My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
Merebut Calon Tunanganmu?


__ADS_3

Brian mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, sementara Valerie duduk dengan perasaan kacau di sampingnya.


Valerie merasa penasaran, ingin bertanya dengan jelas tentang apa maksud Brian dan apa yang sedang terjadi pada laki-laki itu. Namun saat ini, sepertinya bukan waktu yang tepat untuk banyak bicara atau banyak bertanya.


Hal yang bisa Valerie lakukan hanyalah duduk diam dan mengamati Brian. Yang jelas, Valerie merasa apa yang telah terjadi pada Brian, pasti ada hubungannya dengan dirinya.


"Hari ini aku akan mengantarmu pulang, Valerie. Besok pagi aku akan datang menjemputmu. Kita akan pergi ke suatu tempat," ujar Brian.


"Kemana? Kau bilang akan menjelaskan sesuatu padaku," jawab Valerie.


Brian tidak memberi jawaban, ia hanya fokus mengemudi dan membiarkan Valerie sibuk dengan pikirannya.


"Valerie," ucap Brian lembut. Sesampainya di halaman depan rumah kos Valerie, Brian menahan tangan wanita itu saat hendak turun dari mobil.


"Hmm?"

__ADS_1


"Aku tahu kau pasti belum bisa mempercayaiku perihal perasaan dan keseriusanku. Tapi, bisakah kau memberiku kesempatan lebih besar?"


"Aku akan merelakan banyak hal agar bisa bersamamu. Aku pastikan bahwa cinta ini tulus, dan aku sungguh-sungguh," ujar Brian.


Mata laki-laki itu menampakkan sebuah kesungguhan yang tidak dibuat-buat. Valerie terpaku, mencerna dengan baik tentang apa yang baru saja ia dengar.


"Adakah sedikit rasa untukku?" tanya Brian. Ia sangat berharap, bahwa apa yang ia korbankan tidak akan pernah sia-sia.


Valerie terdiam beberapa saat, haruskah ia jujur dengan perasaannya?


"Jika aku pun mencintaimu, apakah kau yakin jika cinta kita pantas diperjuangkan?" Valerie balik bertanya. Sebuah pertanyaan singkat yang bisa membuat hati Brian bergetar sekaligus bahagia.


Meskipun jawaban Valerie bukanlah sebuah kepastian, namun Brian seakan mendapatkan lampu hijau yang menyala terang. Ada harapan besar, juga hasil dari usaha yang tidak akan ia sia-siakan.


"Aku akan menjemputmu besok pagi. Aku akan menjelaskan semuanya," ucap Brian. Ia mencium kedua punggung tangan Valerie dengan senyum merekah.

__ADS_1


Setiap sentuhan, senyuman, dan kalimat-kalimat menenangkan yang keluar dari mulut laki-laki itu selalu membuat jantung Valerie berdetak lebih kencang, dadanya berdebar. Ada perasaan yang sulit dijelaskan meski Valerie berusaha keras mengabaikan rasa itu. Kenyataannya, hati wanita itu sudah menemukan pemiliknya.


...****************...


Selepas kepergian Brian, Valerie masuk ke dalam kamar dan membersihkan diri. Ia berbaring di atas tempat tidur sambil merenung. Ada banyak hal yang harus ia pertimbangkan jika ingin mengatakan perasaanya pada Brian dengan jujur, terlebih Brian tidak mengenal siapa dirinya dengan utuh.


Merasa bosan dan gelisah dengan pikirannya, Valerie memutuskan untuk memesan taksi dan mengunjungi salah satu tempat gym yang biasa ia datangi.


Sesampainya di tempat itu, lagi-lagi Valerie bertemu dengan seseorang yang sangat tidak ingin ia temui.


"Ah, ini dia rupanya. Si pirang yang merebut calon tunanganku," sindir wanita dengan rambut di kuncir kuda dengan pakaian olahraga mini. Ia sedang berkumpul bersama beberapa temannya dan menyambut kedatangan Valerie seolah tahu bahwa Valerie akan datang ke tempat ini.


Valerie mendongak, menatap tajam pada sosok Elena di hadapannya. Sepertinya Elena memang sengaja datang ke tempat ini untuk menemuinya, karena selama ini Valerie tidak pernah melihat batang hidung wanita itu.


"Aku? Merebutnya? Bukankah sudah jelas bahwa kau yang tidak dia inginkan? Jangan bersikap seolah-olah kau adalah korban!" seru Valerie dengan tersenyum miring.

__ADS_1


"Kau sama sekali bukan wanita yang dia inginkan, kau bukan wanita yang dia harapkan. Akuilah, tidak perlu menjadikan aku kambing hitam atas ketidaksuksesanmu merayunya," lanjut Valerie. Ia berjalan melewati Elena begitu saja. Membiarkan wanita itu dengan wajah merah padam karena kesal.


🖤🖤🖤


__ADS_2