
Tiffani pasrah, ia tidak berharap apa pun sekarang karena ia tahu apa pun yang ia harapkan kali ini tidak akan pernah terjadi. Bahkan jika ia memohon pada Tuhan untuk diselamatkan pun rasanya mustahil sekali. Toh, tidak ada satu pun dari orang-orang terdekatnya yang mengetahui di mana keberadaannya saat ini. Dengan ketidaktahuan itu pasti sulit sekali untuk melacak di mana keberadaannya.
Tiffani memejamkan mata, membiarkan siapa pun untuk menembaknya. Ia tidak keberatan. Justru semakin cepat dirinya tertembak, semakin cepat juga ia akan pergi meninggalkan dunia. Hal itu lebih baik bagi Tiffani, ia akan pergi sebelum ayahnya yang pergi meninggalkannya.
Dor!
Tiffani tersentak. Suara tembakan terdengar begitu dekat di telinganya, tetapi ia tidak merasakan apa pun di tubuhnya. Ia segera membuka mata, mengira bahwa Dylan-lah yang tertembak, tetapi ternyata bukan Dylan juga. Dylan masih berdiri di sebelahnya dengan mata terpejam dan mulut tertutup rapat.
"Kurang ajar sekali kalian semua."
Suara seorang pria yang terdengar sangat tidak asing menembus gendang telinga Tiffani. Tiffani sontak saja menangis ketika mendengar suara tersebut. Dan detik berikutnya terdengar juga suara berisik dari salah satu jendela kamar yang menghadap ke halaman belakang.
Tifani memekik bahagia saat ia melihat Rama dan Xavier berdiri di ambang pintu, sedangkan di jendela kamar, Mario dan Adam sedang berebut untuk masuk ke dalam kamar lebih dulu. Bukan hanya Adam dan Mario yang hadir, dari suara berisik yang terdengar di luar jendela, Tiffani tahu jika ada beberapa bodyguard lagi yang mengantre untuk menyelamatkannya.
Tiffani berlari menghampiri Rama dengan kaki yang terpincang-pincang, kemudian ia memeluk Rama dan menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan pria itu.
"Terima kasih sudah datang, Rama, terima kasih," isak Tiffani. Ia merasa sangat bersyukur karena Rama tiba tepat waktu.
Rama sendiri terlihat sangat lega. Ia membalas pelukan Tiffani dengan sangat erat, ia bahkan menangis juga, sama seperti Tiffani.
"Syukurlah kamu tidak apa-apa, Tiffani. Sejak tadi aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu. Aku pikir, aku tidak akan pernah bisa menemukan keberadaanmu, aku pikir aku akan kehilanganmu kali ini, untunglah semua kekhawatiranku itu tidak menjadi kenyataan," ujar Rama.
"Aku rasa berpelukan sudah cukup. Kalian bisa melanjutkannya di rumah nanti. Kita harus keluar dari sini sekarang," ujar Xavier, lalu ia memandang komplotan Adam dan Mario yang telah berhasil masuk ke dalam kamar melalui jendela. "Dan untuk kalian, apa yang kalian lakukan di sana?" tanya Xavier.
"Mereka pasti menyusulku. Kami biasanya memang selalu menyelesaikan misi bersama." Rama menjawab.
"Begitukah? Kalau begitu ayo cepat keluar dari sini. Aku yakin banyak bodyguard di bawah, lakukan apa pun yang menurut kalian baik, asalkan Nona Tiffani tidak terluka." Xavier berujar.
Rama yang menyadari jika ada orang lain di dalam kamar itu selain Tiffani pun berujar. "Anda seorang dokter? Ikutlah dengan kami. Kami akan segera keluar dari sini," ajak Rama.
Dylan mengangguk cepat. "Terima kasih, terima kasih," ujar Dylan, lalu segera berjalan tepat di belakang Rama dan Tiffani, sedangkan Adam, Mario dan yang lainnya segera berpencar, membentuk formasi untuk melindungi Tiffani dan Rama.
"Tidak kusangka kita hanya sudah payah memanjat, setelah itu kita langsung pulang. Tidak seru sekali." Andi mulai mengomel seperti biasanya.
__ADS_1
"Bukankah seharusnya kamu bersyukur karena perjalanan pulang selancar ini. Kenapa malah mengeluh," ujar Tiffani.
Andi terkejut karena Tiffani menanggapi ucapannya. "Ah, bukan begitu, Nona, aku hanya berharap dapat menjalankan tugasku dengan baik seperti Tom Cruise yang jago berkelahi dan memecahkan teka-teka. Hanya itu kok, bukan berarti aku tidak bersyukur, Nona."
Tiffani tertawa, begitu juga dengan yang lainnya.
"Dengan kata lain dia mengharapkan perkelahian yang lebih sengit daripada ini," ucap Xavier, berbicara pada Rama.
"Ya, dia memang seperti itu. Dia selalu berharap dapat berkelahi sungguhan seperti seorang aktor laga," ujar Rama sambil memandang Andi yang berjalan di belakangnya.
