My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
WAKTU YANG TERSISA


__ADS_3

Kedua lutut Tiffani seketika menjadi lemas ketika ia mendengar semua yang baru saja ayahnya bicarakan pada Gracella. Kenyataan bahwa Gracella adalah saudara kembarnya cukup membuat Tiffani terkejut, Ia tidak pernah menyangka jika selama ini ia terlahir sebagai anak kembar, dan ternyata Gracella yang sangat ia benci adalah kembarannya.


Akan tetapi, keterkejutan itu belum ada apa-apanya jika dibandingkan keterkejutan yang ia rasakan saat ia mendengar pengakuan selanjutnya dari sang ayah tentang penyakit yang ayahnya derita.


"Kanker darah! Yang benar saja," gumam Tiffani, Tiffani merasa sangat terpukul. Tubuhnya mulai gemetar dan ia seketika menangis sambil menutup mulutnya dengan tangannya sendiri.


"Tiffani, tidak apa-apa. Tidak apa-apa, Sayang. Kendalikan dirimu." Rama memeluk Tiffani dan berusaha untuk menenangkan Tiffani. Rama tahu jika Tiffani sangat syok saat ini, ia pun mengalami hal itu beberapa hari lalu saat ia mengetahui bahwa Richard Raendra tidak memiliki waktu yang cukup lama di dunia ini.


"Ayo kita keluar sekarang," ajak Mona, membantu Rama memapah tubuh Tiffani yang begitu lemah, sementara Sela yang terlihat sama terkejutnya seperti Tiffani berjalan lebih dulu di depan Rama dan Mona untuk memberi penerangan dengan ponselnya. Tangannya pun gemetar, sehingga membuat pendar cahaya di lorong bergoyang-goyang tidak beraturan.


"Sela, tegarlah," gumam Mona. Ia tahu jika Sela sedang menangis saat ini, suara isak Sela terdengar hingga ke telinga Mona.


Sela mengangguk. Ia menghela napas, dan mulai menenangkan diri, lalu melanjutkan langkah dengan tenang.


Akan tetapi, yang terjadi pada Tiffani justru sebaliknya, Tiffani semakin lemah hingga beberapa saat kemudian Tiffani jatuh pingsan.


Rama menahan tubuh Tiffani sepenuhnya sekarang. "Biar aku gendong dia," ujar Rama, pada Mona yang masih berusaha memegangi sebelah lengan Tiffani.


Mona mengangguk. "Ya, kalau begitu aku akan menelepon dokter agar segera datang," ucap Mona, yang langsung mengeluarkan ponsel dari dalam saku hoodie yang ia kenakan, dan menelepon dokter keluarga sambil berjalan dengan cepat di belakang Rama.


Rama melangkah dengan cepat menyusuri lorong berpencahayaan remang sambil menggendong Tiffani. Ia tidak berlari karena takut jika tubuh Tiffani terjatuh. Wajar jika Rama merasa ketakutan, karena tangannya gemetar saat ini, sehingga ia tidak berani jika salah mengambil tindakan dan malah membuat Tiffani dalam bahaya, apalagi tidak cukup cahaya di ruangan itu. Bisa saja ia tersandung sesuatu saat sedang berlari.


Begitu telah tiba di luar ruangan, barulah Rama memberanikan diri untuk berlari menuju teras, dan kemudian langsung masuk ke dalam rumah agar dapat segera tiba di kamar Tiffani.


"Apa dokter akan segera datang?" tanya Rama pada Mona yang berlari tepat di belakangnya bersama dengan Sela.


"Ya, Dokter Steve langsung menuju kemari, aku harap dia segera tiba," jawab Mona.


"Kasihan sekali Tiffani. Dia pasti syok sekali saat mendengar kalau ayahnya mengidap kanker darah stadium akhir." Sela berkomentar.


