My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
MEMPERMALUKAN DARREN


__ADS_3

Tidak ada hal yang lebih buruk daripada saat ini. Belum pernah sekali pun Darren dipermalukan separah ini hingga rasanya ia ingin menghilang dari muka bumi saat ini juga.


Orang-orang yang menonton bukannya tidak ingin menolong Darren, siapa coba yang akan memilih untuk diam saja saat melihat putra dari CEO perusahaan tempat mereka bekerja dipermalukan seperti itu tepat di tengah lobi.


Akan tetapi, sebuah papan pemberitahuan yang berdiri tepat di depan Darren membuat mereka semua tidak melakukan apa pun selain menonton pertunjukan gratis yang tersaji di depan mereka.


MENOLONG SAMA SAJA DENGAN MENCARI MATI.


MENGHUBUNGI POLISI SAMA SAJA DENGAN MENCARI MATI!


Seperti itulah tulisan yang tercetak tebal menggunakan cat merah pada papan berukuran sedang yang dipasang tepat di depan Darren. Peringatan semacam itu sangat serius dan menakutkan bagi semua karyawan yang sudah terbiasa hidup tenang dan jauh dari gangguan penjahat, Itulah sebabnya tidak ada sama sekali yang berani mengambil resiko untuk menolong Darren.


Di kejauhan, Rama dan Adam tersenyum puas. Rama yang sejak tadi berbicara pada Darren melalui headset bluetooth yang terpasang di telinganya kini mulai mengedarkan pandangan, mencari sosok Sapta Adiguna yang pasti akan langsung menyelamatkan Darren begitu melihat Darren yang terikat tak berdaya di tengah lobi.


"Ayahnya belum juga tiba," gumam Rama, yang terlihat gelisah.


Adam memandang samping, ke arah Rama. "Mungkin sebentar lagi, sekarang belum juga jam delapan," ucap Adam.


Rama mengangguk, kemudian kembali mengedarkan pandangan ke sekitar lobi, mengawasi rekan-rekannya yang tersebar di beberapa titik. Ia dapat melihat Andi yang duduk di sebuah kursi tunggu tanpa sandaran, sehingga Andi harus menyandarkan tubuhnya di dinding. Kemudian tidak jauh dari Andi, Rama juga dapat melihat Anton dan Willi yang sedang mengepel lantai. Anton dan Willi memang terpaksa harus menyamar menjadi office boy, karena akan sangat mencurigakan jika terlalu banyak orang asing yang berkeliaran di lobi di waktu yang sepagi ini. Sedangkan Rei dan Mario bersembunyi di sudut dekat elevator.


"Mereka pasti lelah, apa tidak sebaiknya kita kirim mereka kembali ke markas saja? Toh tidak ada yang harus kita lakukan sekarang selain mengawasi Darren hingga ayahnya tiba." Rama memberi saran, ia memang merasa kasihan pada teman-temannya yang harus terlibat dalam misi ini, padahal pada awalnya hanya dirinyalah yang ingin memberi Darren pelajaran.


Adam menggeleng, dengan cepat ia menolak usulan Rama. "Ingat, kita masih harus melakukan negosiasi, dan saat sedang bernegosiasi dengan Sapta tidak ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi. Bisa saja Sapta Adiguna diam-diam membawa pasukan khusus, jadi aku rasa berjaga-jaga akan lebih baik." Adam mengemukakan alasannya yang cukup masuk akal.


Rama tertawa. "Pastikan khusus apanya, berlebihan sekali."


Adam berdecak sambil menatap Rama dengan tajam. Menurut Adam, Rama sudah banyak berubah, walaupun kemampuan bertarung Rama masih sama seperti dulu, tapi pria itu tidak lagi bijaksana dalam menarik sebuah kesimpulan dan terlalu tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Padahal Rama yang dulu ia kenal sangat penuh pertimbangan, dan bijaksana di setiap kesempatan.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Rama, saat ia menyadari jika Adam terus menatapnya tanpa berkedip.


Adam menggeleng, kemudian mengalihkan pandangan dari wajah Rama. "Tidak ada apa-apa, hanya saja aku merasa kamu sedikit aneh sekarang."


Rama menghela napas. "Aneh bagaimana? Apa aku terlihat seperti satria baja hitam sekarang atau barangkali aku terlihat seperti spiderman ?" tanya Rama.


Adam terkekeh. "Tentu tidak. Kamu tidak berubah secara fisik, tapi sikapmu agak sedikit berbeda. Sepertinya pikiran telah dikacaukan oleh cinta, cinta yang kacau!" Adam berdesis, sambil mengerjap berulang kali.


Rama tertawa ketika mendengar apa yang Adam ucapkan. "Kenapa kamu terdengar begitu melankolis? Sangat tidak cocok untukmu, Adam. Bersikaplah biasa seperti sebelumnya, jangan sok menjadi pujangga."

__ADS_1


"Tapi, itu benar, 'kan?" Adam mendesak.


Rama diam sejenak sebelum akhirnya ia mengangguk. "Sedikit banyak Tiffani memang telah mengacaukan otakku. Aku bahkan mengalami insomnia sejak aku menjalin hubungan dengannya, dan insomnia yang kuderita semakin parah ketika aku putus dengannya."


"Sudah kuduga. Terlibat cinta pada majikan atau rekan kerja memang akan membuat kita menjadi kurang profesional. Tapi, aku adalah pengecualian, tidak ada kegiatanku yang kacau balau walaupun aku berhubungan dengan Mona," ucap Adam dengan penuh percaya diri.


