
Sudah tiga hari berlalu semenjak Ara keluar dari dalam ruang keluarga kediaman Tiffani dengan wajah kesal dan bersimbah air mata. Saat itu Tiffani berusaha untuk bangkit dari posisi berbaringnya dan mengejar Ara, tetapi karena kepalanya pusing sekali, ia malah kembali jatuh pingsan di lorong yang menuju ke bagian luar rumah.
Perasaan bersalah yang sangat dalam tidak bisa Tiffani tepikan hingga saat ini. Karena ia pingsan, fokus Rama, Gracella dan kedua sahabatnya pun hanya pada dirinya, tidak ada yang mengejar Ara, meminta Ara untuk tetap tinggal, apalagi meminta maaf, dan sejak hari itu Tiffani memerintahkan Adam untuk mencari keberadaan Ara.
Tok, tok, tok.
Pintu ruang kerja Tiffani diketuk. Saat ini ia memang sedang berada di kantor. Aktivitas yang seharusnya ia jalani akhirnya kembali normal. Harus begitu, karena tidak mungkin ia berlarut-larut dalam kesedihan dan tidak melakukan apa pun. Hanya diam di rumah membuatnya merasa sangat menderita. Lagi pula, bisnis tidak akan berjalan lancar jika ia mulai mogok kerja.
"Masuklah," teriak Tiffani dari atas kursi berlengan yang terletak di balik meja kerjanya.
Daun pintu mulai bergerak terdorong ke dalam, dan Adam muncul dengan wajah khawatir yang tidak berusaha untuk ia sembunyikan.
"Bagaimana?" tanya Tiffani, ia segera bangkit berdiri saat melihat Adam.
Adam diam saja, ia terus menyeberangi ruangan menghampiri meja kerja Tiffani.
"Nihil," jawab Adam, setelah ia berada tepat di hadapan Tiffani.
Tiffani terhenyak, ia kembali menjatuhkan bokongnya di atas kursi sambil mengeluh. Detik berikutnya Tiffani memilih untuk bersandar dan memijat pelipisnya sambil menunduk. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi caranya agar ia dapat menemukan Ara. Meskipun belum lama menghilang, tetapi fakta bahwa bodyguard-bodyguardnya tidak ada yang bisa menemukan Ara membuatnya menjadi frustrasi.
"Aku sudah mencarinya ke mana-mana, tapi tidak ada yang mengetahui keberadaannya. Orang-orang di distrik mengatakan jika tiga hari lalu Ara hanya datang menjemput ibu dan kakaknya, lalu pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun." Adam menjelaskan.
Tiffani yang sejak tadi menunduk kemudian mendongakkan kepala agar dapat menatap Adam. "Apa tidak ada cara lain untuk melacaknya? Hem, misal aktivitas kartu kredit, atau transaksi kartu atmnya ... CCTV jalan, atau mungkin kamera dashboard. Bagaimana kalau melacak ponselnya," ucap Tiffani, mengatakan segala kemungkinan yang bisa saja menjadi cara agar ia dapat menemukan Ara.
Adam menggeleng. "Dia tidak punya kartu ATM dan kartu kredit, ponselnya mati, dan tidak ada kamera CCTV di sekitar distrik, mobil warga di sana juga tidak ada yang dilengkapi dengan kamera dashboard."
Tiffani kembali mengeluh, dan kali ini desah napasnya terdengar lebih keras dari sebelumnya.
"Maaf, Nyonya, apa boleh aku menanyakan sesuatu?" tanya Adam beberapa saat kemudian.
Tiffani mengangguk. "Ya, tanyakan saja."
"Hem, untuk apa Anda repot-repot mencari Ara? Bukankah lebih bagus begini. Dia itu sudah bertindak kurang ajar pada Anda dan Rama. Kalau aku jadi Anda, aku tidak akan mencarinya. Biar saja dia pergi, lebih jauh lebih bagus."
Tiffani menghela napas panjang sebelum ia menjawab pertanyaan Adam.
"Aku tidak ingin menambah musuh di dalam hidupku, Adam. Aku sadar betul apa yang bisa dilakukan oleh seseorang yang sedang sakit hati. Aku takut jika suatu saat dia datang untuk membalas dendam. Tidak masalah jika dia melukaiku, tapi aku adalah seorang ibu, bagaimana kalau dia melukai anakku juga? Itulah sebabnya aku harus minta maaf padanya. Lagi pula, kita bersalah, Om Damar telah membuat hidup Ara menderita. Aku tidak boleh diam saja."
