
Dahi Tiffani mengernyit begitu mendengar ucapan Rama.
"Apa hubungannya pernikahan kita dan semua bisnis mengerikan ini?" tanya Tiffani.
Rama menghela napas. "Salah satu syarat untuk dapat menjadi menantu Tuan Richard adalah harus mampu untuk mendampingimu meneruskan bisnis yang telah dijalankan oleh Tuan Richard selama ini," ujar Rama.
Tiffani tersenyum miring. "Omong kosong. Aku tidak pernah mendengar hal seperti itu sebelumnya. Jangan mengada-ngada, Rama."
"Banyak yang tidak kamu ketahui, Tiffani, bahkan kamu pun tidak mengetahui bisnis gelap yang selama ini ayahmu jalani, 'kan? Apalagi tentang kriteria suami untukmu."
Tiffani memijat pelipisnya. "Aku sama sekali tidak mengerti tentang semua ini. Ayah terlalu banyak merahasiakan hal dariku. Dia bahkan membuat syarat seperti itu untuk seseorang yang akan menikahiku. Bukankah hal itu sangat keterlaluan? Ayah tidak pernah mendiskusikan hal semacam ini padaku."
Rama menyentuh pundak Tiffani. "Ayahmu pasti memiliki alasan sendiri untuk semua tindakannya. Tidak baik menghakiminya seperti ini. Tandatangani saja dokumen yang diperlukan sekarang. Kamu tidak bisa menunda apalagi membatalkan pengiriman hari ini, Tiffani, karena ayahmu telah membuat perjanjian, dan tidak mudah membatalkan perjanjian yang telah dilakukan dengan kelompok tertentu, selain dapat membahayakan ayahmu, pembatalan perjanjian juga dapat membahayakan semua orang terdekat ayahmu, termasuk dirimu sendiri, Pak Damar, dan semua orang yang ada di sekitar ayahmu. Yang kita hadapi sekarang bukan orang biasa. kamu harus tahu itu, Tiffani."
Tiffani mengucek matanya yang tiba-tiba terasa panas. Semua polemik yang ia hadapi sekarang ini sungguh bertolak belakang dengan hati nuraninya, dan pada akhirnya Tiffani tidak memiliki pilihan lain selain menyetujui apa yang tengah ayahnya tetapkan untuknya.
"Oke, aku akan tanda tangan," ujar Tiffani.
Rama tersenyum dan kemudian mengangguk ke Pak Damar.
Pak Damar mengulurkan tangan, meminta dokumen pengiriman barang pada Rian yang masih menunggu dengan sabar.
"Ini, Pak," gumam Rian, sembari mengulurkan sebuah map berwarna merah ke Damar.
Damar menerima map tersebut dan langsung mengulurkannya ke Tiffani. "Tanda tangan di tempat yang telah disediakan, Tiffani."
Tiffani tidak menyahut ucapan Damar, bibirnya terkunci rapat, hanya tangannya yang bergerak, menggores tinta di atas sebuah surat perjanjian.
Setelah selesai menandatangani surat perjanjian itu, Tiffani langsung meminta untuk di antar pulang.
"Aku ingin pulang," ujar Tiffani, yang langsung memunggungi rombongan Damar dan Rian, tanpa menunggu Damar atau pun Rama.
__ADS_1
Mona dan Rama langsung menyusul Tiffani yang melangkah secepat kilat.
"Tiffani!" Rama berteriak, saat jaraknya sudah semakin dekat ke tiffani. "Tiffani, apa kamu tidak ingin melihat-lihat terlebih dahulu?!"
"Aku sama sekali tidak tertarik!" Tiffani balas berteriak tanpa menoleh ke belakang. Ia sedikit kesal pada Rama, bagaimana bisa Rama mengajaknya untuk melihat-lihat, padahal suasana hatinya sedang kacau sekali.
"Jika dia buru-buru minta kembali ke rumah, itu berarti dia tidak ingin tahu tentang apa pun lagi, Rama," ujar Mona, yang berjalan di samping Rama.
"Dia sangat keras kepala," komentar Rama.
Mona menggeleng. "Bukannya keras kepala, tetapi Tiffani memang tidak menyukai semua ini. Sejak dulu Tiffani memiliki impian untuk hidup sederhana di sebuah pedesaan jika sudah menikah."
"Ya, aku pernah dengar tentang mimpinya itu." Rama menyahut. Tiffani memang pernah menceritakan semua itu padanya, tentang kehidupan yang tenang dan jauh dari suara tembakan, bersama dengan suami dan juga anaknya.
Mona menghela napas. "Aku rasa dia sangat kecewa ketika mengetahui semua bisnis ini akan beralih ke tangannya setelah dia menikah."
Rama mengangguk. Ia paham bagaimana perasaan Tiffani. Tiffani pasti tidak siap menerima segala resiko berbahaya jika Tiffani mengambil alih bisnis Richard Raendra. Apalagi Tiffani kehilangan ibunya karena bisnis Richard.
Rama menatap Mona sekarang, ia kemudian berkata," Tiffani berhak untuk memilih, bukan? Dia tidak harus menjalankan bisnis ini dalam waktu dekat, atau sampai kapan pun."
