My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
PELAJARAN UNTUK DARREN


__ADS_3

Rama terjaga semalaman di samping Richard. Tidak sedetik pun mata pria itu terpejam. Rasa kantuk seolah-olah enggan menghampiri Rama yang merasa amat galau semalaman, bagaimana tidak jika pujaan hati Rama memutuskan untuk mengakhiri hubungan, padahal selama ini Rama telah banyak menaruh harap pada hubungan mereka.


Rama berharap dapat hidup berdua hingga tua, saling mengisi dan saling melengkapi kekosongan satu sama lain, saling mendukung dan saling mencintai bagaimana pun keadaan mereka.


Akan tetapi, semua harapan itu sirna dengan satu kalimat yang keluar dari bibir Tiffani semalam, dan seketika hati Rama menjadi patah. Ia sakit dan kecewa, hingga saat ini ia tidak merasakan apa pun lagi, atau lebih tepatnya ia tidak ingin merasakan apa pun, selain rasa putus asa yang bergelayut di dadanya.


Suara derit pintu yang terbuka membuat Rama siaga. Ia bangkit berdiri, berharap Tiffani-lah yang keluar dari dalam kamar, tetapi ternyata bukan. Bukan Tiffani yang muncul, melainkan Pak Damar dan Dokter Steve.


"Rama," ujar Dokter Steve. "Kamu sakit?" tanya Dokter Steve, begitu ia melihat wajah Rama yang terlihat pucat, ditambah dengan lingkar hitam samar di bawah matanya membuat Rama memang terlihat seperti orang yang sedang sakit parah.


"Tidak, Dok, aku baik-baik saja," jawab Rama, sembari menyingkir dari hadapan Richard, agar Dokter Steve dan Damar dapat berdiri tepat di samping Richard. "Apa yang terjadi, hingga Anda datang ke sini pada tengah malam begini, Pak Damar?" tanya Rama.


Damar menaikkan sebelah alisnya sembari menatap tajam Rama. "Malam katamu? Lihatlah sudah jam berapa sekarang," ujar Damar sembari menunjuk jam yang menggantung di dinding.


Rama mengikuti arah telunjuk Damar, dan ia sedikit terkejut saat ia melihat jarum pendek jam tersebut telah bertengger santai di angka delapan.


"Kamu tidak sadar kalau sekarang ini sudah pagi?" tanya Damar.


Rama mengangguk. "Maafkan aku, Aku pikir sekarang masih malam."


Damar mengelus dagunya, ia sedang memikirkan apa yang terjadi pada Rama hingga pria itu terlihat tidak bersemangat dan lesu sekali.


"Apa Tiffani masih tidur?" tanya Damar.


Rama mengangguk. "Sepertinya begitu."


"Bangunkan dia dan ajak dia kembali ke rumah. Aku rasa dia belum sarapan, dia juga perlu berganti pakaian," titah Damar.


Begitu Damar selesai memberi perintah, Rama segera keluar dari dalam kamar Richard dan menghampiri kamar ya g terletak tepat di samping kamar Richard untuk membangunkan Tiffani.


Rama mengetuk pintu kamar tersebut. Sekali, dua kali, Tiffani tidak menjawab. Rama mengetuk sekali lagi, tetapi masih tidak ada jawaban.


"Aku akan masuk, Tiffani, jika kamu tidak menjawab panggilanku," ujar Rama.


Ram menunggu sejenak, sambil kembali mengetuk beberapa kali, saat Tiffani tidak kunjung membuka pintu kamar, Rama pun segera menerobos masuk ke dalam kamar tersebut, dan ia sangat terkejut saat ia mendapati kamar tersebut ternyata telah kosong. Tiffani tidak ada di dalam kamar itu. Ranjang yang terdapat di dalam kamar tersebut bahkan telah rapi, seolah si penghuni kamar telah membersihkannya sejak beberapa jam yang lalu.


Rama segera keluar dari dalam kamar dan melangkah dengan cepat menyeberangi ruang tamu mini untuk menuju ke pintu keluar. Sesampainya di luar, Rama langsung berhadapan dengan Adam dan beberapa penjaga yang berjaga.


"Di mana Tiffani?" tanya Rama, pada semua penjaga yang ada di luar ruangan. Suaranya terdengar begitu khawatir, ia takut jika terjadi sesuatu pada Tiffani.


"Nona sudah keluar sejak tadi. Kamu tidak tahu?" tanya Adam, keheranan.


"Ke mana?" tanya Rama lagi


"Entahlah, tapi dia pergi dengan Mona."


Rama tidak membuang waktu, ia segera berlari menyusuri koridor menuju elevator yang ada di sudut koridor tersebut.


Setelah kepergian Rama, Damar muncul di ambang pintu.


"Jadi Tiffani sudah keluar sejak tadi, dan Rama tidak menyadari jika Tiffani tidak ada?" tanya Damar pada Adam.


