku hanya melakukan apa nyang seharusnya aku lakukan sebagai seorang dokter, yaitu memberi saran tentang apa nyang seharusnya kita lakukan. Hanya itu, maafkan aku," ucap Dylan.!


Emanuel tidak peduli pada apa yang Dylan katakan, yang ia inginkan saat ini hanyalah Tiffani segera sadar. Ia tidak butuh ceramah panjang lebar dari Dylan.


"Cepat buat dia sadar!" desis Emanuel lagi sambil mendorong Dylan hingga pria itu jatuh berlutut di samping Tiffani.


Saat terjatuh itukah Dylan melihat pelupuk mata Tiffani yang sedikit terbuka, dan sebagai seorang dokter ia tahu kalau Tiffani sedang berpura-pura pingsan saat ini. Tiffani sadar saat ini dan ia melihat apa yang sedang terjadi. Jika Tiffani tetap memilih untuk berpura-pura pingsan itu berarti benar dugaanya bahwa ada yang tidak beres sekarang


Dylan mendekat ke Tiffani degan dalih ingin memeriksa denyut nadi di leher Tiffani, dan saat bibirnya telah berada cukup dekat dengan telinga Tiffani, ia pun berbisik, "Jangan buka matamu apa pun yang terjadi, Tiffani. Aku akan mengeluarkanmu dari sini."


Setelah mengatakan hal itu, Dylan segera bangkit berdiri. Namun, sebelum berdiri ia mengusap air mata Tiffani yang terlihat mulai melesak keluar dari sudut matanya.


"Bagaimana?" tanya Emanuel lagi.


"Denyut di arteri karotisnya sangat lemah, begitu juga dengan denyut di arteri radialis-nya. Kita tidak bisa mengambil tindakan apa pun selain membawanya ke rumah sakit secepat mungkin. Benturan yang terjadi saat kecelakaan bisa menyebabkan mati otak, dan semua itu hanya bisa diketahui setelah pasien melakukan serangkaian pemeriksaan. Dan sudah sangat jelas kalau serangkaian pemeriksaan itu tidak bisa dilakukan di sini."


"Apa tidak ada cara lain?" tanya Emanuel, sambil memutar-mutar pistol di tangannya.


Dylan melihat apa yang Emanuel lakukan, dan sekelebat ia pun juga melihat Tirta mengeluarkan pistol dari balik ikat pinggang.


"Huft, aku benar-benar akan mati kali ini," batin Dylan, yang sekarang berpura-pura sibuk membuka tas jinjingnya sambil mengoceh untuk mengulur waktu. "Tapi, ada satu suntikan yang bisa merangsang kinerja otak pasien, aku akan mencoba jalan itu dulu dan kita bisa melihat bagaimana respon tubuh pasien. Jika dalam sepuluh menit pasien masih tidak sadarkan diri, maka Anda memang benar-benar harus membawanya ke rumah sakit," ujar Dylan.


"Kenapa tidak kamu lakukan dari tadi, dasar bodoh!" Emanuel kembali mengomel.


Dylan menelan saliva, ia gugup sekali saat ini hingga rasanya jantungnya akan terlepas dari tempatnya dan jatuh terguling-guling kemudian berhenti tepat di bawah kaki Emanuel. Sekarang suasana di dalam kamar sedikit lebih rileks saat Dylan mengatakan ia memiliki suntikan untuk merangsang kinerja otak Tiffani agar Tiffani terbangun, padahal kenyataannya Dylan tidak memiliki obat seperti itu di dalam tas jinjingnya, Ia hanya memiliki cairan bius yang sekarang telah ia masukan ke dalam sebuah suntikan, dan siap untuk disuntikkan ke leher Emanuel dan juga Tirta.


Dylan memperhatikan Emanuel yang sekarang sedang melangkah menuju jendela yang terbuka, keduanya sedang asyik membicarakan sesuatu yang tidak dapat Dylan dengar. Di saat itulah Dylan memberanikan diri untuk maju selangkah demi selangkah menghampiri Tirta dan Emanuel. Walaupun tangannya gemetar dan berkeringat, tetapi ia tidak ingin mundur sama sekali. Ia harus menyelamatkan Tiffani dari Emanuel apa pun yang terjadi, dan tentu saja menyelamatkan dirinya sendiri.


Jarak Dylan dengan Emanuel semakin dekat, dan di saat itulah Dylan mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi lalu menyuntikkan cairan bius di leher Emanuel dan Tirta.


