My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
Perlu Bicara


__ADS_3

Hampir semalaman penuh, Valerie tidak bisa memejamkan matanya. Semua hal tentang Brian terus berputar-putar di kepalanya.


Valerie bahkan merasa bersalah karena sempat berpikiran buruk tentang Brian. Setelah melihat semua yang telah terjadi di depan matanya, kini Valerie bisa mengerti bahwa perasaan Brian memang nyata untuknya.


Laki-laki itu dengan tegas menolak perjodohan, membuat kedua orang tuanya murka, serta berkata jujur pada mereka bahwa ia benar-benar mencintai Valerie.


Wanita mana yang bisa tenang jika laki-laki seperti Brian telah mengungkapkan perasaannya secara terus terang. Brian bukanlah laki-laki sembarangan, ia pewaris tunggal sebuah perusahaan terkemuka, terkenal, kaya raya. Semua hal tentang Brian menjadi beban tersendiri bagi Valerie.


Keesokan paginya, Valerie datang ke rumah Brian pukul enam pagi. Ia menunggu di samping mobil Brian setelah memarkirkan motornya ke garasi.


"Hei, V. Kau sudah makan?" tanya Max. Tiba-tiba ia keluar dari rumah Brian dan mendekati Valerie.


"Hmm." Valerie mengangguk.


"Ayo masuk, kau pasti belum makan."


"Tidak, aku sudah makan, Max."

__ADS_1


"Ayolah, Bos menunggumu," bujuk Max.


"Kenapa? Ini sudah hampir pukul tujuh. Apa dia tidak segera pergi?"


"Hahaha. Dia bosnya, Valerie. Pergi kapanpun dia suka bukan masalah," ucap Max sambil tertawa.


"Ya, ya, ya. Dia bosnya!" gumam Valerie pelan. Ia mengikuti langkah kaki Max menelusuri jalan setapak yang dihimpit oleh taman bunga.


Rumah besar dan luas ini hanya ditempati oleh Brian bersama beberapa pelayan. Halaman depan dengan taman bunga yang luas membuat rumah ini tidak hanya mewah, namun juga asri dan sejuk.


Valerie berjalan masuk ke dalam rumah, ia mengikuti Max menuju ruang makan. Di sana, Brian sudah duduk menghadap piring berisi dua potong sandwich.


"Aku sudah makan," tolak Valerie. Padahal ia bahkan belum sempat meneguk segelas air sejak semalam karena terlalu banyak pikiran.


"Makanlah, Valerie. Kau tidak suka sandwich? Makan buah saja atau katakan makanan apa yang cocok untuk menu sarapanmu," sela Brian.


"Ini saja cukup," ucap Valerie sambil menarik segelas jus apel di hadapannya.

__ADS_1


Brian tersenyum tipis. Menikmati sarapan pagi dengan pemandangan indah di hadapannya membuat laki-laki itu bisa sejenak melupakan semua masalahnya.


Sambil menikmati sandwich di piringnya, Brian tidak bisa mengalihkan pandangan dari wajah Valerie. Semakin hari, ia merasa cintanya semakin nyata, perasaannya semakin tidak diragukan lagi.


Pertama kali melihat Valerie, wanita itu memang memberikan kesan berani, tegas dan tidak sopan di hadapannya. Namun hal itu membuat Brian semakin tertarik. Bahkan saat mengetahui siapa Brian, Valerie sama sekali tidak ingin merendahkan harga dirinya, ia tegas dan enggan diperlakukan Brian layaknya orang biasa.


Setelah sarapan pagi selesai, Brian meminta Max pergi ke kantor lebih dulu. Ia ingin Max menghadiri rapat pagi ini untuk menggantikannya.


"Kau tidak pergi?" tanya Valerie.


"Kita akan pergi setelah aku mengajakmu berkeliling rumah," jawab Brian. "Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan," lanjutnya.


"Baiklah kalau begitu. Selesaikan urusan kalian, aku akan pergi lebih dulu," pamit Max.


Valerie hanya bisa bengong melihat Max pergi meninggalkan meja makan. Kini hanya tersisa dirinya dan Brian.


Duduk berdua dengan laki-laki itu, membuat jantung Valerie berdegup kencang. Terlebih, tatapan Brian membuatnya merasa gelisah dan tidak nyaman. Senyum tipis laki-laki itu, membuat Valerie tidak bisa menebak apa yang hendak mereka bicarakan.

__ADS_1


🖤🖤🖤


__ADS_2