"Ya, Pak Damar. Nona telah keluar sejak satu jam lalu, aku pikir Rama tahu, tapi ternyata tidak."


Damar berdecak. "Parah sekali si Rama, kenapa dia jadi tidak fokus begitu."


"Mungkin dia kelelahan, Pak. Rama tidak memiliki banyak waktu istirahat sejak kemarin. Dia menjalankan dua misi sekaligus dalam satu hari, jadi wajar jika dia kelelahan."


Damar menepuk dahinya dengan keras. "Oh, iya, benar, aku bahkan melupakan hal itu. Apa kemarin Rama berhasil mendapatkan rekaman yang ada di ponsel Burhan Lubis?" tanya Damar pada Adam.


Adam menggeleng. "Aku tidak tahu, Pak, kan kemarin aku tidak jadi ikut dalam misi itu."


"Ah, iya, benar juga. Aku akan tanya pada Rama nanti saja kalau begitu. Sekarang berjagalah dengan benar, dan cepat beritahu aku jika Rama atau Tiffani yang datang, oke,"


Adam mengangguk. "Siap, Pak."

__ADS_1


Setelah memastikan Rama dan Tiffani tidak ada lagi di dalam ruang rawat tersebut, Damar kembali masuk ke dalam kamar Richard dan langsung menelepon layanan pesan antar terpercaya untuk memesankan makan untuk Richard.


"Mereka sudah pergi," ujar Damar, pada Dokter Steve.


Richard yang mendengar hal itu langsung membuka mata dan segera bangkit perlahan dari posisi berbaringnya.


"Di mana Rama? Apa dia baik-baik saja? Aku rasa dia tidak tidur semalaman." Richard langsung menanyakan keadaan Rama, begitu ia telah sadar dari koma pura-pura yang ia jalankan.


"Dia baik-baik saja, dan aku rasa dia bukannya tidak tidur semalaman, tetapi dia tidur dengan sangat pulas sampai-sampai dia tidak tahu kalau Tiffani sudah keluar dari kamar sejak satu jam yang lalu." Damar menjawab.


Richard menggeleng. "Itu tidak benar.Aku lihat sendiri kalau Rama tidak tidur semalaman. Dia hanya duduk melamun. Kasihan sekaki dia, semu gara-gara putriku. Aku setengah mati membuatnya kembali pada Rama, tetapi dia malah memutuskan hubungan dengan Rama begitu saja. Jelas jika Rama patah hati.


Damar terkejut mendengar penjelasan dari Richard. "What?! Mana mungkin Tiffani melakukan hal itu. Tiffani sangat mencintai Rama, mana mungkin tiba-tiba Tiffani memutuskan hubungan begitu saja dengan Rama. Apa jangan-jangan ada pria lain yang membuat Tiffani jatuh cinta?"


Richard mendelik ke Damar. Ia menatap Rama dengan kesal. "Putriku bukan wanita seperti itu, Damar. Mana mungkin dia meninggalkan Rama karena jatuh cinta pada Pria lain."


"Lalu, karena apa coba?"


"Tiffani memutuskan untuk tidak menjalin hubungan dengan siapa pun, dia juga memutuskan untuk tidak melahirkan anak yang sedang dia kandung. Itulah yang kudengar semalam. Tiffani mengucapkan semuanya langsung di hadapan Rama. Tiffani tidak ingin menjalankan hubungan rumah tangga sementara di sisi lain dia juga harus meneruskan bisnis yang kujalani selama ini," ujar Richard.


"Tapi kenapa, Tuan? Apa masalahnya?" tanya Damar.


Richard menghela napas. "Tiffani bilang kalau dia tidak ingin menjalani hidup dengan rasa takut setiap harinya, sama halnya seperti yang sekarang ini aku jalani. Dia tidak ingin kehilangan anak atau suaminya seperti dia kehilangan ibunya." Richard mengakhiri penjelasannya sembari mengusap sudut matanya yang mulai basah.


Damar menghampiri Richard dan menyerahkan selembar tisu ke pria tua itu. "Sepertinya kematian Nyonya besar masih menyisakan trauma yang begitu dalam bagi Tiffani."


Richard mengangguk. "Aku tidak bisa menyalahkannya, karena semua trauma yang dia rasakan. Aku akui atau pun tidak, semua itu memang salahku."


"Semua sudah berlalu, Tuan. Memang semua kejadian saat itu sangat mengerikan, tetapi tidak ada gunanya menyesalinya saat ini."


"Ya, Pak Richard. Aku yakin putri Anda akan kembali mengubah keputusannya jika dia sudah merasa lebih tenang. Dia sedang hamil sekarang, dan emosi ibu hamil memang tidak stabil. Anda harus menjaga kondisi Anda agar tidak drop," ujar Dokter Steve.


