
Keesokan harinya ....
Gracella membuka pintu mobil, dan segera turun dari dalam mobil begitu ia tiba di kediaman Richard Raendra. Beberapa bodyguard dan pelayan yang sejak tadi telah menunggu kedatangan Gracella langsung menghampiri gadis cantik berambut panjang itu dan membungkuk hormat.
"Selamat datang, Nona," ujar semua pelayan dan Bodyguard yang ada di halaman depan.
Gracella tersenyum manis, dan menjawab sapaan dari mereka semua. "Terima kasih semuanya, semoga kita bisa berteman baik," ujar Gracella,yang disambut dengan tatapan kagum oleh semua pelayan di rumah Richard.
Jelas saja jika Gracella langsung mendapatkan tempat di hati para pelayan dan bodyguard di kediaman Richard. Selain cantik, Gracella juga sangat sopan dan rendah diri. Suaranya begitu lembut bagai melodi indah yang diperdengarkan saat malam telah larut, membuat siapa pun ingin tertidur dan tenggelam dalam mimpi indah bersama dengan lantunan melodi indah tersebut. Sungguh Gracella Raendra adalah kebalikan dari Tiffani Raendra. Keduanya bagai timur dan barat, tidak ada kemiripan sama sekali.
"Ayo, Nona, silakan masuk. Aku akan mengantarkan Anda ke kamar. Anda datang sendiri, atau membawa serta pelayan Anda dari Amsterdam?" tanya kepala pelayan keluarga Richard Raendra.
"Kebetulan aku datang sendiri, pelayanku memilih tidak ikut. aku tidak bisa memaksanya," jawab Gracella, sembari mengekor langkah kepala pelayan yang sekarang sedang menuju teras.
"Tenang saja, Nona, saya akan meminta satu pelayan untuk menjadi pelayan pribadi Anda selama Anda ada di sini, dan Anda juga akan mendapat satu bodyguard untuk menjaga Anda."
Gracella tertawa. "Apa semua itu perlu? Aku tidak membutuhkan pelayan pribadi atau bodyguard, toh aku tidak akan ke mana-mana. Dan saat aku lapar atau menginginkan sesuatu, aku bisa berjalan ke dapur untuk mencari apa yang aku inginkan, aku tidak perlu pelayan sama sekali."
Si kepala pelayan tersenyum. "Anda tidak harus melakukan itu semua sendiri, Nona, karena kami semua ada untuk melayani Anda. Dan untuk masalah pengaturan bodyguard, tuan pasti akan meminta satu bodyguard untuk menjaga Anda. Nona Tiffani juga memiliki bodyguard dan asisten pribadi, begitu juga dengan Tuan Richard. Memiliki bodyguard sudah menjadi keharusan di rumah ini."
Gracella mengangguk. "Oh begitu. Baiklah kalau begitu. Tapi, ngomong-ngomong di mana Tiffani?" tanya Gracella, sembari mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan Tiffani di dalam rumah besar itu.
"Nona Tiffani sedang tidak ada di rumah, mungkin sekarang sedang di rumah sakit menemani Tuan Richard."
Gracella kembali mengangguk. "Oh."
Kepala pelayan terus melangkah menuju kamar Gracella yang ada di lantai dua. Setibanya di depan kamar, si kepala pelayan langsung membuka pintu kamar dan mempersilakan Gracella untuk masuk.
"Wah, merah muda," gumam Gracella sambil tersenyum, saat ia melihat semua yang ada di kamar itu berwarna merah muda, warna kesukaannya.
__ADS_1
"Sesuai dengan kesukaan Anda," ucap si kepala pelayan. "Sekarang Anda bisa beristirahat. Sebentar lagi bodyguard untuk Anda akan tiba, dan setelah dia tiba, Anda bisa minta diantar ke mana pun agar tidak merasa bosan."
"Baiklah, terima kasih untuk pelayanannya. Aku akan istirahat dulu kalau begitu, Perjalanan yang memakan waktu 15 jam ini sungguh membuat aku sangat lelah," ucap Gracella, lalu menutup pintu setelah si kepala pelayan pergi dari hadapannya.
***
Mengundurkan diri sebagai pengawas atau bodyguard Tiffani sebenarnya bukanlah keinginan Rama, Ia sama sekali tidak memiliki keinginan untuk menjauh dari Tiffani apa pun keadaannya. Bahkan bisa dikatakan jika ia rela dicaci-maki setiap hari oleh Tiffani asalkan ia dan Tiffani selalu dekat. Ya, terdengar tidak memiliki harga diri memang, tapi mau bagaimana lagi, cinta memang sebuta itu. Persetan dengan harga diri dan rasa malu.
Akan tetapi, ia mendapatkan pesan dari Damar saat masih dalam perjalanan menuju rumah sakit bahwa ia harus mengundurkan diri jika Tiffani masih bersikap keras kepala dan kasar padanya.
Itulah yang menjadi penyebab Rama mengatakan bahwa ia tidak dapat melanjutkan pekerjaan sebagai pengawas Tiffani yang terus bersikap bagai nenek sihir. Semalaman Rama hanya memikirkan hal itu. Ia rasa, ia tidak siap jika harus benar-benar menjauh dari Tiffani. Namun, nasi sudah menjadi bubur, bubur pun telah basi, tidak ada yang bisa Rama lakukan untuk menarik kata-katanya tersebut. Tiffani pasti telah telanjur sakit hati dan membencinya.