Rama tersenyum simpul. "Ya, kamu adalah yang paling profesional di seluruh jagad raya,” sahut Rama, sambil melayangkan tinju ke dada Adam.


Keduanya kemudian tertawa, tetapi tawa Adam dan Rama terhenti seketika saat mereka melihat rombongan yang baru saja memasuki lobi. Rombongan itu terdiri dari sedikitnya delapan orang, yang semuanya berpakaian serba hitam, kecuali pria yang berjalan paling depan, yang sepertinya adalah pemimpin dari rombongan tersebut. Pria itu adalah Sapta Adiguna, ia terlihat begitu mencolok dan berbeda karena warna setelan jas yang ia jknakan terlihat amat cerah dan norak.


" Sst, aku rasa itu Sapta." Adam menyikut Rama yang berdiri di sebelahnya.


Rama menyipitkan mata, berusaha memfokuskan pandangan pada sosok yang melangkah dengan cepat menuju tempat Darren terikat.


"Aktifkan headsetmu," perintah Adam, pada Rama.


Rama mengangguk, dan segera menyentuh headset bluetooth yang terpasang di telinganya agar ia dapat mendengar percakapan antara Darren dan Sapta.


"Oke kalau begitu kamu terus awasi dia, sementara aku akan menghubungi Pak Damar," ujar Adam lagi, sambil menepuk pundak Rama.


Rama kembali mengangguk, dan membiarkan Adam menjauh darinya untuk menghubungi Damar, sementara ia mulai fokus pada tugasnya, yaitu mengarahkan Darren agar mengikuti perintahnya.


***


Sapta Adiguna semakin mempercepat langkahnya saat ia melihat Darren yang terikat tak berdaya pada sebuah kursi di tengah lobi. Sapta meringis begitu ia telah tiba di hadapan Darren. Penampilan Darren sangat parah dan memalukan membuat Sapta menjadi geram pada siapa pun yang telah mempermalukan putranya separah ini


"Kurang ajar, siapa yang berani melakukan hal ini padamu, Darren?!" seru Sapta, suaranya yang lantang seketika menggema di setiap sisi lobi.


"Mana aku tahu, Pak tua!" jawab Darren.


Kalimat yang keluar dari bibir Darren tentu saja membuat Sapta terkejut, karena sebelumnya Darren tidak pernah memanggilnnya dengan julukan yang begitu sangat tidak sopan.


"Darren, apa yang kamu katakan barusan, hah?"


"Apa kamu tuli, sampai-sampai kamu tidak mendengar apa yang aku ucapkan! Dasar berandal."


Darren menelan saliva sebelum mengucapkan kalimat yang baru saja tertangkap oleh gendang telinganya.

__ADS_1


"Ayo, katakan. Jika tidak, maka rekanku akan menembakmu sekarang juga. Mereka ada di sekitarmu sekarang, aku tidak main-main."


"Apa kamu tuli, sampai-sampai kamu tidak mendengar apa yang aku ucapkan! Dasar berandal." Darren meneriaki Sapta di depan banyaknya karyawan yang sekarang tengah berkumpul di lobi, karena ia tidak ingin mati tertembak begitu saja.


"Darren!" Sapta berseru sambil melanjutkan langkah untuk mendekat ke Darren.


"Menyingkirlah, Ayah, aku sedang buat konten, jangan merusak alur cerita yang telah kubuat!"


Darren menggeleng begitu mendengar ucapan Rama yang sejak tadi memberi perintah tidak masuk akal padanya. Karirnya dan kedudukannya sebagai penerus kerajaan bisnis ayahnya pasti hancur sekarang jika ia mengatakan apa yang Rama perintahkan. Mana ada penerus sebuah perusahaan besar membuat Konten yang begitu sangat memalukan.


"Aku harus menembakmu sepertinya," ujar Rama, saat Sapta tidak menurut.


Tidak butuh waktu lama, segera setelah melontarkan ancaman dari Rama, Darren langsung mengatakan apa yang Rama pinta.


"Menyingkirlah, Ayah, aku sedang buat konten, jangan merusak alur cerita yang telah kubuat!" seru Darren.


Sapta tersentak, ia terlihat sangat terkejut, begitu juga dengan semua orang yang ada di sana.


Bisik-bisik karyawan yang menyaksikan tindakan Darren kemudian berdengung memenuhi udara di sekitar lobi.


"Konten? Dia mempermalukan dirinya seperti ini hanya demi konten," seru salah seorang karyawan.


"Dia kan penerus Pak Sapta. Kenapa dia tidak dewasa sama sekali dan begitu kekanakan."


"Gila! Jadi, semua ini hanya konten


"Konten macam apa yang dia buat, astaga."


Bisik-bisik sumbang terus terdengar hingga ke telinga Sapta, dan membuat Sapta meradang.


Kini pria tua itu hanya diam bagai patung sambil memelototi putranya yang terlihat seperti orang gila.


"Sekarang salah satu temanku akan melepaskan ikatanmu, setelah ikatanmu terlepas, aku ingin kamu langsung menuju ruangan ayahmu. Oh, ya, agar lebih dramatis, aku ingin kamu berjalan sambil menyentuh pen-ismu. Ini hukuman karena kamu telah berani merendahkan Tiffani."


Darren syok bukan main, begitu ia tahu alasan dirinya dipermalukan seperti sekarang ini.


"Jadi semua ini aku alami karena Tiffani. Keterlaluan sekali si Tiffani itu." Darren membatin.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2