Xavier mengangguk. "Baiklah, lain kali aku akan membawanya jika aku dan anak buahku sedang melawan geng yang sering membajak kapal pengiriman barang milik tuan."
"Ya, dan jika dia tidak bisa melakukan apa pun, lempar saja dia ke laut," sahut Willi yang membuat Anton tertawa terbahak-bahak.
"Kasihan sekali lautnya, harus menerima sampah masyarakat," canda Anton,
***
Gracella duduk di tepi ranjang Richard sejak beberapa saat yang lalu. Sejak mengetahui bahwa Tiffani ternyata diculik dan kecelakaan yang menimpa Tiffani juga merupakan kecelakaan yang telah direncanakan, tubuh Richard tiba-tiba saja menjadi lemah. Suhu tubuhnya naik, dan tiba-tiba saja Richard tidak membuka mata. Richard pun terus mengigau, menyebutkan nama Tiffani tanpa henti.
"Apa belum ada kabar dari mereka semua, Om Damar?" tanya Gracella, pada Damar yang sedang duduk di sebuah kursi di samping tempat tidur Richard.
Damar menggeleng. "Belum ada."
"Apa mereka baik-baik saja. Sekarang sudah terlalu lama, dan mereka belum juga kembali. Kenapa Om tidak telepon salah satu dari mereka untuk menanyakan kemajuan misi penyelamatan?" Gracella memberi saran.
"Jangan terlalu khawatir, Nona. Jika terjadi hal buruk Xavier pasti meneleponku. Jadi Anda tidak usah khawatir."
Gracella mengangguk.
"Hem, selagi kita saling bicara bagaimana kalau kita membahas tentang pendapat Anda setelah Tuan mengatakan bahwa Anda adalah putri kandungnya," tawar Damar.
Gracella terlihat enggan, tetapi tetap saja ia mengangguk, menyetujui keinginan Damar. "Apa yang ingin Om Damar ketahui?" tanya Gracella.
__ADS_1
Damar tersenyum. "Terima kasih karena telah memberi kesempatan untuk aku bertanya. Ini tentang keputusan Anda selanjutnya. Apakah Anda akan menerima bahwa Tuan adalah ayah kandung Anda?"
Gracella diam sejenak. Ia tidak tahu harus menjawab apa. "Entahlah, aku masih memikirkannya."
Damar mengangguk. Ia mengerti jika Gracella membutuhkan waktu lebih lama untuk berpikir. Bukan hal yang mudah menerima kenyataan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya.
"Baiklah, Anda bebas berpikir sampai Anda mendapatkan keputusan terbaik. Tapi, jika aku boleh memberi saran, tinggal lah lebih lama di sini, dan berbaikan lah dengan Tiffani. Hanya hal sederhana itu yang Tuan inginkan sebelum kepergiannya. Beliau ingin agar putrinya berbaikan dan dapat hidup rukun, hanya itu."
Gracella menghela napas. "Entahlah. Sebenarnya aku tidak ingin terus berkelahi dengan Tiffani, tapi Tiffani lah yang selalu lebih dulu menyerangku. Kedua temannya juga sangat mengerikan. Mereka bertiga terlihat seperti penjahat yang selalu menindasku di mana pun kami berpapasan."
"Jika Tiffani dan kedua temannya berhenti menyerang Anda, apa Anda akan berbaikan pada Tiffani?"
Gracella menggigit bibir bawahnya, kemudian ia berkata, "Bisa jadi."
Damar menjentikkan jemari. "Bagus sekali. Tuan pasti akan sangat senang jika mendengarnya."
"Oh, ya, kapan Tiffani akan diberitahu semua rahasia ini? Aku rasa sangat tidak adil jika hanya aku yang tahu tentang penyakit ayahnya, sementara dia tidak."
"Entah kapan waktu yang pas untuk memberitahu Tiffani, tetapi cepat atau lambat Tiffani pasti akan diberitahu," jawab Damar.
"Pak Damar, Pak Damar!" seorang pelayan berteriak dan mengetuk pintu kamar Richard, membuat Damar dan Gracella meng hentikan diskusi mereka.
Damar bangkit berdiri sambil mengeluh, kemudian melangkah menuju pintu yang tidak tertutup rapat.
"Ya, ada apa, Bi?" tanya Damar, begitu ia telah berdiri di hadapan si pelayan.
"Mereka sudah tiba, Pak. Nona dan yang lainnya sudah datang."
"Benarkah?!" seru Damar, lalu berbalik untuk menatap Gracella. "Bukankah Anda mengkhawatirkan mereka sejak tadi? Pergilah dan periksa bagaimana keadaan mereka."
Gracella menggeleng. "Tidak, Terima kasih."
Damar berdecak. "Ayolah, anggap saja sebagai latihan untuk bersikap baik pada Tiffani. Cepatlah!"
__ADS_1
Bersambung.