"Yes," seru Dylan, saat Emanuel dan Tirta terjatuh. Ia lalu menghampiri Tiffani yang masih terbaring dengan mata tertutup. "Buka matamu, Tiffani," ujar Dylan saat ia telah berada di samping Tiffani.


Tiffani segera membuka kedua matanya dan langsung mengedarkan pandangan, mencari keberadaan Emanuel dan juga Tirta.


"Jangan khawatir, aku telah membuat mereka berdua pingsan dengan cairan bius." Dylan memberitahu Tiffani yang terlihat begitu ketakutan.


"Mereka pingsan secepatnya itu?" tanya Tiffani, tidak percaya.

__ADS_1


Dylan mengangguk. "Aku memberikan lebih banyak dari dosis yang seharusnya. Aku harap mereka berdua tidak mati."


Tiffani mendengkus. "Aku justru berharap kebalikannya."


Dylan tersenyum ramah ke Tiffani. Senyum yang dulu pernah Tiffani sukai, karena memang Dylan sangat tampan sekali saat sedang tersenyum.


"Senang rasanya bisa melihatmu lagi," ucap Dylan yang terlihat tulus pada perkataannya.


"Aku tidak." Tiffani menjawab dengan ketus, membuat Dylan tertawa. Ia tidak menyangka jika Tiffani masih marah padanya, padahal bertahun-tahun telah berlalu.


"Apa yang terjadi sebenarnya, Tiffani, kenapa kamu bisa ada di sini? Apa dia benar calon suamimu?" Dylan yang merasa penasaran pun akhirnya mengajukan pertanyaan itu ke Tiffani.


"Aku tidak memiliki waktu untuk menjelaskan padamu, karena kita harus keluar dari sini sebelum kedua pria gila itu sadar," ujar Tiffani.


Dylan mengangguk setuju. "Kamu benar, tapi bagaimana caranya? Rumah ini dipenuhi dengan bodyguard bersenjata. Aku tidak mungkin bisa melawan mereka semua." Dylan terlihat sangat kebingungan.


Tiffani mengerti akan kebingungan yang Dylan rasakan. Mereka memang tidak mungkin bisa keluar dari dalam rumah itu, walaupun seandainya mereka memiliki pistol, tetap saja mereka berdua tidak mungkin bisa melawan puluhan bodyguard di luar sana, apalagi kondisinya sedang tidak sehat seperti sekarang, sedangkan Dylan ... Tiffani tahu jika Dylan sama sekali tidak memiliki ilmu bela diri sedikit pun apalagi kemampuan untuk memegang pistol.


Tiffani berusaha untuk turun dari ranjang dibantu oleh Dylan yang memegangi lengannya.


"Jangan sentuh aku. Aku bisa melakukannya sendiri," ucap Tiffani.


Dylan berdecak. "Jangan keras kepala Tiffani, kalau kamu terjatuh dan kemudian kakimu terkilir, kita berdua akan semakin kesulitan."


Tiffani tidak menjawab ucapan Dylan, karena ia tahu apa yang Dylan ucapkan ada benarnya. Sekarang saja ia sudah kesulitan, apalagi kalau sampai keluhan di tubuhnya bertambah.


"Aku butuh ponsel, aku harus menelepon Om Damar atau Rama, Mereka harus tahu di mana lokasiku saat ini agar mereka bisa menyelamatkanku,"


"Dan aku." Dylan menimpali, lalu ia segera mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana dan memberikannya ke Tiffani.


Baru saja Tiffani ingin menekan nomor ponsel Rama, pintu kamar tiba-tiba saja terbuka dan lima orang bodyguard berwajah bengis masuk ke dalam kamar sambil mengacungkan senjata.


"Astaga, dari mana mereka tahu kalau bos mereka telah kita serang," gumam Dylan.


Tiffani menggeleng. "Entahlah, tapi yang jelas sekarang kita berdua telah tamat."


Dylan mengerutkan dahi dan menatap Tiffani dengan gugup. "Apa maksudmu, Tiffani?"


Tiffani membalas tatapan Dylan. "Kita akan mati saat ini juga."


(visual Dokter Dylan)



***


Mudah bagi Xavier untuk melumpuhkan dua penjaga yang berjaga di depan gerbang, walaupun kedua penjaga itu bertubuh besar dan terlihat menakutkan, tetapi hanya degan beberapa tinju dari Xavier, keduanya langsung jatuh tak sadarkan diri.


Prok, prok, prok!


"Hebat sekali. Aku kagum padamu," ucap Rama, yang menghampiri Xavier sambil bertepuk tangan.