"Terima kasih atas perhatian Anda, Dokter Steve," ucap Richard. "Oh, ya, Damar aku akan sadar nanti malam. Aku harus memperbaiki kesalahan yang terjadi. Jika Tiffani memang tidak ingin menjalankan bisnisku, maka aku tidak akan memaksanya. Dia harus menikah dengan Rama bagaimana pun caranya. Aku tidak ingin putriku masih sendirian setelah kepergianku."


"Baik, Tuan, lakukan apa yang menurut Anda baik bagi Anda dan Tiffani," ucap Damar, dengan suara yang tercekat.


Tiffani memutuskan untuk berjalan-jalan ke sebuah pusat perbelanjaan bersama dengan Mona. Ia ingin memberikan hadiah untuk Johan dan Sela. Sebuah hadiah yang menandakan bahwa keduanya saling mencintai.


Memang hal itu tidaklah penting, tetapi Tiffani sedang tidak memiliki kegiatan menarik hari ini, maka berbelanja adalah kegiatan yang ia pikir akan membuatnya sedikit lebih rileks.


"Untuk apa kamu membelikan mereka berdua hadiah? Bukankah agak berlebihan? Kalian kan tidak dekat," tanya Mona, saat ia memperhatikan Tiffani yang sedang memilih-milih barang-barang couple yang berwarna serba merah muda.


"Aku tidak tahu mau beli apa," jawab Tiffani singkat.


"Kamu kan bisa membelikan sesuatu untukku." Mona mengedipkan matanya dengan genit.


"Kamu sudah sering kubelikan."


"Kalau begitu kamu bisa membelikan sesuatu untuk Rama."


Mendengar nama Rama disebut seketika kedua mata Tiffani berembun. "Kami putus."


"What the ... tapi kenawhy, Tiffani? Kenapa kalian bisa putus, hah? Rama selingkuh?"


Tiffani menggeleng. "Tidak."


"Lalu bagaimana dengan si bayi. Kamu tetap memutuskan untuk menjadi single mom?"


"Aku akan menggugurkan bayi ini," jawab Tiffani, lagi-lagi dengan sangat singkat dan tanpa penjelasan.


Jawaban Tiffani yang begitu tidak terduga membuat Mona sangat terkejut. Ia bahkan sampai tidak sengaja menjatuhkan beberapa gelas couple yang dapat diukir dengan nama pasangan masing-masing.Sekarang lantai keramik di toko tersebut penuh dengan serpihan kaca.


Seorang pegawai toko langsung menghampiri Tiffani dan Mona. Wajahnya yang jutek membuat Mona menjadi kesal, padahal memang Mona lah yang salah.


"Aku akan bayar semuanya, sekaligus biaya bersih-bersihnya, ujar Tiffani, mengeluarkan uang cash sebanyak dua juta dari dalam tasnya.

__ADS_1


" Ini terlalu banyak, Kak, gelas yang pecah hanya empat buah," ucap si pegawai toko.


"Tenang saja. Aku mafia, aku punya uang yang banyak," ucap Tiffani, dengan ekspresi wajah yang datar, sehingga orang yang mendengar ucapan Tiffani pasti tidak akan menganggap serius ucapan gadis itu.


Setelah menyerahkan uang ke pegawai toko, Tiffani segera keluar dari dalam toko tanpa membeli apa pun.


"Dia pasti kebanyakan baca novel mafia," gumam si pegawai toko saat Tiffani sudah berlalu dari hadapannya.


Tiffani dan Mona kembali berjalan tanpa tujuan di dalam pusat perbelanjaan. Sesekali Tiffani berhenti hanya untuk melihat-lihat, tetapi kemudian ia melanjutkan langkah dengan enggan. Tiffani terlihat sangat tidak bersemangat.


"Apa yang terjadi, Tiffani. Kenapa kamu putus dengan Rama? Kamu sudah tidak menyukainya lagi?" tanya Mona, yang masih penasaran.


"Apa aku terlihat akan berhenti menyukainya?" Tiffani balik bertanya.


Mona menggeleng. "Tidak. Itulah sebabnya aku sangat bingung."


Tiffani baru saja akan menjawab ucapan Mona, tetapi tidak jadi karena seorang pria berlari ke arahnya.


Tubuh Tiffani menegang saat ia melihat pria tersebut mendekat. Namun, Tiffani tidak menunjukan rasa takutnya. Ia telah berhasil menghadapi sekumpulan Mafia berbahaya beberapa malam lalu, hingga rasanya menghadapi si bajingan Darren tidaklah terlalu membuatnya ketakutan.


"Tiffani. Aku senang sekali bisa bertemu denganmu di sini," ucap Darren, begitu ia telah tiba di hadapan Tiffani.


