My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
SERANGAN


__ADS_3

Tiffani bersenandung di dalam mobil yang dikemudikan oleh Rama, ia terlihat santai, walaupun sebenarnya banyak yang mengganggu pikirannya saat ini. Ia berulang kali menatap Damar lekat-lekat, memperhatikan apakah ada gerak-gerik yang mencurigakan Dari pria tua itu, tetapi nyatanya tidak ada sesuatu yang mencurigakan yang Damar lakukan. Damar sama seperti biasanya, sibuk memeriksa data-data pada tablet saat mobil yang dikemudikan Rama meluncur mulus menuju kantor.


Setibanya di gedung perkantoran milik mendiang Richard yang sekarang telah menjadi milik Tiffani, Rama segera menghentikan mobil tepat di depan pintu masuk utama. Seorang penjaga pintu dengan cepat menghampiri mobil yang baru saja berhenti dan segera membukakan pintu untuk Tiffani dan Damar. Beberapa saat kemudian Rama menyusul dan langsung menyerahkan kunci mobil pada petugas valet.


"Ayo kita bergandengan," ujar Tiffani, sambil meraih tangan Rama, dan merapatkan tubuhnya pada pria itu.


Damar dengan cepat memukul tangan Tiffani, pukulan yang tidak keras sebenarnya, tetapi tetap saja mampu membuat Tiffani cemberut.


"Profesional-lah. Kalian sedang bekerja," desis Damar.


Tiffani mendelik ke Damar dan berkata, "Tapi dia suamiku, Om. Kalau aku tidak menempel terus padanya, bisa-bisa dia direbut perempuan lain."


Damar menggeleng mendengar ucapan Tiffani. "Siapa yang berani merebutnya darimu, hah?" tanya Damar.


"Mereka!" jawab Tiffani, sambil menatap ke dalam lobi kantor yang dipenuhi oleh karyawan-karyawan wanita yang mulai berkumpul seperti sedang menanti kedatangan seorang idol K-pop. "Mereka tahu kalau Rama adalah suamiku, tapi mereka bersikap seolah-olah Rama ini pria yang belum menikah. Menyebalkan sekali." Tiffani menggerutu.


Rama dan Damar mengikuti arah pandang Tiffani, dan benar saja lobi yang tadinya sepi tiba-tiba saja dipenuhi oleh wanita-wanita yang sibuk memandang keluar, ke tempat Rama dan Tiffani berada.


"Aku memang cukup populer, mau bagaimana lagi," gumam Rama, sambil merapikan rambutnya.


Melihat tingkah Rama, Tiffani menjadi kesal. Ia menginjak kaki Rama dengan sepatu hak tingginya sebelum ia melangkah memasuki lobi.


"Argh, sakit sekali," lirih Rama, kedua matanya berair karena menahan sakit.


Damar mengetuk kepala Rama dengan keras. "Makanya jangan cari gara-gara. Tiffani itu sensitif dan pencemburu. Bisa-bisanya kamu berkata seperti itu tepat di depannya," ujarnya, lalu segera menyusul Tiffani.


Rama mengusap kepalanya, kemudian menyusul langkah Tiffani dan Damar yang telah tiba di dalam lobi dan terlihat sedang menuju elevator.


Rama mempercepat langkahnya, ia tidak memedulikan beberapa karyawan wanita yang tersenyum padanya dan mencoba untuk mencuri perhatiannya.


"Maafkan aku," ujar Rama, saat ia berhasil menyusul Tiffani dan Damar yang telah tiba di dalam elevator.

__ADS_1


Tidak lama kemudian pintu elevator menutup dan elevator itu bergerak perlahan membawa mereka menuju lantai sepuluh di mana ruangan Tiffani berada.


"Akan aku pikirkan, apakah kamu pantas dimaafkan atau tidak," jawab Tiffani, dengan kedua mata yang memelototi Rama.


Damar lagi-lagi hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Tiffani dan Rama. Keduanya sudah cukup lama menikah, tetapi bagi Damar tingkah sepasang suami dan istri itu terkadang masih terlalu kekanak-kanakan. Keduanya sering bertengkar hanya karena masalah sepele yang tidak pantas untuk diributkan.


Ting.


Pintu elevator terbuka saat mereka tiba di lantai sepuluh. Tiffani segera keluar, disusul oleh Rama. Namun, Damar tidak turut serta. Pria itu hanya diam sambil memperhatikan layar tablet di tangannya.


"Om tidak turun?" tanya Tiffani.


Damar menggeleng. "Aku harus segera menyelesaikan berkas-berkas pembangunan hotel kita yang baru, dan setelah itu aku akan langsung ke gudang. Sore ini beberapa bahan peledak akan tiba di pelabuhan."


Tiffani mengedarkan pandangan, ia takut jika ada yang mendengar ucapan Damar.


"Jangan bicarakan hal seperti itu ketika kita sedang di kantor, Om," desis Tiffani.


Damar tersenyum. "Jangan gugup Tiffani. Tidak ada orang sekarang, dan kalau pun ada, siapa yang berani mencari tahu apa yang sedang kita bicarakan," ujar Damar.


