My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
Permohonan Maaf


__ADS_3

Saat keduanya selesai sarapan pagi bersama, dua pelayan tiba-tiba datang. Mereka mengatakan jika ada tamu yang ingin sekali menemui Valerie.


"Siapa yang bertamu sepagi ini?" tanya Theo. Laki-laki tua itu tidak merasa sedang menunggu seseorang atau membuat janji dengan seseorang. Terlebih, pelayannya mengatakan jika tamu itu ingin menemui Valerie, yang baru saja tinggal di rumah ini semalam.


"Itu, Tuan. Orang tua dari calon tunangan Nona Elena," jawab salah seorang pelayan. Mendengar hal itu, Theo dan Valerie saling pandang. Mereka bergegas meninggalkan meja makan dan menuju ruang tamu.


Saat sampai di ruang tamu, Valerie melihat kedua orang tua Brian duduk bersebelahan di kursi ruang tamunya. Valerie menggandeng sang kakek menuruni anak tangga dan mendekati mereka.


"Tuan Theo," sapa Calvin. Ia dan sang istri langsung bangkit dari tempat duduknya dan menunduk sopan.


"Duduklah," ucap Theo. Ia dan Valerie duduk di kursi lain yang berhadapan dengan Calvin dan juga Rossa.

__ADS_1


"Jadi, maksud kedatangan kami adalah ... untuk meminta maaf pada Valerie, cucu anda, Tuan," ucap Calvin. Terlihat jelas bahwa laki-laki paruh baya itu sedang gugup, keringat dingin menetes dari dahinya meski cuaca sedang sejuk.


Theo menarik napas dalam-dalam. Ia jelas tahu tentang apa yang sudah diperbuat Calvin kepada Valerie hingga Valerie di usir dari rumah kosnya. Theo juga sangat memahami sifat Calvin yang tamak dan selalu memandang rendah orang-orang di sekitarnya.


"Tuan Calvin, sejujurnya saya marah dengan sikap anda selama ini. Saya kecewa karena anda begitu memandang rendah cucu saya hanya karena saat itu dia adalah wanita sederhana yang tidak setara dengan keluarga anda!" jelas Theo.


Mendengar hal itu, wajah Calvin dan Rossa berubah pias seketika. Mereka benar-benar merasa malu dengan apa yang sudah mereka lakukan selama ini. Sementara Valerie, ia hanya bisa duduk di samping sang kakek sambil mengusap lengan laki-laki tua itu agar tetap tenang.


"Lalu saat ini, anda datang memohon maaf setelah mengetahui bahwa Valerie adalah cucu saya. Itu sangat menunjukkan watak asli anda jika anda hanya peduli pada kedudukan dan kekayaan. Anda benar-benar mengabaikan perasaan putra semata wayang anda yang benar-benar tulus mencintai cucu saya!"


"Apakah terbaik itu artinya kaya raya dan berkuasa? Bukankah wanita baik itu dilihat dari sikap dan tutur katanya serta kepribadiannya?" tanya Theo. Calvin dan Rossa bungkam, keduanya tidak tahu bagaimana lagi harus membela diri.

__ADS_1


"Saya sangat kecewa," ucap Theo lirih.


Spontan, Calvin melorot dari kursi. Ia duduk berlutut di lantai sambil menundukkan kepala.


"Maafkan saya, Tuan. Maafkan kami," ucapnya.


Valerie memandang kakeknya, memohon pada sang kakek dengan memberi isyarat melalui tatapan matanya. Valerie tahu kakeknya sangat marah, kesal, juga kecewa. Namun, Valerie merasa jika penyesalan mereka saja sudah cukup. Tidak perlu lagi memperpanjang masalah yang telah sudah.


Valerie bangkit dari tempat duduknya, ia mendekati Calvin dan membantu laki-laki paruh baya itu bangkit.


"Jangan seperti ini, Tuan. Duduklah," pinta Valerie dengan sopan.

__ADS_1


Siapapun pasti akan marah jika tahu bahwa orang yang amat disayangi telah dihina, di rendahkan, bahkan di umpat karena tidak jelas asal usulnya dan bukan berasal dari kalangan orang berada. Namun bagaimanapun, Theo tidak boleh bersikap buruk pada kedua orang tua Brian. Karena hal itu juga akan menyakiti hati Valerie.


🖤🖤🖤


__ADS_2