My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
Apa Kau Yakin?


__ADS_3

Beberapa menit Brian dan Valerie hanya saling diam. Brian memandang Valerie penuh rasa cinta. Ia sudah mengambil sebuah tindakan tegas terhadap kedua orang tuanya, dan Brian tidak ingin pengorbanannya menjadi sia-sia.


"Ayo, berkeliling lah denganku," ajak Brian. Ia bangkit dari kursi dan mendekati Valerie. Brian mengulurkan tangan, memegang tangan Valerie dan menggandengnya.


Valerie menggeleng, ia menolak saat Brian menyentuh tangannya. Namun tatapan mata Brian seakan memohon, hal itu membuat Valerie pasrah.


Brian mengajak Valerie keluar dari rumah melewati halaman samping. Mereka berjalan menyusuri jalan kecil dengan pemandangan kolam ikan dan taman bunga mawar. Brian terus menggandeng Valerie, membuat wanita itu semakin ketar ketir.


"Langsung saja, apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Valerie. Ia berhenti di sebuah kursi taman yang menghadap langsung ke sebuah pohon bonsai berbentuk cantik.


"Aku hanya ingin kau tahu, kau adalah wanita pertama dan satu-satunya yang membuatku jatuh cinta. Kau adalah cinta pertamaku, Valerie," ucap Brian.


Valerie menelan ludah. Ia tidak tahu harus menjawab apa.


Kini keduanya duduk di kursi taman bersama. Brian melepas genggaman tangannya karena khawatir Valerie merasa tidak nyaman. Laki-laki itu bahkan tidak percaya, bahwa ada wanita yang bisa menolak pesonanya, seperti Valerie.

__ADS_1


"Kau tahu, aku sudah menghabiskan sepanjang hidupku untuk kebahagiaan orang tuaku. Aku bersekolah ke luar negeri, fokus belajar. Lalu aku langsung terjun ke dunia bisnis, membantu Papa sampai akhirnya aku bisa berdiri sendiri seperti sampai saat ini."


"Selama itu, aku hanya fokus bekerja, bekerja dan bekerja. Tidak sedikitpun aku memikirkan tentang wanita."


"Membuat kedua orang tuaku bangga adalah impianku. Tapi sekarang, aku ingin sekali saja memikirkan diriku, mengutamakan apa yang jadi keinginanku. Apakah menurutmu aku bersalah telah menolak perjodohan itu?" tanya Brian.


Valerie diam beberapa saat, mencerna apa yang baru saja ia dengar. Kini ia sadar, sikap dingin, keras, dan cuek yang Brian miliki adalah akibat dari rasa kesepian dan kekosongan hatinya.


Brian menjadi laki-laki yang sulit memahami wanita. Ia bukan tipe laki-laki romantis, karena pada dasarnya ia tidak pernah mengenal wanita.


"Tidak, kau tidak bersalah. Semua orang berhak menentukan pilihan, dan semua orang berhak atas kebahagiaannya sendiri," jawab Valerie.


Keduanya terdiam beberapa saat. Brian sangat senang. Paling tidak, orang yang menjadi alasan kebahagiaannya pun mendukung keputusannya.


"Maafkan aku telah membawamu ke dalam masalahku. Tujuanku mengajakmu semalam, hanya untuk membuktikan bahwa perasaanku tidak main-main padamu. Bisakah kau memikirkannya?"

__ADS_1


"Tidak apa, aku paham."


"Aku mengerti jika kau belum memiliki perasaan padaku. Tapi bisakah kau memberiku harapan?" tanya Brian. Ia memiringkan tubuhnya, meraih tangan Valerie dan menggenggamnya.


"Orang tuamu pasti menolakku. Kau tidak memikirkan mereka?" Valerie balik bertanya. Ia jelas paham bahwa orang tua Brian menginginkan wanita yang sepadan dengan anak mereka.


"Sekali ini saja, aku ingin memikirkan diriku sendiri."


"Kau akan melawan mereka demi cintamu?"


"Aku akan melakukan apapun demi bisa bersamamu, hanya itu."


"Aku bukan wanita seperti yang mereka harapkan. Kau akan membuat mereka kecewa. Apa kau tahu siapa aku?" tanya Valerie.


"Aku tidak perlu tahu siapa dirimu. Aku hanya ingin mencintaimu, tanpa memikirkan asal usul atau apapun latar belakangmu," tegas Brian.

__ADS_1


"Aku bukan wanita yang berasal dari keluarga terhormat, kaya, dan terpandang sepertimu. Aku orang biasa, dan kita jelas sangat berbeda. Apa kau yakin mencintai wanita sepertiku?" Valerie bertanya memastikan.


🖤🖤🖤


__ADS_2