Mona balas menatap Rama, tetapi ia tidak mengatakan apa pun. Ia tahu jika Tiffani tidak memiliki waktu yang banyak untuk berpikir dan mengambil keputusan, karena kesempatan hidup Ayah Tiffani tidaklah lama. Kanker Pankreas yang diderita Richard sudah sampai pada tahap yang sangat berbahaya. Dokter pun sudah menyatakan bahwa Richard hanya memiliki kesempatan hidup beberapa bulan lagi.
***
Rombongan Tiffani dan Rama kembali tiba di rumah sakit saat hampir tengah malam. Tiffani langsung menuju ruang rawat sang ayah begitu tiba di rumah sakit bersama dengan Mona dan Rama.
Apa aku harus tidur di sini juga?" tanya Mona, pada Tiffani sesaat setelah mereka tiba di dalam ruang rawat Richard,
"Terserah padamu," jawab Tiffani.
"Lalu bagaimana denganku?" Rama ikut bertanya.
__ADS_1
"Terserah." Tiffani kembali menjawab singkat.
Rama dan Mona saling menatap, kemudian Mona berbisik ke Rama, "Kamu harus membuat mood-nya kembali membaik. Fighting!" Setelah mengatakan hal itu, Mona langsung keluar dari dalam kamar dan tanpa sengaja ia berpapasan dengan Adam.
"Mau ke mana?" tanya Mona pada Adam.
Adam menunjuk pintu ruang VVIP yang ada di hadapannya. "Ke dalam. Aku kan harus kembali menjaga tuan."
Mona berdecak. "Ck, tidak usah. Di dalam sudah ada Tiffani dan Rama. Jangan jadi pengganggu," ujar Mona, lalu segera menarik lengan Adam menyusuri koridor.
"Mau ke mana kita?" tanya Adam, yang terlihat bingung karena Mona terus menariknya menyusuri lorong yang gelap dan dingin.
"Aku kangen. Ayo kita cari tempat yang sepi," desis Mona.
Di dalam ruang rawat inap, Tiffani hanya memeriksa keadaan ayahnya sebentar, setelah itu ia langsung menuju ke kamar yang kemarin malam ia tiduri bersama dengan Rama.
Rama sendiri sejak tadi masih terus mengekor langkah Tiffani yang mondar-mandir di dalam ruangan, tetapi saat hendak mengikuti Tiffani masuk ke dalam kamar, Tiffani menghentikan langkah Rama.
"Tidurlah di luar, aku tidak ingin diganggu malam ini," ujar Tiffani, pada Rama.
"Apa perasaanmu masih tidak enak? Jika iya, ayo kita bicara. Kita bisa bertukar pikiran agar kamu tidak harus menyimpan beban pikiranmu seorang diri, Tiffani." Rama mencoba untuk meredakan amarah Tiffani yang masih kesal karena harus menandatangani surat perjanjian yang sama sekali tidak ia inginkan.
Tiffani melipat tangan di depan dada, ia kemudian bersandar pada bingkai pintu kamar. "Tidak ada yang perlu kita bicarakan, Rama. Aku hanya mulai berpikir kalau aku tidak bisa menjalani keduanya sekaligus, yaitu berumah tangga dan berbisnis. Bisnis ayahku bukanlah pekerjaan yang baik untuk dijalani oleh seorang istri dan juga seorang ibu. Aku bisa kehilangan anak atau suamiku hanya karena kesalahan kecil, sama seperti ayahku yang harus kehilangan ibuku karena kesalahan yang ayahku lakukan dalam pengambilan keputusan dalam bisnisnya."
Rama menegang begitu mendengar apa yang Tiffani katakan. Ia mengerti apa yang Tiffani maksud, tetapi ia berusaha untuk membodohi dirinya sendiri, ia berlagak tidak tahu-menahu apa yang Tiffani maksud. "Tiffani, apa maksudmu?"
"Aku rasa maksudku sudah jelas. Aku tidak ingin harus mengkhawatirkan kehidupan orang yang aku sayangi setiap harinya. Lihat saja ayahku, dia harus mempekerjakan banyak bodyguard hanya untuk menjagaku. Ayahku ketakutan setiap harinya, begitu juga denganku. Bahkan kami sempat ketakutan untuk menyantap makanan hanya karena seseorang meracuni semua anak buah ayahku. Aku tidak ingin menjalani kehidupan yang seperti itu, Rama." Tiffani mengakhiri ucapannya dengan kedua mata yang berkaca-kaca. "Aku tahu ini semua tidak adil buatmu, tapi ini juga tidak adil buatku. Aku telah memutuskan untuk menemui Dokter Stella besok. Aku akan melakukan abortus! Dan setelahnya aku akan fokus menjalankan bisnis ayahku, jika memang hal itu yang ayahku inginkan. Untuk itu, marilah mulai sekarang kita saling menjauh."
Rama begitu terkejut saat mendengar keputusan yang Tiffani ambil, begitu juga dengan Richard yang mendengar semua perkataan Tiffani dari atas ranjang.
"Sial. Kenapa jadi begini!" Richard membatin.
__ADS_1
Bersambung.