Damar menghela napas. "Baiklah, aku akan lebih hati-hati. Aku pergi dulu kalau begitu. Jaga Tiffani dan kabari aku jika terjadi sesuatu, Ram."


Rama mengangguk. "Siap."


Pintu elevator kembali menutup di hadapan Tiffani dan Rama.


"Ayo, aku antar ke ruanganmu." Rama menggenggam tangan Tiffani dan menuntun wanita itu hingga tiba di dalam ruangan yang begitu luas dan elegan, ruangan seorang pemimpin perusahaan.


Tiffani segera duduk di kursi berlengan yang ada di hadapan meja kerja berukuran besar, ia memperhatikan berkas-berkas yang menumpuk di atas meja dengan tatapan hampa, sementara Rama melangkah menuju jendela kaca yang ada di ruangan itu. Rama mengedarkan pandangan, memperhatikan gedung pencakar langit yang ada di seberang gedung perkantoran milik Tiffani.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Tiffani, saat ia melihat Rama menuju salah satu lemari penyimpanan dan mengambil teropong dari salah satu rak.

__ADS_1


"Seperti biasa. Aku memeriksa." Rama menjawab singkat, lalu mulai sibuk dengan teropongnya yang terarah ke gedung-gedung yang terletak jauh di depannya.


Tiffani bangkit berdiri, lalu menghampiri Rama, dan tanpa ragu ia memeluk Rama dari belakang. "Apa kamu pikir akan ada seseorang yang mengintaiku dari salah satu gedung yang ada di sana, hah?"


Rama memiringkan kepalanya agar dapat menatap Tiffani. "Penembak runduk biasanya ditempatkan di gedung-gedung tinggi. Tidak jarang bahkan mereka mengintai targetnya dari atas atap gedung yang paling tinggi."


Tiffani mengangguk. "Ya, aku tahu, tapi kamu tidak mengira bahwa ada penembak runduk di depan sana, 'kan? Siapa juga yang mau repot-repot mengirim penembak runduk untuk membu-nuhku."


Rama menghela napas, lalu berbalik dan memeluk pinggang ramping Tiffani. "Mungkin kamu tidak menyadarinya, Tiffani, tapi situasi kita sedang genting saat ini. Semalam kita baru saja menggagalkan transaksi besar, percaya atau tidak, aku yakin sekali jika siapa pun pemimpin dari kelompok yang semalam kita rugikan pasti akan menyerang balik. Mereka tidak mungkin diam saja. Mereka rugi jutaan dolar."


Tiffani kembali mengangguk. "Ya, aku juga tahu itu. Sebenarnya aku juga merasa gelisah sejak semalam, tapi ada hal lain yang membuatku merasa lebih gelisah lagi, Rama."


"Apa itu?" tanya Rama.


"Gracella. Lebih tepatnya pendapat Gracella dan Sela. Mereka berdua berpikir bahwa Om Damar adalah dalang di balik pencurian besar-besaran yang terjadi di gudang kita. Gracella bahkan mengirim Sela dan Johan untuk melakukan penyelidikan diam-diam."


Hening sejenak. Baik Rama maupun Tiffani tidak ada yang bicara. Namun, keduanya terlihat sedang memikirkan hal yang sama, yaitu sebesar apa kemungkinan Damar untuk berkhianat.


"Sebenarnya aku pun sepemikiran dengan mereka," ujar Rama setelah beberapa saat.


Tiffani mendengkus dan mencubit pinggang Rama dengan keras. "Sadarlah, Rama, apa yang kamu katakan barusan bukan hal yang bisa dijadikan bahan candaan."


"Kenapa kamu berpikir kalau aku bercanda? Banyak kejanggalan yang terjadi, Tiffani, hanya saja aku belum berusaha untuk mengungkapnya, karena aku takut akan melukai perasaan Xavier. Biar bagaimana pun juga Om Damar adalah paman Xavier."


Tiffani menggeleng, "Dia Om Damar. Dia asisten kepercayaan ayahku. Dia tidak mungkin berkhianat."


Rama mengusap rambut panjang Tiffani dengan lembut, kemudian ia berkata. "Tidak sedikit orang yang setia berubah menjadi serakah ketika seseorang itu memiliki kuasa lebih daripada sebelumnya. Dan aku rasa hal itulah yang sedang terjadi pada pada Om Damar."


Tiffani menggeleng, ia masih tidak percaya jika Damar yang baik hati berubah menjadi seorang pengkhianat. Baru saja Tiffani membuka mulut hendak membantah penilaian Rama, tiba-tiba terdengar suara kaca yang pecah, dan dengan gesit Rama menjatuhkan tubuhnya bersama dengan Tiffani ke lantai.


Tiffani terkejut. Tubuhnya tiba-tiba gemetar dan keringat dingin mulai membasahi kulitnya.

__ADS_1


"Kamu benar, Rama, ada penembak runduk di salah satu gedung itu."


Bersambung.


__ADS_2