
Brian mengendarai mobilnya menuju kediaman kedua orang tuanya. Saat dalam perjalanan, ia terus berusaha memikirkan cara terbaik untuk menyelesaikan masalah.
Namun, mengingat bagaimana kedua orang tuanya sangat menginginkan perjodohan itu, Brian merasa frustasi.
Sesampainya di halaman depan rumah orang tuanya, Max sudah menunggu. Max menemui Brian terlebih dahulu untuk menyampaikan sesuatu sebelum Brian menemui orang tuanya.
"Bos, maafkan aku. Aku sendiri tidak tahu bahwa Paman mengetahui tempat tinggal Valerie," ujar Max.
"Tidak apa-apa, Max. Aku tahu Papa akan melakukan segala cara, itu bukan salahmu."
"Sekarang Paman sudah lebih tenang, aku harap kalian segera berbaikan."
"Jika Papa tetap menginginkan perjodohanku dengan Elena. Maka kami tidak akan bisa berbaikan. Kau tahu bagaimana perasaanku, Max. Aku dan Valerie kini resmi menjalin hubungan. Dan aku tidak akan menikahi wanita manapun selain Valerie," jelas Brian.
"Kau dan Valerie berpacaran?" ulang Max dengan mata berkedip cepat. Meski sudah sejak awal ia mengetahui tanda-tanda cinta di antara keduanya, namun Max tetap saja terkejut karena Brian bertindak secepat itu saat kondisi sedang sangat panas.
__ADS_1
"Hmm." Brian mengangguk.
"Lusa, ada sebuah perayaan dan pesta besar, Bos. Itu adalah perayaan hari jadi perusahaan keluarga Elena. Setelah aku cari tahu, pesta itu diselenggarakan sekaligus untuk pertunanganmu dan Elena," jelas Max.
"Mereka sudah merencanakannya sejauh itu," gumam Brian.
"Bagaimana? Apa yang bisa kau lakukan? Aku sendiri pusing memikirkannya," keluh Max.
"Aku akan datang ke sana. Aku akan mengikuti rencana Papa."
"Aku punya rencana," jawab Brian.
Max tidak bisa berkata-kata. Ia tahu Brian selalu teguh pendirian dan sulit goyah. Jadi, Max percaya bahwa Brian punya rencana terbaik untuk hidupnya sendiri.
Setelah berbicara panjang lebar bersama Max, Brian masuk ke dalam rumah dan menemui kedua orang tuanya.
__ADS_1
Karena Brian sudah tahu apa yang akan mereka sampaikan, maka Brian menanggapinya dengan tenang. Ia memiliki rencana, dan begitu saja setuju saat Calvin memintanya datang ke pesta perayaan hari jadi perusahaan Theo dua hari lagi.
Mendengar jawaban Brian, Theo dan Rossa sangat senang. Ia hanya perlu membawa Brian ke pesta itu tanpa memberitahu maksud dan tujuan mereka sebenarnya. Karena mereka percaya, Brian tidak akan pernah mempermalukan keluarganya di depan publik dengan menolak pertunangan itu saat para pebisnis serta awak media yang datang berkumpul dalam suatu acara. Mereka yakin, meski dengan terpaksa, Brian akan menerima pertunangan itu.
Brian tahu bahwa rencana yang ia buat akan semakin membuat murka kedua orang tuanya, terutama keluarga Elena. Namun laki-laki itu sudah membulatkan tekad, jika mereka tidak bisa menerima keputusannya secara baik-baik, maka Brian juga enggan terus menerus mengikuti permainan bisnis yang tidak akan pernah berakhir.
"Bos, kau akan datang? Kau serius?" tanya Max saat Brian keluar dari kediaman Calvin.
"Hmm." Brian mengangguk.
"Kau setuju hanya untuk membuat Paman dan Bibi merasa tenang, kan? Kau tidak akan benar-benar menerima perjodohan itu, kan?"
"Sudah aku katakan, Max. Aku punya rencana," tegas Brian.
Max percaya, bahwa Brian telah memikirkan rencananya dengan matang. Namun, Max benar-benar mengkhawatirkan kondisi keluarga ini jika pada akhirnya keinginan Calvin tidak terpenuhi. Bagaimanapun, Max peduli pada Brian dan kedua orang tuanya. Mereka adalah keluarga pengganti setelah kepergian orang tua kandungnya.
__ADS_1
🖤🖤🖤