Adam mengangguk. Ia mengerti ketakutan yang Tiffani rasakan saat ini. Berhadapan degan para penjahat di dunia bisnis saja sudah cukup menakutkan bagi Tiffani, untuk apa lagi menambah musuh.
"Tapi, kalau aku boleh tahu, apa Anda tidak sakit hati padanya saat dia meminta Rama untuk menikah dengannya? Bukankah hal seperti sangat sangat tidak wajar, dan aku pikir tidak bisa ditolerir." Adam kembali bertanya.
Tiffani tersenyum masam. ”Aku rasa memiliki suami seperti Rama memang adalah ujian tersendiri. Aku tidak bisa menyalahkan wanita mana pun yang tertarik padanya. Wajah Rama adalah masalah utamanya, dia sebegitu tampannya sampai membuat kebanyakan wanita lupa diri. Asalkan Rama tidak menyukai wanita-wanita itu, sama sekali tidak masalah buatku."
Adam mengacungkan ibu jarinya ke Tiffani. ”Keren."
Tiffani tertawa melihat tanggapan yang diberikan Adam padanya. Ia kemudian bertanya, ”Ngomong-ngomong apa Om Damar belum kembali dari perjalanan bisnisnya? Ini sudah empat hari dan masih belum ada kabar. Aku bahkan tidak tahu dia pergi ke mana dan mengurusi apa. Ponselnya pun tidak aktif."
Adam menggeleng sambil berdecak. Wajahnya terlihat bingung dan penuh tanya sama seperti Tiffani.
”Sejujurnya aku pun tidak tahu ke mana perginya Pak Damar. Apa menurut Anda dia tidak kabur? Rasanya janggal sekali jika dia pergi begitu saja dan hanya menelepon pelayan rumah untuk menyampaikan pada Anda bahwa dia sedang melakukan perjalanan bisnis. ” Adam mulai berspekulasi, ia memang ahli di bidang itu .
Tiffani mengangguk pelan. Apa yang dikatakan Adam memang cukup masuk akal, tapi aneh sekali jika Damar tidak berusaha untuk membela diri. Seolah Damar menyerah dan mengakui bahwa dirinya memang salah.
Tiffani menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan berat. Memikirkan Damar membuatnya sedih dan tiba-tiba ia merasa hampa. Bagaimana pun juga Damar sudah seperti ayah baginya. Ia memang sempat kesal pada Damar, tapi tentu saja ia akan coba untuk memahami alasan Damar melakukan pengkhianatan jika saja Damar mencoba untuk datang padanya dan menjelaskan semuanya, bukannya malah menghilang begitu saja tanpa ada kabar.
"Apa sudah tidak ada yang perlu aku lakukan lagi, Nyoya? Jika tidak akhirnya akan keluar sekarang," tanya Adam.
Tiffani tersentak. Ia tidak ingat kalau Adam masih berada di ruangannya.
"Ah, ya, Adam, tidak ada lagi. Kamu boleh pergi," ujar Tiffani.
Adam membungkuk dan segera berbalik, lalu melangkah menuju pintu keluar. Namun, langkahnya terhenti saat Tiffani memanggilnya.
__ADS_1
"Ya, Nyonya, ada apa?" tanya Adam, begitu ia kembali membalik tubuh agar dapat menatap Tiffani.
"Di mana Rama? Aku belum melihatnya sejak tadi pagi?" tanya Tiffani.
Dahi Adam mengernyit begitu mendengar pertanyaan Tiffani. "Anda belum melihatnya? Bukankah tadi pagi Anda berangkat dengannya, Nyonya, dan bukankah Rama sudah mengatakan pada Anda kalau dia dan Xavier akan mengecek gudang di dekat pelabuhan siang ini."
Tiffani mengigit bagian dalam pipinya. "Benarkah? Kok aku tidak ingat?" Tiffani terlihat sangat kebingungan, karena seingatnya ia tidak berangkat bersama Rama pagi ini ke kantor. Ia bahkan belum melihat wajah suaminya itu sejak ia bangun tidur.
Setelah hening beberapa saat karena Tiffani sibuk mengutak-atik pikirannya, akhirnya Tiffani mengibaskan tangan, mempersilakan Adam untuk keluar dari ruangannya. Dan setelah Adam tidak lagi ada di hadapannya, Tiffani kembali berusaha untuk mengingat kejadian tadi pagi, dan anehnya kejadian itu tidak tergambar sama sekali di dalam ingatannya.
"Apa ini salah satu dari efek kehamilanku," gumam Tiffani, sambil meletakan kepalanya di atas meja kerja, dan beberapa saat kemudian ia pun jatuh tertidur.