"Apa yang kamu lakukan di sini? Bukannya kamu sedang dirawat di rumah sakit?" tanya Xavier, sambil melucuti senjata kedua bodyguard yang tidak sadarkan diri.

__ADS_1


"Aku akan menyelamatkan Tiffani." Rama menjawab dengan tegas,


Xavier memindai penampilan Rama dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Asal kamu tidak mendadak pingsan saja dan malah membuatku repot. Aku sama sekali tidak suka jika ada yang memperlambat pekerjaanku."


"Tentu tidak. Aku ini gesit walaupun sedang tidak fit," ujar Rama.


"Baiklah, kalau begitu ayo kita masuk. Siapkan senjatamu."


Rama mengangguk dan langsung mengikuti Xavier yang mulai melangkah memasuki halaman.


"Lihatlah, CCTV." Rama memberitahu Xavier bahwa terdapat CCTV di balik gerbang utama.


Xavier mengikuti arah jemari Rama, dan benar saja terdapat kamera pengintai di sana. "Biar saja, toh aku tidak berniat untuk datang secara diam-diam. Jika aku ingin datang diam-diam, aku pasti akan melewati pintu belakang bukannya pintu depan seperti ini."


Rama kembali mengangguk. "Cukup masuk akal."


Xavier tersenyum simpul, lalu menepuk bahu Rama. "Ayo, kita harus cepat."


Rama dan Xavier kemudian berlari menyeberangi halaman depan. Keduanya melumpuhkan para bodyguard yang menghalangi langkah mereka dengan mudah, hingga akhirnya mereka tiba di teras.


"Siapa kalian?" teriak seorang bodyguard yang langsung melayangkan tinju ke Rama.


Rama yang tidak menyangka akan mendapat serangan mendadak tentu saja terkena bogem mentah dari bodyguard Emanuel. Darah keluar dari hidungnya dan sudut bibir Rama, dahinya bahkan ikut berdarah karena membentur sebuah vas besar yang ada di teras.


"Rama, kamu tidak apa-apa?" tanya Xavier yang langsung menghampiri Rama dan membantu Rama untuk bangkit berdiri.



Rama mengangguk. "Aku tidak apa-apa," ujar Rama.


Rama dan Xavier seketika terkejut saat di hadapan mereka tiba-tiba saja telah berkumpul setidaknya sepuluh, sebelas, atau mungkin juga lebih bodyguar Emanuel.


Rupanya jeda sejenak saat Xavier menolong Rama dijadikan kesempatan oleh para bodyguard di sana untuk berkumpul dan mempersiapkan serangan.


"Ah, sial, ini semua gara-gara kamu." Xavier mengeluh sambil memelototi Rama.


Rama meludah, mengeluarkan darah yang menggenang di dalam mulutnya, kemudian ia menatap pria-pria bertubuh besar di hadapannya dengan kesal.


"Anggap saja pemanasan. Bodyguard lawan bodyguard" ujar Rama, lalu mulai beraksi. Ia menendang dan meninju lawannya dengan cepat, hingga baru beberapa detik saja satu orang bodyguard telah terbaring tak bergerak di lantai.


Xavier melakukan hal yang sama, ia mengayunkan kakinya dan tangannya ke sana dan kemari. Sebenarnya bisa saja ia menggunakan pistol, toh ia memiliki beberapa pistol di balik tshirt yang ia kenakan. Namun, karena Rama memulai serangan dengan mengenakan tinju dan tendangan, ia pun refleks melakukan hal yang sama.


Setelah beberapa saat berkutat dengan segerombolan bodyguard Emanuel, akhirnya Xavier dan Rama menang telak.


Rama mengusap peluh yang membanjiri wajah dan lehernya. "Sudah kubilang, kalau aku ini cekatan dan tidak akan merepotkan.


Xavier tertawa. "Tadinya aku tidak percaya, tapi sekarang aku percaya. Ayo."


Rama dan Xavier tidak mendapatkan rintangan apa pun begitu memasuki bagian dalam rumah.


"Rumah ini lebih besar daripada rumah Tiffani. Di mana kira-kira mereka menyembunyikan Tiffani?" tanya Rama pada Xavier.


"Aku tahu di mana. Ayo ikuti aku," Xavier berlari menyeberangi aula utama yang begitu luas dan tiba di depan elevator yang menuju ke lantai tiga.

__ADS_1


"Mereka ada di lantai tiga," ujar Xavier, lalu masuk ke elevator yang akan membawa mereka ke lantai tiga.


Bersambung.


__ADS_2