Rama menatap Tiffani yang masih berada di dalam gendongannya, dan ia setuju pada apa yang dikatakan oleh Sela, kasihan Tiffani. Gadis cantik yang terlihat memiliki kehidupan sempurna itu tidak sebahagia yang terlihat. Terdapat banyak noda hitam di dalam kehidupan Tiffani yang membuatnya layak untuk dikasihani.


Setelah beberapa saat berlalu, akhirnya Rama, Tiffani, Mona, dan Sela tiba di kamar Tiffani. Mona mendorong pintu hingga terbuka lebar, dan segera masuk ke dalam kamar, disusul oleh Rama dan Sela.

__ADS_1


"Tiffani, sadarlah," gumam Rama, setelah ia membaringkan tubuh Tiffani di atas ranjang. Tangannya perlahan terulur menyentuh rambut Tiffani yang terurai menutupi sebagian wajah.


"Dia hanya pingsang, tenanglah Rama." Mona berusaha untuk menenangkan Rama yang terlihat sangat kalut.


Sela duduk di sisi lain ranjang, tepat di samping Tiffani. Ia menarik selimut dan menutupi tubuh Tiffani dari kaki hingga ke dada, kemudian sambil menangis ia berkata, "Kenapa orang sebaik Om Richard harus mengalami ini semua. Seharusnya Om Richard panjang umur dan memiliki tubuh yang sehat hingga Tiffani memiliki banyak putra dan putri. Anak-anak Tiffani harus tahu bahwa kakek mereka sangat baik hati dan penyayang. Dunia ini kejam sekali. Kenapa hal buruk hanya menimpa orang-orang baik?" ucap Selamat, sambil menyeka air mata yang mengalir deras di pipinya.


Mona menatap Tiffani dengan sedih. "Tidak ada yang tahu apa rencana Tuhan. Aku hanya berharap semoga akan segera muncul keajaiban."


Mendengar ucapan Mona, Rama mengangguk. Ia lantas meraih tangan Tiffani dan mengecup punggung tangan gadis itu berulang kali. "Kita harus membantu Tiffani melewati semua kesulitan ini. Aku mengandalkan kalian berdua, jangan pernah menangis atau terlihat sedih di hadapan Tiffani."


Sela dan Mona mengangguk.


"Melihat kalian berdua yang tidak terkejut sama sekali, apa kalian sudah lebih dulu mengetahui hal ini?" tanya Sela, bergantian menatap Rama dan Mona.


Rama mengangguk. "Aku baru tahu beberapa hari lalu, itu pun secara tidak sengaja. Aku terkejut saat mengetahuinya, siapa yang menyangka jika Tuan Richard yang terlihat sehat dan tidak pernah mengeluh ternyata mengidap kanker darah."


Ya, Sela setuju. Richard tidak pernah mengeluh dan terlihat sakit sekali pun, tapi tiba-tiba saja Richard diketahui mengidap kanker darah, sungguh sangat mengejutkan.


"Om Richard berusaha mati-matian menutupi semuanya dari kita, terutama dari Tiffani agar kita dan Tiffani tidak sedih,” ujar Mona.


Suara ketukan di pintu menghentikan obrolan antara Rama, Mona, dan Sela.


" Itu pasti Dokter Steve," ujar Mona, lalu segera berlari menuju pintu dan membuka pintu yang ada di hadapannya.


"Apa yang terjadi? Kenapa dia bisa pingsan?" Dokter Steve yang terlihat khawatir melangkah ke dalam kamar dengan terburu-buru sambil mengajukan pertanyaan itu ke Mona.


"Tiffani terkejut akan sesuatu hal, nanti saja aku ceritakan, Dok, periksa dulu keadaan Tiffani, dan tolong jangan katakan hal ini pada Om Rich," ujar Mona, yang telah kembali menutup pintu dan menyusul langkah cepat Dokter Steve.