***
Rama duduk bersisian dengan Xavier di dalam sebuah gudang yang berada dekat dengan pelabuhan. Keduanya memeriksa setiap kinerja pekerja yang ada di sana. Memeriksa list barang yang masuk dan juga barang yang keluar, juga memeriksa rekaman CCTV yang memang setiap satu minggu sekali akan diformat ulang.
Kali ini keduanya tampil santai, baik Rama atau pun Xavier hanya mengenakan kaos tanpa lengan yang sudah usang. Mereka melakukan itu setiap kali akan mengunjungi gudang, agar siapa pun yang mungkin sedang memata-matai rumah Tiffani akan terkecoh.
(Rama)
Xavier menguap dan menjauhkan kepalanya dari layar laptop yang membuat matanya sakit dan kepalanya berdenyut. Setelah terbiasa untuk menghajar orang-orang, bekerja dengan laptop rasanya sangat menyiksa sekali.
"Aku tidak bisa meneruskannya. Kamu sajalah," ucap Xavier, lalu bangkit berdiri dan meraih sebotol minuman beralkohol dari atas salah satu kotak baja di dekatnya.
Rama memperhatikan Xavier yang sekarang sibuk menikmati minumannya sambil bersenandung pelan.
"Apa Grace tahu kalau kamu masih sering minum?" tanya Rama.
Xavier tertawa dan meninju pundak Rama di saat bersamaan. "Yang benar saja, Rama. Tentu tidak. Kalau Grace sampai tahu, Bisa-bisa aku mati dibunuhnya," jawab Xavier, lalu kembali meneguk minumannya.
"Kalau begitu berhentilah. Kamu kan tahu kalau dia sedang berusaha menerapkan pola hidup sehat. Dia ingin memiliki bayi, Vier, dan tindakanmu ini sangat tidak membantu usahanya,” ujar Rama memberi nasehat. " Apa kamu memakai narkoba juga? Aku mendapati beberapa kali obat-obatan yang seharusnya kita kirim berkurang jumlahnya. Memang, sih, tidak sampai berkilo-kilo, tapi dalam satuan gram saja sudah lumayan menurutku."
Xavier berdecak. "Tidak. Aku tidak menggunakan narkoba. Aku tidak sebejat itu. Minuman saja sudah cukup untukku, aku bahkan tidak merokok. Masalah obat-obatan itu aku rasa aku tahu pelakunya. Dia Exel, bodyguard yang sering ditugaskan di gudang yang ada di tengah hutan."
"Aku memergokinya beberapa kali," jawab Xavier, santai.
"Dan kamu membiarkannya?"
Xavier menggeleng. "Tentu tidak. Aku menghajarnya, tapi dia sudah kecanduan berat. Aku rasa setelah dihajar dia masih saja mengulangi kesalahannya."
Rama menghela napas dengan kasar. "Kenapa baru katakan padaku? Kita harus memecatnya. Mana bisa kita membiarkan pencuri berkeliaran di gudang kita. Sekarang sedikit, Lama-lama bisa jadi banyak. Jika sudah begitu, Tiffani lah yang akan dirugikan," ujar Rama, yang terlihat gusar sekali.
Xavier menggeleng, kemudian menarik lengan kaos oblongnya yang melorot. "Kamu tidak bisa memecatnya."
(Xavier)
"Kenapa tidak?"
"Dia jago berkelahi, dia sangat bidik saat menembak, dan dia teliti sekali, Rama. Dialah yang selama ini melaporkan semua kejanggalan-kejanggalan yang terjadi di gudang. Jika dia datang berlari-lari ke arahmu, itu berarti ... nah, itu dia." Xavier tidak melanjutkan ucapannya, karena Exel sekarang tengah berlari-lari ke arah mereka berdua dengan ekspresi datar yang sulit ditebak.
"Tuan," ujar Exel.
Rombongan Bodyguard yang ditempatkan di EL 33 telah ditarik hari sebelumnya, dan Xavier langsung merekrut Exel untuk ikut memeriksa setiap gudang hari ini, rutinitas yang selalu dilakukan per dua minggu sekali.
"Ya, ada apa, Exel?" tanya Xavier dengan Ramah, sementara Rama sibuk memelototi Exel.
"Terdapat selisih yang cukup banyak dari jumlah yang tercatat di laporan dan jumlah kotak yang ada di gudang," ujar Exel tanpa basa-basi.
"Dan yang selisih adalah?"