"Aku akan menugaskanmu untuk menjadi bodyguard Gracella sekarang," ucap Damar.
Saat ini Damar, Adam, dan Rama sedang ada
di kantin rumah sakit. Damar sengaja meminta Rama untuk bertemu di kantin agar Tiffani tidak mendengar percakapannya dengan Rama.
Damar mengangguk. "Ya, benar. Kemarin sore aku mendapat telepon dari pelayan di rumah kalau Gracella
sudah tiba. Jadi, kamu kembalilah ke rumah dan temani Grace. Setelahnya, mari kita serahkan pada peruntungan. Tapi, berhati-hatilah, Rama, jangan sampai kamu jatuh cinta pada Grace, dia itu cantik sekali."
Rama berdecak. "Memangnya cintaku akan semudah itu berpindah ke wanita lain? Bagiku Tiffani saja sudah cukup, dan jujur saja, Pak Damar, aku tidak terlalu menyukai ide ini. Semua ini sama saja dengan menyiksa Tiffani," ucap Rama, sambil bangkit berdiri.
"Tenang sajalah, Rama, lakukan saja apa yang aku perintahkan. Toh, tuan juga sudah mengatakan kalau semua ini kami lakukan agar kamu dan Tiffani berbaikan," ujar Damar.
Rama menghela napas. Ia tidak yakin jika semua rencana yang tengah mereka jalankan akan membuat hubungannya dan Tiffani membaik, tetapi percuma saja berdebat dengan Damar, karena jika ia berdebat dengan Damar, itu artinya ia juga tidak memercayai Richard.
"Baiklah, aku akan pulang kalau begitu. Tolong jaga Tiffaniku dengan baik." Setelah mengatakan hal itu, Rama langsung melenggang pergi dari hadapan Damar dan Adam.
__ADS_1
"Tiffaniku katanya? Dia itu bucin sekali rupanya," ucap Damar, sambil menyesap kopinya, dan kemudian bangkit berdiri. "Ayo kita kembali ke ruangan tuan," ajak Damar, pada Adam yang masih sibuk mencelupkan sepotong roti ke dalam secangkir kopi.
***
Di dalam ruangan sang ayah, Tiffani lebih banyak diam daripada bicara, meskipun sejak tadi Richard telah berbicara panjang lebar, tetapi tidak sekali pun Tiffani menyahut. Ia hanya mengangguk sesekali, dan selebihnya ia bersikap bagai zombie.
"Apa tidak sebaiknya kamu pulang saja, Tiffani. Mandilah di rumah dan istirahatlah. Di sini memang ada kamar mandi dan juga kamar untuk kamu beristirahat, tapi biar bagaimana pun, di rumah akan lebih nyaman. Kamu sudah menemani ayah semalaman, sekarang waktunya kamu untuk mengistirahatkan tubuhmu."
Tiffani mengangguk. "Aku akan pulang sebenar lagi, Ayah," ujar Tiffani.
Melihat sikap Tiffani yang begitu dingin padanya, membuat Richard sedih. Ia tahu jika Tiffani masih marah padanya karena keputusannya yang meminta Gracella tinggal bersama dengan mereka.
"Aku tahu kamu masih marah padaku, Tiffani. Tapi, aku memiliki alasan tersendiri kenapa aku meminta Grace untuk datang. Akan aku jelaskan apa alasanku itu saat waktunya telah tiba. Ini semua bukan hanya berat untukmu, tapi untuk Grace juga, Seperti yang kamu tahu, Grace pun sangat membenciku, mungkin rasa bencinya padaku, melebihi rasa bencimu padanya."
Tiffani menatap ayahnya lekat-lekat. "Apa alasan Ayah itu begitu penting sampai-sampai Grace harus datang dan tinggal di sini?" tanya Tiffani.
Richard mengangguk. "Ya, sangat penting, Tiffani, jika tidak, aku tidak mungkin meminta Grace datang ke sini."
Tiffani menghela napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan kasar. "Baiklah, kalau memang Ayah memiliki alasan yang begitu penting, untuk sementara aku akan mengesampingkan dendamku padanya. Tapi, aku tidak menjamin kalau aku tidak akan menjambak rambutnya begitu aku bertemu dengannya."
Richard meringis. "Jangan lakukan hal itu, Tiffani. menjambak rambutnya hanya akan memicu pertengkaran di antara kalian, dan akhirnya kalian akan kembali bermusuhan," ujar Richard, memberi nasehat pada Tiffani.
Tiffani bangkit berdiri dari kursi yang sejak tadi ia duduki. "Kami tidak akan kembali bermusuhan, Ayah, karena kami memang sudah bermusuhan sejak dulu. Kami tidak pernah sekali pun berbaikan. Lagi pula, menjambak rambutnya terdengar lebih bagus, daripada aku menembak kepalanya," ucap Tiffani. "Aku pulang dulu, Ayah, aku akan kembali lagi nanti."
Richard memandang punggung Tiffani yang menghilang di balik pintu sambil bergumam, "Dasar keras kepala."
Bersambung.
(Gracella Raendra 👇)
__ADS_1