"Kenapa main rahasia-rahasiaan segala? Pak Richard harus tahu apa yang terjadi pada putrinya. Aku tidak ingin menutupi apa pun dari Pak Richard," ucap Dokter Steve, yang sekarang telah tiba di samping ranjang Tiffani. Ia dengan cekatan mengeluarkan stetoskop, dan tensimeter untuk memeriksa keadaan Tiffani, dan kemudian memeriksa denyut nadi Tiffani.


"Bagaimana, Dok?" tanya Rama.


"Tekanan darahnya rendah sekali,” jawab Dokter Steve. " Dia akan sadar sebentar lagi, tapi besok kalian harus membawanya ke Dokter Stella. Dia butuh vitamin dan segala macamnya agar pertahanan tubuhnya membaik."

__ADS_1


Rama mengangguk. ”Ya, aku akan mengantar Tiffani ke Dokter Stella besok."


"Dan aku akan buatkan janji malam ini juga." Mona menimpali.


"Aku akan meminta pelayan untuk memasakan brokoli, bayam, dan daging besok pagi, dan juga menyiapkan madu untuk Tiffani, semua itu bagus untuk ibu hamil yang sedang anemia," ucap Sela.


Dokter Steve tersenyum. Ia senang melihat kekompakan pengawal-pengawal Tiffani yang selalu totalitas dalam menjaga Tiffani.


"Bagus. Dan untuk sekarang tidak ada yang perlu dikhawatirkan, hanya saja Tiffani tidak boleh stres atau banyak pikiran. Kondisi fisiknya memang sedang tidak baik, apalagi dia sedang mengandung. Memangnya apa yang terjadi sampai-sampai Tiffani mendadak pingsan?"


Mona menghela napas panjang sebelum menjawab. "Tiffani tahu kalau Om Richard mengidap kanker."


Dokter Steve mengeluh. "Ya, Tuhan, bagaimana bisa? Apa Pak Richard sendiri yang mengatakannya?"


Mona menggeleng. "Kami sedang menguping pembicaraan Om Rich dan Gracella, saat itulah Tiffani tahu."


Dokter Steve berdecak. "Kalian gegabah sekali. Kondisi emosi Tiffani belum siap untuk mendengar semua itu. Hari-harinya sangat berat selama beberapa bulan ini, wajar jika dia sangat kaget dan tidak terima pada apa yang dia dengar."


"Dok, boleh aku menanyakan sesuatu?" tanya Sela.


"Ya, tanyakan saja."


"Sejak kapan Om Richard sakit, dan berapa lama waktu yang Om Richard miliki?"


"Kanker yang Pak Richard derita baru terdeteksi beberapa bulan terakhir, kalau tidak salah sekitar empat bulan lalu, dan saat itu kanker sudah mencapai stadium akhir, kemo pun tidak akan banyak membantu. Dokter spesialis yang menangani Pak Richard mengatakan kalau sisa waktu yang Pak Richard miliki hanya tiga bulan lagi, itu berarti hanya tersisa dua bulan sekarang."


"Dua bulan?" seru Sela. "Pantas saja Om Richard meminta Gracella untuk tinggal di sini selama dua bulan."


Dokter Steve mengangguk. "Semua hanya perkiraan berdasarkan medis, tapi kembali lagi bahwa hidup dan mati seseorang adalah mutlak kuasa Tuhan."


Tiffani meremas seprai dengan erat begitu mendengar apa yang Dokter Steve katakan. Sebenarnya ia telah sadar beberapa saat lalu, tepat ketika Mona mengatakan bahwa mereka menguping pembicaraan Gracella dan ayahnya. Hanya saja ia enggan untuk membuka mata, ia tahu Dokter Steve tidak akan mengatakan apa pun tentang kondisi ayahnya jika ia sadar. Itulah sebabnya ia tetap menutup mata agar mendengar lebih banyak tentang penyakit sang ayah.


Dan Tiffani sangat terpukul saat mengetahui bahwa tidak banyak waktu yang tersisa untuknya dan sang ayah. Hanya dua bulan. Dua bulan!

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2