__ADS_1
"Kaliber FN 5.7 asal Belgia yang seharusnya kita kirim ke Meksiko minggu ini." Exel kembali menjawab dengan wajah datar tanpa ekspresi, bagai robot yang dikendalikan oleh tuannya. Ucapannya cepat, tepat, dan tanpa cacat.
Rama menutup layar laptopnya, dan segera bangkit berdiri. Kedua kakinya melangkah cepat menuju pintu keluar, sementara bibirnya bergerak memberi perintah. "Kumpulkan datanya dan serahkan padaku, lalu cari tahu kapan terkahir kali ada kapal yang datang dan keluar."
"Aku sudah melakukannya, Tuan." Suara bass Exel kembali terdengar.
(Axel)
Rama mendadak menghentikan langkah membuat Xavier menabrak punggung Rama dengan cukup keras.
"Sialan, Rama. Katakan kalau akan berhenti." Xavier mengomel, tetapi Rama tidak mengindahkan omelan Xavier.
"Lalu, apa hasilnya?" tanya Rama.
"Kapal peti kemas yang masuk ke pelabuhan sekitar delapan hari lalu, dan kapal itu masuk atas izin dari Pak Damar."
Baik Rama maupun Xavier seketika langsung mendesah sambil mengumpat saat mendengar nama Damar. Keduanya sadar bahwa mereka terlalu lembek menghadapi Damar yang licik dan licin bagai belut, dan pada akhirnya lagi-lagi mereka terkena dampak dari sikap mereka sendiri.
"Tindakan apa yang harus aku lakukan, Tuan?" tanya Axel.
Rama dan Xavier saling pandang, lalu keduanya berkata, ”Tidak ada."
Axel mengangguk, lalu tanpa mengatakan sepatah kata pun lagi pria itu segera berlalu dari hadapan Rama dan Xavier.
"Apa yang harus kita lakukan? Kita harus mengambil tindakan." Xavier memecah keheningan.
Mendengar saran dari Xavier, Rama merasa bingung, karena sampai beberapa malam lalu Xavier masih membela Damar mati-matian, tapi sekarang Xavier malah meminta Rama untuk melakukan sesuatu.
"Dia pamanmu." ujar Rama.
"Dan aku menyesal karena dia adalah pamanku."
Rama tersenyum. Ia tahu jika Xavier menyerahkan segala keputusan padanya sekarang. Intinya, Xavier tidak lagi ada di pihak Damar. Apa pun yang ia lakukan untuk menangkap Damar, Xavier pasti akan setuju.
***
Waktu telah menunjukan pukul empat sore, saatnya Tiffani kembali ke rumah dan beristirahat setelah ia menghabiskan dua jam penuh di sebuah restoran bersama dengan seorang klien.
Johan, yang hari ini ditugaskan untuk menemani Tiffani mengikuti langkah Tiffani menuju halaman parkir restoran.
Kehadiran Johan di restoran tentu saja menarik perhatian para pelayan wanita dan juga pelanggan. Selain tampan, Johan juga memiliki tubuh yang tinggi dan berisi. Penampilannya yang rapi dan ekspresi dingin di wajahnya membuat Johan semakin terlihat menawan.
"Mereka semua tertarik padamu? Itu karena kamu tampan sekali," gumam Tiffani,
"Terima kasih, Nyonya," ucap Johan.
"Apa kamu masih menjaga Sela Lubis? Dan bagaimana kabar ayahnya? Apa Burhan Lubis masih sering meminta Sela untuk menembakku. Jika iya, katakan saja padaku, aku akan bertindak lebih dulu dan menembak putrinya itu."
Johan yang mendengar ucapan Tiffani langsung menarik lengan Tiffani, membuat Tiffani menghentikan langkah dan langsung berbalik menghadap Johan.
"Kalian berteman sekarang,” ujar Johan.
Tiffani menatap Johan dengan bingung. Ia menepikan rambutnya yang tertiup angin dan menutupi wajahnya. Angin di luar restoran memeng cukup kencang sore ini.
(Tiffani)
" Apa maksudmu? Aku dan Sela ... ah, jangan bercanda. Itu tidak mungkin." Tiffani tertawa, dan menyentak tangan Johan dari lengannya. "Aku dan Sela adalah musuh abadi, mana mungkin kami berteman." Tiffani melanjutkan, lalu kembali melangkah menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Johan memperhatikan langkah Tiffani dengan dada yang berdebar hebat. Bukan karena ia jatuh cinta pada Tiffani, perasaan itu telah menghilang sejak dulu. Namun, tingkah Tiffani lah yang membuat dadanya berdebar tak keruan.
__ADS_1
"Ada apa dengannya?" gumam Johan.
Bersambung.