Tiffani tersenyum miring sambil memutar bola matanya dengan malas. Ia berusaha memperlihatkan pada Darren bahwa ia sangat membenci pria itu.


"Jadi, kamu sudah sembuh. Sayang sekali kamu tidak mati," ujar Tiffani.


Darren berdecak. "Hanya siksaan kecil seperti itu tidak akan membuat nyawaku melayang, Tiffani," ucap Darren, ia terlihat jelas sekali mengejek tindakan yang dilakukan Richard beberapa waktu lalu.


Tiffani kembali tersenyum sinis, kali ini lebih sinis dari sebelumnya. "Aku lupa kalau iblis memang sulit untuk mati. Tapi memang kuakui kalau aku sangat menyesal pada tindakan ayahku. Ayahku masih memiliki hati nurani, sehingga dia hanya melakukan siksaan kecil padamu dan ayahmu, tapi aku tidak seperti itu Darren. Aku pastikan akan membuat separuh jiwamu mati. Tunggu saja tanggal mainnya."


"Wow, wow, wow, aku ketakutan., sungguh takut sekali," ujar Darren, sembari tertawa terbahak-bahak. "Tapi, Tiffani, kamu tidak akan bisa menyakitiku karena kamu akan membutuhkanku. Aku dengar kamu sedang mengandung anakku sekarang." Darren mengedipkan sebelah matanya ke Tiffani.


Tiffani terkejut karena Darren mengetahui hal itu. Namun, Tiffani segera mengatasi keterkejutannya dan kembali memasang wajah datar. Ia lalu memilih untuk meludahi wajah Darren, tindakan yang sebelumnya belum pernah Tiffani lakukan pada siapa pun, dan tentu saja tindakan Tiffani itu membuat Mona terkejut, karena Tiffani-nya yang begitu lemah lembut tiba-tiba saja berubah menjadi begitu mengerikan.


"Sial. Beraninya kamu!" Darren mengangkat tangannya tinggi-tinggi untuk menampar Tiffani, tetapi Tiffani lebih cepat daripada Darren, Tiffani segera menampar wajah Darren dan menendang alat kelamin Darren hingga Darren jatuh tersungkur di lantai.


"Dasar ******!!" teriak Darren,sambil memegangi ***********.


Suara teriakan Darren yang begitu keras tentu saja menarik perhatian para pengunjung pusat perbelanjaan dan juga petugas keamanan.


"Ada apa ini?" tanya seorang petugas.


Darren langsung menunjuk Tiffani. "Perempuan ****** itu menyiksaku. Bisa-bisanya di menendang senjataku!" teriak Darren.


Si petugas langsung beralih menatap Tiffani yang terlihat tidak merasa bersalah sama sekali.


"Benar apa yang dia katakan?" tanya petugas keamanan itu.


Tiffani mengangguk. "Ya, benar. Tapi, aku tidak akan mungkin melakukan hal itu jika saja dia tidak terus-terusan memintaku untuk melihat ***********, Dia bahkan memintaku untuk meremas ***********!" seru Tiffani.


Mona mendukung pernyataan Tiffani dengan cara mengangguk dan berkata, "Bahaya sekali jika pria pengidap kelainan seperti dia ini berkeliaran di tempat umum. Memangnya semenarik apa burungnya sampai-sampai dia pede sekali meminta temanku untuk melihat dan meremas burungnya. Aku saja yang tidak sengaja melihat sekilas sama sekali tidak tertarik. Jujur saja aku melihat panu di bagian ujungnya."


Mata Darren membelalak dan mulutnya terbuka lebar begitu mendengar kebohongan Tiffani dan Mona.


Sementara itu petugas keamanan dan juga pengunjung pusat perbelanjaan yang sedang berkumpul sekarang terlihat murka. Mereka semua menatap Darren yang masih terduduk di lantai dengan tatapan marah.


"Itu pelecehan namanya!" teriak salah seorang ibu-ibu berdaster sambil melempar Darren dengan sandal yang ia kenakan.


"Tidak! Gadis itu bohong. Aku tidak seperti itu." Darren berkilah.


Akan tetapi, percuma saja Darren membela diri. Pengunjung pusat perbelanjaan sudah terlanjur marah karena ucapan Tiffani dan Mona.


Petugas keamanan bahkan harus menjauhkan para ibu-ibu yang sekarang sedang mengeroyok Darren.


"Tenang, mohon tenang. Jangan main hakim sendiri, kami pasti akan mengamankan laki-laki mesum ini," teriak si petugas keamanan, sambil berusaha membawa Darren menuju ruang kontrol untuk kemudian diserahkan ke pihak berwajib

__ADS_1


Saat kericuhan sedang terjadi, Tiffani dan Mona dengan cepat menghindar. Mereka tidak ingin terlibat lebih jauh lagi dan kembali berurusan dengan Darren.


Bersambung.


__ADS_2